Kaukah Gadis Tomboyku?

Kaukah Gadis Tomboyku?
Keinginan Dira


__ADS_3

"Papa!!!"


Bian tersenyum ketika putrinya berlari kearahnya dan memeluknya, manja.


"Gimana, Pa? Sukses gak pdktnya?" tanya Dira.


Bian mengacungkan jempolnya sambil tersenyum bahagia.


Dira ikut tersenyum.


"Akhirnya aku bisa melihat senyum tulus Papa. Senangnya bisa melihat Papa bisa sebahagia ini!"


Dira Pov


Aku sedih melihat papa terus termenung bila oma memaksanya untuk menikah lagi.


Aku pun sebenarnya ingin papa menikah lagi agar ia tidak kesepian dan ada seseorang yang bisa mengurus segala keperluannya.


Selama ini papa melakukan semuanya sendiri. Mulai dari makan, tidur, menyiapkan baju dan seragamnya, dan selalu pergi ke pesta teman-temannya sendirian, tanpa seorang pendamping.


Hanya om Jan sih temen papa yang sama-sama jomblo. Tapi om Jan sekarang sudah menikah, dan papa masih betah dengan status jomblonya. 😓


Entah apa yang papa pikirkan hingga tidak mau menikah lagi. Hampir dua puluh satu tahun usiaku, dan papa tetap setia dengan status dudanya.


Sampai suatu hari, aku menemukan sebuah foto lama di laci meja ruang kerja papa.


Itu foto papa bersama sahabat-sahabatnya semasa SMA. Dua diantaranya aku kenal, karna aku pernah bertemu mereka. Dan aku juga sangat akrab dengan salah satunya, yang biasa ku panggil tante Dede.


flashback on


"Tante, boleh Dira nanya sesuatu gak?" tanyaku pelan, takut terdengar papa.


Malam itu seperti biasa, aku ikut papa pergi ke rumah om Januar, teman papa. Istri om Jan, tante Dede juga sahabat papa.


"Tanya apa, sayang?"


Tante Dede sedang menyiapkan makan malam untuk kami. Aku membantu tante Dede menyusun piring di atas meja dan mengisi air di dalam gelas.


"Apa waktu masih SMA papa punya pacar?"


Tante Dede menatapku lekat.


"Kenapa Dira tanya itu? Emang papa Dira pernah cerita tentang mantannya di SMA dulu?" bukannya menjawab tante Dede malah balik nanya.


"Dira nemuin ini di laci meja kerja papa, Tante."


Ku tunjukkan foto yang sengaja aku ambil diam-diam tanpa diketahui papa.


Lama tante Dede diam menatap foto itu. Raut wajahnya berubah sedih, dan tiba-tiba tante Dede menangis.


"Tante, maafin Dira..."


"Ini foto terakhir kami sebelum berpisah. Kedua sahabat kami, Buan dan Niza, pindah sekolah. Tinggal tante, papamu, Puput dan Jojo."


Tante Dede menunjukkan satu persatu teman papa dan menyebutkan namanya padaku.


Aku diam mendengar cerita tante Dede.


"Tapi papamu bertengkar dengan Jojo, sehingga kami pun akhirnya pecah kongsi. Puput dan aku membela Jojo karna tau ini memang kesalahan papa kamu. Tapi kami tidak membenci papamu, dan tetap berteman dengannya, bahkan sampai sekarang."


"Tapi Dira gak pernah liat yang namanya Jojo. Dira belum kenal dan pengen ketemu."


"Tante juga pengen banget ketemu Jojo, sayang. Mudah-mudahan nanti kita bisa bertemu Jojo." harap tante Dede.


"Apa tante Jojo orangnya baik, tante?" tanyaku.


"Dia sahabat paling baik dan paling pengertian. Meskipun agak keras kepala sih." tante Dede senyum sendiri mengenang masa lalunya bersama sahabat tercintanya.


"Jojo itu cuek, jutek, tapi juga lucu dan bikin gemes. Dan itu yang bikin papamu jatuh cinta sama Jojo." kata tante Dede.


"Orang kaku dan dingin seperti papa bisa juga jatuh cinta? Sama sahabatnya lagi. Hah, benar-benar sulit dipercaya." gumamku.


