
Hari ini Niza dan keluarganya pindah ke luar kota, tempat keluarga besar ayah Niza tinggal.
Jojo dan Dede duduk terpaku, menatap kosong papan tulis di depan kelas.
*fl**ashback on*
Jojo, Niza dan Dede sedang berpelukan erat dan nangis-nangis bombay ketika Buan, Puput dan Bian datang.
Bian langsung menghampiri Jojo dan memeluknya dari belakang.
"Jangan nangis, Yank!"
Jojo menoleh. Airmatanya yang jatuh di pipi membuat Bian merasa nyeri melihatnya. Dihapusnya lembut airmata itu.
Jojo berbalik memeluk Bian dan menangis kencang di dada cowok tampan itu.
"Kalian besok jadi pindah, Honey?" tanya Buan, pelan.
Dadanya terasa sesak dan tenggorokannya terasa sakit menahan tangis. Sedih dihatinya tak bisa ia ungkapkan.
"A', maafin aku!"
Niza berhambur memeluk Buan erat. Buan hanya terdiam, kaku, sambil mengusap pelan punggung Niza.
"Aa' jangan lupain aku ya?" Niza menatap Buan, dalam.
Buan memeluk Niza, erat.
"Kalian juga jangan lupain gue!" Niza menunjuk ke empat sahabatnya sambil tetap memeluk Buan.
"Kalian sahabat gue yang terbaik dan selamanya akan menjadi sahabat gue. Maaf ya kalo gue ada salah sama kalian?!"
Ke enam sahabat itu saling berpelukan erat. Genggaman tangan pun terikat kuat, seperti persahabatan mereka yang tidak pernah putus.
"Kita gak akan pernah lupain lu, Za. Lu juga sahabat terbaik kita-kita. Lu selalu ada dihati kita." ucap Puput diangguki Jojo, Bian dan Dede.
"Percayalah, Honey. Kita selalu ada buat kamu, meski jarak yang menghalangi kita. Aa' janji, saat libur Aa' pasti menemuimu nanti." janji Buan.
Niza menatapnya, sumringah.
"Janji ya, A'?" tanya Niza seolah tak percaya. Senyumnya pun mengembang ketika melihat Buan mengangguk.
"Kalian ikut juga kan nanti main-main ketempat baru gue?" mata Niza beralih kepada empat sahabatnya.
"Bukannya gak mau, Za. Tapi..." Puput garuk-garuk kepala, bingung ngomongnya.
"Kenapa?" tanya Niza.
Jojo, Dede dan Bian hanya diam saja.
"Berat di ongkos, Za."
Puput nyengir, lucu. Dede dan Jojo meringis, geli mendengarnya.
Niza mengangguk, paham.
"Ntar gue aja yang ke sini kalo gue ada waktu, ya?!" kata Niza.
Dan spontan para sahabatnya mengangguk dengan cepat.
"Kita tunggu, Za!"
Niza pun memeluk para sahabatnya untuk yang terakhir kalinya. Perpisahan memang sangat menyedihkan.
Berpisah dengan sahabat saja begitu sedihnya, apalagi berpisah dengan seseorang yang kita cinta. Buan yang saat ini merasakannya. Perihhhh banget dah!😢
flashback off
"Yank!"
__ADS_1
"Yank!"
Bian melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Jojo yang sedang melamun kompak bersama Dede. Seketika Jojo pun tersadar dari lamunannya.
"Sadar, woy! Kesambet ntar!" Puput menangkup wajah Dede dengan usilnya.
"Ishh!" Dede menepis kasar tangan Puput.
"Tangan lu bau, Put. Habis ceb*k ya?" tuduh Dede yang refleks menutup hidungnya.
Puput mencibir.
"Idung lu tuh deketan ama mulut lu yang bau." ejek Puput.
Dede melengos, sinis, kemudian pindah kembali ketempat duduknya.
Dan Dede melamun lagi. Menaruh kepalanya di atas meja, melihat bangku Niza disebelahnya yang kini kosong. Dede pun menangis dalam diam.
"Jo!" panggil Buan.
Jojo menoleh.
"Ewin titip salam buat lu. Katanya, tunggu dia delapan tahun lagi."
"Hah?" Jojo menatap Buan, bingung.
"Maksudnya, Wan?"
"Dia mau ngelamar elu nanti."
Jojo menepuk jidatnya, pelan.
"Bocah lucu! Dia kayaknya mau gue jadi perawan tua deh." gumam Jojo tanpa sadar.
"Sebelum Ewin datang, aku duluan Yank yang datang melamar kamu." sahut Bian cepat.
Buan dan Puput tersenyum geli. Sedang Jojo menatapnya datar, tanpa ekspresi.
