
Jojo baru saja masuk ke dalam kamarnya ketika Bian mendorongnya pelan lalu menutup pintu dan menguncinya.
"Paan sih, By? Kamu dikejar maling?"
Jojo nyaris nyusruk kalo saja Bian tidak memeluk perutnya, cepat.
"Kita mandi bareng ya, Yank?" mata Bian mengerjab-ngerjab, lucu, dengan bulu mata lentiknya.
"Kamu duluan aja mandinya, By. Aku mau buka ini dulu.. "
"Bukanya di kamar mandi aja, Yank!"
"Ish. Ribet, By! Kamu gak liat ini banyak jarum pentulnya?!"
Jojo duduk di depan meja riasnya, membuka satu persatu jarum pentul yang ada di jilbabnya.
"Sini aku bantuin." Bian berdiri di belakang Jojo dan membantunya.
"Kamu duluan aja mandinya, By. Kita gantian." kata Jojo.
"Aku pengen punggungku digosok sama kamu, Yank. Udah tebel nih dakinya, kelamaan gak ada yang gosokin." pinta Bian.
Jojo tersenyum seraya menggeleng geli mendengar alasan Bian.
"Ayo, deh. Tapi aku gak mandi ya, cuma gosokin daki kamu aja." kata Jojo.
"Mandi bareng aja, Yank! Ntar gantian aku yang gosokin kamu." Bian mengerling genit.
Jojo mengulum senyum.
"Ya, udah. Tapi jangan lama-lama ya, ntar aku kedinginan."
"Kan ada aku yang akan peluk kamu, Yank?!"
"Semaumulah, By!" kata Jojo, pasrah.
Bian tersenyum penuh kemenangan.
"Eh, By! Mau ngapain?!" jerit Jojo tertahan saat Bian tiba-tiba menggendongnya. Jojo akhirnya diam saja ketika Bian membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
"Kamu diam aja, Yank! Biar aku yang buka pakaian kamu!" cegah Bian saat tangan Jojo berusaha menahan Bian yang mulai membuka resleting kebayanya.
"Aku aja yang buka baju kamu, By! terus aku mandi'in dan gosok punggung kamu ya?" tawar Jojo. Ia masih merasa malu kalo harus tela**ang di depan Bian.
Tanpa menunggu persetujuan Bian, Jojo pun mulai membuka satu per satu kancing kemeja Bian. Dan saat akan membuka celana Bian, Jojo terdiam seketika.
"Kok diem, Yank? Ini belum dibuka loh?!" Bian menunjuk celananya.
Jojo meringis, malu.
"Gak usah malu-malu. Aku milik kamu sekarang. Mau kamu apain juga malam ini, aku pasrah, Yank!"
Merah pipi Jojo mendengar seloroh Bian. Tiba-tiba Bian menarik tengkuk Jojo dan mencium bibirnya, lembut.
Jojo pun membalas ciuman Bian.
Sesaat Bian melepaskan ciumannya dan menatap dalam mata Jojo.
"Aku ingin kamu percaya bahwa cintaku hanya untuk kamu, Yank! Selamanya, sampai akhir hidupku!"
Bian kembali mencium bibir Jojo, dan kali ini lebih lama, hangat, dan menggairahkan. Jojo pun mulai terbawa suasana. Lidah Bian memaksa masuk ke mulut Jojo, dan bermain di sana membuat Jojo nyaris terkulai lemas menerima sensasi yang begitu membuainya.
Bibir Bian berpindah ke leher Jojo. Dan kembali beraksi dengan membuat lukisan abstrak di beberapa tempat, disekitar leher Jojo.
Tangan Bian pun sudah tidak bisa dikondisikan lagi, bergerilya di sekujur tubuh Jojo. Mulai dari tengkuk, dada, hingga bokong Jojo.
__ADS_1
"Akhh! By?!"
"Sabar, Yank! Kita main-main dulu, ya? Mandinya ntar aja!"
"Ashh!"
Desahan Jojo makin membuat Bian terpacu untuk membuat Jojo takluk. Entah sejak kapan Bian membuat tubuh Jojo polos tanpa sehelai benang pun. Entah di sudut mana Bian membuang baju Jojo, juga celana yang dipakainya tadi.
Dengan rakus Bian menghisap pu**ng pa****ra Jojo, hingga Jojo menggelinjang hebat karna sensasi yang ditimbulkannya.
"By, aku...gak mau...di kamar..."
Tanpa melepaskan mulutnya dari bukit kembar Jojo, Bian mengangkat tubuh mungil Jojo dan membawanya ke tempat tidur. Diturunkannya dengan lembut tubuh istrinya dan ia pun melanjutkan permainannya.
Setelah puas bermain-main, sambil bibirnya mencium dalam bibir Jojo, Bian pun memulai aksinya.
"Akhh! Shh!"
Akhirnya, terjadilah yang seharusnya terjadi. Bian yang sudah lama puasa dalam berhubungan intim setelah istrinya pertamanya meninggal, kini seakan ingin sepuasnya menikmati buka puasanya dalam menjamah tubuh istri barunya.
