
Denting gitar Bian mengalunkan lagu sendu, menyalurkan perasaan hatinya yang gundah gulana.
π΅ Berlinang airmataku
bila ku ingat semua tentangmu
yang kini pergi tinggalkan diriku
kekasihku... kekasihku...
Dan bila semua 'kan kembali
kembali bahagia seperti dulu
dirimu s'lalu manjakan diriku
dipelukmu... dipelukmu...
Ku hanya bisa bersedih
kini ku hanya bisa menangis
menangis karna ku masih cinta
Kembali padaku 'kan ku peluk dirimu
"kan ku habiskan rindu denganmu
sentuhanmu itu tak pernah terhapus
kembalilah untukku
kaulah matahariku
Ku hanya bisa bersedih
kini ku hanya bisa menangis
menangis karna ku masih cinta
Kembali padaku 'kan ku peluk dirimu
'kan ku habiskan rindu denganmu
sentuhanmu itu tak pernah terhapus
kembalilah untukku
kaulah matahariku
Mataharikuππ πΆ
Prokk! Prokk! Prokk!
"Keren!!"
"Ajibb!!"
"Aseeekkk!!"
Semua yang duduk di dekat Bian berdecak kagum dan memberikan aplaus heboh.
"Ternyata suara bapak oke juga. Kereenn!!" Beni bertepuk tangan dan berdecak, takjub seraya mengacungkan dua jempol untuk Bian.
"He-eh! Merdu dan mendayu-dayu banget. Curhat ya, Pak?" timpal Desta dengan nada menggoda, disambung tawa geli yang lainnya.
Bian tersenyum tampan.
"Hanya lewat lagu saya bisa mencurahkan isi hati saya." ujarnya sedikit malu.
"Bagus loh, Pak. Saya aja klepek-klepek dengernya, apalagi cewek yang sudah bikin bapak galau gini. Dijamin luruh tuh!" kata Andra.
Bian tersenyum lagi.
"Sayangnya saya gak pernah bikin dia bisa luluh hatinya. Keras banget, sama seperti kepalanya yang batu." ujar Bian, sedih.
"Coba terus, Pak! Jangan patah semangat!" Desta memberi semangat.
"Getok aja palanya, Pak! Si Juna emang batu palanya! Saya aja sering kesel kalo debat ama dia. Makanya sering saya getok palanya." seru Beni, berapi-api.
Dan ia pun meringis sambil mengusap-usap tengkuknya, takut, ketika melihat mata Bian melotot tajam ke arahnya.
__ADS_1
"Selow, Pak. Itu kan dulu, sebelum bapak ketemu Juna." kata Beni, sambil nyengir mengacungkan dua jarinya, peace!
"Jojo emang kepala batu, makanya susah untuk ditaklukkan." Bian tertunduk lesu.
"Pak, maaf ya... boleh nanya gak?" Andra memandang Bian, takut-takut.
"Apa?"
"Kok bapak mau sama si Jojo itu? Dia kan gak cantik, gak seksi, gak...hee!" Andra nyengir saat menyadari Bian menatapnya emosi.
"Apa kamu kira istri kamu itu cantik? Seksi?" sindir Bian.
Andra mesem-mesem, malu. Beni dan Desta ngikik, geli.
"Cinta itu gak liat fisik. Kamu tau, gak sedikit wanita cantik dan seksi mendekati saya. Kamu pasti ingin tau kan kenapa saya tidak tertarik dengan mereka?" sahut Bian.
Desta, Andra dan Beni mengangguk, kompak.
"Karna saya tidak menyukai wanita yang terlalu agresif. Dan saya tidak suka cewek manja."
"Tapi setau saya, Juna agresif juga, Pak!" ceplos Beni.
"Apa?!" tanya Bian terkejut.
"Sama siapa?" tanyanya lagi.
"Sama almarhum suaminya. Dulu Juna yang kejar-kejar si Mirza." kata Beni.
"Kamu kenal suami Juna, Ben?" tanya Bian, cepat.
Beni mengangguk.
"Ceritakan tentang Mirza. Saya ingin mendengarnya!" pinta Bian.
Beni pun mulai bercerita.
"Mirza itu tetangga Liza, sepupu Juna, istri Roni teman saya. Bapak ingat?"
Bian mengangguk.
"Awalnya, emaknya Liza yang nyomblangin Juna sama Mirza. Juna nolak. Karna Juna mengira kalo Mirza sudah punya istri, karna Juna pernah melihat Mirza sedang berboncengan naik motor sama cewek. Tapi ternyata cewek itu adiknya Mirza."
"Lalu... Juna pepet deh si Mirza, karna dia emang udah suka sejak pertama liat Mirza."
Bian menggeleng, tak percaya.
"Siapa yang ngajak kenalan pertama kali?" tanya Bian.
"Gak mungkin Jojo. Aku kenal Jojo. Dia ja'im kalo ama cowok." batin Bian.
"Mona yang mengenalkan mereka. Mona itu keponakan Mirza dan temannya Liza."
"Tuh kan, bener. Gak mungkin Jojo yang mau..."
"Juna yang minta Mona mengenalkan mereka."
"Hah?!" Bian melongo.
"Kok bisa?"