Tante Dede tertawa melihatku.


"Itu kenyataannya, sayang. Dari sekian banyak cewek cantik yang berusaha mencari perhatian papamu, malah Jojo yang bisa menaklukkan gunung es kelas XIA. Padahal Jojo sama sekali gak pernah mendekati Arby. Arby yang malah terus mengejar Jojo dan berusaha mengambil hatinya."


"Apakah papa berhasil mendapatkan cinta tante Jojo, tante?" tanyaku penasaran. Cerita cinta papa dan tante Jojo sangat menarik bagiku.


"Sebuah hubungan cinta yang berawal dari persahabatan. Papa ternyata sangat ceroboh!"

__ADS_1


"Setelah cukup lama berjuang, hampir dua tahun mungkin, akhirnya Arby bisa menaklukan hati Jojo yang keras itu dan mereka pun pacaran."


"Lalu...kenapa mereka putus? Apa setelah kalian lulus dan berpisah? Dimana tante Jojo sekarang?" aku memberondong tante Dede dengan banyak pertanyaan.


Tante Dede tersenyum lembut.


"Kalo Dira pengen tau yang sebenarnya, Dira tanya papa. Semua jawaban itu ada di papa Dira." katanya, bijak.


Aku mengangguk mengerti.


flashback off


Akhirnya setelah ku bujuk dan kurayu plus pura-pura ngambek, papa mau juga bercerita tentang masa lalunya.


Aku pun menyuruh papa mengejar kembali cinta pertamanya yang dulu pergi akibat kesalahan papa yang tidak disengaja, namun membuat gedek juga bagi orang-orang yang tau cerita itu, termasuk aku.


Apalagi saat aku tau siapa dalang dibalik putusnya papa dengan pacarnya.


Tante Ria.


Dia adalah mama dari temanku, Nola. Aku memang tidak menyukai tante Ria karna menurutku dia sangat tidak tau malu. Sudah punya suami masih juga tanya-tanya tentang papa.


Dan sekarang aku jadi semakin membencinya. Caranya yang licik dan suka mengadu domba membuatku muak melihatnya.


Back to author


"Kapan papa mau ngenalin tante Jojo sama oma, sama opa, sama Dira juga?" tanya Dira tidak sabaran.


Bian tersenyum.


"Gimana mau papa kenalin, kita juga belum punya komitmen apa-apa. Papa juga baru minta izin orangtuanya untuk lebih dekat dengan Jojo." sahut Bian, lesu.


Bian kini lebih terbuka tentang perasaannya terhadap Jojo pada putrinya sejak Dira tau dan sering bertanya tentang Jojo.


"Masak udah hampir enam bulan papa belum juga menyatakan cinta pada tante Jojo? Ntar keduluan ama yang lain loh!" Dira sengaja memanas-manasi papanya.


"Mana umur papa juga udah hampir apkir." ledeknya lagi.


"Tenang, sayang. Restu dari ortunya Jojo udah ditangan papa, jadi gak bakalan ada yang berani mengambil Jojo dari papa." Bian tersenyum penuh kemenangan.


"Diihh, sombongnya. Percuma pegang restu kalo belum berhasil mengambil hati tante Jojo. Pasti keputusan ada ditangan tante Jojo, bukan ditangan ortunya." cibir Dira.


"Dira akan bantu papa mendapatkan cinta tante Jojo kembali. Boleh?" Dira menawarkan diri untuk membantu Bian mendekati Jojo.


Bian diam. Yang dikatakan putrinya memang benar. Melihat Jojo yang sekarang lebih tegar dan makin keras kepala, membuat Bian merasa sulit untuk memulainya lagi.


"Bantu papa ya, sayang?" pinta Bian, penuh harap, pada putrinya.


Dira tersenyum sambil mengacungkan tanda oke. "Serahkan semua kepada Dira, dijamin lancar, Pa!"


Bian juga tersenyum dan mengangguk.


"Habis maghrib papa mau ke rumah om Jan. Kamu mau ikut, gak?" ajak Bian pada putrinya.


"Gak ah! Ntar aku ganggu lagi." tolak Dira.


