
🎵 Kawan, dengarlah yang akan aku katakan
Tentang dirimu setelah selama ini
Ternyata kepalamu akan selalu botak
Eh, kamu kaya gorila
Cobalah kamu ngaca tu bibir balapan
Daripada gigi lo kaya kelinci
Yang ini udah gendut suka marah-marah
Kau cacing kepanasan
Tapi 'ku tak peduli
Kau selalu di hati
Kamu sangat berarti, istimewa di hati
Selamanya rasa ini
Jika tua nanti kita telah hidup masing-masing
Ingatlah hari ini
Ketika kesepian menyerang diriku
Nggak enak badan, resah nggak menentu
Kutahu satu cara sembuhkan diriku
Ingat teman-temanku
Don't you worry, just be happy
Temanmu di sini
Kamu sangat berarti, istimewa di hati
Selamanya rasa ini
Jika tua nanti kita telah hidup masing-masing
Ingatlah hari ini
Don't you worry, don't be angry
Mending happy-happy
Kamu sangat berarti, istimewa di hati
Selamanya rasa ini
Jika tua nanti kita telah hidup masing-masing
Ingatlah hari ini
Kamu sangat berarti, istimewa di hati
Selamanya rasa ini
Jika tua nanti kita telah hidup masing-masing
Ingatlah hari ini
__ADS_1
Kamu sangat berarti, istimewa di hati
Selamanya rasa ini
Jika tua nanti kita telah hidup masing-masing
Ingatlah hari ini 🎶
*** " Ingatlah Hari Ini - Project Pop " ***
"Wah, laki lu ganteng juga ya, Za? Nemu dimana?" tanya Dede yang nampak takjub saat melihat sosok suami Niza datang bersama dua anak Niza dan juga anak Ewin.
"Waktu gue lagi mulung di kampus, De!" jawab Niza asal.
Digetoknya pala Dede, gemas.
"Lu kira laki gue koin jatoh, pake nemu segala!" sungutnya kesal.
Dede nyengir.
"Pa, kenalin ini sahabat-sahabat mama." Niza memperkenalkan para sahabatnya ke suaminya.
"Jati!" suami Niza memperkenalkan dirinya.
"Apa kabar, Bro? Lama kita gak ketemu!" Bian dan Jan langsung merangkul Jati, akrab. Senyum bahagia terpancar di wajah ketiga pria tampan itu.
Buan, puput, Jojo, Dede dan Niza menatap bingung ketiganya.
"Papa kenal dengan dua makhluk aneh ini?" tanya Niza pada suaminya.
Sedetik kemudian Niza meringis kesakitan karna Dede dan Jojo mencubitnya kompak.
"Kami dulu satu angkatan di Akpol!" jawab Jati.
"Pantes!!!"
"Laki lu Polisi juga, Za?"
"He-eh! Gue kenalan waktu ikut demo." jawab Niza seraya nyengir malu saat mengingat pertemuannya dengan suaminya.
"Berarti laki lu yang nemu lu. Dan itu artinya lu koin jatohnya, Za!" seloroh Dede.
"Enak aja. Lu gak tau aja gue tuh kembang kampus, tau gak?"
"Ho-oh, kembang kemuncung!" celutuk Jojo.
Semua tertawa melihat Niza manyun.
"Pasti lu dulu naksir laki lu karna namanya mirip ama mantan lu di SMA dulu ya, Za?" sindir Buan yang nampaknya masih menyimpan rasa pada Niza.
Dari pandangannya nampak Buan cemburu melihat suami Niza.
"Namanya aja yang sama, Wan. Orangnya jelas beda. Apalagi otaknya... jauh deh kayaknya. Secara Waluyo kan kapasitas otaknya cuma lima ratus MB." Jojo nyeplos sesukanya.
"Kalo Waluyo denger, gue jamin lu jadi asinan dibekep Waluyo lu diketeknya, Jo!" bisik Dede.
Jojo hampir tersedak, cengengesan dia, geli mendengar bisikan Dede.
"Haish! Gue ama Jati cuma temenan, A'. Lu mah... pake bawa-bawa masa lalu." rajuk Niza.
