
"Kamu di sini aja, Juna. Di rumah orang tuamu kan gak ada siapa-siapa. Mending nginep di sini, tidur sama Dira." kata mama Bian.
"Gak usah, Tante. Gak enak..."
"Tidur ama aku aja Yank, kalo mau enak... Aduh!!!"
Bian meringis sambil mengusap jidatnya yang sakit akibat getokan super dari mamanya.
Dan ia pun nyengir malu saat melihat mamanya melotot tajam ke arahnya.
"Gak pa-pa, Sayang. Biar kamu dan Dira makin dekat." kata mama lagi.
"Iya, Yank! Nginep di sini aja, ya?" bujuk Bian.
"Yuk, Tante. Tidur bareng Dira." tanpa menunggu jawaban Jojo, Dira langsung menarik tangan Jojo masuk ke dalam kamarnya.
"Selamat malam, Tante. Saya masuk ke kamar Dira dulu." kata Jojo.
Mama Bian tersenyum dan mengangguk. Kemudian beliau pergi ke kamarnya.
"Sayang, papa mau bicara berdua sama tante Jo dulu, boleh?" Bian menahan langkah Dira dan Jojo.
"Mau bicara apa mau minta kiss?" tanya Dira.
"Hush!" sergah Bian. Matanya menatap galak putrinya.
"Tau aja apa yang papanya pengen." Bian pun mengedipkan sebelah matanya sambil mengacak gemas rambut putrinya.
"Papa genit! Huuu!" cibir Dira.
Bian terkekeh, geli.
Jojo hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan ayah dan anak didepannya.
Bian memberi kode pada Jojo agar mengikutinya.
"Bentar ya cantik, tante mau ngobrol sama papa dulu."
"Ya, udah. Tapi jangan lama-lama ya, Tante? Dira udah ngantuk."
Jojo mengangguk, mengiyakan. Jojo pun menemui Bian yang sudah menunggunya di teras belakang rumahnya.
"Ada apa, By?"
"Duduk sini, Yank! Di sebelah aku." Bian menepuk bangku yang didudukinya.
"Di sini sama aja, By." kata Jojo yang sudah duduk di seberang Bian.
"Ish! Aku kan pengen mesra-mesraan sama kamu, Yank. Mumpung kita lagi berduaan!"
Bian pindah duduk di samping Jojo dan langsung menyandarkan kepalanya di bahu Jojo, manja.
"Aku kangen seperti ini, Yank. Aku kangen masa kita pacaran dulu." ujar Bian, pelan.
"Gak enak sama orang rumah, By. Apa kata mereka kalo melihat kita kayak gini?" Jojo tak enak hati.
"Kita kan gak ngapa-ngapain, Yank. Cuma duduk doang." kilah Bian.
Jojo diam.
"Yank, besok pagi kita ke pantai, yuk? Kita ulang lagi masa kita pacaran dulu."
"Gak ah! Gak seru kalo cuma kita berdua saja. Ajak Dira juga ya?"
"Jangan!" sahut Bian, cepat.
"Kenapa?" tanya Jojo curiga.
"Kita kan naik motor, Yank. Gak muat kalo bawa Dira. Dia kan udah gede. Udah punya pacar pula."
"Kalo gitu, kita ajak juga pacar Dira. Sekalian kenalan ama calon mantu." sahut Jojo, santai.
"Belum saatnya aku punya mantu, Yank. Masih lama itu. Kalo jadi papa baru, aku siap! Heee."
Bian nyengir sendiri.
Jojo memutar matanya, malas.
__ADS_1
"Mending kamu nikah sama yang lebih muda aja, By. Aku udah tua, gak sanggup kalo harus melahirkan lagi." jawab Jojo, jujur.
Jojo tidak mau menghancurkan harapan Bian yang masih ingin memiliki anak lagi. Usia Jojo yang sudah memasuki kepala empat menjadi pertimbangannya.
Bian diam. Dia tidak memikirkan itu sebelumnya. Bian sadar ia sudah meminta yang sulit untuk Jojo penuhi. Dipeluknya Jojo dengan melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu.
"Maaf, Yank. Maksudku Dira belum cukup umur untuk menikah. Dia masih harus menyelesaikan kuliahnya." jelas Bian.
Jojo mengangguk mengerti.
"Iya. Maksudku tadi kalo Dira mau ikut ajak pacarnya juga. Kan Dira ada temennya, By!"
"Bukannya gak mau ajak Dira, Yank. Besok aku mau kasih kamu surprise. Ini khusus buat kamu." ujar Bian, berteka-teki.
Jojo mengerutkan dahinya. Ia makin curiga.
"Kamu liat aja besok. Aku yakin kamu pasti bahagia dengan surprisenya nanti." ujar Bian yakin.
"Tante, bobo yuk!" tiba-tiba Dira sudah berdiri pintu dapur.
