
Sepuluh tahun berlalu
Di depan panggung berdiri sesak ribuan orang memadati lapangan bola merdeka. Mereka menyaksikan kampanye Pilkada salah satu calon yang diramaikan dengan kehadiran beberapa artis ibu kota.
Bian yang tengah bertugas mengamankan lokasi bersama personil kepolisian dari tempatnya bertugas, duduk santai namun tetap waspada menatap keramaian.
"Na! Kok lu nongkrong sih duduknya? Gak takut brojol lu di sini?"
Bian melihat seorang pria tampan jongkok di depan seorang ibu hamil yang juga tengah jongkok.
"Pindah yuk, kita duduk di sana." pria itu menunjuk ke sebuah bangku kosong.
"Di sini udah penuh...Aduh!!"
"Gue masih waras, dodol! Masak gue be'ol di sini!" dengan santai tuh emak bunting menjitak keras kepala pria itu.
Dari tempatnya duduk, Bian terkikik geli di balik maskernya.
"Ish, ganas amat lu, Na. Untung gue gak jadi laki lu, kalo gak...bisa-bisa benjol pala gue tiap ari lu getok mulu." sungut si pria sambil mengusap-usap jidatnya yang merah.
"Laki gue gak rese kayak lu, Dy. Dia orangnya sabar, gak posesif kayak lu."
"Sabar atau gak peduli?" sindir si pria.
Sang emak melotot, serem.
"Lu tau gak Dy, alasan gue lebih milih kawin ama laki gue daripada elu?"
"Kenapa?"
"Karna dia lelaki yang bertanggung jawab, gak egois, dan selalu mengalah sama gue."
Dan lagi-lagi Bian terkekeh melihat ekspresi ngeri di wajah pria itu.
"Kayaknya tuh cowok mantan pacar yang belum move on." Bian menerka dalam hati.
"Lu udah beneran lupain gue, Na?" tanya si pria.
"Ngapain gue inget elu? Laki gue jauh lebih baik dari lu, tau gak?!" ketus jawaban dari si emak.
"Tapi gue kan mantan terindah lu, Na!"
"Pede banget lu! Mantan terindah gue tuh temen SMA gue, asal lu tau!"
Deg!
Bian menatap lekat sosok si emak bunting yang membelakanginya.
"Jojo!" jerit batinnya.
"Mak!"
Seorang bocah lelaki kecil berumur dua tahun berlari menghampiri sang emak dan pria tampan itu.
"Loh...siapa yang antar kamu ke sini, Boy!" tanya sang emak sambil mencium gemas putranya.
"Ayah!"
"Ayahnya mana?" tanya sang emak lagi.
"Balik lagi. Nunggu di rumah Awo."
Sang emak manggut-manggut.
Bian yang terus menguping pembicaraan mereka dari tadi, mengernyitkan dahinya, bingung.
"Lah...ni emak, gak takut lakinya cemburu apa? Masak laki disuruh jaga anak dia malah pacaran di sini? Gak nyadar apa ama tuh perut?"
Bian geleng-geleng kepala, tanpa sadar.
"Lu kenapa, Ar?" tanya teman yang duduk di sebelah Bian, heran melihat tingkah pria ganteng itu. Teman-teman yang lainnya ikut menoleh kearahnya.
"Gak. Gue gak pa-pa. cuma ngantuk aja dikit!"
"Ooo. Nih, ngopi dulu!" salah satu teman menyodorkan segelas kopi dan diambil oleh Bian.
"Halo ganteng! Namanya siapa?"
Bian melihat pria tampan itu memegang kepala anak sang emak bunting.
"Kiki, Om!" jawab sang bocah.
"Jangan panggil Om. Panggil papa!"
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Bukan sang anak, atau pun si emak bunting yang kaget, malah Bian yang tersedak saat meminum kopinya.
"Kenapa lu, Ar?" tanya temannya sambil menepuk-nepuk pelan punggung Bian yang hanya menggeleng sambil mengangkat satu tangannya sebagai isyarat bahwa ia baik-baik saja.
Geli hatinya jangan ditanya lagi. Kalo sedang tidak tugas, mungkin Bian akan ngakak sengakak-ngakaknya melihat drama dua makhluk didepannya.
"Papa dari Hongkong!"
Bian melihat sang emak bunting yang membelakanginya berkacak pinggang.
"Emang lu pernah nanem saham di perut gue?!"
"Lah...ni dua makhluk gak ada akhlak bener! Buka aib ditengah-tengah lapangan yang seramai ini? Ampun dah gue!" Bian menepuk jidatnya, bingung campur geli.
__ADS_1
"Mau kemana, Ar?" tanya teman Bian.
"Pindah tempat. Lama-lama di sini bisa beranak gue!"
Bian pergi, menjauh dari tempat dia tadi duduk diiringi tatapan heran teman-temannya.
"Emang Arbyan bunting, Bro?" tanya teman yang berdiri tak jauh dari Bian.
"Au'!" jawab yang satu sambil mengangkat bahu.
