Kaukah Gadis Tomboyku?

Kaukah Gadis Tomboyku?
Hamil


__ADS_3

Empat bulan sudah biduk rumah tangga Bian dan Jojo berjalan. Mereka tinggal di rumah dinas Bian yang lebih besar dari rumah peninggalan suami Jojo.


Saat ini rumah Jojo tengah direnovasi agar mereka bisa sesekali menginap di sana kalau anak-anaknya kangen dengan suasana rumah mereka.


Seperti biasa, sudah menjadi tugas rutinnya, Jojo menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya. Bekal para prajuritnya pun sudah ia siapkan.


"Bang Kiki, jangan ditinggal lagi tempat makannya. Capek emak kalo harus beli terus. Kamu mau bekalnya emak isi pake kantong plastik?"


(kebiasaan para emak-emak, kalo capek pasti ngomel.😁)


"Iya, Mak!" Bang Kiki menyaut, pelan.


"Kakak botol minumnya jangan lupa dibawa."


"Iya, Mak!" sahut sang kakak.


"Bang Raka, bekalnya jangan gak dimakan. Jangan jajan terus!"


"Ho-oh, Mak!" gantian Raka yang nyaut.


"Sekarang kalian sarapan dulu. Habis itu baru emak antar ke sekolah."


Jojo mengisi nasi goreng ke piring lalu memberikannya pada suaminya.


"Biar papa aja yang antar kalian. Ribet kalo harus naik motor." kata Bian.


"Kamu kan harus kerja, By. Ntar telat, loh!"


"Gak. Masih ada waktu, kok!"


"Dedek ikut ya, Pa?" pinta bocil, penuh harap.


"Iya! Tapi Dedek makan dulu yang banyak, biar sehat." Bian mengacak pelan, rambut Rey.


"Ya, udah. Biar nanti pulang sekolah, emak yang jemput." kata Jojo.


"Kalo gak banyak kerjaan, biar papa aja yang jemput, Yank. Kamu di rumah aja, istirahat! Jangan capek-capek!"


"Aku gak capek, By. Aku udah biasa..."


Hugh!


Jojo menutup mulutnya. Tiba-tiba ia merasa mual.


"Kenapa, Yank?" tanya Bian, khawatir.


Jojo mengangkat tangannya, menandakan ia baik-baik saja.


"Ayo buruan habiskan sarapannya. Nanti terlambat ke sekolah."


Ketiga prajurit Jojo bergegas mengambil tasnya masing-masing dan menunggu di depan teras. Jojo sibuk merapikan pakaian yang dipakai suaminya.


"Beneran kamu gak pa-pa, Yank?" tanya Bian sambil menatap lekat wajah Jojo.


"Aku gak pa-pa, By. Kalo udah sarapan pasti gak mual lagi."


Bian tersenyum.


"Ya udah. Kalo masih mual, nanti kita ke dokter." katanya.


Jojo mengangguk.


"Papa kerja dulu, ya? Dedek temenin emak di rumah. Kalo ada apa-apa sama emak, Dedek susul aja ke kantor papa, ya?!"


"Oke, Pa!" bocil mengacungkan jempolnya, mengerti.


Bian tersenyum, gemas melihat tingkah Rey.


Jojo geleng-geleng kepala, geli, mendengar perintah Bian pada bocilnya.


"Untung aja kantornya deket rumah. Kalo gak, aku yakin bocil pasti mencak-mencak, ngamuk." batin Jojo, geli.


Rumah dinas yang mereka diami memang berada tak jauh dari Polres tempat Bian bekerja. Tepatnya di samping Polres.


Jojo dan bocil mengantar Bian keluar, dimana abang-abang dan kakak bocil sudah menunggu papanya yang akan mengantar mereka. Ketiga prajurit Jojo pamitan dan mengucapkan salam setelah salim dengan sang emak. Jojo dan bocil gantian salim dengan Bian.


"Huekk!"


Jojo berlari menuju kamar mandi. Rasa mualnya makin menjadi.


"Kayaknya aku hamil, deh!" gumam Jojo.


Pengalamannya yang sudah pernah hamil dan melahirkan ke empat anaknya, membuat Jojo paham betul apa yang kini terjadi pada tubuhnya.


"Emak mau kemana?" tanya bocil, melihat emaknya sudah mengenakan jilbabnya dan mengambil kunci motor.


"Mau ke warung, bentar! Dedek mau ikut?"


Bocil mengangguk.


Jojo pergi ke apotik yang berada tak jauh dari rumahnya.


"Neng, beli testpack satu!" kata Jojo.


