Kaukah Gadis Tomboyku?

Kaukah Gadis Tomboyku?
Akhirnya Aku Menemukanmu


__ADS_3

Satu tahun berlalu.


Bian duduk berdiri di sudut lapangan tempat diadakannya acara tujuh belas agustusan. Matanya menatap tajam sekeliling tempat, menyusuri ribuan orang yang memadati lapangan tersebut.


"Sekarang aku kembali ke kota ini. Akankah aku menemukanmu, Yank?" batin Bian yang tak pernah berhenti berharap untuk menemukan Jojo.


"Pak!"


Bian menoleh.


"Bapak mau tunggu di sini, atau ikut kita?" tanya Desta, salah satu anak buah Bian.


"Kalian mau kemana?" Bian balik bertanya.


"Sebagian jaga di sebelah sana, Pak. Kami di sebelah sana." Desta menunjukkan ke dua tempat yang dimaksud.


"Bapak mending ikut kita aja. Di sana kita bisa ngadem di warung teman saya. Kita bisa jaga sambil ngopi-ngopi." saran Beni, diangguki Desta dan Ari.


"Boleh."


Bian mengangguk setuju.


Jadilah Bian duduk santai di sebuah warung klontong milik teman Beni. Ketiga anak buahnya ikutan nyantai sambil menikmati kopi yang mereka pesan. Sesekali mengatur lalu lintas jalan yang macet akibat keramaian di sana.


"Kalo gak salah, Dede bilang Jojo tinggal di daerah ini. Apakah teman Beni kenal dengan Jojo?" Bian bertanya-tanya dalam hati.


Tiba-tiba Bian melihat seseorang yang dikenalnya berhenti di depan warung.


"Ki, emakmu mana?" tanya si wanita yang datang bersama laki-laki yang Bian kenal, pada seorang anak remaja yang sedang mengisi galon.


"Lagi ke pasar."


"Yang jaga di sana siapa?" wanita itu menunjuk ke arah lapangan bola yang banyak penjual dadakan.


"Adek sama Cinta. Ochi juga di sana."


"Kalo Rey?"


"Rey ikut emak."


"Kenapa, Dek?" si suami wanita itu menghampiri mereka.


"Gak. Aku tadi nanya Kiki..."


"Rio!!"


Rio menoleh.


"Arbyan?"


Bian tersenyum. Hatinya bersorak, girang.


"Apa kabar, Pak Bos? Lama gak ketemu?"


Bian menyalami Rio yang menghampirinya.


"Baik! Baik!. Lu apa kabarnya?" tanya Rio balik. Lalu duduk di dekat Bian.


"Alhamdulillah. Sehat, Bro!"


"Terakhir kita ketemu waktu reuni kemarin, kan?"


Bian mengangguk.


"Jojo gimana kabarnya, Yo?" tanya Bian. Kesempatannya bertemu Rio kali ini tidak akan disia-siakannya.


"Lu belum pernah ketemu Jojo lagi, Ar?" tanya Rio, heran. Setaunya adiknya dan Bian bersahabat.


Bian menggeleng lemah.


"Kalian hilang kontak?" tanya Rio, lagi.


"Sejak perpisahan sekolah kita tidak pernah bertemu lagi, Yo."


Rio diam.


"Jojo sehat, Ar. Itu anak sulung Jojo."

__ADS_1


Rio menunjuk anak laki-laki yang tadi berbicara dengan istri Rio.


Bian menatap lekat remaja tanggung itu. Raut wajahnya memang mirip Jojo. Apalagi bibirnya, karna itu yang paling diingat Bian. Bibir Jojo yang suka nyablak.


Tanpa sadar Bian tersenyum penuh arti.


"Jojo punya empat anak yang harus dia nafkahi, Ar. Tiga laki-laki, dan satu perempuan. Itu yang di sana, anak kedua dan ketiga Jojo."


Rio menunjuk ketempat dimana istrinya sedang bersama seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan.


"Kenapa Jojo harus menafkahi anak-anaknya? Memangnya suami Jojo kemana?" tanya Bian penasaran.


"Suami Jojo meninggal setahun yang lalu. Dan sejak itu dia harus bekerja demi kebutuhan anak-anaknya. Untung saja dua anaknya sudah besar dan bisa membantunya bekerja."


"Apa mereka tidak sekolah?"


"Yang sulung, kelas IX, bekerja di depot galon di sini setelah pulang sekolah. Kebetulan ini milik sepupu kami. Yang nomor dua, kelas VIII, bantu-bantu di rumah karna Jojo jualan lauk-pauk online. Dan yang perempuan, baru kelas dua SD."


Bian diam. Cerita Rio tentang Jojo membuatnya terenyuh.


Tak lama, sebuah motor RX-Ki*g dikendarai seorang wanita dengan membonceng seorang bocah laki-laki berusia sekitar empat tahun, masuk ke pekarangan rumah.


"Itu Jojo datang." kata Rio.


"Kaukah gadis tomboyku?" tanya Bian dalam hati. Kehadiran Jojo membuat jantungnya makin berdetak cepat.


"Kakak mana, Bang?"


Jojo menghampiri Rio sambil menggandeng anak bungsunya.


