Kaukah Gadis Tomboyku?

Kaukah Gadis Tomboyku?
40.


__ADS_3

Kebahagiaan pasangan Bian dan Jojo, juga Buan dan Niza mempengaruhi persahabatan mereka.


Puput dan Dede yang masih jomblo akut ikut merasakan kebahagiaan juga.


Setiap hari ke enam sahabat itu semakin akrab dan semakin dekat. Sepi terasa bila salah satu dari mereka tidak ada.


"Juna, itu Niza kemarin lagi sehat, kan?" tanya emak ketika Jojo asik dengan novelnya, dikamarnya.


"Emang kenapa, Mak?"


"Dia kemarin cerita ke emak soal mimpi."


"Mimpi apa? Niza gak pernah cerita ke aku." Jojo menaruh novelnya, fokus ke emak.


"Mungkin kamu gak bisa mengartikan mimpinya dia, makanya gak cerita."


"Emangnya Niza mimpi apaan?" tanya Jojo, ingin tau.


"Niza mimpi kunci mobil ayahnya ilang."


"Emak tau arti mimpi itu?" tanya Jojo lagi, penasaran.


"Piling emak sih ada kejadian gak enak dikeluarganya Niza, Jun." ujar emak, pelan.


Jojo tersenyum simpul. "Feeling mak, bukan piling. Hadeeh si emak!" ralat Jojo dalam hati.


"Kira-kira...kejadian apa ya, Mak?" Jojo ikutan mikir.


Emak hanya mengangkat bahu.


🌷


🌷


🌷


Jojo sedang asik becandaan dengan Bian ketika Buan datang dengan tampang kusut.


"Butek amat muka lu, Wan. Abis berendem lumpur?" ledek Jojo.


Hari ini Niza gak masuk sekolah. Mungkin itu yang membuat wajah tampan Buan keruh.


Bian ikut mengernyit heran melihat Buan.


"Jo, bolos yuk?!"


Jojo menoleh ke Bian.


"Lu bete gara-gara Niza gak masuk ya?" tebak Jojo.


"Lebih parah dari itu!"


"Wah?!"


Jojo melirik Bian.


"Gue temenin Buan ya, By. Kayaknya dia lagi butuh refreshing nih." Jojo minta izin Bian untuk menemani Buan bolos.


"Pasti Buan mau curhat soal Niza." pikir Jojo.


"Gue aja yang nemenin lu ya, Wan." Bian menawarkan diri.


Biarpun Buan sahabat Jojo juga, bagaimana pun Bian tidak rela kalo Jojo dan Buan pergi hanya berduaan.


"Bukan saatnya lu cemburu, By. Saat ini gue bener-bener butuh Jojo." dengus Buan yang kesal dengan keposesifan Bian pada Jojo.


Akhirnya Bian pun terpaksa melepas Jojo bolos bersama Buan.


"Mau kemana kita, Wan?" tanya Jojo saat sudah duduk anteng diboncengan Buan.


"Ngademin otak!"


Buan lalu berhenti disebuah warung kopi. "Kita ngopi dulu, Jo." ajak Buan.


Jojo melirik ke dalam warung. Saat dilihatnya sebuah toples besar yang berisi coklat kesukaannya, Jojo langsung turun dengan semangat '45.


"Ko, kopi hitam satu."


Buan menoleh ke Jojo yang baru duduk.


"Aku kopi susu, Ko." tambah Jojo pada pemilik warung yang seorang 'akhew'.


"Sebenarnya ada apa sama lu, Wan? Ada masalah sama Niza?" Jojo menatap Buan, lekat.


Buan mengangguk pelan. Jojo diam menunggu Buan bercerita.


"Minum dulu kopinya, Jo. Ntar di pantai kita baru ngomong." perintah Buan ketika kopi yang mereka pesan sudah diantar pelayan.


Mereka pun menikmati kopi sambil makan beberapa kue yang ada di etalase warkop.


Sebelum pergi ke pantai, Jojo sempat membeli coklat kesukaannya, beberapa snack, dan empat kaleng minuman soda.


Jojo menang banyak, soalnya Buan yang membayar semua belanjaannya. Buan memang gak pelit dan itu yang bikin Jojo selalu ikhlas nemenin Buan kalo cowok itu sedang suntuk seperti saat ini.


Sesampai di pantai, Buan turun dan duduk di salah satu bangku yang ada di bawah sebatang pohon rindang.

__ADS_1


Jojo ikutan duduk sambil sibuk menenteng kantong tempat makanan yang dibelinya tadi.


"Gue kali ini mati kutu, Jo." akhirnya Buan bersuara setelah agak lama diam sambil menatap laut.


"Niza kenapa?" tanya Jojo.


Buan menghela napas, berat.


"Dia minta putus."


"Hah?!!" mata Jojo melotot. Kepalanya menggeleng tak percaya dengan yang Buan katakan.


