Kaukah Gadis Tomboyku?

Kaukah Gadis Tomboyku?
22.


__ADS_3

Jojo mengernyitkan dahinya saat melihat sosok yang datang dan menunggunya di teras depan rumah.


"Halo, Juna! Apa kabar?"


"Eh, Ria. Tumben kemari. Ada apa?" tanya Jojo langsung.


Banyak pertanyaan berkecamuk dipikirannya. Kenapa Ria, tetangganya, bisa datang kerumahnya. Padahal mereka tidak akrab.


"Maaf, Jun. Ia ganggu kamu, ya?" Ria tersenyum kikuk.


Jojo menggeleng, dan memaksakan senyumnya.


"Gak kok. Masuk dulu yuk?" Jojo berbasa-basi.


"Di sini aja, Jun. Gak pa-pa."


"Tumben kemari, Ia. Ada apa?" tanya Jojo sekali lagi.


"Kalo sampai tiga kali gue tanya lu gak jawab juga, gue kasih kemoceng lu!" ancam Jojo, dalam hati.


Ria tersenyum malu-malu. Jojo mengernyitkan dahinya.


"Wah, musti diruqiyah nih bocah. Gak ada angin gak ada ujan, tiba-tiba nongol di rumah gue. Dan sekarang dia senyum-senyum miaw gitu? Hii!!"


Jojo merasa merinding di bulu keteknya 😲 eh bulu kuduk maksudnya.🤭


"Jun, Ia boleh nanya gak?"


"Tentang?"


"Eh..anu..." Ria tampak ragu.


Jojo menggoyang-goyangkan kakinya seakan memberitahu bahwa ia sedang menunggu apa yang akan Ria katakan.


"Juna, cowok yang sering ke sini itu...namanya siapa?" tanya Ria, hati-hati.


"Yang mana satu?"


"itu...yang sering jalan bareng kamu."


"Yang mana sih?" Jojo garuk-garuk kepalanya, bingung. Teman-temannya rata-rata cowok semua, yang cewek cuma Niza dan Dede.


"Yang kemarin Ia lihat dia di rumah kamu... yang pake motor K*X."


"Arbyan?"


"Jadi namanya Arbyan? Keren. Seperti orangnya."


Ria senyum-senyum sendiri.


"Fix, nih anak emang perlu diruqiyah!" Jojo membatin.


"Apa Arbyan pacar kamu, Jun?"


Uhuk! Uhuk! Uhuk!


Jojo tersedak ludahnya sendiri. Matanya melotot, menatap Ria.


"Dia cuma teman sebangkuku."


"Benarkah?" mata Ria berbinar senang. Senyum sumringahnya pun terbit.


"Boleh gak Ia kenalan sama Arbyan?" Ria menatap Jojo penuh harap membuat Jojo salah tingkah.


"Eh...nanyanya jangan ke aku. Tanya ke orangnya langsung dong."


"Tapi...Ia gak tau rumahnya. Kamu mau nemenin Ia gak?" mata Ria mengerjap-kerjap seolah memohon agar Jojo mau membantunya kenalan dengan cowok ganteng yang sudah memikat hatinya dari pertama kali melihatnya. Cowok yang ia baru tau bernama Arbyan itu.


"Gak usah kerumahnya, bentar lagi dia juga kesini."


"Kalian mau keluar?"


"Hm."


"Mau kemana?"


Jojo mengendikkan bahunya, tanda tidak tau.


Taklama, terdengar suara motor dari kejauhan.


"Nah, tuh Arbyan. Kalo dia datang suruh tunggu, bilang aku lagi ganti baju, ya?"

__ADS_1


Ria mengangguk, mengerti. Jojo pun segera masuk ke dalam rumahnya untuk ganti baju.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


"Apa Junanya ada?" tanya Bian pada Ria yang duduk di teras rumah Jojo.


"Ada. Tunggu aja, dia lagi ganti baju."


