
"Nih anak kok unik banget ya. Tingkahnya suka bikin gue gemas. Pengen gue em*t deh rasanya tuh mulut."
Bian menatap lekat gadis yang duduk disebelahnya. Jam istirahat pertama sudah berbunyi, tapi Bian dan Jojo memutuskan untuk beristirahat di dalam kelas.
"Lu...kalo gue perhati'in kok beda dari awal kita masuk sekolah, Jo."
Jojo mengernyit, tak mengerti. "Maksudnya?" tanyanya bingung.
"Lu awal masuk kayaknya juteeeekk banget. Dingin...kayak es batu."
"Biasa aja kali nyebut juteknya, jangan panjang kayak kereta api gitu." sungut Jojo.
Bian terkekeh.
"Terlalu lebay ya?" tanyanya.
"Emang lebay."
"Terus...gimana?"
"Apanya?"
Bian mengusap wajahnya sambil menghela napas pelan.
"Nih cewek suka banget bikin gue mati gaya."
"Gue tanya kenapa sikap lu beda awal masuk sekolah sama yang sekarang?" tanya Bian dengan nada pelan, menahan gejolak hatinya yang ingin menerkam gadis itu. (serem amat si Bian, udah kayak macan🤪)
"Ooh, itu." Jojo nyengir.
Bian menatapnya lagi.
"Gue awalnya kecewa karena harus sekolah di sekolah yang bukan pilihan gue."
"???"
Bian mengernyitkan dahinya.
"Sebenarnya, setelah lulus SMP gue mau masuk ke STM. Tapi emak gue gak mau gue sekolah di sana. Emak nyuruh gue sekolah di SMK." Jojo mulai bercerita.
"Loh...kan sama aja, Jo."
__ADS_1
"Ya bedalah, By. Di SMK mana ada bagian tehnik elektro." bantah Jojo.
"Lu mau ambil jurusan tehnik elektro emangnya?"
Jojo mengangguk.
"Gue penasaran pengen ngebongkar radio tape lama punya bapak gue." katanya.
"Deeuhh...ni cewek kayaknya emang harus ganti casing deh."
"Terus... kenapa jadinya lu sekolah di sini?"
"Gue kesal dipaksa emak harus masuk SMK, jadinya gue minta sama bapak gue biar sekolah di sini aja. Dekat dengan rumah, jadi enak kalo mau bolos. Hee!" Jojo nyengir lagi. (doyan amat nih anak nyengir, ntar kering tuh gigi lu, Jo.🤭)
"Kalo sekarang...apa masih kesel karna gak jadi masuk STM?" tanya Bian lagi.
Jojo menggeleng.
"Gak. Temen-temen SMP gue ternyata banyak yang sekolah di sini, dan teman-teman baru gue juga baik-baik semua, termasuk elu. So... gue seneng bisa sekolah di sini."
Jojo tersenyum manis.
Bian menahan napas sesaat. Senyum Jojo membuatnya seakan gak bisa bernapas.
"Ar!"
Panggilan itu menyadarkan Bian dari diamnya. Dilihatnya Linda duduk didepannya dengan senyum manis tersungging di bibirnya yang tipis tengah menatap Bian, lekat.
Bian melengos, menoleh ke arah Jojo yang duduk disebelahnya. Tapi Jojo malah memunggunginya, duduk menatap keluar jendela.
"Ar! Ke kantin, yuk!" Linda memegang tangan Bian, yang langsung ditarik cowok itu.
"Ngapain ngajak gue? Ajak temen-temen lu sana." tolak Bian.
"Aku pengennya sama kamu, Ar."
"Guenya yang gak mau ama lu. Ngerti?" sahut Bian to the point.
Dede masuk ke dalam kelas. Dia melihat Linda duduk di bangku Yayan. Dede menghampiri Jojo tanpa memperdulikan Linda dan Bian.
"Lagi liatin apa, Jo?" tanya Dede dengan mata mengikuti arah Jojo memandang.
__ADS_1
"Lu liat dikelas XIA, De."
"Ada apa emangnya?" tanya Dede penasaran. Akhirnya Dede pun ikutan melongok ke kelas XIA. Dimana di depan kelas XIA ada beberapa siswa sedang duduk bercengkrama.
"Yang akhew cakep tuh, De." celutuk Jojo.
"Yang mana? Tole?" ceplos Dede, dan sedetik kemudian ia mengaduh ketika Jojo menjitak kepalanya, keras.
"Itu sih cem-ceman lu, De." dengusnya kesal.
Dede meringis.
"Habis...yang mana dong?" sungut Dede, merajuk.
"Yang sipitlah. Yang disebelah Tole." sahut Jojo cepat, lalu menoleh ke Dede. "Lu taunya cuma Tole mulu. Sering mimpi'in Tole ya?" tuduh Jojo.
"Ishh, kejam amat tuduhan lu, Jo. Selera gue tinggi ya?" Dede merengut, kesal.
"Lah...si Tole juga tinggi, De. Kurang apa lagi coba." Jojo makin kurang ajar menggoda Dede.
"Iya, tinggi giginya. Puas?!" gerutu Dede, sebal.
Jojo ngakak.
"Jangan baper. Ntar malem mimpi Tole beneran, gak bangun lagi lu."
"Ihh, lu malah nyumpahin gue. Sialan lu!" Dede menepuk keras bahu Jojo.
Kembali gadis itu ngakak.
"Mudah-mudahan si Tole munculnya di mimpi lu, Jo." Bian mengguncang-guncang bahu Jojo dengan kencang.
"Aamiin!" sahut Dede, nyaring, sampai Jojo cepat-cepat menutup kupingnya.
"Haishh, kaleng rombeng. Budeg nih kuping gue." sungut Jojo seraya meniup tangannya dan menaruhnya ditelinganya berulang-ulang.
Linda benar-benar kesal melihat Bian yang selalu mengabaikannya. Linda merasa sia-sia mengejar cinta Bian selama ini.
Sejak SMP Linda menaruh hati pada Bian dan terus mencoba mendekatinya. Tapi Bian tak pernah menggubrisnya, bahkan terang-terangan menolaknya.
Akhirnya Linda pun keluar dari dalam kelas meninggalkan Bian dan juga asa yang dipendamnya untuk cowok tampan itu.
__ADS_1
"Mungkin kamu memang bukan untukku, Ar."