
Satu tahun kemudian,
Jojo tersenyum geli melihat wajah suaminya yang masih saja manyun.
"Udah ah ngambeknya. Gak enak kan mau ketemu calon besan kalo mukanya ditekuk mulu!" Jojo menoel jahil dagu suaminya, sengaja menggoda Bian.
"Kenapa harus Adit sih jadi papanya Yudhis, Yank?" protes Bian.
"Loh... maunya kamu siapa yang jadi papanya Yudhis? Ariel Noah?"
Bian tersenyum geli.
"Paling bisa kamu ya?" Bian mencubit gemas pipi Jojo.
"Habis kamu... cemburuan terus. Ingat umur, By. Gak usah cemburu-cemburuan lagi. Adit itu calon besanmu loh!" Jojo menoel hidung mancung Bian.
"Pa! Mak! Calonnya Kak Dira udah dateng, tuh!" Raka menghampiri Jojo dan Bian di kamar mereka.
"Kamu jangan jauh-jauh dari aku ya, Yank? Jangan pernah lirik-lirikan sama Adit!" tekan Bian.
"Iya. Ntar aku julingin aja mataku biar gak keliatan lagi ngelirik Adit!" dengus Jojo, kesal.
Bian terkekeh geli.
"Assalamualaikum, Ar!"
"Wa'alaikumsalam, Dit! Silakan duduk!" Bian mempersilahkan tamunya duduk setelah menyalami mereka satu per satu.
"Ar, kurasa kamu tau maksud kedatangan kami kemari. Putraku, Yudhis ingin melamar putrimu, Dira." kata Adit langsung ke intinya.
Bian menatap Yudhis, tajam, membuat Yudhis merasa gugup campur ngeri. 😂
"Yank, panggil Dira kemari!"
Jojo pun memanggil Dira dikamarnya.
"Sayang, babang Yudhis cari kamu tuh!" Jojo menggoda Dira yang sedang bermain dengan Ochi, Rey dan baby Zayn.
"Ish, emak! Jangan godain aku napa?" pipi Dira pun memerah, karna malu.
Jojo tersenyum, geli.
"Jangan malu-malu gitu, cukup emak aja yang malu-maluin. Heee!"
Jojo nyengir. Dira pun mesam-mesem, geli.
"Yuk, keluar. Ntar Yudhis meleleh kelamaan dipelototin papamu!" ajak Jojo.
Digendongnya baby yang tiduran di kasur Dira. Dira keluar sambil menggandeng dua adiknya, bocil dan Ochi.
Dira mencium sopan punggung tangan, Adit, sang calon pamer (papa mertua). Kemudian Yudhis, lalu memeluk Indah, adik Yudhis yang juga sahabat Dira. Dan terakhir Dira bersalaman dengan suami Indah.
"Habis ini kita ngobrol banyak ya, Ra?! Gue kangen ama lu!" pinta Indah dengan berbisik.
Dira mengangguk dan tersenyum.
"Duh, cantiknya calon mantuku. Mirip ama emaknya." Adit sengaja memancing reaksi Bian yang dari tadi terus menatap lekat putranya.
Adit sengaja memberi kode kepada Jojo agar ikut dalam permainannya menggoda Bian.
Bian mendelik.
"Fokus!" katanya dengan dua jari yang mengarah dari matanya ke mata Adit, memberi peringatan.
Adit nyengir, paham. Jojo pun tergelak.
(agaknya Bian harus ditatar nih biar gak galak ama calon mantunya. 😂)
"Becanda, Ar. Jangan masukin ke ati lah!" bujuk Adit.
Arbyan merengut.
__ADS_1
"Baiklah. Saya sekali lagi ingin menyampaikan maksud kedatangan kami sekeluarga kesini untuk meminta Dira menjadi menantu kami."
Semua menatap ke arah Dira yang tertunduk, diam. Jojo mengusap bahu Dira, mencoba membuatnya tenang dalam membuat keputusan untuk masa depannya.
"Bagaimana, Sayang? Kamu bersedia menerima pinangan Yudhis?" Bian menatap putrinya, lembut.
"Bismillahirrahmanirrohiim!"
Dira menarik napas panjang.
"Iya, Pa! Dira bersedia!" ucap Dira, yakin.
"Alhamdulillah!"
"Makasih, Ra!" ucap Yudhis dengan isyarat tanpa suara. Senyum bahagia terpancar diwajahnya.
Dira mengangguk, lalu kembali tertunduk malu.
"Izinkan Yudhis memberi cincin sebagai ikatan untuk Dira, Ar." pinta Adit.
Bian mengangguk, setuju. Ia pun mempersilahkan Yudhis melakukannya.
Yudhis mengeluarkan kotak beludru biru dari kantong celananya. Sebuah cincin emas putih terlihat saat Yudhis membuka kotak itu.
Yudhis mengambil cincin bermata berlian yang berukir namanya dan memasukkannya ke jari manis Dira.
"I love you!" bisik Yudhis.
Dira tersipu malu. Hatinya pun berirama tak menentu, antara keroncong, slow rock dan campur sari.😋
flashback on
"Maukah kau menikah denganku, Ra?"
"Eh?!"
Dira menatap pria tampan didepannya, kaget.
"Ja... jangan becanda, bang!"
"Abang serius, Ra!" Yudhis menatap Dira, lekat, membuat gadis cantik itu salah tingkah.
"Tapi... kita kan..."
Yudhis menggenggam tangan Dira dan menatapnya lembut.
"Abang gak mau kehilangan kamu lagi, Ra. Sekian lama abang tersiksa karena hanya bisa mengagumimu dalam hati tanpa berani mengungkapkan perasaan cinta abang sama kamu. Abang gak mau melepaskan kamu lagi, Ra!"
