Kaukah Gadis Tomboyku?

Kaukah Gadis Tomboyku?
19.


__ADS_3

Tit tit tiiiiitttt


"Berisik woy! Kalo namu ke rumah orang tuh ucapin salam, bukan pencet-pencet klakson." sungut Jojo, keras.


"Assalamualaikum, Jojo! Selamat siang menjelang sore."


"Wa'alaikumussalam." jawab Jojo.


"Serah lu mau siang menjelang sore atau menjelang malam sampe subuh lagi juga bukan urusan gue." sahutnya ketus.


Niza nyengir.


"Sentimen amat lu ama gue, Jo." protesnya dengan memasang wajah cemberut.


Jojo memutar bola matanya, malas.


"Kita mau kemana, nih?" tanya Jojo saat motor Niza sudah melaju, meninggalkan rumah Jojo.


"Kita ke rumah Jati."


"Hah!!!" mata Jojo hampir meloncat keluar. (lebay amat lu, jo!😒)


"Lu serius, Za?"


"Yap!"


"Lu beneran suka sama Jati?"


"Of course!"


"Apa Jati juga suka ama lu?"


Niza diam.


"Za!"


"Gue gak tau, jo."


"Lu tau rumah Jati dimana?"


"Enggak!"


Jojo menepuk jidatnya dengan perasaan campur aduk, antara geli campur kesal.


"Gini nih kalo abg lagi jatuh cinta." batin Jojo, geli.


"Dia gak malu apa nyamperin ke rumah cowok duluan? Mana gak tau lagi dimana rumahnya." Jojo ngedumel dalam hati, kesal sendiri.


"Terus...kita mau kemana sekarang?" tanya Jojo lagi. (Gak mungkin kan ke rumah Jati? Rumahnya aja gak tau.🤦)


"Kita ke rumah Radit."


"Eh, buset!"


"Jangan gila deh, Za."


"Gue serius, Jo. Gue mau cari informasi tentang Jati lewat Radit."


Jojo menepuk jidatnya lagi. "Bener-bener nekad nih anak."


"Gue gak ikutan ah! Lu pergi sendiri aja, ya?"


"Kenapa, Jo?"


"Gue malu."


"Malu kenapa? Lu kan pake baju...Aduh! Sakit, Jo." Niza mengaduh ketika Jojo mencubit pinggangnya dengan penuh emosi.


"Gak pd guenya."


"Gak ada yang tau kita ke rumah Radit, Jo. Ayolah."


Jojo menggeleng, cepat.


"Kalo Tole tau..."


"Kenapa kalo Tole tau?" tanya Niza penasaran.


"Beeu...bakal dibully habis-habisan gue sama si Tole."


"Gak bakalan Tole tau kalo gak ada yang cerita sama dia." sahut Niza.


"Lu belum tau siapa Tole, Za. Dia tuh udah kayak dukun, tau aja apa yang orang sembunyikan di belakang dia."


"Masak sih?"

__ADS_1


Jojo mengangguk pasti.


"Berarti...kita gak bisa ke rumah Jati atau ke rumah Radit dong?" wajah manis Niza terlihat kecewa.


"Turun lu dari motor!" perintah Jojo tiba-tiba.


Niza diam.


"Turun, Za!"


Jojo mendorong pelan tubuh mungil Niza. Mau tak mau Niza pun turun dari motornya.


(Gak salah tuh si Jojo? Masak yang punya motor disuruh turun? Bener-bener gak ada akhlaknya tuh anak.🤦‍♀)


"Naik, Za!"


Niza nurut aja. Dia pun naik dibocengan Jojo yang sudah duduk siap membawa motor Niza.


"Kita mau kemana, Jo?" gantian Niza yang tanya.


"Ke rumah Jati."


"Hah! Mau ngapain?"


"Mau ngapel lah. Masak mau numpang makan." sahut Jojo, asal.


"Tadi dia yang ngebet pengen ke ketemu Jati, kok sekarang tanya mau ngapain? Bener-bener udah korslet nih otak si Bucin."


"Tapi kita kan gak tau rumahnya, Jo?!"


"Kan bisa tanya nanti, Za. Lu tau kan Jati tinggal di daerah mana?"


"Tau!" jawab Niza cepat.


Niza pun menyebut nama tempat Jati tinggal. Jojo mengangguk, mengerti.


"Oke. Let's go now!"


Jojo pun langsung tancap gas, ngebut. Sampai Niza teriak-teriak ketakutan.


Sesampai di kampung Jati, Jojo menghentikan motornya di sebuah warung yang agak sepi.


"Kenapa berhenti di sini, Jo? Mau isi bensin ya? Bensinnya penuh, tadi udah full di isi sama bang Fikri."


"Turun, lu!"


"Gue disuruh turun lagi? Emang gak ada akhlaknya nih bocah!"


Niza geleng-geleng kepala, bingung dengan tingkah sengak sohibnya. Tapi ia turun juga mengikuti perintah Jojo.


"Kita tukeran bonceng lagi, Jo?" tanyanya blo'on.


"Lu tanya tuh di warung, dimana rumah Jati." suruh Jojo lagi.


"Astaghfirullah!" Niza membeku ditempatnya.


"Buruan, Za. Tanya sana!"


"Gue malu, Jo."


"Katanya mau ketemu Jati?" Jojo menyindir Niza.


