Kaukah Gadis Tomboyku?

Kaukah Gadis Tomboyku?
OTW Ke Hatimu II


__ADS_3

"Assalamualaikum, Om. Tante!"


"Wa'alaikumussalam."


Bian tersenyum, sopan.


Pak Ari dan istrinya mengerutkan dahi, menatap Bian lekat.


Bian menyalami kedua orangtua yang sudah lanjut usia itu.


"Saya Arbyan, tante. Teman SMA Juna."


"Bian..." emak coba mengingat-ingat.


"Yang dulu nganterin Juna pulang malem-malem ya?" bapak yang malah ingat.


"Oh iya. Yang sering dateng bareng Puput kan?" sambung emak.


Bian mengangguk.


"Om dan tante apa kabar?" tanya Bian.


"Alhamdulillah sehat, Nak. Kamu apa kabar? Istri dan anakmu mana?" tanya bapak.


"Saya baik, Om. Saya single parent, dan anak saya sekarang ikut orangtua saya di S."


"Kamu sudah lama tugas di kota ini, By?" tanya emak.


"Hampir empat bulan, Tante."


"Sudah ketemu Juna?" tanya emak lagi.


"Sudah tadi. Aku baru tau kalo Juna sepupunya Novi."


"Kenal Novi juga?"


Bian mengangguk.


"Kebetulan dia staf di Polres." kata Arbyan.


Emak dan bapak mengangguk.


Jojo datang menghampiri mereka bersama bocilnya.


"Ochi mana, Jun? Kok gak kelihatan?" tanya emak.


"Lagi main sama Fathan dan Leon."


"Rey mau ikut mbah ke rumah Pakwo, gak?" ajak bapak.


Si bocil menggeleng, cepat.


Jojo tertawa.


"Gak bakalan mau, Pak. Takut dia sama bang Pras. Ya, Dek?" Jojo menoleh ke si bocil yang mengangguk.


Bapak dan emak tertawa.


"Pras itu anak sulung Rio. Udah ketemu Rio kan?" emak bicara pada Bian.


"Udah, Tante." kata Bian.


Tak lama Rio dan istrinya datang, dan ikut bergabung dengan mereka.


"Ini siapa, Mak?" tanya Lina.


"Kayak pernah liat?" batin Lina.


"Kakak ini yang dulu sering antri solar, kan? Yang dulu nabrak pagar pembatas POM pake mobil Ta*t hitam, kan?" tebak Bian.


"Ini beneran Pak Arbyan?" tanya Lina.


Bian mengangguk.


"Apa kabar, Kak?"


Bian salim dengan Lina.


"Baik." kata Lina.


"Kamu kenal Arbyan, Dek?" tanya Rio pada istrinya.


"Dia ini dulu pernah tugas di sini bareng Delvin, Bang." jelas Lina.


"Sekarang balik lagi ke sini ya, Pak?" tanya Lina sopan, pada Bian.


Dari dulu Lina selalu memanggil Bian dan teman-temannya dengan panggilan 'Pak'.


Bian mengangguk, tersenyum.


"Pasti jabatannya udah tinggi ya sekarang?" terka Lina.

__ADS_1


"Gak, Kak. Biasa aja." jawab Bian, merendah.


"Dulu...lu tugas di sini tahun berapa, By?" tanya Jojo, penasaran.


"Bisa-bisanya aku gak tau kalo Bian pernah tugas di sini? Kalo dulu ketemu kan pasti aku kenalin dia sama Mirza." batin Jojo.


"Tahun 2006 sampai 2007."


"Kok bisa gak ketemu ya?" gumam Jojo pelan.


Bian menoleh ke arah Jojo.


"Pasti kamu bertanya-tanya kenapa kita bisa gak ketemu kan, Yank?" tebak hati Bian.


Beberapa saat kemudian teman Bian mengajak Bian pulang. Bian pun pamit dengan keluarga Jojo.


Bian mengajak Jojo menjauh sebentar dari keluarga dan teman-temannya.


"Yank, ntar malem kita keluar ya?" pinta Bian.


Jojo diam, berpikir.


"Ajak aja anak-anak. Aku bawa mobil, kok." kata Bian seolah tau apa yang Jojo pikirkan.


"Oke, deh!" Jojo mengangguk setuju.


Bian tersenyum girang.


"Jam tujuh aku jemput, ya?"


"Hm."


Bian pun pulang dengan hati senang, karna nanti malam dia bisa bertemu lagi dengan Jojo.


💃


💃


💃


Jam tujuh lewat dua puluh menit. Bian dan Jojo sudah duduk di salah satu kafe yang ada di pantai yang cukup terkenal di kota itu, bersama dua anak Jojo.


"Kakak dan Dedek mau makan apa? Nanti biar Om yang pesan." Bian bertanya pada kedua anak Jojo.


"Pesen nasi goreng aja, By." Jojo yang nyaut karena kedua anaknya diam saja menatap Bian.


Bian lalu memesan dua nasi goreng, dua spagetti dan empat gelas orange jus.


"Kakak sama Dedek, kenapa diam aja? Takut ya liat Om?" tanya Bian.


sreett!


Mata Bian melirik tajam ke arah Jojo, yang langsung membuang pandangannya ke sembarang arah.


"Malu, Om!" jawab si kakak, pelan.


"Kenapa malu? Om kan gak ngapa-ngapain?" tanya Bian lagi.


"Maksudnya...Om itu yang malu-maluin." ledek Jojo.


"Ish!" Bian mendelik sewot.


Jojo pun tertawa geli.


"By, boleh nanya gak?"


"Silahkan. Selama itu gak tanya soal Ria atau Novi, atau...perempuan lain, pasti aku jawab." sahut Bian.


"Tanya tentang...istri lu?"


