
Bian Pov
"Gimana, Ben? Udah dapet informasinya?"
Langsung ku hampiri Beni yang sedang asik menatap komputernya.
"Udah, Bang. Nih!" Beni menunjukkan sesuatu padaku.
"Astaghfirullahal'adziim!"
Kututup mulutku, jangan sampai lalat masukðŸ¤.
"Ini...jadi...Sialan!!!"
Brakk!
Dengan keras ku gebrak meja kerja Beni hingga kertas, tempat pensil, dan segala atribut yang ada di meja Beni berantakan, sampai ada yang jatuh.
"Untung aja komputernya ku pegang. Kalo gak...Selamet! Selamet!" mungkin itu yang ada dipikiran Beni karna kulihat dia begitu eratnya memeluk layar komputernya.
Aku berusaha menahan senyumku, geli. Anak buahku yang lain tak berani bersuara.
"Ja...jadi...gimana, Bang?" tanya Beni takut-takut.
"Biar aku yang urus. Kamu lanjutin aja kerjamu." ujarku.
Beni mengangguk, patuh. Aku masuk ke ruanganku dan menghubungi bang Dahlan.
"Maaf, Bang! Bisa kita ketemu gak?"
"-_-"
"Masalah sepupu abang."
"-_-"
"Baik, Bang!"
💣💣💣
Merah padam wajah bang Dahlan melihat bukti-bukti yang ku perlihatkan padanya. Kedua tangannya mengepal kuat dan rahangnya pun mengeras.
"Benar-benar bikin malu!" ujarnya geram.
Lalu beliau menoleh kepadaku.
"Bagaimana kabar calon istri lu, Ar?" tanyanya. Di luar tugas kami memang biasa ngomong santai.
"Untungnya Jojo gak pa-pa, Bang. Kalo enggak...entahlah, gue gak bisa jamin kalo sepupu abang itu bisa lolos." sahutku menahan geram.
Bang Dahlan mengangguk setuju.
"Gue gak akan memihak yang salah, Ar. Sekalipun itu sepupu, teman, bahkan anak gue." ujar Dahlan lagi.
"Iya, Bang. Kali ini dia gue maafin. Tapi kalo sekali lagi dia berani mengusik Jojo...gue gak bakal kasih ampun!"
"Gue akan coba memberi nasehat pada Sinta. Gue juga akan bilang ini ke orang tuanya, biar mereka mengawasi Sinta." janji bang Dahlan.
Aku mengangguk.
"Oh ya, Ar. Lusa gue sudah akan sertijab dengan Kapolres baru. Lu dateng ya, bawa Jojo lu!" kata Dahlan.
"Siap, Bang!" jawabku mantap.
Setelah urusanku beres, aku kembali ke rumah sakit menemui idaman hatiku. (ceilleee! Hakh cuihh!🤮)
"Assalamualaikum!" aku mengucap salam saat melihat ruangan Jojo ramai.
"Wa'alaikumussalam!"
Kulihat ada Mona, tetangga sekaligus keponakan almarhum suami Jojo, bersama beberapa orang ibu-ibu.
"By, kenalin ini tetangga-tetanggaku." kata Jojo.
Aku pun mengangguk dan tersenyum ramah pada mereka.
"Oh ya, By. Tadi Bang Rio nelpon suruh kamu jemput bocil. Dia nangis terus, gak mau di sana. Tolong ya?" Jojo mengerjab- ngerjabkan matanya dengan wajah memelas.
Dahiku mengerut mendengar Jojo ngomong aku-kamu, gak elu-gue.
"Ah, mungkin Jojo gak enak ngomong lu-gue di depan tetangga-tetangganya." pikirku.
"Biar saya aja yang jemput, Jun." sahut Mona.
"Kalian tunggu di sini ya, aku mau jemput Rey dulu di rumah Pakwonya!" kata Mona pada ibu-ibu yang lain.
