
Hari minggu yang dinantikan para murid baru, kecuali Jojo, akhirnya tiba. Minggu pagi setelah para murid baru dan kakak-kakak OSIS kumpul, mereka berangkat ke pantai dengan menggunakan bus sekolah.
"Bekal lu mana, Jo?" tanya Putra ketika melihat Jojo hanya membawa tas sekolahnya.
"Dalam tas."
Putra membuka tas Jojo dan mengambil bekalnya. Mereka berempat duduk di kursi paling belakang.
"Dikit amat bekal lu, Jo. Emang kenyang kalo makan cuma segini?" tanya Putra heran melihat kotak bekal Jojo yang mirip kotak bekal anak TK.
"Cukuplah. Tadi juga gue udah sarapan." jawab Jojo tanpa menoleh ke arah Putra. Matanya asik melihat pemandangan di luar jendela.
"Gak pa-pa, Jo. Gue bawa banyak. Kalo lu mau, makan punya gue aja." Dede yang duduk di kursi depan Jojo cs menyahut.
"Makasih, De."
"Sama-sama."
Tiba di pantai, kegiatan Akhir MOS dimulai. Berbagai permainan dan lomba pun dilakukan dengan riang gembira oleh seluruh siswa, termasuk Jojo.
Entah karena apa, Jojo yang awalnya anget- angetan ikut ke pantai akhirnya terbawa suasana riang teman-teman barunya. Mungkin karena Jojo merasa teman-teman barunya begitu baik dan kompak membuat Jojo melupakan kesedihannya karena tidak jadi sekolah disekolah pilihannya.
Sampailah mereka di acara akhir, yaitu meminta tanda tangan dari setiap pengurus OSIS. Dan itu bukan perkara mudah, karena berbagai hukuman terlebih dulu diterima setiap para siswa sebelum tanda tangan diberikan.
"Juna Andini!"
"Saya, Kak!"
"Kamu... benar adiknya Rio?" tanya Kak Lela sambil meneliti Jojo dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Iya, kak."
"Kamu beneran adiknya Rio?" tanya Lela lagi.
"Bener, kak!"
"Kok bisa ya...Rio yang ramah gitu punya adik cuek dan dingin kayak kamu?"
"Gak tau, kak. Tanya aja sama emak saya."
Jawaban Jojo membuat teman-teman yang berada di dekat mereka tergelak, bahkan ada yang ngakak, seperti Dwi Anggara, sang ketua OSIS, yang juga sahabat Rio, abang Jojo.
Lela juga sempat tersedak, gara-gara menahan tawa. Tapi ia sengaja jutek karena ingin memberi pelajaran pada adik-adik kelas baru yang telah menobatkannya sebagai kakak OSIS tergalak.
"Juna, saya ingin tau kenapa kamu memilih saya sebagai kakak tergalak?" tanya Lela, dingin.
"Aku gak milih kakak. Jangan ge-er." lagi-lagi jawaban Jojo membuat yang lain tertawa.
"Jangan bohong kamu!"
__ADS_1
"Saya gak bohong."
"Terus...kamu milih siapa?"
"Milih bang Dwi." Jojo sengaja menunjuk hidung Dwi yang berdiri di sebelah Lela.
"Ishh! Lu punya dendam dek ama gue?" Dwi mendelik, pura-pura marah.
Jojo mencibir.
"Iya. Lu semalem sengaja bilang sama emak biar gue dibekelin tumis toge. Lu bilang nanti bisa tukeran makanan disini. Sekarang gue tukeran makanan gue ama lu."
Jojo mengeluarkan bekalnya dan menaruhnya ditangan Dwi. Sebagai gantinya, bekal Dwi yang berisikan lauk super mewah diambilnya.
"Buruan tanda tangan, kak. Cuma kak Lela yang belum tanda tangan. Saya mau makan. Laper."
Entah tidak sadar atau terkesima melihat sikap Jojo yang tidak canggung mengerjai Dwi, Lela pun dengan mudah memberikan tandatangannya dibuku Jojo.