Ditempat yang sama,
"Lu kebangetan deh, Na. Gue tau banget kalo Kiki tuh anak gue!" Andy menatap Juna, tajam.
"Kalo lu tau dia anak lu, kenapa dulu lu gak ngajak gue nikah?"
Andy diam tak berkutik.
Juna meringis.
"Pengecut lu, Dy! Gak berani bertanggung jawab! Untung laki gue baik. Dia mau menikah dan nerima anak gue jadi anaknya." cerca Juna.
Andy masih terdiam.
"Yuk Boy, kita balik ke rumah Awo. Emak udah mules. Adekmu kayaknya udah mau ketemu kamu."
Juna menggandeng tangan anaknya, mengajak pulang.
"Tunggu, Na!"
"Paan?!"
Andy berjalan menghampiri Juna, lalu berjongkok menghadap Kiki.
"Nih, Boy! Buat jajan."
Andy memberi Kiki selembar duit merah. Si bocil menoleh ke sang emak.
"Ambil, Boy! Rejeki jangan ditolak." sahut sang emak.
Kiki pun menerima pemberian Andy dengan senang hati.
Juna terkekeh.
"Lumayan, Boy! Nanti kita beli mainan dan mie ayam ceker demenan emak ya?" kata Juna sambil menggandeng tangan anak gantengnya.
"Oke, Mak! Ntar kita ajak ayah juga, ya?"
"Siip!" sang emak mengacungkan jempolnya.
"Juna!" panggil Andy lagi.
"Jangan ajarin anak lu 'sedeng' kayak lu, ya?!" pinta Andy.
Juna menyeringai, sinis.
"Anak anak gue. Suka suka gue dong!" Juna menjulurkan lidahnya, meledek Andy, mantan pacarnya yang paling sableng.
"Kenapa gue bisa jatuh cinta sama cewek 'ajaib' itu ya?" Andy menepuk jidatnya, pelan.
"Ayah!"
Bocil berlari menghampiri sang ayah yang sedang bercakap-cakap dengan kakak ipar dan keponakannya.
"Udahan nontonnya?" tanya Mirza pada anaknya. Lalu ia melihat istrinya sedang berjalan menghampiri mereka dengan wajah meringis, menahan sakit.
"Kamu kenapa, Yank? Udah mulai kerasa, ya?" tanyanya penuh perhatian sambil membimbing istrinya berjalan.
"Kayaknya sih."
"Loh...kenapa kayak gak yakin gitu?" Mirza mengerutkan dahinya, bingung melihat istrinya yang makin hari makin ajaib aja kelakuannya.
"Aku waktu mau ngelahirin Kiki gak pernah ngerasain sakit perut kayak gini, Yah. Badan aku juga gak melar kayak tedmon gini." keluh Juna dengan bibir mengerucut, lucu, bikin Mirza gemas melihatnya.
"Biar kamu tambah bulet, tapi kamu tetap cantik di mata aku, Yank." Mirza mencubit gemas pipi cubby istrinya.
"Ish! Aku udah mau ngep-ngep nahan sakit, masih sempet-sempetnya kamu ngerayu aku." Juna manyun, ngambek.
Mirza tertawa.
"Biar kamu rileks, Yank!"
"Sakit banget, Yah!" rengek Juna, manja pada suaminya.
"Udah! Jangan bercanda lagi. Cepat ke rumah sakit sekarang!"
Mira, kakak Mirza yang notabene kakak ipar Juna langsung berinisiatif membawa Juna ke rumah sakit saat melihat ekspresi absurd adik iparnya.
Seketika keluarga besar Mirza pun bergerak cepat. Ada yang mengeluarkan mobil dari garasi, ada yang mengambil tas persiapan untuk Juna melahirkan, ada juga yang malah sibuk menyiapkan snack untuk cemilan saat menunggu Juna lahiran nanti.
"Anak aku ketinggalan, Kak!" teriak Juna ketika tidak melihat Kiki dipangkuan Mirza.
"Kiki gak usah diajak, biar Mona yang jagain. Gak bagus anak kecil kelamaan di rumah sakit." sergah Mira. Semuanya pun manut.
Lima belas menit lewat dua belas detik, mobil yang dikendarai Andre, suami Mira, sampai di rumah sakit. Juna pun langsung dibawa ke UGD.
"Sudah pembukaan dua. Ibu akan kami pindahkan ke ruang Ponek." kata bidan yang memeriksa Juna.
"Bu, sakit banget nih! Kita bisa damai gak gimana caranya biar perut saya gak sakit lagi?" Juna mencoba merayu bidan yang memeriksanya.
__ADS_1
"Dokter sebentar lagi datang. Ibu yang tenang biar gak stress. Nikmati aja prosesnya dengan santai." ujar Bu Bidan, kalem.
"Serah lu dah! Lu mau buang gue ke jurang sekarang juga gue mah pasrah aja!" dalam hati Juna berkata pasrah. Sakit diperutnya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.