Bian mengangguk.


Ria terus menatapnya lekat.


"Cowok ini benar-benar ganteng."


Rasanya tak puas-puas Ria memandang Bian.


Yang dipandang cuek bebek, seakan tidak ada orang di situ selain dirinya.


Sebuah motor memasuki pekarangan rumah Jojo. Buan dan Puput datang berboncengan.


"Wah, Ar. Lu kenalan sama cewek cakep gak ngajak-ngajak kita, gak solider lu." Puput datang-datang langsung nyerocos, protes.


Dihempaskan bokongnya duduk di sebelah Ria. Matanya mengerling genit pada gadis cantik itu.


Bian melengos cuek.


"Cantik, boleh kenalan, gak? Nama gue Putra, panggil aja Puput." Puput mengulurkan tangannya, mengajak Ria kenalan.


"Ria." Ria menyambut salam Puput dengan senyum manis dibibirnya.


Puput juga tersenyum manis semanis-manisnya.


Buan dan Bian saling pandang sambil tersenyum geli melihat Puput yang modusin Ria.


Ria menoleh ke arah Bian.


"Kita belum kenalan kan? Nama kamu siapa?" tangannya terulur pada Bian, mengajak kenalan.


"Arbyan." Bian menyalami Ria, singkat.


"Gue Buan." sambung Buan yang juga menyalami Ria, singkat.


"Di SMU Yapen**."


"Ikut ekskul marchingband, dong."


"Gak. Gak bisa main alat."


"Kan bisa jadi mayoret?"


"Gak ada yang mau pilih aku jadi mayoret."


"Kenapa? Kamu cantik kok."


Wajah cantik Ria merona merah mendengar pujian yang Puput lontarkan. Matanya melirik ke arah Buan dan Bian yang cekikikan mendengar rayuan maut Puput.


"Duuh mama! Gantengnya makin pool kalo dia ketawa. Aaaaaaaa!!!" jerit batin Ria seolah meronta-ronta. Matanya terus menatap ke Bian.


Jojo muncul dengan wajah segar.


"Kirain lama tadi lu dandan dulu, Jo. Taunya masih jeans butut ama kaos lagi-kaos lagi." gerutu Puput kesal melihat penampilan Jojo.


"Gue tadi mandi dulu, makanya lama, Put."


"Ya udah, yuk berangkat. Ntar kemaleman." ajak Buan.


"Gue pamit tante dulu." Bian masuk ke dalam rumah Jojo menemui emak.


"Udah?" tanya Buan ketika Bian sudah keluar.


Bian mengangguk.


"Maaf ya, Ria cantik, kami jalan dulu. Kapan- kapan boleh dong kita ke rumah kamu?" mata Puput mengerling nakal ke arah Ria.


"Boleh. Aku tunggu ya?"


"Oke. Siap!"


Puput mengangkat tangannya layaknya hormat bendera membuat ketiga sahabatnya tertawa dengan ulahnya. Sedangkan Ria hanya tersenyum kalem.

__ADS_1


"Aku nungguin Arby bukan nunggu kamu, Putra." kata Ria dalam hati.


"Kami jalan dulu ya, Ia?" Jojo melambaikan tangannya pada Ria.


"Hati-hati, Juna!" Ria balas melambaikan


tangannya.


"By, Ria dadahin lu tuh!" Jojo memberitahu Bian ketika cowok ganteng itu sudah melajukan motornya.


Bian diam tak merespon.


"Lu denger gue ngomong gak, By?" Jojo menepuk pelan bahu Bian. Cowok itu hanya mengangguk.


"Ria suka ama lu."


Bian tertawa.


"Kok lu ketawa? Gue ngomong yang sebenarnya loh."


Bian tertawa lagi. Jojo merengut. Ditatapnya punggung Bian, kesal.


"Pegangan, Jo. Kita ngebut sekarang!"


