
"Heh, ceking!"
Sosok putri salju berdiri menantang, menghalangi jalan Jojo dan Bian yang hendak pergi ke kantin.
"Sok cantik juga lu ya?" ejeknya saat melihat tangan Bian dan Jojo saling menggenggam mesra.
"Kenapa? Sirik lu?" Jojo balas mengejek, sinis.
Rosmalia meradang. Harga dirinya sebagai senior seakan diinjak-injak.
"Udah, Yank. Kita masuk aja, yuk!" Bian menarik tangan Jojo memasuki kantin.
"Ciihh, cewek murahan! Kemarin sama Adit mesra-mesranya, belum juga seminggu udah sama yang lain. Habis ini sama siapa lagi?" Ros sengaja menyudutkan Jojo dengan menjelekkannya di depan Bian.
Bian menatap Jojo, tajam. Dan itu membuat Ros bersorak girang dalam hati. "Gue bongkar semua kebusukan lu, cewek bobrok!" niat Ros dalam hati.
"Lu niat banget ya ngejelekin gue?" tanya Jojo. Tangannya bersidekap dengan gaya santai dan tenang menghadapi si putri salju.
"Kenapa? Lu takut?" cibir Ros, sinis.
Jojo tersenyum.
"Gak perlu lu jelekin juga gue nyadar kok kalo gue jelek, Putri salju."
"Bagus kalo nyadar." tukas Ros, cepat.
"Tapi tetep aja jelekan lu dari gue, soalnya gue lebih laku daripada lu. Lu sirik kan ama gue? Heee!" ejek Jojo, balik.
"Lu... Kurang ajar!!" tangan Ros terkepal, menahan geram. Kata-kata Jojo sungguh menyindirnya.
"Mau pukul gue? Nih!" tantang Jojo sambil menyodorkan wajah mungilnya di depan Ros.
Bian yang tidak ingin Jojo lebih gila lagi 'mengerjai' si putri salju, bergegas menarik tangan Jojo menjauhi Ros yang sudah tampak marah.
Terlihat dari ubun-ubunnya yang sudah mengeluarkan asap.๐จ๐จ๐จ(untung bukan paku yang keluar ya guys!๐คช๐คญ)
"Ngapain sih Yank, demen banget ngerjain si putri salju? Mending kamu kerjain aku aja, aku ikhlas kok kamu kerjain." Bian menggoda gadis mungilnya.
Jojo mencibir.
"Kan kamu liat sendiri bukan aku yang mulai, By. Aku juga males kali ngeladenin cewek bucin kayak dia."
Bian menatap Jojo, tajam.
"Kamu masih suka sama Adit ya, Yank?" tanyanya tiba-tiba.
"Gak!" jawab Jojo, jujur.
"Juna!"
Jojo menoleh ke belakang, dimana seseorang memanggilnya.
"Ya?"
"Boleh ngomong berdua gak?"
Adit berdiri di depan Jojo dan Bian yang sedang menikmati makanan mereka.
"Aku lagi makan, Dit. Bentar lagi bel masuk bunyi." kata Jojo santai sambil menyeruput orange jusnya.
"Ya udah. Kalo gitu ntar sore aku ke rumah kamu."
"Eh?"
Jojo menatap Adit, kaget. Lalu menoleh Bian, dengan pandangan bingung.
"Maaf Dit, ntar sore kami mau ke rumah Niza, ada tugas kelompok." Bian yang nyaut.
__ADS_1
"Kemungkinan sampai malam, karna tugasnya banyak." sambung Bian sebelum Adit sempat bicara lagi.
"Apaan nih si Arbyan?! Belum juga gue ngomong dia udah nyerocos aja." sungut Adit dalam hati. Namun Adit mencoba bersikap tenang dan santai.
"Kalo gitu aku tunggu kamu pulang sekolah nanti, Juna." ujar Adit lagi. Lalu ia pun pergi, kembali kekelasnya.
Jojo diam menatap punggung Adit yang perlahan menjauh.
"Bingung ya, Yank?" Bian menggenggam tangan Jojo. Gadis itu hanya mengangkat bahunya.
"Bicarakan apa yang seharusnya kalian bicarakan, Yank. Jangan lewat batas ya?" Bian menepuk pelan punggung tangan Jojo.
Jojo mengangguk mengerti.
Pulang sekolah, Adit sudah menunggu Jojo di depan gerbang sekolah. Tak lama Jojo datang bersama Bian.
Adit menarik tangan Jojo, menjauh dari Bian.
"Bodyguard kamu gak usah diajak, Juna. Aku mau ngomong berdua sama kamu." kata Adit, pelan.
Jojo mengernyit.
"Bian?" tanyanya sambil menunjuk ke arah Bian yang sedang menunggunya.
Adit mengangguk.
"Maaf, Dit. Bian pacar gue sekarang. Gue gak mau ada salah paham nanti."
Adit terdiam.
"Bicaralah, Dit. Apa yang mau lu omongin ke gue?"
Adit menatap dalam mata Jojo.
"Apa aku gak punya kesempatan lagi, Jun? Aku sudah menunggu lama jawaban kamu, tapi kamu malah memilih Arbyan." Adit menatap Jojo, sendu.