"Ish... Sayang, kamu ganggu saja. Papa kan masih pengen berduaan sama ayang papa."
Bian mengeratkan pelukannya karna Jojo berusaha melepaskan tangan Bian yang memeluknya.
"ihh, papa manja banget! Kolokan!" ledek Dira.
"Biarin. Weee!!" Bian memeletkan lidahnya, balas meledek Dira.
"Udah By, lepasin!" Jojo menepuk pelan tangan Bian yang masih memeluknya.
Bukannya lepas, Bian malah makin membenamkan wajahnya di leher Jojo. Untung aja Jojo memakai jilbab, kalo gak pasti udah di usel-usel tuh lehernya sama si Bian.
"Cium dulu, baru ku lepas!" bisik Bian.
Jojo pun refleks menoleh. Dan tanpa sengaja pipinya menyentuh hidung mancung Bian karna jarak mereka memang sangat dekat.
Pipi Jojo pun memerah. Cepat-cepat Jojo menghadap ke posisinya semula. Dan Bian pun langsung duduk dengan tegak.
"Ekhem! Yang dapet kiss, mohon tidur yang nyenyak ya malam ini. Jangan ngelindur, apalagi mimpi buruk." sindir Dira untuk sang papa.
Bian nyengir, malu. Sedangkan Jojo, wajahnya memanas, bersemu merah menahan malunya pada Dira.
"Kamu ajak aku tidur ya, Yank?" mata Bian mengerjab-kerjab, lucu.
Jojo menatap Bian kesal. Gara-gara Bian, Jojo malu pada Dira. Jojo pun mencibir pada Bian.
"Yaaaaannnkkkk????" panggil Bian paaaaanjaaang, dan laaaaaamaaaaa.ðŸ¤
"Cepetan masuk, Sayang. Sebelum papamu berubah jadi Megaloman!"
Jojo menarik tangan Dira, mengajaknya bergegas masuk ke kamarnya.
Dira pun cekikikan geli melihat papanya yang cemberut, kesal.
Paginya, Bian menghampiri Jojo yang sedang duduk menonton gosip bersama mama dan kakak Bian di ruang tengah.
"Yank! Yuk, berangkat!" ajak Bian.
Mama, Jojo dan Sari menoleh ke arah Bian yang sudah rapi dengan kemeja dan celana jeans yang membuat kadar ketampanannya pun makin bertambah.
"Mau kemana, Bang?" mama Bian yang nanya.
"Ada janji ketemu teman, Ma."
"Janjiannya kan lepas dzuhur, By."
"Jadwalnya dipercepat. Biar waktunya gak mepet."
Jojo memandang Bian, tak mengerti.
"Cepetan ganti baju, sana. Aku tunggu!" perintah Bian.
"Jojo pun masuk ke kamar Dira untuk mengganti pakaiannya.
"Udah selesai?" tanya Bian saat Jojo keluar dari dalam kamar.
Jojo mengangguk.
__ADS_1
"Ma, Kak, kita mau pergi dulu." pamit Jojo sambil menyalimi mama Bian dan Sari. Bian ikutan salim.
Setelah Bian dan Jojo pergi,
"Ternyata aku sudah salah menilai Juna, Ma. Semua keburukan yang Ria katakan tentang Juna semua hanya fitnah. Aku gak nyangka Ria seculas itu." ujar Sari penuh sesal karna mempercayai perkataan Ria dan membenci Jojo tanpa mengenalnya lebih dulu.
flashback on
"Jadi kamu yang sudah merebut adikku dari Ria?" tanya Sari, ketus ketika melihat Jojo.
Sore itu Sari dan Ria sengaja menemui Jojo dirumahnya. Dan saat itu rumah Jojo sepi, karna emak sedang ikut bapak dinas keluar kota. Abang dan adik-adik Jojo pun sedang tidak di rumah.
"Maaf, kakak ini siapa?" tanya Jojo, sopan.
"Aku kakaknya Arbyan. Pacar Ria." jawaban dingin yang keluar dari mulut Sari.
Jojo menghela napas panjang, mencoba menahan emosinya.
"Duduk dulu, Kak. Ria. Mau minum apa? Lumayan biar tenggorokan kalian gak kering." Jojo menawari minum pada kedua tamunya.
"Kak Sari ke sini mau minta kamu jauhi Arby, Jo. Arby punya Ia, kamu harus jauhi Arby!" Ria berujar dengan menatap Jojo kesal.
"Kenapa kamu nuduh aku yang merebut Bian dari kamu? Kamu sendiri taukan fakta yang sebenarnya? Jangan coba memutar balikkan fakta, Ia!" tuding Jojo, tenang.
"Fakta apa? Fakta kalo kamu memfitnah Ia agar Arby menjauhi Ia, begitu?" mata Ria memerah, marah karna cemburu buta.
Jojo tersenyum sinis.