"Mau ketemu gak?"


Niza mengangguk seraya nyengir, malu-malu. "Mau sih!"


"Ya, udah. Tanya sana!" seru Jojo.


Akhirnya, dengan memasang muka tembok🤭 dan menutupi rasa malunya, Niza memberanikan diri bertanya sama yang punya warung.


Jojo senyam-senyum melihat Niza kagok sendiri.


"Ibu itu gak kenal sama Jati, Jo. Tadi dia tanya nama ayah dan ibunya Jati, tapi gak gue jawab, orang gue juga gak tau." Niza terlihat kesal.


"Sabar. Kita tanya lagi sama yang lain." Jojo menenangkan Niza.


Mereka pun melaju Lagi. Setelah beberapa kali berhenti dan bertanya kesana-kemari nebelin muka, akhirnya ada juga yang kenal dengan Jati.


"Yang mana pacarnya Jati?" tanya pria yang mengenal Jati.


Cepat, Jojo menunjuk Niza yang duduk dibelakangnya. Niza cuma meringis, malu-malu miaw.😹


"Cantik. Pinter juga tuh anak pilih cewek." celutuk orang itu.


Wajah Niza sudah memerah kayak kepiting rebus, karena malu. Jojo cengar-cengir.

__ADS_1


"Rumah Jati di sana. Yang cat warna biru." tunjuk pria itu kemudian ke salah satu rumah.


Jojo mengangguk mengerti.


Segera Jojo melajukan motornya setelah mengucapkan terima kasih pada pria tadi. Dan, sesampai mereka di rumah bercat biru yang dimaksud,


"Assa...assa..."


"Haish!"


Jojo menepuk jidatnya, pelan.


"Ampe taon depan juga gak bakalan Jati nongol kalo lu ngucapin salam kayak gitu, Za." ocehnya.


"Gug...gue...ma....malu, Jo." gumam Niza, gugup.


Jojo tertawa sambil menutup mulutnya.


"Buang dulu malu lu, kita udah terlanjur datang ke sini." ujar Jojo, santai.


Niza merengut.


"Kalo gitu, lu aja yang manggil?!" sungutnya kesal.


"Kenapa harus gue? Yang mau ketemu kan elu."


Jojo nyengir seraya memainkan alisnya, sengaja meledek Niza. Si gadis cantik pun merajuk.


"Gak usah manyun gitu. Gue udah hampir bulukan nih di sini nungguin dari tadi." Jojo terus saja meledek Niza.


"Haish! Gue tumis juga lu!" sungut Niza kesal.


Jojo pun tergelak.


"Assalam..."


"Assalamualaikum, Jati!"


Niza menatap Jojo dengan wajah cengo. Jojo nyengir dengan memasang wajah tanpa dosa.


"Wa'alaikumussalam, Jojo! Niza!"


Niza menutup mulutnya, kaget, menoleh ke belakang, dimana Jati berdiri dengan tersenyum tampan padanya.


"Aih...manisnya tuh senyuman. Bikin mataku gak bisa ngedip." batin Niza, lebay.


Jojo cekikikan melihat Niza terkejut dengan mata melotot, takjub.


"Sadar woy, bangun! Kalo mau tidur, noh di kamar." ledek Jojo, menyadarkan Niza dari kekagetannya.


"Ayo, gue anter." Jati melambaikan tangannya di depan wajah Niza.


"Kemana?"


"Ke kamar."


"Kamar mana?" tanya Niza polos, membuat Jojo tergelak di atas motor yang didudukinya.


"Kamar mandi. Cuci muka."


"Hah!!!"


Hahahahahaaa. Jojo tertawa keras.


Hampir saja ia terjatuh dari atas motor kalau Jati tidak segera menahannya agar tidak jatuh.


"Bahagia lu ya? Dasar temen gak ada akhlak lu!" Jati menyentil kening Jojo yang spontan meringis kesakitan sambil mengusap-usap jidatnya yang memerah.


"Paan sih lu, Waluyo? Bukannya makasih ama gue udah nemenin Niza kemari, malah lu sentil jidat gue. Lu...yang gak ada akhlak!" gerutu Jojo dengan wajah cemberut.


"Jangan manyun gitu." Jati menoel dagu Jojo, jahil. "Ntar gue bantu lu deh biar deket ama Radit." bujuknya.


"Diih...sape yang minta bantuan elu? Gue gak minta ya?" Jojo menatap Jati dengan kesal.


Jati nyengir.


"Kali aja lu mau, Jo. Gue kan cuma menawarkan diri." timpal Jati.


Jojo meringis.


"Berasa jadi tante girang gue lu tawarin kayak gitu, Yo." ceplosnya seraya menepuk pelan dahinya.


Jati dan Niza tersedak karna terkejut mendengar ceplosan asal dari Jojo. Lalu keduanya pun terbahak, ngakak.


"Kok lu bisa ngegemesin gini ya, Jo. Pengen...heh!"

__ADS_1


"Addaauwww! Waluyo! Sakit, dodol!" Jojo menjerit kesakitan karena Jati mencubit pipinya, gemas.


Jojo pun memukul keras tubuh kekar Jati hingga cowok itu mengaduh sambil tertawa geli. Niza tersenyum geli melihat Jati yang terus menjahili Jojo.


__ADS_2