
🎵Ku berjalan terus tanpa henti
dan dia pun kini telah pergi
ku berdo'a di tengah indah dunia
ku berdo'a untuk dia yang kurindukan
Memohon untuk tetap tinggal
dan jangan engkau pergi lagi
berselimut di tengah dingin dunia
berselimut dengan dia yang kurindukan
Would it be nice to hold you...
Would it be nice to take you home...
Would it be nice to kiss you..
Memohon untuk tetap tinggal
Dan jangan engkau pergi lagi
Bernyanyilah na na na na na
Bernyanyilah untuk dia yang kurindukan
Would it be nice to hold you...
Would it be nice to take you home...
Would it be nice to kiss you..
Jangan pernah lupakan aku
Jangan hilangkan diriku
Jangan pernah lupakan aku
Jangan hilangkan diriku
Jangan pernah lupakan aku
Jangan pergi dari aku 🎶
** Jangan Lupakan - Nidji **
Kamis siang, Bian dan beberapa teman kantornya pergi ke hajatan. Sebenarnya Bian malas pergi, tapi yang punya hajat terus memaksanya untuk datang.
"Mari, Pak. Silahkan masuk ke dalam saja. Di sini terlalu ramai."
Novi mengajak Bian dkk untuk duduk santai di dalam rumahnya.
"Kalian masuk saja. Saya duduk di sini sambil nonton hiburan."
Bian duduk di kursi yang menghadap ke panggung pentas.
Bian menyipitkan matanya menatap sekelompok wanita yang sedang berjoget ria dibawah pentas.
Dangdut koplo 'Kertonyono' milik Nella Kharisma membuat goyangan para mak-mak gaul makin heboh.
"Itu..."
Bian menepuk jidatnya pelan.
"Kirain udah sembuh tuh anak, taunya... Hadeeehh!"
"Kepala bapak pusing?" tanya Novi penuh perhatian.
"Gak. Saya gak pa-pa." Bian tersenyum, datar.
"Biarpun kaku, senyum anda tetap tampan, Pak Arbyan!" desah Novi dalam hati.
"Maaf. Boleh saya tanya?" tanya Bian, kemudian.
"Boleh, Pak. Silahkan!" ujar Novi, girang.
__ADS_1
"Tumben Pak Arby mau ngomong sama aku. Harus bisa cari perhatiannya nih!" batin Novi.
"Eh...anu..."
Bian nampak gugup.
Novi jadi salah tingkah. Jantungnya berdetak cepat.
"Mudah-mudahan Pak Arby tanya-tanya tentang aku." hati Novi penuh harap.
"Anu...itu...apa...kamu kenal siapa wanita yang pake baju navy itu?" tanya Bian pelan.
"Yaaa, bukan nanya aku!"
Novi pun lemas seketika.💔
"Yang mana, Pak?" tanya Novi bingung mencari sosok yang Bian maksud.
"Itu...yang lagi joget, yang pake jilbab warna mustard."
"Ooo. Itu Kak Juna sepupu saya, Pak."
Bian tersenyum, menatap lekat ke depan pentas..
Novi menyipit, menatap Bian, curiga.
"Oh, iya. Kak Juna tinggal di S juga. Apa bapak kenal?"
Bian mengangguk.
"Dia teman SMA saya."
Novi mengangguk, paham.
"Pantes senyam-senyum sendiri, rupanya teman sekolahnya Kak Juna. Atau...malah mantannya?"
Novi menatap lekat sosok tampan didepannya. Sosok yang diam-diam dikaguminya dan telah menbuatnya jatuh cinta sejak pandangan pertama.
Lagu selesai. Para emak pun berhenti goyang dan istirahat.
Tap.
"Apa-apaan..."
Bian tersenyum kalem.
"Kok bisa di sini, By?" tanya Jojo bingung. Ia pun duduk di samping Bian.
"Ya bisalah. Orang aku di undang."
Jojo mengangguk. Novi, sepupunya Jojo memang bekerja di Polres sebagai staf di kantor.
"Berarti kenal Novi, dong?"
"Iyalah. Kalo cuma kenal ama emaknya gak bakalan mau aku datang."
"Cie cie cie. Langsung aja kenalan sama emaknya, By, sekalian pdkt. Novi kan masih single, cocok ama lu!" goda Jojo.
"Jangan mulai. Aku gak mau cerita dulu kejadian lagi!" tegas Bian, mengingatkan Jojo pada Ria.