(Ya ampun, Juna! Lu mau beranak loh, bukan lagi tawuran. Lu kira Bidannya Pak RT yang bisa lu ajak damai!🤦♀)
Setengah jam berlalu,
"Bu Bidan!" panggil Juna dengan ekspresi meringis menahan sakit.
"Kenapa, Bu?"
"Ini bayi mau keluar gak sih, kok lama bener?" tanya Juna setengah menggerutu.
Bu bidan tersenyum.
"Sabar, Bu. Masak ibu lupa gimana melahirkan, kan ibu sudah punya anak satu."
"Saya waktu lahiran anak pertama sakitnya pas waktu babynya mau keluar aja, Bu Bidan. Tapi yang ini malah gak mau keluar-keluar." Juna ngedumel, kesel.
"Sabar. Nanti juga keluar dedeknya." Bu Bidan terus menenangkan Juna.
"Coba saya periksa lagi."
"Udah pembukaan delapan. Ibu tahan, jangan ngeden dulu, tunggu pembukaannya habis." kata Bu Bidan saat melihat Juna sudah siap untuk ngeden.
"Tahan. Tahan. Enak banget lu ngomong. Gue udah pengen makan lu rasanya, tau gak?" Juna ngedumel, tapi cuma berani dalam hati.
"Tolong suami saya dipanggil, Bu. Enak aja dia duduk-duduk tenang di luar. Dia gak tau gue lagi kesakitan sekarang?" Juna terus ngomel-ngomel.
(Jangan protes! Kan emak-emak emang hobinya ngomel.😂)
Sambil menahan senyum Bu Bidan pun memanggil Mirza.
"Ada apa, Yank? Yang mana yang sakit?" Mirza masuk ke dalam ruang bersalin dengan wajah tegang.
"Pake nanya lagi sakitnya dimana?" Juna mendelik, kesal.
"Ditembolok nih yang sakit!" sungut Juna dengan raut muka kecut.
Bu Bidan berlari ke kamar mandi, tak mampu lagi menahan tawanya hingga nyaris pipis. Sedangkan dua temannya cekikikan geli.
Tak lama Lina, istri Rio abangnya Juna, masuk ke dalam ruangan.
"Juna udah mau lahiran ya, Za?" tanya Lina.
"Iya, Kak. Tapi..."
"Kamu... Kenapa muka kamu pucat, Za?" tanya Lina, ikutan cemas melihat Mirza yang sudah pucat pasi.
"Keluar aja, Yah, kalo gak sanggup mah!" usir Juna. Dia paham kalau suaminya takut kalo melihat orang yang akan melahirkan.
Mirza pun cepat-cepat keluar dari dalam ruangan.
"Mirza kenapa, Jun?"
"Au'. Cuma pinter ngadonnya doang. Giliran anaknya mau keluar, takut! Cemen banget jadi laki."
"Hush! Gak boleh ngomong gitu. Gimana pun dia suami kamu." sergah Lina, mengingatkan Juna.
"Astaghfirullahal'adziim! Aku lupa dia bapaknya anak-anak. Aaaastagfirulahal'adziim! Astaghfirullahal'adziim! Astaghfirullahal'adziim!"
Juna terus beristighfar saat sakit diperutnya makin menjadi. Bidan yang mendampingi Juna melahirkan pun sudah siap membantunya.
"Ayo Bu...tarik napas yang kuat, lepas. Tarik lagi, lepas. Lagi..."
"Nih Bidan udah pernah melahirkan belum sih?! Enak aja tinggal ngomong tarik lepas tarik lepas, lu kira gue lagi tarik tambang?" batin Juna protes, keras.
"Ayo, Jun. Semangat! Kakak bantu ngeden." Lina jadi ikutan ngeden.
Tak lama,
"Oekkk! Oekkk! Oekkk!"
Tangisan keras terdengar sampai keluar ruangan.
"Alhamdulillah! Selamat, Ibu Juna. Anaknya laki-laki." kata Bu Bidan.
"Alhamdulillah!"
Juna menoleh ke kakak iparnya yang tiba-tiba diam saja.
"Kak?" panggil Juna.
Lina pun menoleh.
"Kakak lahiran juga?" tanya Juna, tepat sasaran saat melihat wajah Lina yang memerah.
"Kakak pulang dulu ya, Jun. Nanti kakak balik lagi."
Lina pun langsung pulang tanpa memperdulikan Juna dan Bidan yang ada di sana tertawa geli melihatnya.
"Pasti bayinya dibuang ke hilir, tuh!" celutuk Juna.
"Bayi siapa, Bu?"
"Bayi kakak saya yang lahirnya bareng saya tadi." jawab Juna, kalem.
Tiga Bidan yang mendampingi Juna pun tak mampu lagi menahan tawa mereka, dan ruangan bersalin seketika pecah dengan tawa mereka.
__ADS_1
(Pasti bayi Lina yang lahir hasil ngeden tadi sangat eksotik!🤣🤣🤦♀)