"Gue gak bohong, Jo!" sergah Buan kesal melihat Jojo yang tidak mempercayainya.


"Apa alasan Niza?"


Buan mengangkat bahu.


"Gue juga gak tau. Dia gak ngasih gue alasan."


"Lu gak nanya apa alasan dia mutusin lu?"


Buan menggeleng.


Jojo memijat keningnya yang tiba-tiba nyeri.


"Ada yang aneh!" gumamnya, pelan.


Buan menoleh.


"Gue juga mikirnya sama ama lu, Jo. Ada sesuatu yang Niza sembunyi'in dari kita." sahut Buan.


Jojo mengangguk.


"Tapi apa masalahnya, Jo?" tanya Buan.


"Lu gak lagi selingkuh kan, Wan?" tuduh Jojo yang menatap Buan penuh curiga.


"Kali aja keplayboyan Buan kumat lagi." begitu pikir Jojo.


Buan menyentil keras jidat Jojo.


"Jangan asal tuduh. Gue udah tobat, dan gue udah cinta mati sama Niza." sentak Buan, gemas.


Jojo diam, nampak sedang berpikir.


"Apa mungkin ini masalah keluarga, Wan?" Jojo mencoba menebak.


"Mungkin yang lu bilang benar, ini ada hubungannya dengan masalah keluarga Niza. Dia pernah bilang kalo ayahnya menikah lagi." ujar Buan, lagi.


Buan mengangguk pelan.


"Kasihan Niza. Dia pasti down banget, Wan." kata Jojo, sedih.


Jojo tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Niza sekarang. Pasti hati sahabatnya itu tengah hancur sekarang, dan Jojo yang hanya membayangkannya saja ikut merasa sakit hati.


Buan mengangguk.


"Terus...apa jawaban lu waktu Niza minta putus, Wan?" tanya Jojo.


"Ya, gue gak setujulah, Jo! Mana mau gue putus sama Niza. Dia separuh nyawa gue, Jo!" aku Buan, jujur.


"Bagus. Gue tau lu tulus cinta sama Niza. Dan gue akan dukung kalian bersama terus, kalo bisa kalian jodoh selamanya." Jojo menepuk-nepuk pelan bahu Buan.


"Thanks, Jo! Lu emang sahabat terbaik gue, juga yang lainnya. Gue seneng punya sahabat lu." Buan tersenyum cerah.


"Sama-sama, Bro. Gue juga seneng punya sahabat kayak lu, Niza, Puput, Dede, juga Bian."


"Tapi Arby yang paling spesial diantara kita di hati lu, Jo." goda Buan.


"Iya. Tapi kalo lagi berduaan." Jojo mengaku sambil cengengesan, malu.


Buan tertawa melihat wajah Jojo yang memerah, karna malu padanya.


"Gak usah malu-malu kali ama gue, Jo. Kayak baru kenal aja." ledek Buan, membuat wajah Jojo udah kayak kepiting rebus.☺


Setelah puas berkeluh kesah, akhirnya Buan dan Jojo kembali ke sekolah.


(sekolah dibuatnya kayak rumah sendiri, datang dan pergi seenak jidatnya. Kebangetan emang nih Jojo sama Buan. Jangan diikutin ya Readers! Ini khusus yang profesional.😋🤭)


Kebetulan hari itu memang jam belajar tengah kosong karena ada rapat guru. Para murid tetap diwajibkan datang ke sekolah meskipun tidak belajar seperti biasa.


Jojo dan Buan masuk ke kelas dengan santai.


Bian pura-pura asik berkelakar dengan Berry yang duduk di sebelah mejanya ketika Jojo bersandar lemas dikursinya. Bian berharap Jojo tau kalo dia lagi ngambek dan membujuknya.


"Udah refreshingnya?" tanya Bian akhirnya karena Jojo tidak juga menyapanya, apalagi menciumnya.


(dihh, itu emang maunya elu, By. Jojo sih ogah nyium lu duluan, apalagi kalo dikelas. Malu kali Jojo-nya, By!🤦‍♀)


Jojo menoleh sebentar, lalu kembali bersandar dan memejamkan matanya, malas.


"Capek gue ngeladenin cemburu lu, By. Ngantuk!" gumam Jojo dalam hati.


"Yank!"

__ADS_1


"Hm!"


Bian menarik tubuh mungil Jojo agar duduk tegak, menghadapnya.


"Aku tanya, Jo. Jawab dong!"


"Hm."


"Haishh!"


Bian mengacak kasar rambutnya.


"Jangan bilang ham hem ham hem aja, dong! Aku pengen tau apa yang tadi kamu dan Buan bicarakan." pinta Bian setengah merajuk.


"Gak perlu aku cerita kamu pasti udah bisa nebak kali, By." sahut Jojo, pelan.