"Mirza itu orangnya pendiam. Si Junanya bawel. Kloplah mereka. Habis si Mirza dikerjain sama Juna. Bahkan sampe mereka nikah, Juna makin tengil aja. Dan gilanya, Mirza nurutin semua apa yang disuruh Juna. Segitu besarnya cinta Mirza buat Juna. Gak pernah dia mengeluh meski Juna tengil, malas, dan yang aneh-aneh lainnya. Mirza orangnya sabar banget. Dia mengajar Juna memasak, membantu Juna mengasuh anak-anaknya, berusaha mencukupi segala kebutuhan keluarganya, meski seadanya. Meski Juna sering semaunya, dan juga yang bikin saya salut, Juna tidak pernah menuntut macam-macam pada suaminya. Dia bisa menerima apapun keadaan suaminya. Dia rela hidup serba kekurangan dan belajar untuk prihatin. Mereka memulai semuanya dari nol. Dan sekarang bapak liat hasilnya, Jojo kuat dan tegar meski harus menghidupi ke empat anaknya sendirian. Dia tak pernah mengeluh, juga tak berniat mencari pengganti suaminya. Padahal ada beberapa pria yang mencoba untuk mendekatinya. Jojo menolak mereka karna dia tak suka dikasihani."
"Yang lu maksud tingkah Juna yang sering aneh itu apa, Ben? Penasaran gue!" tanya Andra, diangguki Desta.
"Jangan kepo! Itu urusan rumah tangga orang." Bian yang menjawab.
Dan Andra pun mingkem seketika.
Desta dan Beni lagi-lagi cekikikan melihat Andra terus disemprot oleh Bian.
"Apa kamu tau siapa saja mantan pacar Jojo di sini, Ben?" tanya Bian.
"Yang saya tau hanya si Andy, Pak. Dia pacar ternekat Juna."
"Maksudnya?" Bian mengernyitkan dahinya, bingung.
"Si Andy itu meski Juna udah nikah dan lagi hamil, tetep aja dia ngedeketin Juna. Untung aja suami Juna gak cemburuan, kalo gak..." Beni geleng-geleng kepala sendiri.
"Sampe segitunya, Bro?" Desta dan Andra terperangah, tak percaya. Sedangkan Bian hanya diam.
"Jojonya gimana sama si Andy?"
__ADS_1
"Juna sih biasa aja. Pernah dia di tanya Roni kenapa gak nolak kalo Andy datang?"
"Terus?" tanya Bian tak sabar.
Desta dan Andra makin penasaran mendengar cerita tentang Jojo.
"Dengan santainya Jojo bilang kalo Mirza juga gak pernah melarangnya bertemu Andy, asalkan ada batasannya."
"Terus... apa pernah Jojo jalan bareng Andy selama ia masih berstatus bini orang?"
"Gak...eh pernah. Waktu itu Andy nyegat Jojo dijalan dan minta anterin pulang."
"Waduhh! Kalo bini gue kayak gitu, udah gue kuliti tuh giginya...aduhh!"
Andra mengaduh. Bian mengetok palanya.
"Jojo itu orangnya keras. Kalo dia sudah memilih, dia tidak akan pernah berpaling. Saya percaya Jojo orangnya setia. Kesetiaannya itulah yang bikin saya cinta mati sama dia."
Beni, Desta dan Andra saling pandang.
"Kayaknya dalem banget cinta Pak Arby untuk si Juna." batin Beni.
"Segitu cintanya Pak Arby 'tuk tuh emak!" batin Andra berseru.
"Salut gue ama Pak Arby. Tekadnya kuat banget!" giliran Desta yang membatin.
"Apa Andy masih suka mendekati Jojo, Ben?" tanya Bian ingin tau.
Bian takut Jojo akan kembali ke mantannya itu.
"Setau saya, Andy sudah lama menghilang. Gak tau dimana dia sekarang."
Bian mengangguk, mengerti.
"Ternyata kamu bisa agresif juga, Yank! Dan aku jadi pengen kamu bersikap agresif sama aku!"
Bian senyum-senyum sendiri.
Ketiga bawahan Bian kembali saling pandang.
"Pak! Masih sadar, kan?" tegur Andra.
Dan lagi-lagi jadi sasaran pelototan Bian. Andra pun nyengir lagi.
"Eh ya... apa kalian punya solusi agar Jojo mau kembali membuka hatinya?" tanya Bian.
"Maaf, Pak. Saya rasa Juna bukannya gak mau sama bapak, tapi takut."
Bian menautkan alisnya, bingung menatap Beni.
"Juna minder kalo harus bersanding dengan bapak!" kata Beni lagi.
Bian diam. Berpikir dan mencoba mengingat-ingat.
"Kamu benar, Ben! Jojo emang minderan orangnya." sahut Bian.
"Kalo minder solusinya gampang, Pak!" sambung Andra.
"Apa itu?" tanya Bian, tertarik.
"Bapak harus bisa menyesuaikan diri dengan Jojo."
"Saya sudah melakukan itu."
"Bagus! Lanjutkan itu dan perlahan namun pasti ajari dia tentang kehidupan bapak. Terus berikan perhatian lebih pada Jojo dan anak-anaknya. Saya yakin, niat baik bapak pasti membawa berkah!" ujar Andra tenang, membuat Bian, Beni dan Desta menatapnya kagum.
"Wahh! Saya gak nyangka ide kamu sungguh brilian, Dra." Bian bertepuk tangan, girang.
"Ternyata lu bisa mikir bener juga, Dra!" ucap Beni, takjub.
"Kali ini obat yang dikasih bini lu mujarab, Dra. Hahahahaa!" Desta ngakak.
Andra cengar-cengir malu. Idungnya sampai kembang kempis saking bangganya mendapat pujian dari atasan dan juga rekan-rekannya.
author : "Obat apa yang dikasih ama bini lu, Dra? Otor jadi pengen nyoba."π
Andra : "Emang mau otor kasih ke siapa?"
author : " Ke ayam-ayam gue. Biar mereka pinter cari makan sendiri dan gak eek sembarangan!"π
Andra : πππ
__ADS_1