
Januar sedang memangku Bella yang sudah tertidur. Dede masih asik menikmati bakso favoritnya.
"De, gue boleh nanya gak ama lu?" tanya Januar, pelan.
"Tanya apa?" Dede makan sambil melihat ke arah Januar yang nampak grogi.
"Kok salting gitu, Jan? Lu mau tanya apa?" tanya Dede.
"Eee...anu De, ak...aku...suka sama kamu!"
"Hehkk! To...tolong...mi...num..." saking kagetnya Dede terselak bakso yang dimakannya. Napasnya pun tercekik.
Dengan cepat Januar memukul pelan tengkuk Dede hingga pentol bakso yang nyangkut ditenggorokannya keluar dan Dede pun kembali bisa bernapas lega.
"Makanya kalo makan baca do'a dulu. Jadi keselek bakso kan?" ledek Jan sambil memberikan air putih pada dede dan langsung di minum Dede sampai habis.
"Gue colok ya tuh mulut?" Dede mengacungkan garpu ditangannya pada Januar.
"Kalo becanda liat sikon dong? Kalo gue mati gara-gara keselek bakso kan gak lucu!" sungut Dede kesal.
Januar nyengir.
"Sori, deh. Sekarang lu abisin aja dulu baksonya, ntar kita sambung lagi yang gue omongin tadi." kata Jan.
Dede diam, menatap Januar, tajam.
"Lu serius ama omongan lu tadi, Jan?"
Januar balas menatap Dede. Mata elangnya yang biasa terlihat tajam dan menusuk bila memandang para penjahat buruannya, kini terlihat sendu penuh cinta.
"Aku serius, De!"
Dede diam, namun batinnya bergejolak hebat.
"Aku serius suka sama kamu. Aku cinta sama kamu dan aku mau kamu jadi istriku!"
Januar menatap dalam mata Dede. Diraihnya tangan Dede dan digenggamnya, lembut.
"Gue gak pantes buat lu, Jan. Maaf!" Dede menarik pelan tangannya yang digenggam Januar.
"Masih banyak wanita yang lebih pantas jadi pendamping lu. Lu cowok baik, dan pasti akan mendapat pasangan yang baik juga."
"Tapi aku maunya kamu yang jadi pendamping aku, De. Seumur hidup aku!" Jan kembali menggenggam tangan Dede. Kali ini lebih erat.
Aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi, De. Tidak akan!" teriak batin Jan.
"Tapi gue janda..."
"So what?!" sentak Jan, memotong ucapan Dede.
"Aku sayang kamu, De. Aku sayang Bella. Dan aku ingin kita bertiga bersatu dan saling menyayangi sampai akhir hidup kita."
Dede diam, bingung harus berbuat apa. Jujur, dia mulai menyukai Januar. Namun di sisi lain, Dede sadar dirinya tidak pantas bersanding dengan pria hitam manis itu.
"Kamu boleh percaya atau tidak padaku, De. Jujur, kamulah cinta pertamaku. Dan aku mau kamu juga yang terakhir untukku!"
"Hah?!" Dede melongo.
"Masak sih? Berarti selama ini Jan belum pernah jatuh cinta?" pikir Dede.
"Aku sudah jatuh cinta sama kamu sejak kamu mengobati lukaku, De."
__ADS_1
Dede mengernyitkan dahinya, mencoba mengingat-ingat.
"Di sini, De."
Jan menunjukkan sudut bibirnya. Dan Dede pun mulai mengingatnya.
flashback on
"Yoko!!!"
"Jan!!!"
Jojo berdiri tegak, menahan Yoko yang sudah mengeluarkan pisau dari dalam tasnya, setelah memukul Januar hingga jatuh terbaring dengan luka robek dibibirnya.
Dede berlari menghampiri Januar sambil menangis.
"Bibir lu berdarah, Jan. Sakit ya?" tanya Dede penuh perhatian.
"Gue gak pa-pa...akhh! shh!" Jan mengaduh, merasa nyeri dibibirnya yang dipegang Dede.
Pfuhh! Pfuhh!
Dede meniup luka Jan.
Deg!
Deg!
Deg!
"Kenapa jantungku jadi maraton gini? Mana napasnya wangi lagi. Alamat gak bisa tidur nih?!" batin Jan. Matanya menatap lekat wajah manis Dede.
"Mau sabar gimana lagi, Jo. Jan udah keterlaluan. Dia udah menghina gue." sahut Yoko, kesal.
"Itu kan kenyataan, Ko." ejek Jan, memancing emosi Yoko kembali.
