
Jojo tengah menunggu Bian yang sedang membeli es krim bersama si bocil ketika seorang pria tampan menghampirinya.
"Juna!" panggil pria itu.
Jojo mengerutkan dahinya, berusaha mengingat sesuatu.
"An...dy?"
Pria itu tersenyum dan mengangguk.
"Sudah lama tidak bertemu, Juna. Apa kabar?" tanya Andy.
"Baik!"
"Ku dengar kamu sekarang sudah sendiri, Na. Aku..."
"Emak!"
Rey datang dan langsung memeluk Jojo.
Jojo melihat ke arah Bian yang berdiri diam dibelakangnya. Jojo tersenyum lembut dan meraih tangan Bian.
"Sini By, aku kenalin kamu sama Andy." kata Jojo, tenang.
"By, ini Andy. Dan Andy, ini Bian suamiku." Jojo memperkenalkan keduanya.
Bian mengulurkan tangannya pada Andy yang mengernyit, bingung. Mereka pun bersalaman.
"Kamu...kamu... sudah menikah lagi, Na?" tanya Andy, gugup.
Jojo mengangguk, mantap.
"Kapan? Kenapa gak nunggu aku datang..."
"Ngapain nungguin lu!" sahut Jojo, cepat.
"Liat lu masih idup juga gue kaget banget. Gue kira lu udah almarhum." ujar Jojo, santai.
Andy mengusap wajahnya, kesal.
"Kamu gak pernah berubah, Na. Masih saja suka semaunya."
"Aku selama ini tinggal di Beltim, Na. Dan aku pulang khusus menemuimu."
Andy mencoba menjelaskan tentang menghilangnya ia selama belasan tahun ini.
"Gue udah punya suami, Dy. Dan sebelum ini kita memang sudah tidak ada hubungan apa-apa. Maaf, gue gak mau suami gue salah paham nanti."
Jojo menangkupkan kedua tangannya di depan dada, meminta Andy mengerti posisinya sekarang.
Andy menatap Bian dan Rey, bergantian.
"Aku yang harusnya minta maaf, Na. Gak seharusnya aku ganggu kamu lagi. Semoga kamu selalu bahagia, Juna." kata Andy, sendu.
"Makasih, Dy. Semoga bahagia juga buat lu!" ucap Jojo.
Andy menatap Bian, tajam.
"Bro, tolong jaga Jojo dan anak-anaknya. Dia wanita hebat. Jangan pernah kecewakan dia. Aku gak akan segan merebutnya darimu kalo aku mendengar kamu menyakitinya." pinta Andy setengah mengancam.
__ADS_1
"Gak akan pernah! Aku gak akan pernah melepaskannya lagi karna aku akan selalu membahagiakannya!" ucap Bian, mantap.
Andy mengangguk dan tersenyum tenang.
"Baiklah. Aku akan pergi, Na. Tapi sebelum itu, aku titip ini buat Kiki. Pasti dia sudah remaja sekarang. Aku selalu memikirkan dia selama ini." Andy memberikan sebuah paperbag pada Jojo.
Dengan pandangan bingung Jojo menerima paperbag dari Andy.
Andy pergi setelah menyalami Bian. Jojo menatapnya sampai sosok Andy menghilang.
"Siapa dia, Yank?" tanya Bian.
"Mantan aku setelah kamu." jawab Jojo, jujur.
"Ada berapa mantanmu setelah aku?"
Jojo diam, nampak sedang berpikir. Lalu, "Empat, ditambah almarhum suamiku."
Bian menepuk jidatnya pelan.
"Dulu kamu anti sama kata playboy, Yank. Eh, kamu malah jadi playgirl! Maksudnya apa coba? Pengen bilang kalo kamu juga bisa naklukkin para cowok, begitu?" Bian menatap Jojo, tajam.
"Aku pacaran bukan untuk main-main, By. Aku hanya menyeleksi siapa yang pantas jadi suami aku. Waktu aku pacaran sama mereka, umurku tidak muda lagi, By!" jelas Jojo.
"Kayaknya Andy serius sama kamu, Yank! Sudah sekian tahun dia masih berusaha mendekati kamu." ujar Bian, cemburu.
Jojo tersenyum.
"Sama dong kayak kamu, By! Kamu juga terus nungguin aku setelah kita putus, kan?" tanyanya balik.
Bian mengangguk, membenarkan ucapan Jojo.
Jojo diam.
Rahasia antara dia dan Andy sudah lama ia pendam dalam hati tanpa seorang pun yang mengetahuinya, bahkan almarhum Mirza, suaminya.
