Kaukah Gadis Tomboyku?

Kaukah Gadis Tomboyku?
Akhirnya


__ADS_3

"Jadi kapan kalian akan menikah?"


uhuk! uhuk! uhuk!


Tanpa basa basi Jan bertanya langsung pada dua orang yang kini duduk dihadapannya.


Saat ini Jan, Bian, Jojo dan Dede menghabiskan waktu di dekat pantai yang cukup terkenal di kota itu.


Kedua anak Jojo dititipkan pada pengasuh dua anak Dede yang juga seumuran dengan putri Jojo dan bocilnya.


"Jangan kalian membuang-buang waktu lagi. Ingat usia kalian tuh udah uzur!" kata Jan lagi.


"Kalo gue sih siap kapan aja, Jan! Lah, nih ibu yang gak siap-siap. Nolak mulu!" sahut Bian sambil menunjuk Jojo.


"Kenapa lu nolak Arby, Jo?"


Jojo membuang pandangannya ke sembarang arah saat mendapati Jan tengah menatapnya, tajam.


"Jangan bilang lu minder, Jo!" seru Jan.


Jojo yang hendak menjawab pertanyaan Jan yang awal seketika diam. Dan saat ia mau bicara, lagi-lagi Jan berujar cepat.


"Sampai kapan lu menutupi perasaan lu, Jo? Jangan coba mengelak lagi! kita tau lu juga sayang sama Arby, kan?"


"Lu minder karna lu ngerasa gak pantes berdampingan sama Arby, kan?"


Dan baru juga Jojo mangap, Jan kembali memberondong Jojo dengan banyak nasehat.


"Udah, Yah! Kasih waktu buat Jojo ngomong. Ayah gak kasian liat Jojo dari tadi mangap mingkem mangap mingkem mulu gak bisa ngomong gara-gara ayah nyerocos terus." Dede memperingati Jan sambil menepuk-nepuk pelan tangan suaminya.


Jan nyengir geli melihat Jojo manyun.


"Laki lu kalo ngomong mulutnya gak bisa di rem ya, De. Dia gak liat gue hampir dilalerin gara-gara melongo dari tadi!" gerutu Jojo.


Dede tertawa geli. Bian tersenyum sambil mengusap kepala Jojo.


"Sori!" ucap Jan, masih dengan cengirannya.


Ketiganya lalu fokus menatap Jojo, menunggu penjelasannya.


Jojo menarik napas panjang sejenak, lalu melepasnya perlahan sambil berusaha memantapkan hatinya.


"Banyak hal yang bikin gue terus berpikir panjang, Jan. Lu sendiri tau gimana keadaan gue. Jadi wajar kan kalo gue minder?"


"Tapi aku gak mandang siapa dan apa kedudukan kamu, Yank. Aku menyukaimu apa adanya!" ucap Bian.


"Aku tau, By. Tapi tetep aja..."


"Jangan pikirkan orang lain, Jo. Pikirkan perasaan kalian. Apa selamanya lu mau memendam perasaan lu? Ini saatnya kalian berdua bahagia, Jo! Arby hanya bahagia ama lu!"


Jojo diam. Matanya melirik tangan Bian yang terus menggenggam tangannya.


"Ayolah, Jo. Mana Jojo yang cuek dengan omongan orang, Jojo yang gue kenal dulu?"


"Aku harus gimana lagi buat meyakinkan kamu, Yank? Aku akan terus berusaha meraih hatimu..."


"Gak perlu, By!"


Tiga pasang mata menatap Jojo, lekat.

__ADS_1


"Aku mau mencobanya lagi dengan kamu, By!"


"Benarkah, Yank?" Bian terlihat berbinar.


Jojo mengangguk mantap.


"Gak usah pake coba-coba lagi. Yakinlah dan jalani kehidupan kalian dengan baik. Sudah saatnya kalian bahagia." kata Jan, bijak.


Dede mengangguk setuju perkataan suaminya.


Bian dan Jojo pun sama-sama mengangguk.


"Kita sama-sama berjuang ya, Yank. Demi kebahagiaan kita dan anak-anak!" Bian meminta tulus pada Jojo. Diciumnya lembut tangan Jojo yang digenggamnya.


Jojo mengangguk dan tersenyum bahagia.


"Akhirnya mulai malam ini aku bisa tidur nyenyak, Sayang! Arby gak bakal ganguin kita lagi malam-malam." Jan menatap istrinya dengan binar bahagia.


Dede mengangguk.


"Iya, Yah! Aman kita malam ini! Arby pasti sibuk menghayal!" sambung Dede.


Bian nyengir, malu. Jojo terkekeh.


"Makanya gue mau nerima Bian sekarang, karna gue tau Bian sering ngerecoki kalian. Ya kan, By?" Jojo mengerlingkan matanya, menggoda Bian.


