
Jam baru menunjukkan pukul 18.30 wib. Tapi Bian sudah duduk anteng di ruang tamu rumah Jojo.
"Subuh amat lu datengnya, By. Gue juga belum siap-siap."
"Mulai deh, ibu kos ngomel. Gue sengaja datang cepat biar gue bisa nunggu lu dandan."
"Haishh. Gak perlu dandanlah, By. Cukup sisir rambut aja udah rapi kok."
"Gue disuruh Buan buat masti'in lu pake baju apa. Buan maunya elu pake baju yang warna toska."
Jojo mengusap wajahnya, pasrah. "Masih ingat juga mereka warna baju yang mereka beli waktu itu."
"Cepetan ganti baju sana. Ntar kemaleman lagi perginya." Bian mendorong tubuh mungil Jojo masuk ke dalam kamarnya.
Sepuluh menit kemudian,
"By, gue pake baju yang lain aja ya?" kepala Jojo nongol dari balik pintu kamarnya.
"Terserah asalkan baju yang kita beli itu yang lu pakai."
"Maksud gue...baju gue aja..."
"Lu mau gue yang ganti baju lu?" tanya Bian dengan nada mengancam.
Jojo membuang napas kasar sebelum masuk kembali kekamarnya.
"Sialan tuh anak, di rumah gue masih berani juga dia ngancem gue." sungut Jojo, sebal.
"Gue denger ya, Jo." teriak Bian dari luar.
"Cihh...bikin ribet aja." Jojo mendengus kesal.
Segera Jojo mengganti kaos oblong yang dipakainya dengan dress toska pilihan Buan. Setelah memoles sedikit bedak diwajahnya dan lipbalm tipis dibibirnya, juga menata rapi rambutnya, Jojo pun keluar dari dalam kamar untuk menemui Bian yang telah menunggunya.
"Yuk By, gue udah siap."
Jojo siap berangkat dengan sling bag dibahunya.
Bian terpaku.
"Cantik! Ternyata bisa juga Jojo dandan cantik kayak gini."
"Kenapa, By? Gak pantes ya gue pakai baju ini? Bentar ya, gue ganti lagi."
"Gak usah." Bian menarik tangan Jojo yang hendak kembali kekamarnya.
"Kita udah telat. Buan dan Niza pasti udah nunggu kita dari tadi." kata Bian.
"Tapi gue..."
"Gak ada yang salah di elu. Kita berangkat sekarang." Bian masuk ke dalam rumah Jojo, menuju ruang tengah dimana emak tengah asik nonton sinetron kesayangannya.
"Tante, saya minta izin mengajak Juna pergi ke ultah teman sekolah." Bian pamit pada emaknya Jojo.
"Iya. Tapi pulangnya jangan malem-malem. Jam 10 sudah harus di rumah." kata emak.
"Baik, tante. Kami pamit pergi." Bian mencium punggung tangan emak, begitu juga Jojo.
"Juna!" panggil emak.
Jojo dan Bian menoleh ke arah emak.
"Darimana kamu dapet duit buat beli baju itu." emak menunjuk baju yang Jojo pakai.
Emak curiga karena merasa tidak pernah membeli baju itu buat Jojo. Biarpun emak sebenarnya mau membelikan dress seperti itu, tapi selama ini Jojo terus menolaknya. Dan sekarang dia memakai dress, wajar aja kalo emak curiga.
"Bian, Buan dan Puput yang beli, Mak. Kata mereka baju itu harus dipakaikan pada saat pesta kayak malam ini. Masih ada empat baju di lemariku." jawab Jojo jujur.
"Bener itu, By?" tanya emak pada Bian.
"Iya, tante. Kita mau Juna bisa feminim dikit." jawab Bian, jujur.
Emak mengangguk mengerti.
Kemudian mereka pun segera berangkat ke pesta Mona.
"Kita telat ya, By? Mending kita gak usah masuk aja ya." Jojo risih saat tiba di rumah Mona yang sudah ramai dengan tamu undangan.
"Kenapa emangnya?"
"Gue gak suka pesta. Risih gue."
Bian menggenggam tangan Jojo.
"Kita masuk sama-sama. Jangan pedulikan yang lain, yang penting kita bisa makan gratis di sini." bisik Bian.
Jojo tergelak.
"Enakan juga masakan emak gue di rumah, By." sahutnya asall.
