
"Aku senang bisa ngobrol sama kamu, Juna. Kamu ternyata bukan orang yang pendiam seperti yang aku kira."
Jojo tertawa.
"Mulut gue lemes ya, kayak mulut si Tole." ceplosnya.
Adit tersenyum geli dan mengangguk.
"Kayaknya abang kamu tuh Tole, Jun, bukan Rio. Habisnya kalian sama-sama bawel." gurau Adit.
Jojo nyengir.
"Jo! Pulang yuk?"
Entah sejak kapan Bian yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat Jojo.
"Udah jam sepuluh ya?" tanya Jojo.
"Liat di tangan lu. Pake jam tangan tapi gak tau jam berapa, pura-pura lupa lu ya? Ingat, emak lu suruh kita tadi pulang jam berapa?" Bian mengingatkan Jojo pesan sang emak saat mereka berangkat tadi.
Jojo melirik ke jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul 21.49 wib.
"Yuk kita pulang, By. Kan tadi emak nyuruh kita pulang jam sepuluh, sekarang hampir jam sepuluh. Buruan." Jojo mendorong tubuh tinggi Bian.
"Pelan-pelan, Jo. Gue mau jatuh nih." sungut Bian ketika hampir jatuh gara-gara di dorong Jojo. Untung ia sigap dan tubuhnya bisa cepat menyeimbangkan diri hingga dirinya tak sampai jatuh.
"Eh Dit, gue pulang duluan ya. Udah malem soalnya." pamit Jojo sambil melambaikan tangannya. Adit balas melambaikan tangannya.
"Gadis yang menarik." batinnya dengan senyum penuh arti.
"Tapi kok tuh cowok posesif banget ya? Apa benar dia cuma sahabatan sama Juna?"
Adit terus memandang tubuh Juna hingga sudah tak terlihat lagi.
"Gimana? Seru gak ngobrol bareng Akhew?" goda Bian ketika mereka sudah berada di atas motornya yang melaju santai.
"Biasa aja."
"Masak sih? Gak ada rasa dag dig dug ser atau gugup, gitu?"
"Gak tuh."
ciiiiiiittttt.
"Aduh!"
Jojo mengaduh, dan tubuh mungilnya merosot maju, menabrak punggung Bian karena cowok itu tiba-tiba mengerem mendadak.
"Apaan sih, By? Ada kucing lewat ya?" tanya Jojo sambil memundurkan tubuhnya ke belakang.
"Lu beneran gak ngerasa gugup waktu ngobrol sama Akhew, Jo?" tanya Bian penasaran tanpa menggubris pertanyaan Jojo padanya.
Bian menoleh pada Jojo yang duduk dibelakangnya.
"Pertanyaan lu gak penting. Yuk ah, kita pulang." Jojo menepuk punggung Bian, menyuruhnya lanjut pulang.
"Ishh, nanya aja gak boleh. Awas aja kalo nanti lu curhat ke gue, gak bakal gue dengerin." Bian menggerutu, sebal.
"Diih, kapan juga gue curhat ke elu? Sok tau lu!" Jojo menoel gemas kepala Bian.
"Jojo!!!" sergah Bian kesal.
__ADS_1
"Kualat lu noel-noel kepala gue. Tuaan gue tau dari lu." bentaknya.
"Cih!!! Beda tiga hari tiga jam aja protes. Sok tua lu." sungut Jojo.
"Tetep aja tuaan gue, dan lu harus hormati gue." sahut Bian, masih dengan nada kesal.
"Serah lu, dah. Sebahagia lu aja." kata Jojo, malas.
"Kalo dibilangin susah. Dasar batu betangkup!"
"Bodo!"
Bian tertawa.
"Kalo gue gak sadar posisi gue, gak bakal rela gue lu deket ama cowok lain, Jo."
Bian menghela napas panjang. Tiba-tiba Jojo memukul keras punggung Bian.
"Paan sih, Jo? Sakit tau!" bentak Bian sambil menggerak-gerakkan punggungnya yang ngilu. Ia pun menghentikan motornya.
"Lu kentut ya?" tuduh Jojo.