"Gak usah, Bu. Biar saya aja yang jemput, sekalian beli makanan." cegahku.
Lalu aku pun pamitan pada mereka.
Jojo Pov
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumussalam!"
Aku nyengir melihat para emak-emak di gang tempatku tinggal masuk ke ruang perawatanku.
"Kenapa bisa gini, Jun?" tanya Nek Boy, panggilan untuk mak gank di gang kami.
"Kecelakaan kecil kok, gak pa-pa." aku tersenyum kecil.
"Lukamu parah gak? Yang ini dijahit gak?" tanya Bu Ami sambil menunjuk lukaku.
"Dijahit."
"Berapa jahitan?"
"Sepuluh!"
"Hahhhh!!!"
Pada mangap berjamaah, dah!
Aku tertawa geli melihat wajah mereka yang melongo kompak.
"Biasanya kalo cuma luka gini sudah bisa langsung pulang, Jun. Kok kamu malah opname?" tanya bu Anggun yang berprofesi sebagai perawat di rumah sakit swasta dikota T.
"Maunya saya sih pulang. Di rumah kerjaan pasti numpuk. Mana biaya opnamenya mahal lagi. Tapi..."
"Assalamualaikum!"
Belum selesai aku ngomong, Bian datang dan langsung masuk.
"Wa'alaikumussalam!"
Aku nyaris tersedak menahan tawa melihat para ibu-ibu rempong itu lagi-lagi mangap berjamaah saat melihat Bian.
Mereka memang belum pernah melihat Bian, meski pun tau kalo Bian sering main ke tempatku.
__ADS_1
"By, kenalin ini tetangga-tetanggaku." kataku pada Bian yang kemudian mengangguk dan tersenyum ramah pada para tetanggaku.
Sebelum para emak rempong itu bertanya dan pengen tau soal Bian, cepat-cepat Bian ku suruh menjemput bocilku.
Awalnya Mona yang menawarkan diri menjemput Dedek. Tapi untungnya Bian mengerti maksudku, dan pergi menjemput anakku di rumah abangku.
"Itu siapa, Jun?" tanya Bu Anggun.
"Iya, Jun. Kita-kita penasaran kalo liat dia ke rumah kamu. Pacar kamu ya?" samber Bu Ami.
"Kayaknya Polisi tuh!" sambung Bu Lia.
Kutepuk jidatku, pelan.
"Mulai deh, mak-mak rempong kepo!" batinku bersorak.
"Dia teman sekolahku di SMA dulu. Kebetulan sedang tugas di sini." jelasku.
"Jadi beneran cowok ganteng itu Polisi, Jun?" mata Bu Lia bersinar.
Aku mengangguk, dan Bu Lia senyam-senyum sendiri.
"Jangan keganjenan! Mau kamu dilabrak lakimu yang pencemburu itu?" Nek Boy menyikut keras lengan Bu Lia.
Semua tertawa melihat Bu Lia manyun.
"Aku kenal dengan bapak itu. Kami pernah bertemu di rumah Pak Frans, temannya Ayah." kata Nek Boy.
Ayah itu panggilan sayang Nek Boy pada suaminya.
"Kata Pak Frans, dia itu seorang duda. Bener, Jun?"
Semua mata menoleh ke arahku.
"Mamp*s gue!"
Aku pun menghela napas berat.
"Duda...sama janda...mm..." Bu Ami mengetuk-ngetuk pelan jidatnya.
"Jangan-jangan kalian mantan dan sekarang CLBK ya, Jun?" selidik Mona.
"Hadeeehhh, mak-mak rempong! Kalo makan suka gak pake ngunyah dulu, langsung ditelen. Jadi gini nih, o'on maksimal!" sungutku dalam hati.
Aku mesem-mesem, menutupi kedongkolanku pada para mak-mak rempong ini.
"Jangan bikin hoax, ntar jadi fitnah loh!" kataku.