Bian ikut tertawa geli. Mata Bian mencari sosok Buan, Niza dan Puput.
"Mereka gak ada ya?" tanya Jojo yang melihat Bian terus melongok ke sana ke mari.
"Tau tuh. Gak kelihatan satu pun batang hidungnya."
"Kita pulang aja yuk." ajak Jojo.
"Tanggung, Jo. Kita gabung aja bareng yang lain yuk."
Bian menarik tangan Jojo, mengajaknya masuk ke dalam rumah, bergabung dengan teman-temannya yang lain.
Dengan langkah malas dan karena dipaksa juga oleh Bian, Jojo pun pasrah ketika di gandeng Bian masuk ke dalam rumah.
"Jo!" seseorang memanggil Jojo membuat gadis itu refleks menoleh.
"By, itu Buan, Niza dan Puput."
Jojo menarik tangan Bian, menghampiri Niza dan yang lainnya.
"Weishh...pasangan serasi. Suit suwiww!" Puput bersuitan menggoda mereka.
Jojo menyeringai ganas menatap Puput membuat cowok itu tergelak.
"Penampilan lu malam ini bikin kita pangling, Jo. Ternyata bisa juga lu dandan ya?" Buan memperhatikan setiap inci dari penampilan Jojo.
"Terpaksa, Wan. Bian ngancem gue, soalnya." sahut Jojo seraya nyengir. Mata Buan, Puput dan Niza, juga Linda beralih menoleh ke arah Bian.
__ADS_1
Ditatap sedemikian rupa, Bian nyengir.
"Habis Jojo maksa mau pake kaos Ama jeans 'favoritnya', Wan. Lu kan pesen Jojo harus pake baju ini." ujar Bian.
Buan mengangguk.
"Gue suka Jojo yang seperti ini. Cantik." puji Buan diangguki Bian, Puput dan Niza.
"Duduknya yang manis ya, Jo. Awas kalo lu duduk nongkrong, gue selempet lu." ancam Puput.
"Haishh, duduk aja pake diatur-atur. Siksa aja gue, siksa...ampe lu puas." gerutu Jojo pasrah.
Sohib-sohibnya terbahak, menertawakan Jojo yang tampak tersiksa lahir batin gara-gara dress yang dipakainya.
"Eh, kita kan belum ngucapin selamat ke Mona, Jo." kata Bian.
"Gak usahlah, By. Kita juga gak bawa kado." tolak Jojo.
Memang tadi Jojo dan Bian datang hanya membawa badan aja tanpa membawa kado ataupun amplop. (kan makan gratis.😁🤭)
"Bodo amat sama kadonya yang penting makan gratis." pikir Jojo cuek.
"Nih, kadonya udah kita siapain. Yuk kita sama-sama menemui Mona."
Niza memberi sebuah kado pada Jojo. Dia juga membawa kado yang lain. Begitu pun dengan Linda yang datang bersama Puput. Mereka berenam bersama menemui dan mengucapkan selamat ulang tahun pada Mona, teman sekolah mereka.
"Juna!"
tet tewwww
Jojo diam terpaku ditempatnya. Gugup, bingung, dan gemetar dirasakannya saat cowok tampan itu berjalan kearahnya. Tubuh mungilnya panas dingin ketika Adit sudah berdiri dihadapannya dengan senyum yang terukir tampan.
"Kamu datang juga, Juna? Dan kamu sangat cantik malam ini." Adit memuji penampilan Jojo.
"Ah...eh...makasih." jawab Jojo gugup. Pipinya terasa panas mendengar pujian dari Adit.
"Kita ngobrol di sana, yuk." ajak Adit sambil menunjuk ke sudut ruangan.
Jojo mengangguk.
"Silahkan."
Jojo duduk dengan canggung di kursi yang dipegang Adit.
"Tunggu sebentar ya? Aku mau ambil makanan dulu."
Jojo mengangguk lagi.
"Kayaknya malam ini gue bakalan mimpi indah deh." bisik batin Jojo. Sesaat ia melupakan keempat sahabatnya.
"Nih."
Adit menyodorkan satu piring kecil yang berisikan beberapa macam kue.
"Ma...maka...sih." dengan rasa canggung dan gugup Jojo menerimanya.
"Kayaknya enak nih."