Si penjaga memberi barang yang Jojo minta. Dan Jojo pun pulang setelah membayar barang yang dibelinya.


Sesampai di rumah, Jojo bergegas masuk ke kamar mandi.


"Bismillahirrahmanirrohiim!"

__ADS_1


Jojo mengangkat testpack yang sudah ia celupkan di tempat yang berisi urinnya, dan melihat hasilnya.


"Alhamdulillah!" ucap Jojo penuh syukur saat melihat dua garis biru di testpack tersebut.


Jojo lalu menyimpan testpack tersebut di tempat sabun yang tersedia dikamar mandi.


Tiba-tiba,


Tok! Tok! Tok! Terdengar suara pintu kamar mandi diketuk.


"Yank? Apa kamu di dalam?"


Tok! Tok! Tok!


"Yank? Kamu gak pa-pa, kan?"


Jojo membuka pintu kamar mandi.


"Loh, By? Kok kamu balik lagi? Ada yang ketinggalan?" tanya Jojo heran melihat suaminya tengah menatapnya cemas.


"Ayo kita ke dokter, Yank! Aku tau kamu pasti lagi gak enak badan." Bian menarik tangan istrinya.


"Aku gak pa-pa, By." Jojo menahan langkah Bian.


"Gak pa-pa, gimana? Kamu mual terus beberapa hari ini, muka kamu juga pucet gitu?!" Bian memegang pipi Jojo.


Jojo tersenyum lembut.


"Ini biasa terjadi sama ibu hamil..."


"Pokoknya kamu..." Bian menghentikan ucapannya.


"Apa, Yank? Kamu bilang apa tadi? Kamu hamil? Aku gak budek kan, Yank?" Bian menatap Jojo, lekat.


Jojo tersenyum geli.


"Kamu gak budek, By. Aku emang lagi hamil. Nih!" Jojo memberi testpack yang tadi disimpannya.


Wajah Bian berbinar bahagia melihat dua garis biru itu. Lalu ia menatap kembali istrinya.


"Aku... kamu...kita...kita akan punya anak, Yank?" tanya Bian, seolah tak percaya dengan yang dilihatnya.


"By?!" Jojo menatap tajam, suaminya.


"Kita ke dokter sekarang, Yank! Aku mau lihat perkembangan anak kita." Bian menarik tangan Jojo kembali.


"Aku ganti baju dulu, By!"


"Cepetan, ya?!" kata Bian tak sabaran.


Jojo mengangguk.


"Sini Dek, sama papa." Bian memangku Rey.


"Bentar lagi Dedek mau punya adek. Dedek seneng gak?" tanya Bian ke bocil.


"Kayak adeknya Devin ya, Pa?" tanya bocil.


Bian mengangguk.


"Mau, Pa!" Rey mengangguk cepat.


"Dedek mau punya adek. Kayak Zafran ya, Pa?" pintanya.


"Mudah-mudahan adeknya Dedek nanti kayak Zafran, ya? Aamiin!" ucap Bian.


"Aamiin!"


Di rumah sakit 🏥,


Bian menarik-narik baju Jojo hingga istrinya pun menoleh.


"Kok dokternya cowok, Yank?" tanya Bian dengan berbisik.


Jojo mengendikkan bahunya tanda tidak tau.


"Bisa gak dokternya diganti, Yank? Aku gak mau dokter cowok yang pegang-pegang perut kamu." bisik Bian lagi.


Jojo memutar bola matanya, jengah.


"Kayak istrimu cantik aja, By! By!" gumam Jojo sambil geleng-geleng kepala.


"Emang kamu cantik, Yank! Makanya aku gak rela kalo ada cowok lain yang pegang-pegang kamu."


"Ya, udah. Kalo gitu kita pulang aja, gak usah periksa."


Jojo beranjak dari duduknya.


"Eh jangan, Yank!" Bian menahan Jojo.


"Baiklah. Kita periksa. Jangan ngambek ya?" bujuk Bian.


Jojo menatap malas pada suaminya.


"Segitu cemburunya kamu, By! Kayak istrimu ini Luna Maya saja!" Jojo geli dalam hati.


Saat masuk ruang periksa,


"Juna?"

__ADS_1


"Adit?"


Bian dan Jojo saling berpandangan saat melihat dokter yang akan memeriksa Jojo. Begitu pun sang dokter yang menatap lekat ke mereka berdua.


"Apa kabar, Juna?" senyum Adit, sang dokter kandungan sangat ramah.


"Baik, Dit!" Jojo balas tersenyum.


