Kaukah Gadis Tomboyku?

Kaukah Gadis Tomboyku?
Pdkt On


__ADS_3

Setelah makan Bian duduk berbincang dengan bapak Jojo di teras belakang. Jojo merapikan meja makan dan mencuci piring bekas mereka makan tadi.


"Om ikut pulang ke S bareng kita, yuk?" ajak Bian.


"Hari ini emang jadwal kami pulang ke S, nak Bian. Tapi habis dzuhur, baru pulang sambil nunggu adiknya Jojo pulang kerja." kata bapak.


"Om naik motor?" tanya Bian.


Bapak mengangguk.


"Gak capek, Om?"


"Gak. Udah biasa."


"Berapa jam kira-kira nyampe ke S?"


"Paling satu setengah jam."


"Waduh! Ngebut berarti Omnya!" celutuk Bian.


Bapak tertawa.


"Kalo gak ngebut Om suka ngantuk, nak Bian. Pernah sekali Juna ikut pulang naik motor. Juna Om tinggal jauh. Dia gak berani ngebut soalnya bawa si kecil."


Bian mengangguk, mengerti.


"Om...saya boleh minta izin gak?" tanya Bian, gugup.


"Aku harus berani! Demi mendapatkan hati Juna, aku harus bisa!" tekad Bian dalam hati.


"Izin apa, nak?"tanya bapak.


Mata bapak menatap lekat wajah tampan Bian yang salah tingkah.


"Eee...anu Om, saya..." Bian mengusap tengkuknya, bingung.


Bapak tertawa.


"Ngomong aja. Gak usah malu!" kata bapak.


Bian meringis, grogi.


"Om...boleh gak saya...deketin Juna!"


Bapak mengerutkan dahinya.


"Bukannya dari dulu kalian sudah sahabatan?" tanya bapak, bingung dengan maksud perkataan Bian.


"Maksud saya...saya minta izin Om untuk menjadi pendamping hidup Juna. Boleh gak, Om?" tanya Bian takut-takut.


Bapak tersenyum.


"Saya izinkan, selama itu bisa buat Juna dan anak-anaknya bahagia. Karna saat ini, kebahagiaan Juna yang paling utama." kata bapak.


"Saya janji, saya akan membahagiakan Juna dan anak-anaknya, Om. Saya gak akan pernah mengecewakan Om dan Tante. Saya bersumpah demi anak saya, Om!" janji Bian, memantapkan hatinya.


Bapak mengangguk.


"Saya pegang janji kamu!"


"Makasih, Om!"


Bian dan bapak saling berjabat tangan tanda janji sudah disepakati. Senyum Bian pun merekah penuh rasa bahagia. Jalannya menuju hati Jojo pun mulai terbuka. Izin dan restu dari keluarga Jojo pun sudah didapatnya.


"Saatnya aku mengejar cintamu kembali, Yank!" seru Bian dalam hati.


"Lagi ngomong apa sih? Asik banget ngobrolnya!" Jojo datang membawa teh untuk bapaknya dan kopi untuk Bian.


"Kepo banget! Mandi'in tuh Rey sama Ochi, bentar lagi achunya pulang. Habis asar kita pulang ke S. Ya kan, nak Bian?"


kata bapak.


Bian mengangguk.


"Iya, Om!" jawabnya.


Jojo pun nurut. Ia segera memandikan dua anaknya yang kecil, dan setelahnya ia menyuruh dua anaknya yang remaja mandi juga.


Tak lama Desti, adik Jojo pulang mengajar. Dia heran melihat pria yang sedang duduk bersama bapaknya.


"Assalamualaikum!" Desti mengucap salam.


"Wa'alaikumussalam!" Bian dan bapak menjawab salamnya.


"Ini siapa, Pak?" tanya Desti.


"Saya Arbyan!"


Bian mengulurkan tangannya pada Desti. Desti pun menyambut uluran tangan Bian.

__ADS_1


"Kalo gak salah, bang Bian ini...abangnya Arkan ya?" tanya Desti.


"Adek kenal sama Arkan?" tanya Bian. Arkan adalah adik Bian.


"Kami teman waktu SMP. Mukanya bang Bian mirip Arkan, kayak kembar." kata Desti sambil tertawa.


Bian ikut tertawa.


"Iya, kembar satu ortu dan satu kandungan, tapi beda waktu hamil dan lahirannya." gurau Bian.


Desti dan bapak tertawa sambil mengangguk setuju.


"Ngomong-ngomong...bang Bian kok bisa ke sini?" tanya Desti, heran.