Jojo sedikit ngiler melihat potongan kue lapis legit dan brownis di piring yang dipegangnya.
"Gue makan ya?"
Adit tersenyum melihat Jojo yang tampak menikmati kue yang diberikannya.
"Masih mau? Nih!"
Adit menyodorkan kue yang ada ditangannya pada Jojo ketika melihat gadis itu sudah menghabiskan kuenya.
"Gak ah. Lu kan belum makan kuenya." tolak Jojo malu-malu. Padahal sumpah mati, Jojo girang banget karena memang dia masih menginginkan kue itu. (Laper ya, Jo?🤭)
"Aku bisa ambil lagi. Kamu makan aja ini." ujar Adit.
Jojo nyengir.
"Makasih."
Tanpa jaim apalagi malu-malu, Jojo memakan kembali kue yang diberikan Adit dengan lahapnya.
Cowok ganteng itu tersenyum penuh arti.
"Kamu suka kue brownis ya?" tanya Adit.
"He-eh."
"Terus...kamu suka apa lagi?"
"Apanya?"
"Kamu sukanya makan apalagi? Hobi kamu apa? Tanggal lahir dan zodiak kamu apa? Cita-cita..."
"Diih, berasa mau ngisi formulir pendaftaran deh." celutuk Jojo, memotong omongan Adit.
Dan cowok itu tergelak, geli.
"Ntar gue pinjem buku lu, ya?" kata Jojo.
"Buku?"
"Iya. Biar gue tulis aja biodata gue di buku lu kayak yang lu tulis di buku gue kemarin." ujar Jojo.
Adit tersenyum lagi.
"Pinter kamu ya?"
Jojo nyengir sambil garuk-garuk kepala. "Mulut gue nyerocos terus ya? Maaf."
Adit tertawa.
"Gak pa-pa. Aku suka cewek yang apa adanya kayak kamu." sahut Adit, kalem.
Jeng jeng jeng....
Jojo tercekat.
"Kuping gue gak lagi budek kan? Gue gak lagi halu kan?" batin Jojo girang.
Jojo memastikan kupingnya yang kadang error mendadak juga otaknya yang kadang dalam mode KTT. (khayalan tingkat tinggi😋)
__ADS_1
"Juna, cowok kamu dari tadi liatin kita terus tuh."
"Hah. Siapa? Mana?" Jojo celingukan mencari yang dimaksud Adit.
"Itu."
Adit menunjuk dengan dagunya ke arah Bian yang berdiri di dekat meja bar dan tengah memperhatikan mereka.
Jojo mulai ngeh. Sohibnya yang jomblo itu dia tinggal sendirian. Jojo nyengir tanpa dosa pada Bian yang mengusap mukanya, pasrah.
"Mau ngajak pulang, mungkin."
Adit mengernyit menatap gadis itu.
"Apa pacarmu gak marah lihat kita ngobrol di sini?" tanya Adit hati-hati. Ada perasaan 'aneh' ia rasakan saat menyadari bahwa Bian terus menatap ke arah mereka.
"Siapa? Apanya?" tanya Jojo, cengo.
"Ni cewek pura-pura beg* atau emang o'on beneran?"
Adit menatap Jojo kecewa.
"Bian itu teman sebangku gue. Dia juga sohib gue, sama seperti Buan dan Puput. Lu jangan heran kalo liat mereka bertiga akrab sama gue, karena kita sudah seperti saudara." jelas Jojo tanpa bermaksud apa-apa.
"Mana ada cewek bersahabat dengan cowok, Jun? Kalo pun awalnya cuma temenan pasti ada perasaan ingin memiliki nantinya di salah satu hati, entah si cewek yang jatuh cinta atau si cowok yang suka." kata Adit.
Jojo menggeleng cepat dan tersenyum.
"Gak, Dit. Gue punya banyak sahabat cowok. Dan salah satunya temen SMP gue. Kami berdua tulus sahabatan, bahkan sampai sekarang meskipun kita sudah pisah sekolah. Gue panggil dia abang. Setiap dia apel ke rumah pacar-pacarnya, pasti gue diajakin. Gak pernah tuh pacarnya cemburu ama gue, takut diputusin abang kali ya. Soalnya abang selalu melindungi gue dari apapun, termasuk kecemburuan pacar-pacarnya."