"Kok fitnah sih, Jun? Kalo mantan trus balikan kan wajar-wajar aja!" sahut Mona.
"Kita cuma temenan, Mon. Aku juga sadar diri kali, siapa aku. Kami itu ibarat remahan peyek ama black forrest. Jauh banget bedanya." ujarku, selow.
Mona, Bu Ami,Bu Lia dan Bu Anggun tertawa geli.
"Jangan minder. Jodoh kita gak ada yang tau. Yang penting sekarang kamu harus move on, siapa tau ketemu jodoh kamu sama temanmu itu." Nek Boy, sang kepala suku, berkomentar bijak.
"Aamiin!" sahut yang lain.
Aku terkekeh geli.
"Tumben kamu bijak ngomongnya, Boy. Kabelnya pasti lagi nyambung!" ledekku, menggoda Nek Boy yang terkenal nyablak dan judes.
"Heh!" Mata Nek Boy, melotot marah.
"Kamu kira otakku setrum?" sungutnya, judes.
Aku pun nyengir, dibarengi cekikikan yang lain.
"Mak!"
Si bocil Rey berlari masuk diikuti Bian yang menenteng kantong yang berisi makanan dan buah.
"Udah mandi belum, Dek?" tanya Jojo pada bocilnya yang mengangguk, mantap.
"Pantesan wangi bener. Siapa yang mandi'in?" tanya Jojo sambil menghirup aroma tubuh si bocil yang harum bedak baby.
"Om!"
Rey menunjuk Bian. Jojo menoleh ke arah Bian yang tengah membongkar belanjaannya.
"Tadi aku ajak Dedek ke rumah dulu sebelum kemari."
"Emang abang-abangnya pada kemana sampe adeknya gak dimandi'in?" tanya Jojo dengan nada geram dengan kedua anak laki-lakinya yang besar.
"Lagi ikut ekskul di sekolah. Si dedek nangis gak mau ditinggal ama bang Rio. Kak Lina lagi jemput Lola les." jelas Bian, menenangkan Jojo yang marah.
"Makan dulu, Jo!" Bian hendak menyuapi Jojo.
"Biar gue makan sendiri, By." Jojo mencoba mengambil nasi ditangan Bian, tapi di tahan pria itu.
"Kok ngomong pake gue lagi. Tadi kan udah enak pake aku kamu?" protes Bian.
"Biasanya kan juga pake lu-gue, By. Tadi gak enak aja ngomong gitu di depan para ratu sejagat." ujar Jojo.
"Tapi aku sukanya kamu ngomong gitu, Yank. Kayak dulu." kata Bian.
Jojo diam. Bian pun mengerti.
"Ya, udah. Terserah kamu maunya gimana. Sekarang makan dulu. Aaa!" Bian menyuapi Jojo.
"By! Gak seharusnya lu baik sama gue dan anak-anak gue. Gak enak dengan pandangan orang. Lu juga jangan panggil gue 'Yank' lagi."
Bian diam menatap Jojo dalam-dalam.
"Kamu gak suka ya?" tanyanya.
"Bukan gitu, By. Apa lu gak malu nanti disangka kita ada apa-apanya?" Jojo jadi merasa tak enak hati.
"Aku gak pernah malu atau pun merasa terbebani dengan perhatian sama kamu dan anak-anakmu, Yank. Aku malah senang melakukannya." sahut Bian, jujur.
Jojo menghela napas berat.
"Gue gak mau para wanita yang deketin lu, marah ama gue, By. Cukup gue yang mereka buat celaka, jangan sampai kejadian sama anak-anak gue."
"Maksudnya apa, Yank?"
"Gue tau siapa yang sengaja nyerempet gue tadi. Gue liat kok orangnya? Dia yang kemarin masuk keruangan lu." kata Jojo, jelas.
"Kurang ajar! Jadi benar dia pelakunya!" Bian menggerutu, geram.