"Bian datang bersama Juna. Mereka mau mengajak bapak dan emak pulang ke S." ujar bapak, memberitahu Desti.


"Emang bang Bian kerja di T atau..."


"Saya tugas di T."


"O!"


Desti manggut-manggut, mengerti.


"Kak Junanya mana, Pak? Masak dia molor temennya dibiarin?" tanya Desti yang hapal sifat kakaknya yang doyan tidur.


"Iya ya. Harusnya kan nak Bian yang istirahat eh malah Juna yang tidur ya?" bapak baru ngeh.


Desti dan Bian tertawa.


"Udah pulang, Dek?"


Jojo muncul dengan wajah berantakan.


"Ampun deh, Kak! Cuci muka dulu napa? Ilernya banyak tuh! Jilbabnya juga... dipakai dulu, Kak!" omel Desti.


Jojo buru-buru cuci muka dan sekalian mandi.


Bapak geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat putrinya yang satu itu. Bian tertawa geli.


"Masih Jojo aku yang dulu, nih!" serunya dalam hati.


🍀 🍀 🍀 🍀


Setelah berkemas dan siap semuanya, mereka pun berangkat ke S. Satu jam perjalanan, Jojo melihat wajah anak perempuannya pucat.


"Mak, tolong ambil kantong plastik." pinta Jojo yang sigap menutup mulut Ochi dengan handuk kecil yang sudah ia siapkan di dalam kantong ransel.


Cepat-cepat diambilnya kantong plastik hitam dan memberikannya ke Jojo tanpa menoleh.


"Terpaksa, Mak. Masak aku nyuruh emak yang ngurusin Ochi. Pasti emak gak bakalan mau." sahut Jojo yang jadi ikutan mual melihat muntahan anaknya.


"Habis deh keluar semua yang kamu makan tadi, Kak." ujar Jojo sedih melihat wajah putrinya yang terlihat capek dan pucat karna muntahnya cukup menguras tenaganya.


Jojo membersihkan mulut dan baju putrinya.


"Banyak ya kakak muntahnya, Yank?" tanya Bian, tanpa sadar kalo ia memanggil Jojo dengan panggilan kesayangannya di depan orang tua Jojo.


"Lumayan, By! Bajunya kotor kena muntah."


Bian menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Lalu ia pun turun dari mobil dan membuka pintu dimana Jojo duduk bersama emak dan putrinya.


"Yuk kak, turun. Bajunya diganti, nanti masuk angin!" Bian membantu Ochi turun diikuti Jojo.


Jojo membuka baju Ochi dan membersihkan bagian tubuh anaknya yang terkena muntahan dengan air mineral yang sengaja disiapkan Bian.


Bian memasukkan baju kotor dan handuk kecil bekas muntahan Ochi ke dalam kantong plastik baru.


"Minum dulu, Kak." Bian memberikan minum ke mulut Ochi pelan-pelan. Di lapnya bekas air di mulut Ochi dengan tisu yang ada di mobilnya.


"Kakak bobo, ya? Istirahat!" kata Bian yang diangguki Ochi, setelah mereka masuk ke mobil.


Dan perjalanan pun kembali dilanjutkan. Emak dan bapak yang memperhatikan sikap Bian pada cucunya itu hanya senyam-senyum penuh arti.


Di tengah jalan,


"Mak! Lapal!"


"Mashaallah, Rey! Kakak yang muntah kok kamu yang lapar?"


Emak geleng-geleng kepala, geli. Yang lainnya terkekeh, menertawakan si bocil.


"Mak!" rengek Rey lagi karna sang emak ternyata asik mangap di alam mimpi.


"Bang Kiki, tolong ambilkan kantong hitam di belakang tempat abang duduk." pinta Bian pada anak sulung Jojo.


"Yang ini, Om?" tanya Kiki.


Bian mengangguk.

__ADS_1


"Bagikan ke adik-adikmu. Kamu kalo mau ambil juga." kata Bian.


Kiki mengambil satu roti di dalam kantong, lalu memberikannya pada Raka, lalu Ochi, dan terakhir Rey.


Bian tersenyum melihat Rey memakan rotinya dengan lahap dan wajah berseri-seri. Di acaknya lembut kepala Rey, penuh sayang.


"Dasar Juna! Kebiasaan banget kalo molor gak tau tempat, gak nyadar anak. Buang aja ke jurang, yuk?" emak ngoceh, kesal, melirik Jojo yang sama sekali gak sadar situasi didekatnya.


"Jangan, Ti! Emaknya dedek itu!" cegah Rey, cepat sebelum Utinya melakukan sesuatu pada emaknya tercinta.


