Kaukah Gadis Tomboyku?

Kaukah Gadis Tomboyku?
49.


__ADS_3

Kini Jojo dan kawan-kawan sudah naik ke kelas XII IPA A.


Jojo kembali bersikap datar dan dingin pada Bian seperti awal mereka kenal dulu.


Pagi itu, seperti biasa Jojo datang dengan wajah datarnya. Dengan langkah tenang dia berjalan menuju bangkunya.


"Kok Bian duduk sama Berry? Tasnya juga di situ."


Jojo melihat Bian asik bersenda gurau dengan Berry, yang duduk di sebelah meja mereka. Tampak Bian pura-pura tidak melihat Jojo.


"Apa Bian pindah duduk bersama Berry?" tanya Jojo dalam hati.


(mungkin Bian lelah lu cuekin terus, Jo!🤭)


"Bodo ah! Gue juga bisa pindah ke depan."


Jojo beranjak dari duduknya dan berjalan menuju bangku di depan meja guru.


"Gue duduk di sini ya, Chi?"


Tanpa menunggu persetujuan Rosi, Jojo langsung meletakkan tasnya di dalam laci meja di sebelah Rosi.


Jojo mengernyit heran ketika melihat teman sebangkunya itu mengeluarkan bekal sarapan dari dalam tasnya.


"Lu nyangu, Chi?" tanya Jojo.


"He-eh! Lu mau?" tawar Rosi.


Jojo menggeleng.


"Gak ah! Buat lu juga gak cukup." tolaknya.


"Gak pa-pa. Kita bagi dua, ya?"


"Gak usah. Lu makan aja. Besok gue bawa sangu juga biar kita bisa sarapan bareng." kata Jojo.


Rosi mengangguk. Lalu ia pun memakan bekalnya.


Dari tempat duduknya, Bian terus mengawasi Jojo. Memperhatikan setiap gerak-geriknya.


"Lu pindah duduk di sini, Jo?" tanya Saras yang duduk di sebelah mejanya.


Jojo mengangguk. Dede yang baru datang ikutan nimbrung.


"Lu marahan sama Arby ya, Jo? Makanya lu pindah mari." tanya Dede.


"Gak. Cuma lagi pengen ganti suasana aja. Gue pengen ngerasain duduk didepan meja guru. Kayaknya adrenalin gue tertantang di sini." dalih Jojo.


Dede mengernyitkan dahinya, lalu menoleh ke arah Arbyan yang tengah memandang Jojo dari bangkunya yang kini juga pindah duduk di sebelah Berry.


"Fix! Arby dan Jojo lagi berantem. Apa mereka putus?"


Dede menatap lekat Jojo dan Bian, bergantian.


(kayaknya kabel di otak Dede lagi nyambung, guys.🤭)


Istirahat pertama di kantin sekolah, Dede duduk berhadapan dengan Bian.


"Cerita ke gue ada apa antara lu dan Jojo, Ar." pinta Dede, to the point.


Bian diam, tetap asik menikmati siomaynya.


"Ar?"


"Kenapa lu gak tanya ke Jojo aja?" tanya Bian.


"Kalo Jojo udah cerita, gue gak perlu minta klarifikasi lu, Ar. Gue yakin ini salah lu." Dede ngedumel.


Bian menatap Dede, tajam.


"Lu kalo gak tau ceritanya gak usah koment deh, De. Fitnah dosa, tau gak?!" sungut Bian.


"Makanya cerita yang jelas, biar gue gak fitnah lu!" sahut Dede, cepat.


Bian menghela napas, berat.


"Kita udah putus!"


"Hah!!! Kapan..? Aduh!!!"


Dede yang kaget makin kaget dan mengaduh sakit ketika Bian menjitak kepalanya cukup keras.


"Sakit, Ar!!" bentak Dede, kezeellll.


Bian cuek bebek.


"Kenapa kalian putus?" tanya Dede, dengan nada kembali normal.


"Kita putus sebelum perpisahan anak kelas XII kemarin, tepatnya setelah Buan di DO dari sekolah."


Dede diam, menunggu Bian melanjutkan ceritanya.


"Semua salah gue. Hari dimana Buan ketangkep dan gue juga gak masuk."


"Gue juga absen." celutuk Dede. "Terus?"


"Hari itu gue bolos, pergi sama Ria."


"Whattttt?!!!"


Dengan mata melotot, alisnya terangkat tinggi-tinggi sekali, dan tampang absurdnya Dede menatap Bian, kaget.