"Bang..."
"Sekarang abang sudah mantap ingin memiliki kamu, Ra. Abang akan meminta kamu pada Pak Arby. Abang ingin menikahimu!"
"Bagaimana Abang kenal Dira? Kita kan belum pernah pacar..."
"Gak harus pacaran untuk kita saling mengenal, Ra. Abang tau kamu gadis baik, meski manja dan sedikit 'usil', sih!"
Dira nyengir malu.
"Kita kan bisa pacaran setelah menikah, Ra?" bisik Yudhis, membuat pipi Dira makin merona merah.
"Abang beneran cinta sama kamu, Ra! Abang mau serius sama kamu. Maukah kamu jadi satu-satunya milik Abang, jadi istri Abang, Ra?"
Dira menatap Yudhis, sendu. Airmatanya jatuh tanpa diminta. Yudhis terkejut melihat Dira menangis. Dengan lembut dihapusnya airmata yang mengalir di pipi Dira.
"Maafkan abang, Ra! Abang gak bermaksud bikin kamu menangis karna pengakuan abang. Abang hanya tidak ingin membohongi hati abang lebih lama lagi. Abang mencintai kamu, Ra! Sejak kita masih di SMA dulu." ungkap Yudhis, jujur. Dibelainya lembut pipi Dira yang basah.
"Gak ada yang perlu dimaafkan, Bang. Dira hanya tidak menyangka kalau perasaan kita sama. Jujur, Dira juga menyukai Bang Tira... sejak lama." ujar Dira malu-malu mengakui perasaannya.
"Jadi..."
"Aku mau menikah dengan Bang Tira!" ucap Dira sambil tertunduk malu.
__ADS_1
Yudhis tersenyum cerah. Direngkuhnya tubuh gadis kecilnya yang sedari dulu ia sayang dan dilindunginya.
"Makasih, Ra! Abang senang ternyata kita memiliki perasaan yang sama. Maafkan abang yang terlambat mengungkapkan perasaan cinta abang sama kamu. Karna memang abang berjanji setelah abang meraih cita-cita abang, barulah abang akan memintamu untuk menjadi istri abang. Dan alhamdulillah, do'a abang terkabul!" Yudhistira membelai dan mengecup lembut pucuk kepala Dira.
"Sama-sama, Bang. Dira juga senang karena ternyata penantian Dira tidak sia-sia. Dira akan menjadi milik Bang Tira sepenuhnya." Dira memeluk erat kekasihnya yang sudah lama diimpikannya.
flashback off
"Ar, gimana kalo pernikahan Yudhis dan Dira kita tentukan sekarang? Toh umur mereka sudah cukup matang dan mapan untuk menikah."
Adit tidak ingin menunda lagi. Sudah saatnya sang putra memiliki seorang pendamping hidup yang dicintainya. Dan Dira adalah pilihan yang tepat. Adit mengenal Dira sudah lama. Dira anak yang baik dan sopan. Adit sangat menyukainya.
"Gimana menurut kamu, Yank?" Bian meminta persetujuan Jojo.
"Aku sih setuju, By. Lebih cepat lebih baik. Sudah pantes kok kalian punya cucu!" Jojo menggoda Bian dan Adit.
"Cucu kami berarti cucu kamu juga, Juna!" sahut Adit.
"O iya, ya! Lupa aku!" Jojo nyengir.
Bian mengacak kepala Jojo, gemas.
"Haish, By! Jilbabku berantakan ini." Jojo ngedumel, kesel.
"Sini aku bantu benerin!" Bian pun membantu istrinya merapikan jilbabnya.
"Aiiih, so sweet banget sih tante sama om. Indah jadi pengen deh romantisan kayak gitu." Indah menatap takjub pasangan gaek di depannya.
"Loh, emang suamimu gak romantis, Dah?"
"Mana ada waktu buat romatis-romantisan, Om, orang tiap hari pulang pagi terus. Gak tau lagi kerja atau punya bini baru." Indah melirik sebal pada suaminya yang hanya nyengir.
"Gak mungkinlah, Bun, aku punya yang lain. Punya kamu aja aku bingung bagi waktu antara kamu dan pekerjaanku." Miko, suami Indah, coba memberi penjelasan yang sebenarnya sudah sering ia lakukan. Tapi istrinya masih saja curiga.
"Jangan curigaan, Dek. Ingat, ucapan adalah do'a."
"Astaghfirullahaladziim!" Indah beristighfar.
"Maafin aku ya, Yah!" Indah mencium tangan suaminya, meminta maaf.
Miko tersenyum lembut.
"Aku juga minta maaf Bun, belum bisa bahagiain kamu." ujar Miko, tulus.
Indah memeluk suaminya, manja. Dan sang suami pun mencium pucuk kepalanya, lembut.
"Deuh, papa! Mukanya biasa aja, jangan jealous gitu. Pengen ya?" Indah meledek papanya.
Bian melotot ke arah Adit.
"Jangan pelototin bini gue!" dengusnya sewot.
Adit balas mendelik.
"Lah... elu yang melotot ke gue, Ar!" protesnya.
Semua pun tertawa melihat kedua besan yang tak pernah akur itu.
author : Jo, mending dulu lu pilih Adit aja. Aman idup lu!
Jojo : Harusnya emang gitu sih, Thor. Capek gue dicemburuin terus. Berasa nyimpen bisul bertahun-tahun.😔
Bian : Lu apain bini gue, thor?
author : Mau gue tepungin biar krispy.
Bian : Lu kata bini gue fried chicken?
author : Bukan gue loh yang ngomong!ðŸ¤ðŸ¤
Bian : 🙄🙄😒😒😳😳🤫🤫🤫🤫
__ADS_1