Wanita itu sama sekali tidak menyadari kehadiran Bian. Disangkanya pria berseragam polisi itu teman Rio.


Bian diam sambil terus memandang Jojo. Gadis mungilnya kini sudah menjadi wanita dewasa. Jilbab instan yang menutupi rambutnya menambah manis penampilannya.


"Tuh!" Rio menunjuk dengan dagunya.


"Mak!" panggil Kiki, si sulung Jojo.


"Buatin aku es melon ya?" pintanya ketika Jojo menoleh ke arahnya.


Jojo mengangguk.


"Apa Rey yang ganteng, baik hati, tampan, mempesona, ayangnya mamak? Rey mau apa?" tanya Jojo yang biasa menggoda anaknya seperti itu.


Bian tersenyum. Dia ingat dengan Jojo yang suka membujuknya seperti itu.


"Mau beli bakso!" tunjuk si kecil ke warung bakso yang tak jauh dari tempat itu.


Jojo mengerling keabangnya.


"Temenin Rey ya, Bang? Sekalian bayarin!" pintanya sambil nyengir.


"Ish, elu mah kebiasaan, Jo!" sungut Rio. Tapi ia bangun juga dari duduknya.


"Ar, gue ke sana dulu ya?" pamit Rio, menunjuk ke warung bakso.


Jojo menatap Bian.


"Kayak kenal gue ama ni Pak Pol."


"Temenin dia, Jo. Kalian udah lama gak ketemu kan?" tanya Rio pada Jojo sebelum pergi bersama anak bungsu Jojo.


Jojo mengernyitkan dahinya, lupa-lupa ingat dengan pria berseragam polisi itu.


Arbyan!


Melihat nametag di seragam polisi itu membuat Jojo terbelalak, kaget.


"By?"


Bian tersenyum tampan. Hatinya berbunga-bunga. Yang dirindukannya kini sudah ada di depan mata.


"Apa kabar, Jo?"


"Ba...baik. Alhamdulillah."


"Duduk, Jo!"

__ADS_1


Bian menepuk bangku disebelahnya. Jojo memilih duduk di kursi yang diduduki Rio tadi.


"Kenapa gak ikut reuni kemarin?" tanya Bian, basa-basi.


"Ketinggalan informasi." datar dan dingin suara Jojo di telinga Bian.


"Kok bisa?" tanya Bian.


"Bisalah. Orang gue gak ada hp." jawab Jojo, masih dengan nada datar.


"Emang Rio gak ngasih tau kamu?"


"Gak!"


Bian diam. Matanya menatap Jojo, dalam.


"Udah lama lu tugas di sini?" tanya Jojo.


"Aku udah dua kali tugas di kota ini. Pertama, tiga belas tahun yang lalu. Ini yang kedua kalinya, udah hampir dua minggu pindah ke sini. Dan hari ini aku baru ketemu kamu di sini." jelas Bian.


"Kok bisa gak ketemu ya? Padahal dulu gue tinggal di sini." Jojo menunjuk ke rumah di samping rumah sepupunya.


"Aku gak tau, Jo. Kalo tau dari dulu kamu tinggal di kota ini, udah aku ubek-ubek nyari kamu." sahut Bian, serius.


Jojo tersenyum.


"Polisi sih ya? Sesuka lu aja deh." sahutnya geli.


"Aku serius, Jo! Aku udah lama cari kamu." sergah Bian, seraya menatap Jojo, tajam.


Jojo diam.


"Aku kangen kamu, Yank!" bisik Bian, pelan.


Jojo menatap Bian sesaat, lalu berdiri.


"Maaf, By. Gue masih ada kerjaan."


Jojo pergi tanpa menoleh lagi ke arah Arbyan.


"Apa kamu masih marah padaku, Yank?"


Bian menatap Jojo yang menyebrang jalan menuju lapangan.


"Maaf, Pak! Bapak kenal sama Juna?" si pemilik warung, Roni, duduk di dekat Bian.


"Iya. Dia teman SMA saya." jawab Bian.


"Apa kamu sepupunya Jojo?" tanya Bian.


"Hah? Jojo?"


"Maksud saya...Juna!"


"Oo. Dia sepupu istri saya. Beni juga kenal sama Juna, Pak. Mereka juga akrab."


Bian menoleh ke arah, Beni.


"Saya kenal Juna udah lama, Pak. Waktu ikut tanding voli di dekat rumah Juna, bareng dia juga." Beni menunjuk Roni.


Bian mengangguk, mengerti.


"Rumah Jojo jauh gak dari sini?" tanya Bian kepo maksimal.


"Lumayan, Pak. Di kampung T." jawab Roni.


"Apa dia punya hp?"


"Punya."


"Ketik nomornya di sini!"


Bian memberikan ponselnya pada Roni yang langsung memberikan nomor Jojo pada Bian.


Bian tersenyum penuh arti menatap ponselnya yang tertera nomor ponsel Jojo.


❤Yank

__ADS_1


Nama yang diberi Bian untuk nomor Jojo.


"Akhirnya aku menemukanmu, Yank. Tunggulah! Aku akan mengejar cintamu kembali!"


__ADS_2