"Iya nih, Wan! Kita semua sudah move on sama mantan, cuman atu noh yang gak pernah bisa move on, makanya getol banget ngejar-ngejar si Jojo. Berasa kayak buronan deh Jojo di uber terus ama dia." Dede melirik ke arah Bian.
"Lu nyindir gue, De?" tanya Bian.
"Gak! Gue emang ngatain elu!" sahut Dede.
Bian merengut.
__ADS_1
"Mukanya biasa aja! Berani marah lu ama bini gue?" Jan menangkup wajah cemberut Bian.
"Siap! Tidak, Pak! Bunuh diri saya kalo berani marah sama istri bapak Kapolres!" Bian hormat dan berdiri tegak di depan Jan, membuat yang lainnya tertawa geli melihatnya.
"Jangan bawa-bawa jabatan. Ini bukan di kantor." kata Jan.
"Lah... lu yang ngancem gue duluan." sahut Bian.
"Takut lu?"
"Siapa bilang?" dengus Bian. "Nih liat, gue jitak bini lu."
Pletakk!
"Aduh!"
Dede pun mengaduh sambil mengusap jidatnya yang panas terkena jitakan Bian.
Jojo, Buan, Niza dan Puput tergelak. Jati, Ewin dan istrinya mesem-mesem menahan tawa.
"Waaah, lu bener-bener..." Jan melotot protes sambil mengelus-elus sayang jidat sang istri.
"Mau ngapain lu?!"
Jojo sudah berdiri tegak di depan Bian, menghalangi Jan yang hendak membalas Bian yang sudah mencederai istrinya.
(ceilee, cidera konon. Cuma di jitak dikit doang, Jan. Baper amat!😂)
"Lu lupa, Jan? Arbyan punya bodygurd mak genk!" kata Puput, mengingatkan.
"O iya, ya. Lupa gue!" Jan menepuk jidatnya pelan.
Tawa pun pecah kembali. Sejak siang hingga menjelang sore, suasana kafe ramai akan suara tawa dari Jojo cs. Tawa yang entah kapan akan bisa mereka dengar lagi.😔
Dan tawa itu pun berubah tangis ketika mereka akan berpisah lagi.
"Lu pokoknya harus balik lagi kemari, Za. Kita kumpul-kumpul lagi." tangis Jojo saat memeluk Niza ketika berpamitan.
"Tenang, Jo. Di hari spesial lu dan Arby kita pasti ke sini lagi. Ya kan, Pa?" Niza melirik suaminya.
"Inshaallah!" ucap Jati.
"Kita tunggu, Bro!" Bian merangkul erat bahu Jati yang mengangguk, tersenyum.
"Lu berdua juga harus datang, Wan! Put! Bini lu juga diajak, sekalian anak-anak ya?" harap Jojo.
"Apa ketiga bini gue harus ikut, Jo?" tanya Buan, gokil.
"Harus! Ajak juga Kurnia ama Dedy!"
"Wah, kayaknya bakal meriah nih pesta Arby dan Jojo!" seru Puput.
Kalo kalian datang, pasti meriah acara gue. Secara tamunya cuma kalian doang. Ya kan, By?"
"He-eh!" Bian mengangguk.
"Loh?" keempat sahabat itu memandang Bian dan Jojo, tak mengerti.
"Kita hanya mengundang keluarga dan kalian aja. Gak ada pesta. Cuma syukuran aja!" jelas Bian diangguki Jojo.
Para sahabat pun mengangguk, paham.
"Kalo gitu, gue datang bawa ketiga bini gue plus anak-anak gue dan adik-adik gue. Kita ramaikan acara Jojo dan Arby ya, guys?!" ujar Buan.
"Akurrr!!!" sambut yang lain.
Hari itu mereka habiskan waktu untuk menghapus sisa rindu yang sudah puluhan tahun tersimpan di dalam hati. Persahabatan itu indah dan takkan pernah lekang dimakan waktu. Karena persahabatan yang tulus akan selalu terpatri di hati.
__ADS_1