"Emang ada baunya?"
"Sialan lu! Lu kentut di depan gue, jorok lu." Jojo terus memukuli punggung Bian.
"Aduh! Jo! Sakit! Ampun!" teriak Bian kesakitan.
"Siapa suruh lu jorok!"
"Gue gak kentut, Jo. Sumpah!"
"Bo'ong lu!"
"Nyumpahin idung gue lagi lu ya?"
"Hahahahaaa. Aduh! Sakit, Jo! Beneran gue gak kentut. Aduh!" Bian menangkap tangan Jojo yang semakin brutal memukul seluruh badannya.
Jojo diam dan berhenti memukul.
"Kalo lu gak kentut, terus...ini bau apa?" tanyanya.
Matanya memandang daerah disekelilingnya. Suasana jalan sudah sepi, dan Bian berhenti pas di depan gerbang pemakaman umum.
"Aduh!" Bian mengaduh lagi ketika Jojo kembali memukul lengannya, keras.
"Paan sih, Jo? Demen banget mukul, emang gue samsak!" gerutu Bian, kesal.
"Cepetan jalan, By. Lu berhenti di tempat kayak gini, gak ada tempat yang lebih serem dari ini ya?" Jojo menarik baju Bian, kasar.
Bian menatap sekeliling tempat. Senyum jahilnya muncul.
"Jo, mungkin gak tadi lu nyium bau zombie? Secara tempat sepi kayak gini, pasti banyak demitnya." ujar Bian, sengaja menakut-nakuti Jojo.
"Iya. Lu demitnya. Mana ada zombie di sini, ngarang lu." Jojo menjitak kepala Bian, kesal.
"Kalo bukan...lu tadi nyium bau apa?" pancing Bian. Ia pun mulai menjalankan motornya kembali.
"Bau ketek lu. Puas?!" sahut Jojo galak.
Bian tertawa ngakak.
__ADS_1
"Jangan kenceng-kenceng ngakaknya, ntar muncul beneran demitnya." Jojo memukul pelan punggung Bian.
"Buruan ngebut." katanya lagi.
Bian tergelak lagi.
"Peluk gue! Kita ngebut sekarang!"
Jojo pun memeluk Bian, cepat. Tangannya mendekap erat perut rata sohibnya itu. Matanya tertutup rapat, takut dengan suasana sepi di tempat itu.
Bian tersenyum penuh arti.
"Gue suka nih yang kayak gini." pikirnya, nakal.
Sampai di rumah Jojo,
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Bapak yang membuka pintu.
"Maaf ya Om, kami pulang telat." kata Bian sopan.
"Cuma lewat lima menit doang, Pak." sambung Jojo.
Bapak tersenyum.
"Iya. Gak pa-pa." jawab Bapak.
"Kalo gitu saya permisi pulang, Om." pamit Bian dengan sopan.
Bapak mengangguk.
"Hati-hati." kata bapak.
"Makasih ya, By?!"
Bian mengangguk dan melambaikan tangannya pada Jojo.
"Pacar kamu, Jun?" tanya bapak setelah Bian pulang.
"Juna mana punya pacar, Pak, slebor gitu." ledek Rio yang sudah berdiri di belakang Jojo.
Rio nyengir melihat Jojo melotot sebal.
"Tumben lo cantik, Jo. Kayaknya bener nih lu pacaran sama yang tadi?" Rio sengaja bikin Jojo tambah sebal.
"Berisik lu. Kepo!" sungut Jojo seraya masuk ke dalam rumah. Bapak tersenyum melihat interaksi kedua anaknya yang tak pernah akur.
"Sudah, Yo. Kamu suka banget menjahili adekmu."
Rio tersenyum mendengar teguran bapak.
"Habis Juna lucu, Pak. Sejak kapan dia bisa dandan rapi begitu, biasanya juga acak-acakan."
"Gue denger ya, bang." teriak Jojo dari dalam kamarnya.
Rio dan bapak tertawa geli.
"Adekmu udah mulai remaja, Yo." kata bapak pelan.
__ADS_1
Rio mengangguk sambil tersenyum.
"Adek gue udah mulai gatel."