"Wah! Wah! Wah! Lu..." Dede geleng-geleng kepala, gemas melihat Arbyan.


"Jangan berpikiran buruk dulu." Bian menjitak pelan jidat Dede yang spontan manyun.


"Gue bisa jelasin kenapa gue bisa pergi sama cewek manja itu."


"Gue siap dengerinnya." sahut Dede cepat. "Tapi beliin gue jus alpukat dulu. Hee!"


Bian memutar bola matanya, jengah melihat Dede nyengir.

__ADS_1


"Enak di elu, gak enak di gue nih namanya. Udah lu caci gue seenak jidat, sekarang lu minta gue traktir. Dasar upil ipil!"


"Heh, enak aja!" Dede mendelik sewot. "Gue upil nyempil!" ralatnya.


Bian tergelak.


Sambil menyeruput jus alpukat hasil 'ngepet' si Arbyan, Dede khusyuk mendengar cerita Bian.


Sesekali ia mengangguk, menggeleng, manggut-manggut, dan kadang nganga, menimpali cerita Bian.


"Itulah De kenapa Jojo marah sama gue. Tapi sumpah De, gue gak ada niat sedikit pun buat selingkuh dari Jojo. Kalo gue mau, sebelum gue jadian ama Jojo gue udah jadian duluan sama si Ria. Lu tau sendiri kan De, gimana nafsunya Ria ama gue?"


"Ya ya ya ya!"


Dede manggut-manggut setuju dengan ucapan Bian.


Meskipun Dede tidak mengenal Ria, tapi Dede tau benar gimana gencarnya Ria mengejar cinta Bian.


Tentunya Puput yang punya gawe, sering banget cerita tentang gadis manja itu.


"Terus Ar...sampai dimana pengorbanan lu sekarang?" tanya Dede, antusias.


Dede berharap Bian tidak patah semangat dalam mengejar cinta Jojo.


"Cukup sampai di sini saja, De."


Bian tertunduk lesu. Ia patah hati.


"Eh, gak boleh!" sergah Dede dengan mata melotot. Bola matanya sampai nyaris keluar.


🤪


Bian menatapnya, bingung.


"Lu harus terus berjuang, Ar! Jangan pernah kalian berdua putus. Gue yakin lu ama Jojo berjodoh, Ar!" pinta Dede dengan penuh keinginan.


"Lu yakin Jojo jodoh gue, De?" tanya Bian.


("Emang lu temenan ama si cupid, De?")


Bian tersenyum geli melihat Dede yang sangat bersemangat menyuruhnya untuk terus mempertahankan cintanya pada Jojo.


"Lu mau Erwin yang jadi jodohnya Jojo, Ar!" serang Dede, membuat Bian tergelak.


"Ewin udah lupa kali De, ama Jojo. Udah ketemu cewek cantik dia di sana." sahut Bian.


"Jodoh kita gak tau, Ar. Siapa tau delapan tahun nanti Ewin beneran datang melamar Jojo, Mau apa lu?!" tantang Dede.


Bian pun mingkem.


"Itu berarti, Jojo bukan jodoh gue, De!" jawabnya, lesu.


"Huu! Cemen lu!" Dede mencibir.


"Mana janji lu mau melamar Jojo dulu? Ilang gara-gara lu pergi berduaan ama Ria?" ejek Dede.


"Lu denger, De! Janji gue tetep boleh lu pegang. Suatu hari nanti gue pasti akan melamar Jojo." ujar Bian.


"Kapan itu?"


Dede mencibir lagi.


"Kelamaan, Ar! Keduluan Ewin lu ntar!" Dede terus meledek Bian.


"Gak pa-pa, De! Gue tunggu Jojo jadi janda juga gak pa-pa."


"Apa, Ar?!" tanya Dede, surprise mendengar ucapan Bian. "Lu serius?"


"Banget!" Bian mengangguk, mantap.


Dede terbahak.


"Gue pegang janji lu, Ar!" Dede menunjuk wajah Bian, seolah mengancamnya.


Bian mengangguk sambil mengacungkan jempolnya.


❣️


❣️


❣️


Ujian sekolah hampir dekat. Sudah selama itu pula Jojo dan Bian tidak saling bertegur sapa. Bahkan menoleh pun keduanya merasa enggan.


Jojo yang selalu keras kepala dan gengsinya yang kuat, tak pernah berniat untuk memulai perdamaian.


Sedangkan Arbyan sudah capek menghadapi kekerasan hati Jojo dan memutuskan mengikuti kemauan Jojo untuk menjauhi gadis tomboy itu meskipun Bian sangat merindukannya.


