
Brakk!!!
Jojo terkapar bersimbah darah. Motor yang dikendarainya tertabrak sebuah Jazz putih yang melaju kencang. Jojo pun ditolong warga sekitar yang segera membawanya ke rumah sakit.
drrrt drrrrt drrrrt
Arbyan mengangkat ponselnya yang terlihat nama Ayangku memanggil.
"Assalamualaikum. Yank, kok belum nyampe sih? Aku udah laper..."
"Maaf, Pak! Saya yang membawa pemilik ponsel ini ke rumah sakit." terdengar suara laki-laki dari ponsel milik Jojo.
"Apa?!!" teriak Bian, kaget.
"Kenapa dengan Jojo? Dimana dia sekarang?" tanya Bian khawatir.
"Istri bapak tertabrak mobil dan sekarang ada di UGD RSUD!"
"Astaghfirullahal'adziim! Baiklah, saya ke sana sekarang!"
Bian pun bergegas meninggalkan kantor dan langsung menuju RSUD dengan mengendarai motor.
Lima menit kemudian, Bian datang dan langsung melangkah cepat menuju UGD.
"Apa anda yang di telpon tadi?" tanya seorang pria seumuran bapaknya Jojo menghampiri Abyan yang terlihat cemas.
"Apa bapak yang menelpon saya tadi?" tanya Bian kembali.
Pria itu mengangguk.
"Tolong ceritakan kejadiannya, Pak!" pinta Bian.
"Sepertinya ini kecelakaan yang di sengaja, Nak."
"Maksud bapak?"
"Mobil yang menyerempet itu awalnya berjalan pelan mengikuti motor yang dibawa istri anda, setelah di tempat sepi baru dia ngebut hingga motor istri anda jatuh dan langsung melarikan diri."
Bian mengepalkan tangannya, menahan geram.
"Apa bapak melihat plat nomor mobil itu?" tanya Bian, pelan, menutupi rasa kesalnya.
"Kurang ajar! Awas saja kalo aku ketemu dengan orang itu. Huh!" gigi Bian gemeretak, geram.
Pria itu menunjukkan sesuatu di ponselnya.
"Tolong kirim ke saya foto itu, Pak!" pinta Bian.
"Terima kasih, Pak, atas bantuannya. Saya akan menghubungi bapak nanti. Saya butuh kesaksian bapak atas kejadian ini. Apa bapak bersedia?" Bian menatap lekat Pak Bowo, nama pria itu.
"Saya bersedia, Nak! Hubungi saya kalau butuh keterangan nanti."
Setelah bapak penolong itu pamit pergi, Bian duduk tak tenang di bangku tunggu di depan UGD. Bian mengetik sesuatu diponselnya lalu menghubungi seseorang.
"Halo, Ben! Tolong cari informasi siapa pemilik mobil yang fotonya saya kirim tadi!" perintah Bian, mungkin pada anak buahnya.
"-_-"
"Segera hubungi saya kalo sudah menemukan sesuatu!"
"-_-"
Bian pun memutuskan panggilan. Beberapa detik kemudian, seorang perawat keluar.
"Keluarga pasien?"
"Iya. Saya!" Arbyan berdiri.
"Silahkan masuk, Pak. Dokter mau menemui anda."
Bian pun segera masuk dalam ruang pemeriksaan. Bian terenyuh melihat Jojo terbaring lemah dengan jarum infus ditangan kirinya.
"Bagaimana keadaan istri saya, dok?" tanya Bian.
Bian sengaja menyebut Jojo sebagai istrinya karna tidak mau repot menjawab apabila dokter banyak tanya bila dia mengaku hanya teman pasien.
"Istri bapak tidak apa-apa. Tidak ada luka dalam, hanya luka robek di lengan dan dahinya. Setelah sadar nanti sudah boleh pulang."
"Alhamdulillah! Terimakasih, Dok!" Bian menghela napas lega.
"Gak akan aku biarkan orang lain menyakitimu, Yank!" janji Bian.
Dikecupnya lembut tangan Jojo yang ada digenggamannya, lalu menempelkannya dipipinya.
__ADS_1
"By?"
"Udah bangun, Yank?"
Jojo mengangguk pelan.
"Ishh!" Ia pun meringis kesakitan ketika merasakan sakit di lengan dan keningnya.
"Jangan banyak gerak, ntar jahitannya lepas." cegah Bian. Lalu membantu Jojo turun dari ranjang.
"Emang lukanya parah ya sampai harus dijahit?" tanya Jojo.
"Lumayan. Ada enam jahitan di lengan, dan empat jahitan dikening."
"Subhanallah! Udah kayak baju robek gue!" Jojo memandang miris lengan kanannya.
Bian nyengir.
"Kok lu tau gue kecelakaan, By?" tanya Jojo heran.
"Siapa yang kasih tau Bian ya?" dalam hati Jojo bertanya-tanya.
"Ada bapak-bapak yang nelpon aku pake ponsel kamu."
Bian mengusap lembut pipi Jojo, membuat Jojo risih dan menepis tangan Bian.
"Motor gue gimana?"
"Motor kamu udah dibawa ke bengkel. Kamu jangan banyak pikiran ya? Istirahat aja dulu!" Bian merapikan selimut Jojo.
"Gue gak pa-pa, By. Luka gue gak parah. Udah bisa pulang kan?" kata Jojo.
"Gak. Kamu harus istirahat! Tadi aku udah ngomong sama dokternya kamu harus istirahat total selama tiga hari di sini!" Bian menatap tajam mata Jojo.
"Hah?!"Jojo melotot, kaget.
"Jangan norak ah, By. Masak cuma luka gini harus opname tiga hari. Buang-buang duit aja." protes Jojo.