"Lu nantangin gue ya, Jan. Lu gak tau ini pisau nyokap gue habis ngiris bawang. Kalo kena perut lu gue jamin infeksi lu!" ancam Yoko, penuh amarah. Tensinya tambah naik.
Jan tersenyum sinis.
"Lu kira gue takut?!" ejeknya.
"Jan!!!" bentak Jojo.
Dede menutup mulut Jan agar diam dan tidak memancing emosi Yoko lagi.
"Kurang ajar lu, Jan. Gak bisa..."
Sebelum Yoko melakukan niatnya hendak menikam Jan, Jojo lebih dulu mengambil pisau di tangan Yoko dan melemparnya keluar jendela.
Dede menarik tangan Januar, pergi menjauh, keluar dari dalam kelas.
Yoko yang hendak mengejar Januar, ditahan oleh Jojo.
flashback off
Dede tersenyum kikuk.
"Masak cuma gara-gara gue ngobatin luka lu, lu jatuh cinta ama gue, Jan? Gak mungkin banget." Dede mencoba mengelak, menutupi rasa groginya.
Jan mengendikkan bahunya.
__ADS_1
"Aku juga gak tau, De. Tapi itu kenyataannya. Aku jatuh cinta detik itu juga sama kamu sejak kejadian itu." ungkap Jan, jujur.
Dan pipi Dede pun merona. Jan meraih tangan Dede, dan menggenggamnya kembali sambil menatap dalam-dalam mata Dede.
"De...maukah kamu menikah denganku? Menjadi istriku dan menemaniku hingga akhir usiaku?" pinta Januar, penuh harap.
Dede diam menatap Januar. Antara ragu dan girang berkeliaran dibenaknya.
"Jawab, De!"
"Gue..."
Mata Jan terus menatap Dede lekat.
"Gue...mau nikah ama lu!"
"Apa, De?! Coba ulangi sekali lagi?" pinta Jan, seakan budek.
Dede cemberut.
"Gak ada siaran ulang. Ini live streaming!" sahutnya, keki.
Jan tersenyum bahagia. Kalo saja tidak ada Bella yang sedang tertidur dipangkuannya, ingin rasanya Januar berteriak dan melompat kegirangan.
Akhirnya, dikecupnya lembut tangan Dede yang ada digenggamannya, membuat si empunya tangan tersipu malu.
"Makasih ya, Sayang. I love you!" ucap Jan sambil tersenyum tampan.
"Sama-sama, Jan. Makasih juga karna kamu sudah memintaku dan Bella untuk menjadi pengisi hidupmu." ujar Dede, malu-malu.
"Kita sama-sama saling mengisi kekurangan kita ya, sayang? Aku, kamu dan Bella akan jadi keluarga yang utuh. Dan aku janji akan selalu mencintai, menjaga dan melindungi kalian." Jan terus menggenggam tangan Dede, seakan tak ingin melepaskannya lagi.
Dede mengangguk dan tersenyum bahagia. Entah kenapa dia sama sekali tidak meragukan perasaan Jan padanya. Karna Dede percaya, cinta Jan tulus dan murni datang dari hatinya yang terdalam.
Hidup ini singkat. Dan Jan tak ingin menunda kebahagiaannya lebih lama lagi. Setelah Dede menerima lamarannya, Jan langsung mengurus pengajuan nikahnya.
Dan setelah melalui berbagai proses, tahap demi tahap, akhirnya Jan dan Dede pun resmi menjadi suami-istri.
"Selamat ya, Bro! Semoga keluarga kalian Sakinah, mawaddah, dan warahmah." Bian mengucapkan selamat pada sahabatnya, Jan dan Dede.
"Makasih, Ar. Semoga lu juga cepat menyusul kita, biar kita bisa bahagia bareng." timpal Jan.
Bian tersenyum kecut.
"Do'akan ya, Bro. Moga saja gue juga bisa bahagia kayak lu berdua."
Bian memeluk Jan dan Dede bergantian.
"Pasti, Bro! Kita berdua akan selalu doa'in lu untuk kebahagiaan lu!" Jan menepuk pelan bahu Bian.
Dede mengangguk, mengiyakan ucapan suaminya.
Bian tersenyum melihat dua sahabatnya bisa bersatu dalam cinta dan kasih.
"Akhirnya lu bisa menemukan kebahagiaan lu, Jan. Semoga kebahagiaan kalian langgeng hingga ke jannah-Nya." do'a Bian tulus.
"Aamiin, Ar. Makasih do'anya!"
Jan sudah menemukan kebahagiaannya bersama Dede. Akankah Bian pun bisa menemukan kebahagiaannya? Ataukah Bian terus terpuruk selamanya?
Lanjuttttt!!!
__ADS_1