"Gak kebalik! Bukannya kamu yang memfitnah aku di depan Adit, Bian dan sekarang... Kakaknya Bian ikutan membenciku. Padahal kami belum pernah bertemu sebelumnya. Darimana kakak tau tentang aku kalo bukan dari kamu. Bian gak mungkin cerita, karna aku tau Bian bukan orang yang seperti itu." gantian Jojo yang menuduh Ria.
Jojo yang biasanya bersikap sopan pada siapa saja, sekarang tidak lagi. Sikap Ria sudah di luar batas. Rasa iri yang Ria tunjukkan membuat Jojo tidak lagi bersikap sopan dan menghargainya.
"Kamu jahat sama Ia, Jo. Kamu jahat! Ia gak pernah gangguin kamu, apalagi jahat sama kamu." Ria terisak.
"Jangan merasa teraniaya, Ia. Di sini justru aku yang sakit. Aku memutuskan Bian agar dia bisa bersama kamu. Tapi dasar memang Bian tidak menyukai kamu, makanya dia tidak pernah memilih kamu jadi kekasihnya. Sikapmu lah yang membuat Bian muak sama kamu. Wajah cantikmu gak bisa menaklukkan hati Bian. Dan kamu menyalahkan aku?!"
"Sembarangan kamu, Jo. Ia bukan orang jahat seperti kamu. Ia gak mungkin menusuk sahabat Ia sendiri. Ia cantik dan pintar. Arby pasti memilih Ia kalau saja kamu tidak menjelek-jelekkan Ia di depan Arby." caci Ria.
"Kita tidak pernah berteman apalagi bersahabat, Ia. Kamu datang ke rumahku pertama kali karna kamu ingin kenalan dengan Bian, kan? Kamu pura-pura bersikap ramah dan sok akrab denganku karna ingin mendekati Bian. Iya, kan?"
Ria diam.
"Jelas aku benar. Karna di komplek ini semua tau kalo kalian keluarga yang sombong. Tidak pernah mau kumpul, apalagi menegur tetangga kiri kanan depan belakang. Kalau tidak ada maunya, gak mungkin juga kamu mau datang ke rumahku. Iya kan?"
Sari menoleh ke arah Ria yang duduk disampingnya. Dari percakapan dua gadis ini Sari bisa menyimpulkan kejadian sebenarnya.
"Bicaralah, Ia. Jawab kalau yang Juna katakan itu tidak benar." perintah Sari.
Tapi Ria masih diam.
"Untuk terakhir kalinya ku katakan bahwa aku dan Arbyan gak ada hubungan apa-apa lagi. Bahkan berteman pun tidak. Jadi gak perlu kalian memintaku menjauhi Bian, karna kami memang sudah jauh dan tidak akan bisa dekat lagi." Jojo memperjelaskan semuanya kembali.
"Berdoa saja semoga aku dan Bian memang tidak berjodoh!" tekan Jojo lagi.
*f**lashback off*
"Apa kamu menyesal setelah tau semuanya, Kak?" tanya mama.
Sari mengangguk.
"Abang sudah menceritakan semuanya padaku. Sebenarnya aku mau meminta maaf pada Juna, tapi abang tidak mengizinkan ku waktu itu. Karna kata abang mereka sudah putus dan Jojo marah besar sama abang. Jojo gak mau tau soal abang lagi."
Mama mengangguk, mengerti.
"Mama tau semuanya. Dira yang cerita. Dia dengar dari Dede, sahabat Jojo dan abang. Mama rasa abang berubah setelah dekat dengan Jojo. Belum pernah mama liat abang tersenyum ceria seperti sekarang. Kamu sendiri kan tau bagaimana kaku dan dinginnya abang selama ini, Kak?"
Sari mengangguk.
Adiknya yang satu ini memang kaku dan dingin dalam bersikap. Apalagi pada makhluk yang berjenis cewek. Setau Sari, Bian hanya santai dan lepas bercanda pada beberapa wanita saja. Yaitu keluarganya, dan Dede. Pada Jojo, Arbyan malah lebih manja.
"Mama senang abang ceria seperti sekarang, Kak! Ternyata hanya Jojo yang bisa mencairkan kebekuan hati abang."
Sari mengangguk setuju.
"Aku juga senang abang bisa menemukan tambatan hati yang sudah lama diimpikannya, Ma. Semoga kebahagiaan abang selamanya ya, Ma!"
"Aamiin!"
__ADS_1
Cinta jangan pernah dipaksa. Hati pun tak akan bisa berbohong. Seberapa pun kuatnya niat untuk memisahkan cinta, kalau takdir sudah tertulis untuk bisa bersatu takkan ada yang mampu merubahnya. Ibarat pepatah yang mengatakan, biarpun dipisahkan jarak puluhan bahkan jutaan ribu kilometer kalau sudah jodoh pasti akan bersatu juga. Selamat datang cinta. Jemput lah kebahagiaanmu bersamanya. Dan jagalah cinta itu untuk selamanya. 😘😘