"Makasih ya, Yank! Aku bahagia bisa memiliki kamu!" Bian mengecup lama kening Jojo diakhir permainannya.
Bian lalu menghempas tubuhnya, berbaring di samping Jojo yang langsung memeluknya dan berbaring manja di dada Bian.
"Sama-sama, By! Aku senang kita bisa menikmatinya berdua."
Bian tersenyum puas sambil membelai rambut Jojo.
"Kamu suka ya sama badan aku, Yank?" tanya Bian ketika Jojo terus mengusap-usap dadanya yang bidang.
"He-eh! Kamu seksi banget, By!" jawab Jojo, jujur.
"Seksi mana sama si Andi?"
Jojo mengangkat wajahnya, menatap Bian.
"Iyalah. Soalnya aku gak tau almarhum suami kamu."
Jojo menjauhkan tubuhnya dari Bian, tapi Bian menariknya kembali hingga Jojo kembali memeluknya.
"Aku kan cuma pengen tau, Yank. Jangan marah, ya?" bujuk Arbyan.
Jojo menghela napas panjang.
"Barisan para mantanku badannya seksi semua. Gak ada yang cungkring. Puas?!"
Bian tersenyum geli.
"Sekarang gantian aku yang nanya." ujar Jojo.
"Apa? Apa kamu mau tanya seksian mana kamu sama almarhumah istriku?" tebak Bian.
"Gak. Aku tau aku jauh lebih jelek dibanding mamanya Dira. Aku cuma mau tau apakah kamu nyesel punya istri jelek, kurus, item kayak aku?"
Bian tertawa. Lalu dikecupnya lembut pucuk kepala Jojo.
"Bagiku kamu gak ada bandingannya, Yank. Kamu yang tercantik, terbaik, terseksi, dan... terhot! Aku gak pernah merasa sepuas ini!"
Jojo mencibir.
"Gombalmu, By... makin parah aja!"
"Aku gak gombal, Yank. Aku ngomong jujur. Aku sangat menikmati malam ini karna aku selalu membayangkan bisa seperti ini sama kamu. Dan sekarang semua khayalanku jadi kenyataan. Kamu istriku juga milikku sekarang, dan selamanya." ungkap Bian, jujur.
Jojo tersipu malu. Dibenamnya wajahnya ke dada suaminya, lalu mengusel-nguselnya.
__ADS_1
"Yank?"
"Hm."
"Jangan digituin?"
"Apanya?" Jojo mendongak, menatap Bian tak mengerti.
"Aku pengen lagi!"
Bian mengedipkan sebelah matanya, menggoda Jojo.
Jojo tersenyum dan mengangguk. "Ayolah!"
Dengan semangat empat lima Bian kembali mengulang aksinya yang untuk kesekian kalinya. Malam ini Bian benar-benar puas menuntaskan hasratnya. Dan ia senang karna istri mungilnya ternyata mampu mengimbangi permainannya.
"Aku senang bisa punya lawan sparing yang sepadan kayak kamu, Yank!"
"Maksudnya?"
"Ternyata kamu hebat bukan hanya dikehidupanmu, tapi juga diranjang, Yank!"
Heeee!
Jojo nyengir.
"Gimana ngomongnya ya, By? Habis enak sih! Kamu pinter mancingnya!" ujar Jojo, malu-malu.
Bian tersenyum sambil mengecup lama kening Jojo.
"Aku suka dengernya, Yank. Itu artinya kamu puas sama aku."
"Ya, iyalah. Kamu suami aku, dan kamu yang paling seksi di mata aku!" gombal Jojo.
Bian tersenyum bahagia. Jiwanya seakan melayang terbang mendengar ucapan Jojo. Ia merasa sangat dihargai dan dibutuhkan Jojo.
"Pokoknya aku mau kita tiap malam kayak gini, Yank!"
"Emang kamu gak capek?"
"Demi puasin dan bahagiakan kamu, gak akan pernah ada kata capek di hati aku."
Jojo terkekeh.
"Demi aku apa demi kamu sendiri?" tanya Jojo, geli.
Bian nyengir, malu.
"Mau kemana?" tanya Bian ketika Jojo bangun dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi.
"Mandi! Badanku lengket, keringetan. Aku gak bisa tidur kalo gini."
"Ikut!" Bian berlari menuju kamar mandi.
Dan mereka pun mandi bersama. (dalam arti mandi yang sesungguhnya ya? Jangan ngeres!π€). Saling guyur, saling sabun, dan saling gosok punggung secara bergantian. Setelah itu mereka pun tidur karena kelelahan.
author : gimana gak capek, hampir satu episode isinya main melulu. π
Bian : πΊπΊπΊ
author : maklum aja, deh. Yang udah karatan baru buka puasa. Nambah mulu!
Bian : jangan sirik! Ini kan saatnya gue berbuka dengan yang manis. Wkwkwk πππ
author : Mesenge!! ππ
__ADS_1