"Udah berapa puluh tahun ya kita gak ketemu?"


"Jangan di itung! Capek, saking lamanya."


Adit tersenyum lagi.


"Kamu masih aja lucu kayak dulu, Juna." kata Adit.


Jojo nyengir.


"Makanya gue terus ngejar Jojo, jangan sampai lu yang dapetin dia." sahut Bian, dengan mata tajam menatap Adit.


Bian merasa dari tadi ia seperti kambing congek lagi dikerubutin laler, dicuekin Jojo dan Adit.


"Apaan sih, By? Adit kan teman lama kita..."


"Bukan! Dia mantan gebetan kamu, saingan aku buat dapetin kamu." sahut Bian, cepat.


Jojo menepuk jidatnya. Sedangkan Adit senyam-senyum sendiri melihat kecemburuan Bian padanya.


"Tapi kan elu yang menangin hati Juna dari dulu, Ar? Kalo gak, mana mungkin Juna jadi istri kamu!" ujar Adit, tenang.


Bian diam, mencerna ucapan Adit.


"O iya, ya! Berarti memang hanya aku ya yang ada di hati kamu, Yank?" Bian tersenyum tampan, menatap istrinya


"Ingat umur, By. Jangan kayak anak kecil. Mau kamu jadi Laddu Singh?" ejek Jojo.


"Ehh, itu... film favoritnya Dedek, bukan? Yang polisinya o'on itu ya?" Bian ingat film 'Shiva' yang sering ditonton Rey.


"Nah, tu tau!"


Bian cemberut.


"Tega kamu, Yank, ngatain aku mirip Laddu Singh." rajuknya.


"Kamu sendiri loh yang ngomong, bukan aku!" dalih Jojo.


Bian makin merengut.


Adit tertawa melihat mereka berdua.


"Kalian berdua lucu banget. Bikin gue jealous aja!" ujar Adit, gemas dengan Jojo yang terus menggoda suaminya.


"Untung aja aku yang duluan ketemu kamu, Yank. Kalo gak..."


"Kalo gak... aku gak perlu repot-repot kamu cemburui!" sahut Jojo, memotong ucapan Bian.


"Hish! Kamu kok gitu sih, Yank?!"


Bian manyun. Jojo terkekeh. Dan Adit tersenyum geli.


"Udah. Mau diperiksa sekarang, gak?" tanya Adit, menyudahi acara manyun dan cemburuannya Bian.


"Maulah. Gue mau liat anak gue!" sahut Bian cepat.


Jojo pun berbaring dan Adit mulai memeriksanya. Suster membantu Jojo membuka baju dibagian perutnya. Adit pun meletakkan sebuah alat pendeteksi di atas perut Jojo setelah mengoles gel khusus.


"Usia kandunganmu sudah masuk delapan minggu, Juna. Kamu harus memperbanyak makan buah dan sayur." saran Adit.


"Tuh, denger kata Adit, Yank. Kamu jangan hanya suka masak sayur, tapi makannya gak mau. Kamu nyuruh aku sama prajurit makan sayur, lah kamunya sendiri gak mau makan." Bian nyerocos bak abang penjual sayur.


Jojo menepuk jidatnya, pasrah, mendengar celotehan suaminya. Adit tersenyum geli melihatnya.


"Ini calon anak kalian. Tubuhnya sudah mulai terbentuk meski belum sempurna." Adit menunjukkan gambar janin di layar komputer.


"Itu anak kita, Yank?" mata Bian berkaca-kaca melihat gambaran makhluk yang ditunjuk Adit.


Dulu waktu Dira masih di dalam kandungan, belum ada alat canggih seperti ini.


Bian yang baru pertama kali ini melihat hal ini tampak sangat takjub dan bahagia bisa melihat sosok anaknya yang masih berbentuk janin.


Adit mengernyit, heran, menatap Bian.


"Lu belum pernah melihat ini, Ar?" tanya Adit.


Bian menggeleng.


"Waktu kehamilan anak pertama gue belum ada alat canggih kayak gini, Dit. Gue dulu juga jarang nemenin istri gue cek kandungan."


"Berapa usia anak lu yang pertama, Ar?"


"Dua puluh satu tahun."


"Loh?" Adit garuk-garuk kepala, bingung.


"Yang ini?" Adit menunjuk bocil yang duduk dipangkuan Bian.


"Ini anak bungsuku dengan almarhum suami aku, Dit." kata Jojo yang paham dengan kebingungan Adit.


"Kami baru menikah empat bulan, Dit!"

__ADS_1


Tettewwwww! 😲😲😲


__ADS_2