"Sisa'in gue ya, dek. Bekal lu dikit banget." teriak Dwi karena Jojo sudah kabur membawa bekal yang ia bawa.
Bian menemani Jojo makan makanan Dwi yang tadi diambilnya.
"Jo, gue boleh tanya, gak?" tanya Bian, pelan, takut Jojo marah.
"Hm!"
"Jo!"
"Hm!"
"Jojoooo!"
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Jojo tersedak karena kaget mendengar suara cempreng yang memanggilnya.
"Minum, Jo."
Bian menyodorkan botol minumannya dan langsung di minum Jojo sambil menatapnya, lekat.
"Bukan gue." Bian mengibas-ngibaskan tangannya.
"Noh, yang manggil lu." tunjuknya.
Dede nyengir dengan wajah tanpa dosanya. Disebelahnya, Yanizar, ikutan nyengir.
"Kenapa, De?" tanya Jojo pada Dede.
"Ah...eh...anu Jo...gue ama Niza gabung ama lu ya di sini? Soalnya kita gak deket ama yang lain." Dede terlihat gugup mengatakan ingin bergabung dengan Jojo.
__ADS_1
"Gabung aja. Gak usah malu." Jojo tersenyum ramah. Dede dan Yanizar pun ikut tersenyum juga. Jojo melihat Bian lagi.
"Lu kalo mau gabung ama kita, besok pake rok juga." jutek Jojo kumat. Dede dan Yani cekikikan.
"Ishh, lu Jo. Masak gitu sih. Apa Putra dan Buan juga harus pake rok?" protes Bian.
"Iyalah, itu syaratnya lu kalo mau gabung ama kita." sahut Jojo, masih dengan tampang lempengnya.
"Segitunya lu, Jo. Masak temen pilih-pilih sih?! Lu juga sering gabung ama kita-kita di kantin."
"Itu lu yang ngajak gue. Gue kan gak mau ikut, malah lu yang maksa." Jojo membela diri.
"Jangan gitulah, Jo?" Bian nampak merajuk.
Jojo nyengir.
"Becanda, By. Gitu aja ngambek. Jelek lu." goda Jojo sambil tersenyum geli.
Bian terkesima.
"Gadis dingin itu sekarang tersenyum? Dia gak lagi kerasukan, kan?"
"Yuk ah kita gabung sama yang lain, gue udah selesai makannya." ajak Jojo pada teman-temannya.
Di dalam bis menuju pulang,
"Ar, lu tadi rugi gak ikut kita. Cewek-cewek cantik tadi lagi kumpul bareng kita." kata Putra dengan wajah sumringah.
"Tau lu. Katanya mau ikut Buan, eh lu malah ngintilin gue. Dasar bego." dengus Jojo.
"Gue sih udah bosen sama yang cantik-cantik, pengen ganti suasana baru." sahut Bian sombong.
Niza melotot.
"Sialan lu, Ar. Lu kira kita-kita ini gak cantik?!" Niza ngedumel, tersinggung mendengar ucapan Bian yang hanya nyengir sambil menyatukan kedua telapak tangannya, meminta maaf. Buan dan Puput cekikikan, menertawakannya.
"Pengen ganti suasana baru?" tanya Jojo ulang.
Bian mengangguk.
"Noh, putri salju. Dijamin lu belum pernah nemu yang kayak dia." Jojo menunjuk kakak kelas mereka yang bukan pengurus OSIS tapi sok sibuk melebihi para pengurus lainnya.
Rosmalia Putri, nama sebenarnya si putri salju yang digelarkan Jojo untuk kakak kelas mereka itu. Orangnya bulat pendek, putih, dan genit. Siswi kelas XIB, yang suka cari muka di depan guru sehingga dia bisa ikut dalam penutupan MOS kali ini.
"Paling bisa ya?!"
Bian mengacak-acak rambut Jojo, gemas. Jojo terkekeh sambil merapikan rambutnya.
"Nah...gitu dong, Jo. Ketawa. Asal lu tau Jo, lu cantik kalo lagi ketawa gini." hati Bian bersorak girang melihat tawa lepas dari bibir Jojo.
__ADS_1