"Apa kamu lebih dekat dengan sahabat SMP mu itu dari pada abang kandungmu, si Rio?"
Jojo menatap Adit dengan penuh tanda tanya. "Lu tau Rio itu abang gue?"
Adit mengangguk. "Tole yang bilang."
"Pasti Tole ngomong yang jelek-jelek ya tentang gue." Jojo menunduk, pasrah.
Tole tetangganya. Dan pasti tau semua tingkah 'ajaib' Jojo.
"Jangan su'udzon. Tole cuma bilang, kamu adiknya Rio yang paling sering bikin ibumu pusing daripada saudaramu yang lain."
Adit senyam-senyum saat mengatakannya. Dan ia pun berusaha menahan tawanya dengan melipat mulutnya ketika melihat Jojo menepuk jidatnya, pelan.
"Tuh kan, gue bilang juga apa. Mulut si Tole emang 'lemes' banget. Pengen gue rujak rasanya tuh mulut." gerutu Jojo dalam hati.
Jojo nyengir ketika bertatapan dengan mata Adit.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku yang tadi, Juna."
"Yang mana?"
"Tentang abang SMP dan abang Rio kamu."
"O."
Adit tersenyum geli mendengar jawaban singkat Jojo.
"Gue dan bang Rio gak deket. Makanya di sekolah gue dan dia gak pernah saling sapa. Yang tau dia itu abang gue cuma bang Dwi dan beberapa temannya yang sering main ke rumah gue, juga tetangga yang satu sekolahan sama kita, kayak si Tole."
"Kalo abang yang satunya?"
"Dia gue panggil abang karna dia yang selalu memperlakukan gue layaknya seorang adik. Dia menyayangi gue. Selalu memberi suport dalam segala hal. Selalu mengajari hal-hal baik, dan tegas kalo gue berbuat salah. Pokoknya dia abang yang sebenarnya abang buat gue."
Adit mengernyitkan dahinya. Jojo nyengir lagi.
"Bingung ya?" tanyanya ketika melihat Adit mengerutkan keningnya.
"Sama. Gue juga bingung." katanya sambil terkekeh geli.
Adit pun tertawa, membuat Jojo terpesona sesaat.
"Gak kok. Aku paham maksud kamu. Intinya, kamu dan Rio tidak sedekat kamu dan abang SMP mu. Ya kan?"
Jojo mengangguk.
"Apa kamu masih sering bertemu abang SMPmu itu?"
"Gak. Sejak perpisahan SMP gue udah gak ketemu dia lagi."
"Kenapa? Apa rumahnya jauh dari rumah kamu?"
"Iya. Dia tinggal di perumahan xx, Blok IV no 57."
"Loh, itu perumahan tempat aku tinggal, cuma beda blok. Aku tinggal di blok VIJ" sahut Adit cepat.
Jojo sumringah.
"Namanya siapa? Siapa tau aku kenal." ujar Adit lagi.
"Novri Andriyan."
Adit garuk-garuk kepalanya sambil tersenyum, kaku.
"Gak kenal ya?"
Adit menggeleng.
"Kali aja lu kenal sama adiknya. Cantik banget orangnya."
Adit menggeleng lagi.
"Aku bukan anak gaul, Juna. Gaulku cuma di masjid aja. Soalnya aku marbot masjid." ujar Adit jujur.
"Pantes aja sikapnya kalem, anak masjid rupanya."
"Lu juga gaul, Dit. Kalo gak, gak mungkin lu bisa datang ke acara seperti ini."
"Aku tadi di paksa sama Tole, Juna. Aku sebenarnya bosan kalo pergi ke pesta kayak gini."
"Loh...bukannya yang datang malam ini rata-rata satu sekolah sama kita, kok lu ngerasa bosan. Terus si Tolenya mana?"
"Aku gak suka pesta, makanya aku bosan. Tole sejak datang tadi langsung nempelin si Ani. Tuh...di sana. Untung ada kamu, jadi aku gak bete sendirian."
Jojo melihat Tole yang sedang asik berduaan sama Ani, anak kelas XIB.
"Bukannya Ani udah punya cowok, Dit?" tanya Jojo.
__ADS_1
Setau Jojo, Ani memang sudah punya pacar yang bernama Bagas, sekelas juga dengan Ani.
Adit mengendikkan bahunya, tanda tak tau atau tak mau tau.