"Kamu jangan pikirin biaya rumah sakit, biar aku yang tanggung jawab!" kata Bian.
"Gak! Gue gak mau ngerepotin elu, By. Lagian, anak-anak gue gimana? Siapa yang mengurus mereka kalo gue di sini?
"Prajurit biar aku yang urus, kamu istirahat yang tenang di sini. Rio dan kak Lina juga udah ku telpon tadi."
Jojo memperhatikan Bian yang sibuk dengan piring berisi nasi plus teman-temannya.
"Lu kok segininya perhatian ama gue, By? Apa harus segini besarnya perhatian lu ke gue sebagai sahabat lu satu-satunya di sini?" tanya batin Jojo.
"Gue bisa makan sendiri!" Jojo hendak meraih piring ditangan Bian.
"Tinggal mangap aja susah banget sih, Yank. Aku kan pengen flashback kayak kita dulu!" mata sendu dan wajah memelas Bian perlihatkan pada Jojo.
"Haishh! Kayak bocah lu!" sungut Jojo.
Bian nyengir kuda.
Jadilah akhirnya Jojo makan disuapi Bian meski dengan berbagai drama cemberut seperti dulu, saat masa putih abu-abu mereka dulu.
"Cih, manja amat lu, Jo!" cibir Rio yang sejak tadi melihat drama mereka.
"Segala makan pake disuapin. Emang tangan lu diamputasi?" ledek Rio.
"Berisik lu, Bang! Ambil gih bocil gue, bawa kemari!" pinta Jojo.
"Noh, bocil lu lagi makan di depan sama kakak dan abangnya."
Jojo hendak turun menemui anak-anaknya, tapi ditahan oleh Bian.
"Diam di sini! Biar aku suruh mereka masuk!" perintah Bian.
Jojo pun manut.
Tak lama para prajurit Jojo masuk ke ruang perawatan Jojo yang 'wah' karna Bian sengaja memesan ruang VVIP untuk Jojo.
"Emak!!" teriak si bocil sambil berlari ke emak tercintanya.
"Ayangnya emak yang ganteng, baik, soleh. Udah mamam belum?" Jojo memeluk bocil dengan tangannya yang tidak terluka.
Bocil mengangguk, cepat.
"Tangan emak napa? Sakit ya?" bocil menatap lekat tangan Jojo yang dibalut perban.
"He-eh!"
__ADS_1
"Dedek tiup ya?"
Jojo mengangguk, dan tersenyum lembut. Bocil pun meniup tangan Jojo di bagian luka.
Bian mengacak gemas rambut bocil.
"Tiup terus, Rey! Ampe kering tuh bibir kamu!" goda Rio ke bocil.
"Pakwo!"
Bocil menatap Rio, sendu.
"Dedek pengen makan sate. Beli'in dong?" rengek bocil.
"Rasain lu, Bang! Berani godain ice bear, tekor kan lu?!"
Jojo terkekeh geli melihat Rio dipalakin bocil.
Bian ikut tertawa.
"Ish! Gak emak, gak anak, kok hobinya malakin orang ya?" gerutu Rio.
"Siapa suruh punya tampang culun? Jadi kan pengen malak terus kalo liat lu, Bang!" ledek Jojo.
Rio merengut.
"Ayo deh, kita beli satenya!" ajak Rio, akhirnya.
"Asik!!" sorak bocil, girang.
"Sekalian kita beli eh lim ya, Pakwo?!" kata bocil.
"Apaan tuh eh lim?" Rio menoleh ke Jojo.
"Es krim, Bang!" ujar Jojo, memberitahu.
"Hadeeh, Rey! Tau aja kamu sama makanan enak!" Rio menepuk jidatnya, pasrah.
"Jangan sok miskin deh, Bang. Ntar dido'a'in miskin beneran sama Rey, mau lu?" sahut Jojo.
"Eh?!" Rio mengkerut.
"Yuk, Rey! Ntar Pakwo beliin semua apa yang kamu mau, asalkan jangan kamu do'a'in Pakwo bangkrut ya?" bujuk Rio sambil mengusap kepala Rey.
Jojo dan Bian tertawa geli melihat Rio yang takut disumpahin jatuh miskin.
Rio menggandeng tangan bocil diikuti prajurit Jojo lainnya, meninggalkan Jojo dan Bian.
"Aku balik ke kantor dulu ya, Yank? Gak lama, kok! Kamu tidur lagi aja, istirahat." Bian membantu Jojo berbaring.
"Haish! Berasa lagi nungguin sakaratul maut gue lama-lama kalo tidur mulu!" gerutu Jojo yang mulai bosan.
Jojo memang tidak suka suasana sepi dan bau obat di rumah sakit ini.
"Gak usah manyun gitu! Istirahat aja!" perintah Bian.
Jojo pun mengangguk lesu.
Cup!
"Eh?"
Deg!
Deg!
Deg!
Jojo terperanjat kaget ketika tanpa disangka-sangka Bian mengecup lembut keningnya. Jojo pun melongo, beg*.
"Aku pergi dulu ya, Yank?!" pamit Bian, meninggalkan Jojo yang masih melongo, nganga, menatap punggung Bian yang hilang di balik pintu.
"Masyaallah! Aku gak lagi halu, kan?"
Jojo memegang dahinya yang tadi bekas dikecup Bian.
"Ish! Si Bian mah! Bikin aku gak bisa tidur nih kalo gini!"
Jojo memegang dadanya, menahan debaran jantungnya yang berdegup kencang.
author : "gimana Jo rasanya? Gurih-gurih nyoi kan?"😉
Jojo. : 😚😚😊😊
__ADS_1
author : "Bisa malu-malu juga lu, Jo? Biasanya juga malu-maluin!ðŸ¤ðŸ¤
Jojo. : 😒😒😒