"Tentang Niza?"


"Itu kamu tau." sergah Jojo.


"Niza kenapa?" Bian membenarkan posisi duduknya, menghadap Jojo.


"Apa Niza sudah datang?" tanya Jojo, balik, tanpa menjawab pertanyaan Bian.


"Tadi sih ada. Itu tasnya." Bian menunjuk ke bangku Niza.


"Tapi orangnya mana ya?" kepala Bian celingak-celinguk mencari sosok Niza yang tadi dilihatnya datang bersama Adiba, tetangganya.


Jojo bangun dari duduknya.


"Mau kemana, Yank?" tanya Bian sambil memegang tangan Jojo, menahannya agar tidak pergi.


"Aku mau cari Niza. Ada yang harus aku cari tau." Jojo melepas pelan tangan Bian.


"Kamu tenangin Buan aja. Dia diputusin Niza." kata Jojo sambil menunjuk Buan yang membenamkan wajahnya dengan bertumpu pada kedua tangannya di atas meja.


Bian mengangguk, mengerti. Jojo pun pergi mencari Niza.


Di belakang kelas XIIB, Jojo melihat Niza sedang menangis dipelukan Adiba. Jojo mendekati mereka dengan hati kalut.


"Za?" panggil Jojo, lirih.


Niza menoleh. Perasaan Jojo seakan ikut hancur melihat airmata Niza.


"Jo!" Niza menghambur, memeluk Jojo.


Airmata Jojo luruh tanpa diminta. Begitu juga dengan Adiba yang memang sudah mengetahui apa yang terjadi dengan Niza.


"Jangan nangis, Za. Gue di sini buat lu!" Jojo membelai rambut Niza, lembut. Adiba mengusap pelan punggung Niza, mencoba menenangkannya.


"Ayah, Jo! Ayah gue kawin lagi, Jo. Ayah udah ngekhianatin mama, bang Fikri, Gue dan adek-adek, Jo. Gue benci ayah. Gue gak mau punya ayah dia, Jo!"


"Sst!!" Jojo menenangkan Niza.


"Kita omongin nanti ya? Ini masih di sekolah. Gak enak kedengeran yang lain. Sekarang lu tenang dulu." bujuk Jojo.


"Iya, Za. Kita ngomong di rumah aja, yuk!" ajak Adiba.


"Gak! Gue gak mau pulang. Gue gak tega liat mamah dan Ima. Gue juga muak liat ayah!" tolak Niza, keras.


"Kita pulang ke rumah gue, Za." bujuk Adiba.


"Gak mau!"


Jojo dan Adiba saling pandang.


"Ya udah. Kita ke rumah gue. Mau?" ajak Jojo.


Niza mengangguk, cepat.


"Diba, ntar bilangin ke mamah gue nginep di rumah Jojo ya?" kata Niza.


"Nanti mamah lu marah, gimana Za?" tanya Diba.


"Gak. Mamah tau gue gak mau ketemu ayah. Lu bilang aja ke mamah apa yang gue bilang tadi."


Adiba mengangguk, paham. Kemudian ia pun pamit kembali kekelasnya.


"Lu tadi kemana, Jo? Bian bilang lu pergi sama Aa'?" tanya Niza ketika mereka sudah berada di rumah Jojo, tepatnya di dalam kamar Jojo.


"Iya. Lu gak liat muka Buan butek waktu datang tadi pagi, Za. Gue jadi gak tega liatnya." aku Jojo.


"Aa' pasti sedih banget ya, Jo. Pasti dia kecewa sama gue." Niza menunduk, sendu.


"Buan ngerti keadaan lu, Za. Dia gak akan lepasin lu, apapun yang terjadi. Buan cinta mati ama lu, Za!" ujar Jojo, apa adanya, seperti yang Buan ungkapkan padanya tadi.


"Gue malu, Jo!" keluh Niza.


"Gue malu punya ayah kayak ayah gue. Munafik!" umpat Niza, kesal, saat teringat dengan ayah yang sangat dicintainya, dulu.


"Gak boleh gitu! Bagaimana pun beliau itu ayah lu, orang yang sudah menyayangi lu sejak lu masih embrio, yang membesarkan lu penuh cinta, dan mengajari semua hal baik pada lu. Dan gak bisa lu pungkiri juga, beliau adalah cinta pertama dan first kiss lu."


Niza melongo. Dia gak nyangka sama sekali kalo Jojo bisa berpikir dewasa seperti itu.


Jojo benar. Niza mengakui semua yang Jojo katakan. Ayah memang segalanya buat Niza. Bagaimanapun saat ini ayah sudah menerima karma dari khilafnya.

__ADS_1


"Semoga ayah belajar dari kesalahannya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi." do'a Niza, meminta pada Sang Maha Pencipta, Allah SWT.


__ADS_2