Refleks Jojo melingkarkan tangannya di perut rata Bian dan memeluknya erat saat si tampan tiba-tiba menarik kencang gas motornya.


"Biaaaaaannnnn!!! Gue masih pengen iduuuuppp!!!" teriak Jojo kencang sekencang- kencangnya.


Bian tersenyum tanpa mengendorkan gas motornya.


****


Bian memasuki kafe dengan gagahnya. Tubuh tegap dan wajah tampannya membuat gadis-gadis yang ada di dalam kafe terpelongo, kagum, menatap kearahnya. Dibelakangnya, Jojo berjalan sambil menatap Bian kesal dengan wajah masam.


Buan dan Puput yang lebih dulu datang, tertawa melihat tampang Jojo yang berantakan.


"Lu nemu Jojo habis mulung ya, Ar. Kusut bener tuh muka!" ledek Puput pada Jojo.


Bian tersenyum tampan.


Di sebelah meja mereka ada beberapa ciwi-ciwi cantik sampai bersorak kegirangan melihat senyumnya.


"Lu kalo mau bunuh gue bunuh aja langsung, By. Bunuh!" Jojo menghempaskan diri di kursi. Matanya melotot tajam dengan bibir mengerucut, membuat Bian menggeram dalam hati.


"Gak mungkin gue tega bunuh lu, Jo. Gue sayang ama lu."


"Tatapan lu tuh yang mau bunuh gue!" sahut Bian santai.


"Paan sih lu berdua, udah pake bunuh-bunuhan. Urusan rumah tangga jangan dibawa keluar, malu ama tetangga." Buan menengahi acara manyun-manyunan ala Jojo dan Bian.


"Rumah tangga moyang lu! Rumah singgah iya." sungut Jojo, kesal.


Bian tertawa geli melihat Jojo yang tampak benar-benar kesal padanya.


"Lu apain si Jojo sampe kayak orang kena angin put*ng beliung gitu, Ar?" tanya Buan.


"Gue gak ngapa-ngapain, Wan. Gue sih selow aja." jawab Bian santai.


"Selow jidat lu! Lu gak liat tadi gue udah mau terbang? Bibir gue sampe dower, menyong sana menyong sini gara-gara lu ngebut tadi?" Jojo memonyongkan bibirnya, tanda protes.


"Gue tadi cuma ngikutin Buan aja, Jo. Ntar dia ninggalin kita gimana?" Bian memberi alasan.


"Tetep aja lu jangan kerasukan gitu kalo mau ngebut, By, gue takut tau gak?" sahut Jojo yang mulai terisak.


"Cup...cup...cup! Maaf ya Jojo sayang, gue gak tau kalo lu takut. Besok-besok gak gitu lagi deh. Gue janji!" Bian memeluk Jojo. Tangannya mengusap-usap lembut kepala gadis yang masih terisak itu.


"Wah, parah lu, Ar. Kalo Jojo sampe trauma, tanggung jawab lu." Buan sengaja meledek Bian yang hanya bisa nyengir.


"Jangan lebay, Wan. Gue cuma shock dikit." Jojo melempar stick kentang ke arah Buan yang terkekeh geli.


"Makan dulu, Jo, biar shock lu ilang." Bian menyodorkan mie ayam yang tadi dipesan Buan untuk Jojo..


Dengan semangat empat lima Jojo langsung mengeksekusi makanan favoritnya itu.


"Kalo lagi shock kayak gini Jojo biasanya bisa ngabisin lima mangkok mie ayam. Ya kan, Jo?" goda Puput melihat cara makan Jojo yang udah mirip orang buka puasa.


"Gak pa-pa. Yang penting shocknya sembuh." timpal Bian.


Buan mengacak pelan rambut Jojo.


"Makan yang banyak ya, nduk. Biar cepet gede." seloroh Buan.

__ADS_1


"Nggeh, mbahkung." sahut Jojo, kalem membuat tawa ngakak bergema dari ketiga cowok ganteng itu.


__ADS_2