"Aku sebenarnya gak mau datang, Yank. Tapi teman-teman memaksaku ikut kemari. Dan ternyata tidak sia-sia aku ke sini, bisa ketemu kamu."
Bian tersenyum tampan.
Jojo meringis.
"Udah tua ya? Pengalamannya godain perempuan udah di level paling atas. Gak sia-sia lu temenan ama Buan dan Puput, By." ejek Jojo.
"Asal kamu tau, Yank. Aku gombalnya hanya sama kamu, gak ada yang lain." Bian menoel hidung Jojo.
"Basi, lu!" Jojo memanyunkan bibirnya, mencibir ucapan gombal Bian.
Pria itu tertawa lepas, tanpa beban.
"Lu ke sini sama siapa?" tanya Jojo.
"Tuh!"
Bian menunjuk rekan-rekannya yang sedang makan tak jauh dari tempatnya duduk.
__ADS_1
"Lu udah makan?" tanya Jojo lagi.
Bian menggeleng.
"Aku udah kenyang liat kamu joget tadi." Bian memasang wajah imut, menatap Jojo.
Jojo nyengir, malu.
"Sering ya kayak gitu?" tanya Bian.
"Gak sih, kalo lagi pengen aja. Nyantai, By. Sesekali doang."
"Apa suamimu dulu gak marah liat lu joget-joget kayak tadi?"
Jojo menggeleng.
"Laki gue gak pernah melarang gue melakukan apapun, selama gue suka. Katanya, ntar gue malu sendiri saat gue sadar kalo gue tuh udah tua."
Jojo geli sendiri mengingat ucapan suaminya dulu kalo ada tetangganya yang memanasinya saat melihat Jojo joget bareng grup mak-mak gaulnya.
"Kayaknya sekarang pun kamu masih belum sadar kalo kamu tuh udah gak muda lagi, Yank." sindir Bian.
Jojo terkekeh.
"Sebenarnya gue gak pernah lagi joget-joget kayak gini, By. Sekarang lagi pengen aja, mumpung di rumah saudara sendiri." Jojo memberi alasan.
"Gue ambilin lu makan ya?" tawar Jojo pada Bian.
"Boleh. Sekalian suapin ya? Aku kangen kamu suapin?" Bian mengedipkan matanya, menggoda Jojo.
"Diih, biasanya juga lu yang nyuapin gue." Jojo mengerucutkan bibirnya.
"Ya, udah. Ntar kita suap-suapan, ya?" goda Bian lagi.
"Haishh!" Jojo memutar bola matanya, jengah.
Bian tertawa geli.
Jojo lalu pergi mengambil nasi untuk Bian. Tak lama, Jojo kembali bersama anak bungsunya.
"Nih, nasi lu!" Jojo memberikan nasi pada Bian.
"Kalo mau nambah, bilang ya?"
"Suapin?" rengek Bian.
"Diih! Lu gak malu ama temen-temen lu, noh! Dari tadi mereka senyam-senyum ngetawain elu!" cibir Jojo.
Bian menoleh ke arah rekan-rekannya yang berpura-pura tidak melihat kearahnya. Ada juga yang cengar-cengir padanya.
"Gue ke sana dulu ya, By? Anak gue mau makan juga." kata Jojo sambil menunjuk anaknya.
"Makan ama om aja ya, Dek? Om suapin, mau?" Bian menahan agar Jojo menemaninya makan.
Si bocil menggeleng, cepat. Jojo tersenyum.
"Dia takut kalo sama orang asing, By. Maaf ya?" ujar Jojo.
Bian mengangguk, maklum.
"Om temannya emak kamu Dek. Gak usah takut, ya?" bujuk Bian pada bocah laki-laki itu. Tapi tetep aja si bocah masih mengkerut takut.
Jojo terkekeh.
"Muka lu sih nyeremin banget, By. Jangankan dia, gue aja takut liat lu."ledek Jojo.
"Serius kamu takut liat aku, Yank?" tanya Bian sedih.
"Masak sih aku nyeremin banget?" tanya hati Bian.
Jojo mendekat ke telinga Bian.
"Iya. Gue takut jatuh cinta ama lu!" bisik Jojo. Sebelah matanya berkedip, menggoda Bian yang melongo, beg*.
"Yuk Dek, emak suapin kamu makan." Jojo menggandeng tangan anaknya pergi menjauh dari Bian.
Bian tersenyum memandang Jojo yang tengah mengambil nasi untuk anaknya.
"Gadis tomboyku sudah kembali!" soraknya dalam hati.
__ADS_1