Jojo takut-takut bertanya. Tapi dia penasaran karna memang Bian dan Jojo belum pernah saling bercerita tentang kehidupan mereka setelah sekian lama tidak bertemu.


Bian menatap Jojo, dalam-dalam.


"Tapi habis aku cerita, kamu juga cerita tentang almarhum suami kamu ya?" pinta Bian.


Jojo mengangguk, setuju.


Bian pun mulai bercerita.


"Aku dulu dijodohkan mamaku dengan anak teman mama. Kamu tau alasannya, Yank?"


Bian menatap Jojo yang menggeleng, cepat.


"Mama takut aku gak normal. Karna teman dekatku laki-laki semua, dan aku tidak pernah membawa wanita yang bisa aku kenalkan pada papa dan mamaku."


Bian merengut melihat Jojo cekikikan, menertawakannya.


"Kamu tau aku pria normal kan, Yank? Buktinya aku pacaran sama kamu." kata Bian.


"Kali aja lu ganti haluan kan, By. Gue denger lu ditolak ya sama Ria. Setelah kita putus, lu kan ngedeketin dia?" sindir Jojo.

__ADS_1


"Siapa bilang?!" sentak Bian.


"Ria ngomong gitu sama kamu?!" tanya Bian, sambil menatap Jojo, tajam.


"Emang cerita itu gak bener, By?" tanya Jojo.


"Aduh, Yank. Masak sih kamu masih percaya aja mulut ember si Ria. Dia tuh terus ngejar-ngejar aku dan selalu ngejelekin kamu di depan aku, tau gak?"


"Masak sih?"


"Dia bilang kamu pacaran dan sering ketemuan sama Adit. Dia juga bilang kamu sering jalan gak hanya dengan satu cowok."


"Dan kamu percaya, By?" tanya Jojo.


"Pasti Bian percaya, secara mulut Ria kan lemes banget." batin Jojo.


"Gak. Soalnya aku tau kamu, Yank. Kamu gak mungkin pacaran sama Adit, karna kamu hanya menganggapnya teman, kan? Dan tentang cowok-cowok yang Ria ceritakan, itu Yayan sama Boim kan?"


Jojo tersenyum.


"Tau dari mana lu kalo itu Yayan dan Boim?"


"Yayan sendiri yang bilang ke aku. Mereka yang ganti'in aku dan Puput." jelas Bian sambil menunduk, sedih.


"Maafin aku ya, Yank, udah ngejauhin kamu. Awalnya aku cuma pengen kamu tau kalo aku lagi ngambek sama kamu dan pengen tau kamu bakal bujuk aku apa gak. Eh taunya kamu malah ikutan pindah duduk dan gak balik lagi ke aku."


Jojo manggut-manggut.


"Terus?"


"Aku marah besar sama Ria. Aku bilang aku menyesal nolongin dan ngajak dia pergi ke rumah kakakku dulu."


"Terus?"


"Dia nangis kenceng. Ya aku tinggalin aja. Aku gak mau dia ge-er kalo aku coba nenangin dia lagi kayak dulu."


Jojo geleng-geleng kepala mendengar cerita Bian.


"Gak nyangka gue lu bisa kejem juga ama cewek, By."


"Kalo aja dari awal aku bisa bersikap kejam sama Ria, kita gak mungkin pisah, Yank. Kamu gak mungkin marah dan mutusin aku." sahut Bian, getir, mengingat masa lalunya dulu.


"Anggap aja kita gak jodoh, By!" sanggah Jojo.


Bian mengangguk.


"Itulah sebabnya aku malas berteman dengan cewek lagi, Yank."


"Makanya lu doyan ama cowok ya?" tukas Jojo, cepat.


"Aduhh!!!"


Jojo mengaduh ketika Bian menyentil keningnya, keras.


"Nyablaknya gak ilang-ilang. Kalo ngomong dipikir dulu, napa?" sungut Bian, kesal.


Jojo meringis, geli.


"Mau dilanjutin lagi gak ceritanya? Kalo gak, ya udah. Aku juga males kamu ledekin terus."


Bian merajuk.


"Deuh, ngambek!" Jojo menoel dagu Bian, usil.


"Lanjutin ya ceritanya, pleaseee?" bujuk Jojo.


Bian masih manyun. Tapi dia lanjutkan juga ceritanya.


"Setelah aku lulus Akpol dan bekerja, mama menyuruhku menikah dengan anak temennya."


Bian melirik Jojo yang diam, khusyuk mendengar ceritanya.


"Dua tahun setelah menikah, istriku meninggal setelah melahirkan anak pertama kami."


Jojo menatap Bian yang tertunduk, sedih.


"Maaf, By. Gak seharusnya gue tanya ini ke elu."


"Gak pa-pa, Yank. Aku senang bisa berbagi cerita sama kamu. Beban di hatiku terasa plong sekarang." ujar Bian.


"Kamu tau, Yank. Selama aku menikah, aku gak pernah mencintai istriku. Dalam hati aku cuma ada kamu, Yank. Aku gak bisa berpindah ke lain hati." ungkap Bian, jujur.


Jojo diam. Bingung dan salah tingkah dia jadinya. Entah harus sedih atau bahagia ketika dia mendengar ungkapan hati Bian.


author : "mending joget aja, Jo. Daripada lu puyeng mikirin soal hati."


Jojo : "Gak ah. Capek gue. Udah tuir, cuy!"


author : "Nyadar diri juga lu ya?"


Jojo. : "Ya, iyalah. Emang lu thor, urat malunya gak pake nyambung. Putus mulu perasaan, tuh urat malu."😂✌

__ADS_1


author : 😤😤😤💃💃💃💃


Jojo. : 🤭🤭


__ADS_2