Dan sekarang ada Bian. Sebagai seorang Polisi, Arbyan menyadari ada suatu rahasia yang Jojo sembunyikan menyangkut hubungan antara Andy dan putra sulung Jojo, Kiki.
"Jangan-jangan... emak-emak bunting yang waktu itu beneran kamu, Yank?"
Bian menatap Jojo, tajam.
"Kamu mau mendengar ceritaku, By?" tanya Jojo.
Bian mengangguk.
"Ini aibku, By. Tapi aku akan menceritakan semuanya sama kamu. Terserah apa pendapatmu nanti. Yang pasti aku akan menerima segala konsekuensinya kalo pun nanti kamu marah dan membenciku, bahkan mungkin jijik melihatku."
Bian menatap Jojo, lekat.
"Ceritalah!" pintanya.
Jojo menghela napas sesaat sebelum mulai bercerita.
"Setelah lulus SMA, aku pergi ke kota ini dan tinggal dengan nenekku. Emak emang asli kota T. Saudaranya semua tinggal di sini. Andy adalah teman sepupuku. Kami berkenalan dan akhirnya pacaran dalam waktu singkat. Karna aku tau Andy seorang badboy, aku tidak terlalu serius pacaran dengannya. Dan hasilnya, hanya dalam dua minggu pacaran kami langsung putus. Aku lalu pacaran dengan teman pacarnya Liza. Namanya Windra. Dia anak baik, dewasa, dan perhatian. Tapi aku juga gak mau serius karna Windra seumuran adikku, Desti. Bagiku Windra masih terlalu muda untuk diajak serius. Cukup lama aku pacaran dengan Windra. Tak pernah sekalipun kami bertengkar karna Windra sangat mengerti dan menghormatiku. Dan kamu tau, By. Andy tiba-tiba datang dan mengintimidasi Windra. Andy meminta Windra untuk menjauhiku. Dia cemburu, dan bahkan mengancam akan membunuh Windra kalau Windra tidak meninggalkanku."
"Terus? Apa Windra takut dengan ancaman Andy? Apa Windra meninggalkanmu, Yank?" tanya Bian tak sabar mendengar kelanjutan cerita Jojo.
" Gak, By! Malah Windra bilang dengan tegas kalau dia gak akan melepaskan aku pada cowok penggila 'sabu' seperti Andy. Aku serba salah, By. Aku takut Andy bertindak gila dan mencelakai Windra. Aku yang gak mau sesuatu hal buruk terjadi pada Windra, akhirnya memutuskan Windra dan kembali pada Andy. Dan lagi-lagi tidak berlangsung lama, karna Andy masih saja gak berubah." Jojo diam sesaat.
__ADS_1
Bian masih duduk tenang mendengarnya. Sedangkan Rey sudah terlelap dipangkuan Bian.
"Setelah itu, aku berpacaran dengan cowok bernama Rino. Tapi tidak lama juga, karna dia lebih parah gilanya dari Andy. Waktu aku memutuskannya dia mengancam akan mencelakai setiap pria yang dekat denganku, meskipun itu sepupuku sendiri. Aku yang gak terima dengan ancamannya segera menemui Kurnia, seorang polisi yang juga teman Rino. Ku ancam Kurnia kalo sampai Rino berani menggangguku lagi, Kurnia yang aku tuntut."
Bian tergelak sambil menggeleng-geleng kepalanya.
"Besar juga nyalimu, Yank. Berani kamu mengancam seorang anggota polisi." ujarnya geli, membayangkan seorang anggota yang tunduk dengan ancaman seorang gadis mungil.
"Aku gak mikir panjang waktu itu, By. Yang aku mau, Kurnia harus tau bahwa temannya itu orang gila yang harus dijauhi. Kalo sekarang bertemu Kurnia, aku pasti takut dan malu, By." Jojo ikutan tertawa.
"Lanjut, Yank!" pinta Bian.