"Mudah-mudahan kamu ngomongnya tulus dari hatimu bukan karena Ewin ya, By!" ujar Jojo.
"Aku tulus kok, Yank!" ucap Bian, mantap.
Jojo menatapnya, dalam. "Hm. Baiklah!"
Bian mengernyitkan dahinya, menatap Jojo.
"Kok datar aja, Yank. Kamu masih ragu?" tanyanya, sedih.
Jojo tersenyum lembut.
"Aku percaya, kok." ujarnya, pelan sambil menggenggam tangan Bian membuat cowok itu tersenyum, manis.
"Semoga ucapanmu bisa dipegang, By!"
🌻
🌻
🌻
Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Tak terasa sudah setengah tahun Bian dan Jojo menjalin kasih. Tidak ada teman sekelasnya yang tau hubungan mereka kecuali para sahabat mereka, Buan, Dede dan Puput.
Hubungan keduanya dengan ketiga sahabat mereka pun semakin terjalin akrab. Sampai suatu ketika kabar buruk datang melanda Robuan.
Pagi itu, Jojo merasakan perasaannya tidak enak. Gelisah terus hinggap dihatinya. Jojo terus melirik kursi disebelahnya.
"Put, udah siang gini Buan belum datang juga. Kemana ya dia?" Jojo uring-uringan.
"Gak masuk kali dia, Jo. Kan lu tau sendiri Buan, selama Niza pindah dia jarang masuk sekolah." kata Puput, lagi.
__ADS_1
Jojo manggut-manggut.
"Lu dari tadi cemas mikirin Buan, lu gak mikir kenapa Arbyan hari ini juga gak masuk?" tanya Puput.
"O iya, ya." Jojo baru ngeh kalo sang mbeb juga belum datang.
Tapi rasa cemasnya pada Buan membuat Jojo sedikit melupakan Bian.
Hingga jam pertama usai dan jam istirahat pertama datang, baik Buan maupun Bian memang tidak masuk sekolah.
"Jo!"
Puput datang masuk ke kelas dan langsung memeluk Jojo.
"Kenapa, Put?" tanya Jojo, kaget.
"Yang kuat ya, Jo!" bisik Puput, lirih.
"Lu jangan nakut-nakutin gue, Put!"
Jojo melepas pelukan Puput dan menatap cowok imut itu, tajam.
Puput menunduk. Wajahnya terlihat sedih, dan itu membuat Jojo makin gelisah.
"Jangan bilang ini tentang Buan, ya Allah!" do'a Jojo dalam hati.
"Buan ketangkep polisi, Jo!"
"Astaghfirullahaladziim!" Jojo istighfar. Tanpa berucap tangannya mengelus-elus punggung Puput.
"Lu dapet kabar dari mana, Put?" tanya Jojo, pelan.
"Kamu kemana, By? Kita butuh lu di sini!" jerit batin Jojo yang berharap Bian ada bersamanya dan Puput saat ini.
"Dikantor guru-guru sudah pada heboh, Jo. Polisi tadi menghubungi pihak sekolah. Katanya Buan terlibat pencurian dikampung sebelah. Dia tertangkap dan salah satu temannya kabur." kata Puput.
Jojo menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Gak mungkin Buan kayak gitu, Put." ujarnya tak percaya.
Puput mengangguk, membenarkan.
"Siapa teman Buan yang kabur, Put? Apa teman sekolah kita?" tanya Jojo, ingin tau.
"Gak mungkin Bian kan?" pikirnya, jelek.
"Katanya sih residivis kambuhan spesialis pencuri rumah kosong."
"Alhamdulillah, bukan Bian itu sih!"
"Sejak kapan Buan berteman dengan orang itu, Put?" tanya Jojo lagi.
Puput mengendikkan bahunya, tidak tau.
Jojo terdiam.
"Tapi Jo, gue rasa Buan gak tau kalo temannya itu bandit kambuhan."
Jojo mengerutkan dahinya, memandang Puput tak mengerti.
"iya, Jo. Kalo Buan tau dia bakal diajak mencuri, gak mungkin Buan memakai skuternya, Jo."
Dahi Jojo makin berkerut, membuat Puput menghempas nafas kasar.
"Buan ditangkap warga saat gak bisa kabur, Jo. Skuter Buan kalah cepat dengan RX-Ki*g milik warga. Kalo beneran Buan mau maling gak mungkin bawa skuter, Jo. Motor sport Buan lebih kenceng tuh larinya." kata Puput.
"Iya, ya!" Jojo mengangguk, setuju.
"Apa Buan dijebak, Put?"
__ADS_1
Puput mengendikkan bahunya. Mereka berdua pun akhirnya sama-sama bersender lemas di kursi, prihatin memikirkan nasib Buan, sahabat mereka.