"Gak. Pokoknya emak kamu kita ganti aja dengan emak yang baru. Emakmu yang ini kerjanya molor terus."


"Dedek gak mau ganti emak. Ayah udah gak ada, masak emak juga gak ada." rengek Rey yang mulai menangis.


Bian diam mendengar Rey yang duduk dipangkuan mbahkungnya, menangis sedih.


"Kenapa, Dek? Bobo yuk sini, sama emak!" Jojo terbangun mendengar bocilnya menangis.


"Terus aja tidur, Jun. Gak usah bangun lagi, sekalian." omel emak.


Jojo nyengir.


"Jangan disumpahin dong, Mak. Ntar kalo aku mati emangnya emak mau ngasih makan anak aku. Biasanya emak masak nasi cuma setengah liter, bisa-bisa jadi dua liter." goda Jojo.


"Gak pa-pa. Setidaknya mereka gak kelaparan nunggu kamu bangun." sahut emak.


"Mumpung ada emak aku bisa tidur, Mak. Bisanya juga aku jarang tidur, banyak kerjaan!" Jojo beralasan.


"Ya udah, tidur lagi sana. Biar anakmu emak yang jaga. Semoga kamu mimpi ketemu Mirza." olok emak.


"Mirza udah ketemu bidadari surganya, Mak. Gak mau dia ketemu aku lagi." ujar Jojo, sedih.


"Kamu sih dulu sering isengin Mirza, makanya dia cari yang lebih baik di surga sana." olok emak lagi.


Jojo meringis, getir.


"Mimpi'in aku aja, Yank!" celutuk Bian.


Jojo melotot ke arah Bian yang melihatnya dari spion depan. Bibirnya mengerucut, tanda protesnya.


Bian nyengir, geli.


"Pengennya aku em*t tuh bibir. Nantangin banget dah!" geram Bian dalam hati.


"Udah pesen tiket belum, By? Kalo mau dimimpi'in Juna harus beli tiket dulu." goda emak.


Bapak terkekeh mendengarnya.


"Udah sih Tante, sama Om tadi. Emang harus pesen sama Tante juga ya?" Bian ikutan ngeyel.


Bian tersenyum melihat Jojo cemberut kearahnya.


"Harus dong, By! Emak kan emak kesayangannya Juna." sahut emak.


"Iya sih kesayangan, satu-satunya. Tapi kalo emak aku ada dua, aku pikir-pikir dulu deh, Mak!" ceplos Jojo, sebal karna emaknya terus meledeknya.


"Kamu mau bapakmu punya istri dua, Juna?" sungut emak, geram. Matanya melotot, marah.


Jojo terkekeh.


"Kalo bapak mau dan uang damainya oke, aku sih mau-mau aja." jawab Jojo santai.


"Dasar anak durhaka! Berani bapakmu punya istri lagi, emak sunat abis burungnya!" ancam emak.


Jojo ngakak.


"Kok bapak yang kena sih, Mak. Kan Juna yang mau, bukan bapak!" bapak protes


keras.


"Bodo amat! Kalian bapak sama anak, sama saja!" emak merajuk. Mukanya cemberut, masam.


"Ayo loh bapak, emak ngambek tuh!" Jojo menggoda bapaknya.


Bian melotot ke arah jojo, lewat kaca spion. Jojo meringis, takut melihat Bian memarahinya.


"Maaf deh, Mak. Aku cuma becanda, kok. Hanya emak satu-satunya di hati aku, bapak, bang Rio, dek Dion juga dek Desti. Ya kan, Pak?" Jojo memeluk emak yang masih cembetut, acem.


"Iya dong! Emaklah yang paling bapak cinta seumur hidup bapak." rayu bapak.


"Cuit cuwiwww! Bang Sanip ngerayu mpok Ipeh, pemirsah!" ledek Jojo sambil cekikikan.


Bian tersenyum geli, menahan tawanya sambil geleng-geleng kepala melihat Jojo yang terus menggoda emaknya.


"Udah, Jun. Ntar emak ngambek lagi, loh. Capek bapak merayunya. Mana stok gombalan bapak udah abis lagi." keluh bapak, lemas.


"Tenang, Pak! Bian masih banyak stok gombalan receh, soalnya gak ada yang mau digombalin ama dia." gantian Bian yang Jojo ledek.


Lewat kaca spion, Jojo ngakak ketika melihat Bian mencibir. Emak dan Bapak ikutan tertawa.

__ADS_1


"Paling demen ya kamu ngetawain aku, Yank. Awas kamu! Tunggu aja pembalasanku nanti!"


__ADS_2