"Udah, gak pa-pa. Dia cemburu kali, sama gue gara-gara lu cuekin dia kemaren." kata Jojo, santai.
"Makan dulu, Yank."
Bian terus memaksa menyuapi Jojo. Akhirnya Jojo pun makan dibantu Rey yang juga ikut minta disuapi Bian.
"Sinta hampir tiap hari menemuiku, Yank. Sejak awal aku gak pernah sekalipun memperdulikannya, tapi gak tau kenapa masih juga dia datang. Bikin aku makin illfeel aja!" ujar Bian.
Jojo tertawa.
__ADS_1
"Jadi inget Ria." katanya, geli.
Bian tersenyum kecut.
"Emang mirip gilanya. Sebelas dua belas mereka berdua!" cibir Bian, kesal.
"Resiko jadi orang perfect, By. Makanya, buruan nikah biar lu gak digangguin lagi. Biar lu tenang hidupnya." ledek Jojo.
Bian meringis, kecut.
"Jangan terlalu memilih! Yang penting wanita itu baik, solehah, dan sayang ama lu dan Dira, itu sudah cukup." usul Jojo.
"Aku udah ketemu kok wanita itu, Yank."
"Terus? kenapa gak langsung lu ajak nikah? Gak perlu lama-lama kali, By, udah tua juga!" kata Jojo, sebal karna menurutnya Bian terlalu mengulur-ulur waktu mencari kebahagiaannya.
"Apa menurut kamu dia mau menikah denganku, Yank?" tanya Bian sambil menatap dalam mata Jojo. Membuat emak empat anak itu merinding, kikuk.
"Ya lu tanya, dong. Masak lu pelototin!" sahut Jojo, gemas.
Bian tersenyum.
"Kalo gue senyumin, kira-kira dia mau gak, ya?" gurau Bian.
"Kenapa gak sekalian lu pepes aja, kan enak tuh!" ceplos Jojo yang kian kesal karna Bian masih aja ngeyel.
Hahahahaaa. Bian ngakak.
"Hush! Ini rumah sakit, bukan lapangan tembak!" tegur Jojo.
Bian pun segera menutup mulutnya, menahan tawanya.
"Apa kamu mau aku pepes, Yank?" Bian mengerling, genit.
Jojo mengernyit.
"Kamu mau gak nikah sama aku, Yank?"
tettewwww
"Jangan bilang lu gak berani ngomong ke wanita lu, By!" Jojo menatap Bian, tajam.
Gantian Bian yang mengerutkan dahinya, bingung.
"Lu grogi, By. Makanya lu ngomongnya ke gue dulu, baru ke cewek lu kan?" tebak Jojo.
"Sok tau!" Bian menyentil gemas hidung Jojo.
"Aku tuh serius, Yank. Wanita yang aku mau itu...kamu. Bukan yang lain."
Jojo terdiam. Wajahnya memerah. Entah malu atau malah kesal pada pria didepannya itu.
Yang pasti Jojo salah tingkah saat bertemu pandang dengan mata tajam milik Bian.
"Akankah rasa itu kembali hadir?"
🎵 One summer night
the stars were shining bright
one summer dreams
made with fancy whims
One summer night
my whole world tumbled down
I could have died if not for you
Each night I'd pray for you
my heart would cry for you
the sun won't shine again
since you have gone
Each time I'd think of you
my heart would beat for you
you are the one for me
Set me free like the sparrows up the trees
give a sign so I would ease my mind
just say a word and I'll come running wild
give me a chance to live again
Each night I'd pray for you
my heart would cry for you
the sun won't shine again
since you have gone
Each time I'd think of you
my heart would beat for you
you are the one for me
One summer night
the stars were shining bright
one summer dreams
made with fancy whims
One summer night
my whole world tumbled down
I could have died if not for you
Each night I'd pray for you
my heart would cry for you
the sun won't shine again
since you have gone
Each time I'd think of you
__ADS_1
my heart would beat for you
you are the one for me 🎶