"Maaf!"
"Apa kelebihan Arbyan dibanding aku, Juna? Apa aku tak cukup tampan untuk jadi pacar kamu? Apa aku gak baik? Apa aku pernah buat kamu sakit? Apa..."
"Stop!" Jojo menahan Adit untuk melanjutkan ucapannya.
"Gue yang gak pantas buat lu, Dit."
"Lalu...apa kamu pantasnya dengan Arbyan?" tanya Adit, cepat.
Jojo terpaku.
"Menurut lu?" Jojo menatap Adit, tajam.
"Gue sadar gue bukan siapa-siapa, Dit. Gue jelek, urakan, dekil dan segala atribut yang dipunyai orang jelek ada di diri gue. Dan sekarang lu tanya apa gue pantes buat Bian?" tanya Jojo dengan wajah merah padam. Hatinya sakit saat menyadari sesuatu pada dirinya.
Adit diam, membisu.
"Gue gak pantes sama lu dan juga Bian, Dit. Gue sadar banget itu!"
"Terus... kenapa kamu mau pacaran sama Arbyan?" tanya Adit penasaran.
"Gue juga gak tau. Yang gue tau, gue sayang banget sama dia."
Adit diam.
"Pupus sudah harapanku memiliki kamu, Juna. Cinta pertamaku kandas sudah."
Adit tertunduk. Matanya terpaku menatap aspal yang diinjaknya.
"Maaf!" ucap Jojo lagi.
__ADS_1
Adit mendongak. Senyum manis terukir diwajahnya.
"Kita masih teman kan, Jun?" tanya Adit.
Jojo menatapnya dan mengangguk.
Adit mengulurkan tangannya dan disambut Jojo dengan senyum merekah.
"Kita berteman. Semoga bahagia selalu buat kamu, Juna." ucap Adit, tulus.
"Makasih, Dit. Semoga lu juga segera menemukan kebahagiaan lu." balas Jojo.
Keduanya pun berjabat tangan erat dan saling berbalas senyum. Mereka lalu menghampiri Bian yang masih menunggu Jojo di depan gerbang sekolah.
"Bro, gue ikhlas lu sama Juna. Tolong bahagiakan dia. Kalo lu gak bisa, bilang ke gue. Biar gue yang bahagia'in dia." kata Adit saat sudah berada di depan Bian.
"Gue janji akan membahagiakan Jojo dan akan menjaganya dengan baik." janji Bian.
"Bagus!" sahut Adit.
"Karna gue akan ambil Juna dari lu kalo lu sampai nyakitin hati Juna. Ingat itu!" ancam Adit.
"Jangan mimpi! Gue gak akan pernah membuat Jojo terluka." sergah Bian, cepat.
Adit tersenyum sinis. Kemudian beralih menatap Jojo dengan pandangan lembut.
"Aku pulang ya, Juna. Kalo ada apa-apa, bilang ke aku ya?" Adit mengacak pelan pucuk kepala Jojo.
"Iya. Hati-hati ya, Dit!" Jojo melambaikan tangannya pada Adit.
Hufh! Bian menghela napas panjang setelah Adit pulang, seolah beban berat yang dipikulnya hilang sudah.
"Pulang yuk!" ajak Jojo.
Bian mengambil motornya diparkiran sekolah. Jojo pun duduk anteng diboncengan Bian.
"Ayuk jalan." Jojo menepuk pelan bahu Bian karna cowok itu diam saja di atas motornya yang sudah menyala mesinnya.
Tiba-tiba Bian memegang tangan Jojo dan mengecupnya, lembut.
"Makasih ya, Yank. Kamu udah terus terang sama Adit soal hubungan kita." ujarnya.
"Aku cuma gak mau Adit terus berharap sama aku, By. Dan aku juga gak mau terjadi kesalahpahaman di antara kita." ucap Jojo, jujur.
Bian tersenyum.
"Kamu memang gadis yang baik, Yank. Aku gak salah sudah jatuh cinta sama kamu." Bian mengacak lembut rambut Jojo yang bersandar manja dibahunya.
Jojo tersenyum malu. Andai Bian melihat pipi Jojo yang memerah, pasti pipi itu sudah dikecupnya karena gemas.
"Andainya gue tau sejak dulu kalo jatuh cinta bisa seindah dan selucu ini, gue gak akan menahan lama perasaan ini. Dan gue bersyukur akan terus merasakan kebahagiaan ini selamanya." batin Bian bersorak girang.
author : Yakin lu bisa kasih kebahagiaan buat Jojo selamanya, By?
Bian : Harus yakin, dong. Gue cinta mati tau gak ama Jojo, thor!"
author : ๐คจ๐คจ๐คจ
Bian : Lu sangsi ama gue, thor?
author : Menurut lu?
Bian : Gue bakal bukti'in ke elu kalo gue akan bahagiakan dan jagain Jojo selamanya, thor. Pegang janji gue.
author : Ogah! Mending gue pelukin babang So-Hyun.๐ค๐ค๐ค
Bian : ๐๐๐๐ฒ๐ฒ๐ฒ Dasar ganjen lu, Thor.๐๐ค๐ค๐ค
__ADS_1