"Pernah waktu adik bungsu emak bikin pesta sunatan anaknya dan ada orgen tunggalnya. Waktu itu aku dibikin pusing ketika ketiga mantanku itu datang barengan ke hajatan. Emak yang menyuruhku mengajak Windra, karna emak memang mengenalnya dan ia juga pernah datang ke rumah. Eh, gak taunya Andy dan Rino juga datang. Rino duduk di tenda depan bersama Kurnia dan beberapa temannya, Andy di samping rumah bersama sepupuku dan teman-teman mereka. Dan Windra di dalam rumah bersamaku. Malam itu aku habis di bully sama busuku gara-gara ketiga cowok itu. Busuku bilang, ternyata aku lebih parah dari dia yang mantan playgirl sejati. Selama busuku jadi playgirl, belum pernah dia mengajak langsung semua pacarnya bertemu dalam satu event. Terus aku bilang ke busu kalo aku gak ngundang Andy sama Rino. Eh dengan santainya busu ngaku kalo dia yang ngundang mereka berdua. Jadilah aku yang gedek sendiri. Gara-gara busu aku kerepotan harus melayani ketiga cowok itu, mengantarkan makanan, kue dan minuman ke mereka. Paginya aku tepar, kecape'an."
Bian terkekeh.
"Kena kamu dikerjai busumu, Yank!" oloknya.
"He-eh! Kesel bangat aku sama busu. Tapi mau marah, takut kualat. Gak marah, darah tinggiku kumat. Tekanan batin banget aku waktu itu."
Bian tersenyum. "Terus?"
"Setengah tahun aku jomblo sejak putus dari Rino. Meskipun Andy terus berusaha mengajak balikan, aku tak pernah menggubrisnya. Dia masih belum berubah. Umurku sudah merujuk status jadi perawan tua karna aku masih belum juga menikah. Nenekku sering menyindirku, tapi aku tetap cuek. Sampai aku bertemu Mirza. Setelah dikenalkan Liza dan Mona, tanpa butuh waktu lama kami pun pacaran. Dan lagi-lagi, Andy muncul ditengah-tengah aku dan Mirza. Tapi dia tidak mengancam Mirza seperti dia mengancam Windra dulu. Andy malah selalu bersikap lembut dan perhatian padaku. Dan aku sempat jatuh dalam rayuan Andy. Kami pun menjalin hubungan diam-diam di belakang Mirza."
Bian melihat Jojo tertunduk, lemas.
"Bahkan aku...aku..."
"Kamu melakukan 'itu' dengan Andy, Yank?" pertanyaan yang tepat sasaran.
Jojo mengangguk lemah.
"Apakah kamu menyesalinya, Yank?" tanya Bian dalam hati.
"Penyesalan memang selalu datang terlambat, By. Tapi aku gak mau menambah dosa lagi. Aku gak akan membunuh anakku meskipun aku juga gak mau menerima Andy jadi suamiku."
"Kenapa? Karna Andy belum berubah?"
"Andy takkan pernah bisa berubah. Dan aku lebih baik tidak punya suami dari pada harus tekanan batin punya suami 'gila' seperti Andy!" jawab Jojo, tegas.
"Dan Mirza?"
Jojo terdiam. Hatinya sedih mengingat kebaikan almarhum suaminya.
"Mirza pria yang baik. Dia sama sekali tidak marah atau pun protes ketika kakaknya menuduhnya sudah menghamiliku. Dan ia ikhlas mau menikah denganku, padahal aku tidak pernah memintanya. Dia bilang, dia akan menganggap anak di dalam kandunganku itu anaknya dan akan mengurusnya dengan baik. Aku benar-benar beruntung punya suami sebaik Mirza. Dia benar-benar bertanggung jawab dan menepati janjinya. Hingga akhir hayatnya, tidak pernah sekalipun dia menyakiti Kiki. Malah sayangnya pada Kiki melebihi sayangnya pada anak kandungnya sendiri. Aku jadi...hiks!" Jojo terisak mengingat Mirza.
Bian menepuk pelan punggung tangan Jojo.
"Jangan sedih, Yank! Sekarang ada aku yang akan melindungi, mencintai dan menyayangi kamu dan anak-anak. Bersama-sama kita jalani kehidupan kita kedepannya dengan lebih baik lagi. Demi kebahagiaan kita, buang semua masa lalu, dan buka lembaran baru. Ingatkan sesuatu yang indah, dan lupakan kejadian yang menyakitkan. Kamu mau?"
Jojo mengangguk, pelan, dan tersenyum manis. Bian mengecup lama tangan Jojo dengan mata memandang lembut pada kekasih tercintanya itu.
"Terima kasih, By! Kamu penyelamat hidupku!" Jojo balas menatap Bian, lembut.
"I love you, Juna Andini!"
"I love you too, Arbyan ganteng, baik hati, tampan dan mempesona!" Jojo mengerjab-ngerjabkan matanya, lucu.
Bian tertawa gemas.
__ADS_1
"Aku akan terus berusaha membahagiakan kamu, Yank! Bahkan sampai akhir napasku!"