"Jangan mancing-mancing, Yank! Aku cium ntar. Mau?" ancam Bian seraya mendelik, sewot.


"Yee! Itu sih emang maunya elu, By!"


Dede terkikik geli. Jan ikutan tergelak. Dan Jojo pun cemberut, malu.


"Setuju!" sahut Dede.


"Lu tu ye, De! Apa pun yang Jan bilang, main setuju setuju aja. Kompak banget nih laki-bini." sindir Jojo.


"Iyalah. Kita kan sehati. Ya, Yah?!" Dede merapatkan tubuhnya ke suaminya.


"He-eh!" Jan langsung merengkuh tubuh mungil Dede dan mengecup kepalanya,


lembut.


"Lebay!" cibir Jojo.


"Tolong bibirnya dikondisikan, Yank. Aku gemas, tau gak?!" Bian merem*s pelan bibir Jojo.


"Ish! Paan sih?" Jojo menepis tangan usil Bian.


Jan dan Dede tertawa geli melihat tingkah Bian yang menjahili Jojo.


"Jan, besok gue langsung pengajuan. Tolong beri kelonggaran ya, biar cepet!" Bian main mata ke Januar.


"Sayang, Bian genit. Dia ngedipin ayah!" Jan mengadu, manja pada istrinya.


"Eh, By! Baru aja aku nerima kamu, kamu langsung belok aja!" Jojo melotot, tajam.


"Yank, bukan gitu. Maksudku... ish!" Bian bingung menjelaskannya pada Jojo.


"Sialan lu, Jan! Gue gak maksud gitu, kali!" dengus Bian kesal karna Jan sengaja menggodanya.

__ADS_1


Jan terkekeh lagi. Sedangkan Dede menutup mulutnya berusaha menahan tawanya.


"Tenang, Ar. Gue bantu lu!" janji Jan.


Senyum sumringah terbit di bibir Bian.


"Kita akan menikah, Yank! Aku udah gak sabar lagi mau kamu jadi istriku!" mata Bian berbinar senang.


"Ciee... yang udah lama puasa. Gak sabar mau berbuka, nih!" goda Jan.


Bian cengar-cengir.


"Tapi, By... kita kan belum minta izin orangtua kita." Jojo mengingat orang tuanya juga Bian.


"Ortu kita udah deal, Yank. Tinggal kapan maunya kita aja."


"Heh?"


Jojo memiringkan kepalanya, menatap Bian, tak mengerti.


"Kamu ingat waktu kita pulang kemarin, Yank?"


Jojo mengangguk.


"Waktu itu aku minta izin bapak untuk memperistri kamu. Mama sama Papa juga sudah tau tentang kita, termasuk Dira."


Jojo menatap Bian, tak percaya.


"Kok kamu gak bilang sama aku, By? Harusnya kan kamu ngomong dulu sama aku? Kamu gak menghargai aku banget ya?!" Jojo mulai tersinggung.


"Bukan begitu, Yank. Aku tau mengambil hatimu itu bakal sulit, dan itu terbukti. Susah payah aku melunakkan hatimu, malah sampai jungkir balik. Tapi aku berani untuk terus berjuang karna aku sudah mendapat restu dari bapak dan emak. Juga dari mama, papa dan Dira." jelas Bian.


Jojo menatap Bian, lekat. Hatinya benar-benar terenyuh.


"Ternyata kamu serius sama aku, By. Mudah-mudahan semua itu tulus kamu lakukan untuk aku!" batin Jojo.


"Kenapa nangis, Yank? Maaf kalo aku salah!" Bian menghapus air mata yang mengalir di pipi Jojo tanpa ia sadari.


Jojo menggenggam tangan Bian di pipinya dan menggeleng cepat.


"Gak, By. Aku yang seharusnya minta maaf sama kamu. Gak seharusnya aku meragukan ketulusan kamu. Maafkan aku, By!" air mata Jojo terus mengalir deras.


Bian tersenyum bahagia.


"Jangan pernah meminta maaf padaku, Yank. Bagiku kamu gak pernah salah!" Bian mengecup lembut tangan Jojo.


"Udah! Udah!"


Jan mencairkan suasana.


"Tinggalkan masa lalu. Buka lembaran baru. Sambut kebahagiaan kalian! Mari kita merayakannya!" seru Jan sambil mengangkat gelas yang berisi jus buah naga miliknya.


Dede, Bian dan Jojo pun ikut serta, bertoast dengan gelas mereka.


"Selamat atas keberhasilanmu melunakkan hati si batu betangkup, Ar. Semoga bahagia selalu menyertai kalian." doa Jan.


"Selamanya!!!" sambung Dede.


"Aamiin!!!"

__ADS_1


__ADS_2