🎵Dan...


dan bila esok datang kembali


seperti sedia kala


dimana kau bisa bercanda


dan perlahan kau pun lupakan aku


mimpi burukmu dimana t'lah


kutancapkan duri tajam


kau pun menangis


menangis sedih, maafkan aku


Dan bukan maksudku bukan inginku


melukaimu sadarkah kau


di sini ku pun terluka melupakanmu

__ADS_1


menepikanmu, maafkan aku


Lupakanlah saja diriku


bila itu bisa membuatmu


kembali bersinar dan berpijar


seperti dulu kala


Caci maki saja diriku


bila itu bisa membuatmu


kembali bersinar dan berpijar


seperti dulu kala


Dan bukan maksudku bukan inginku


melukaimu sadarkah kau


di sini ku pun terluka


melupakanmu menepikanmu


maafkan aku...


Lupakanlah saja diriku


bila itu bisa membuatmu


kembali bersinar dan berpijar


seperti dulu kala


Caci maki saja diriku


bila itu bisa membuatmu


kembali bersinar dan berpijar


seperti dulu kala 🎶


***Dan - Sheila On7***


"Jo, gue mau dong?"


Yayan yang pindah ke kelas XII IPS A, datang menghampiri Jojo yang sedang menikmati bekal yang dibawanya, bersama Rosi, Dede, Saras dan beberapa teman cewek yang lain.


"Nih!"


Jojo menyodorkan makanannya.


"Suapin, dong!" rengek Yayan, manja.


"Dih! Gini nih kalo udah bangkotan masih minum Asi, jadi kolokan." sindir Jojo.


Yayan nyengir.


"Bodo! Yang penting suapin! Aaa!" Yayan nganga, gak peduli.


Terpaksa Jojo nyuapin Yayan yang langsung makan dengan wajah sumringah.


"Enak lu ya? Bawa sangu enggak, taunya minta eh pake disuapin kayak bocah. Mana rakus lagi! Abis deh sangu gue." Jojo ngomel bak emak-emak yang centong nasinya ilang diemut tikus.


Yayan terkekeh.


"Besok bawa bekalnya agak banyakan ya, Jo. Ntar lu bagi gue." Yayan mengerling genit.


"Ogah!" sahut Jojo cepat.


"Kalo mau makan lu bawa bekal sendiri. Awas besok lu minta sangu gue." ancam Jojo.


"Jangan gitu dong, Jo. Masak ama temen sendiri lu medit, ntar gak dapet pahala loh." rayu Yayan.


"Biarin!"


"Jo?"


Jojo mencibir.


Yayan terus mepet, merayu Jojo agar mau menyuapinya lagi, sampai tidak menyadari kalo Bu Endang sudah memasuki kelas.


"Ryanda! Kamu mau pindah kelas lagi?" tanya Bu Endang mengagetkan Jojo, Yayan dan yang lainnya.


"Eh, Ibu. Udah bel ya, Bu. Maaf deh, Bu!" Yayan nyengir dengan memasang wajah tanpa dosa.


"Jo! Besok jangan lupa ya?"


Masih sempat-sempatnya Yayan mengedipkan matanya genit, ke arah Jojo yang membalasnya dengan menjulurkan lidahnya, meledek Yayan.


"Juna, kamu kok bawa bekal ke sekolah? Emang rumah kamu jauh banget ya?" tanya Bu Endang, bingung dengan ulah ajaib muridnya yang satu ini.


Setau Bu Endang, rumah Jojo tidak jauh dari sekolah. Bahkan Jojo pun sering pulang pergi kesekolahnya di jam-jam kosong seenak jidatnya.


Tapi belakangan anak itu malah sering bawa bekal dan makan bersama teman-temannya yang juga membawa bekal.


"Lagi males sarapan di rumah, Bu. Enakan juga makan bareng teman-teman di sini." jawab Jojo, jujur.


Bu Endang mengangguk, mengerti.


"Iya sih. Dari pada jajan mending bawa bekal. Lebih sehat dan irit." ujar Bu Endang.


"Betul! Betul! Betul!" sahut anak-anak kompak.


Bu Endang tertawa renyah.


"Ya sudah. Sekarang kita lanjutkan pelajaran kemarin."


Semua kembali fokus dengan bukunya masing-masing.

__ADS_1


Di sudut ruangan kelas XII IPA A, sepasang mata elang menatap sendu gadis tomboy yang sangat dirindukannya.


"Kamu udah benar-benar lupain aku, Yank?" 😓


__ADS_2