Sebenarnya Dira mau ikut. Dia ingin berkenalan dengan Jojo, wanita yang membuat papanya tidak bisa pindah ke lain hati.


Tapi situasinya belum tepat. Dira tau di acara temu kangen tante Dede dan tante Jojo nanti pasti penuh dramatis.


"Kamu kan bisa main sama anaknya tante Jojo dan tante Dede. Mereka lucu-lucu dan imut, loh?!" bujuk Bian.


"Anak tante Jojo juga ikut, Pa?" tanya Dira, senang.


Bian mengangguk.


"Kan nanti kamu bisa kenalan sama Jojo juga. Mau gak?"


"Oke. Dira ikut!" kata Dira.


"Biasanya aku cuma main sama Bella dan Edward, dan sekarang ditambah anak-anak tante Jojo, pasti bakalan lebih rame." batin Dira.


"Ya, udah. Sekarang kita sholat dulu!" ujar Bian.


Dira mengangguk.


Selesai sholat magrib, Bian dan putrinya bersiap dan pergi ke rumah Jojo.


"Assalamualaikum!"

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam!"


Kiki yang membukakan pintu.


"Silahkan masuk, Om!"


Setelah salim dan mencium punggung tangan Bian dengan sopan Kiki mengajak Bian masuk.


"Bang Kiki, kenalin ini anak Om. Namanya Dira. Sayang, Kiki ini anak sulungnya tante Jojo." Bian memperkenalkan Kiki dan Dira. Dan keduanya pun saling berjabat tangan.


"Kayaknya lebih tuaan aku dari kamu, Bang. Kamu panggil aku kakak aja ya?" pinta Dira.


Kiki mengangguk.


"Bang Kiki kelas berapa sekarang?" tanya Dira.


"Kelas X, Kak!"


"Sekolah dimana?"


"SMK Negeri 1, T!"


"Loh...bang Kiki kok gak panggilin emak kalo om Bian datang?"


Jojo muncul dari arah dapur.


"Maaf, Mak. Keasikan ngobrol sama kak Dira!" Kiki nyengir sambil garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Benar-benar titisannya Jojo!"


Bian tersenyum geli.


"Ini putrimu, By?" tanya Jojo pada Bian.


Jojo tersenyum ramah pada Dira yang mengangguk sopan.


"Aku Dira, tante. Anaknya papa Arbyan!" Dira mencium tangan Jojo.


"Saya Juna, sahabat papa kamu!" Jojo mengusap lembut kepala Dira.


"Anakmu cantik, By!" kata Jojo, jujur.


"Iyalah, cantik! Papanya ganteng gini." seloroh Bian yang sengaja memancing cibiran Jojo.


"Iya deh, ganteng. Kalo gak gue iya'in ntar lama debatnya!" sahut Jojo kecut.


Semuanya tertawa.


"Udah siap belum, Yank. Anak-anak ikut ya?" tanya Bian.


"Gue ganti baju dulu sebentar ya?"


Jojo masuk ke kamarnya.


Tak lama, Jojo keluar dengan penampilan sederhana, namun terlihat begitu cantik di mata Arbyan.


Di ruang tamu, Bian, Dira dan kedua ortu Jojo, juga anak-anaknya sedang berkumpul dan bercengkrama akrab.


"Yuk, By. Gue udah siap!"


"Ayo, Prajurit! Kita berangkat!" ajak Bian sambil menggendong si bocil.


Jojo berdiri, mematung, sambil garuk-garuk kepala.


"Kebiasaan!" Bian tersenyum.


"Kenapa, Yank? Ayo berangkat! Malah bengong." tegur Bian.


"Apa anak-anak harus ikut, By?" tanya Jojo ragu-ragu.


"Iyalah. Dede pengen ketemu kamu dan anak-anak. Kenapa emangnya?"


Jojo menghampiri Bian dan berbisik,


"Ntar nasi di rumah Dede abis, gue gak tanggung loh ya?" katanya.


Bian tertawa geli.


"Gak pa-pa. Biar aku aja yang tanggung." ucapnya santai.

__ADS_1


"Oke deh, kalo gitu. Yuk, kita go!"


__ADS_2