Kaukah Gadis Tomboyku?

Kaukah Gadis Tomboyku?
44.


__ADS_3

Puput menatap geram wajah tampan didepannya. Dia ikut merasakan sakit yang Jojo rasakan saat ini.


"Put! Tolongin gue ya?"


Wajah memelas Bian membuat Puput makin menggeram kesal.


"Ogah gue! Lu urus aja sendiri. Gue gak nyangka o'on lu ternyata lebih parah dari yang gue kira." dengus Puput kesal.


"Gue gak punya maksud lain, Put. Swear! Niat gue cuma pengen nenangin dia aja. Gue bingung karna Ria terus-terusan nangis di depan gue. Gue juga gak enak diliatin orang-orang yang juga lagi nunggu angkot." dalih Bian, beralasan.


"Tapi gak lu ajak pergi juga kali, Ar. Lu kan bisa antar dia pulang kerumahnya." sahut Puput yang kesal melihat kebodohan Arbyan.


"Dia gak mau. Padahal gue udah maksa-maksa mau antar dia pulang."


"Ya...lu tinggalinlah. Kan kata lu gak suka sama Ria, kenapa lu malah ngajakin dia ke rumah kakak lu? Makin besar kepala tuh anak. Dikiranya lu juga suka ama dia." Puput terus ngedumel, kezel.


"Gak! Siapa bilang? Gue gak pernah bilang suka sama dia!" elak Bian.


"Elunya sih emang enggak, tapi Ria jelaslah ngerasa lu juga suka sama dia. Dan pasti dia juga udah cerita macem-macem sama Jojo." sungut Puput, sebal. Mendengar cerita Arbyan membuat Puput illfeel pada gadis cantik yang pernah membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama itu.


"Jojo udah cerita apa ama lu, Put?" tanya Bian ingin tau.


"Gak ada!"


Bian menatap Puput tak percaya. Puput malah balas melotot.


"Lu gak tau Jojo gimana kemarin, Ar. Dia benar-benar tak berhenti menangis waktu dapat kabar buruk tentang Buan. Jojo kemarin butuh lu banget didekatnya, Ar. Tapi lu.. hadeeh." Puput mengusap wajahnya, kasar.


Bian diam menatap sang kekasih yang tertidur cantik. Perasaan bersalah makin menghantuinya.


"Lu gak nyadar kesalahan lu, Ar. Lu malah berpikiran buruk tentang gue dan Jojo."


Bian mendongak, memandang Puput yang tengah menatapnya tajam.


"Lu tadi mikir gue lagi 'macem-macem' sama Jojo kan, Ar?"


Bian terkesiap. Ternyata Puput tau apa yang tadi ia pikirkan.


"Lu pikir Jojo cewek murahan, Ar? Lu gak inget tamparan Jojo dulu?"


Bian diam.


"Mikir, Ar! Selama kita temenan ampe lu berdua pacaran, masak lu gak tau sifat Jojo? Dia bukan kayak Ria yang gampang ngungkapin perasaannya. Dia juga gak suka peluk-peluk cowok yang baru dikenalnya."


"Gue tau..."


"Tapi tetep aja beg*k!" Puput menoel keras kepala Bian, saking kesalnya.


"Kalo Jojo juga suka ama gue gak sampai elu yang dapetin dia, udah gue tempelin dia duluan." sungut Puput lagi.


Bian diam saja. Dia tau semua salahnya dan bertekad memperbaiki hubungannya dengan Jojo.


"Aku gak mau putus dari kamu, Yank. Aku gak mau orang lain. Aku maunya kamu."


Bian menatap sendu wajah yang yang sangat ia sayangi, yang kini tengah terlelap tidur.


"Maafin aku ya, Yank. Aku janji gak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi."


Bian terus membelai lembut rambut Jojo. Hingga akhirnya Bian ikut tertidur di


sebelah Jojo.


"Astaghfirullahaladziim!!! Arby!!!" pekikan stereo mama Puput membuat Bian dan Jojo terlonjak kaget.


Bak dikomando keduanya bangun dan terduduk dengan kompak.


Karena masih merasa pusing Jojo berbaring lagi, meskipun dia sebenarnya bingung melihat Bian tidur disebelahnya.


"Kamu kenapa biarin Arby tidur bersama Juna, Put? Kalo terjadi apa-apa nanti gimana? Mama harus ngomong apa sama emaknya Juna kalo beliau tanya nanti?" mama Puput mengomeli Puput.


"Gak akan terjadi apa-apa, Ma. Mama jangan baper deh." Puput menenangkan mamanya yang kalap ketika melihat Bian tertidur di sebelah Jojo.


"Maaf, Tante. Aku tadi nungguin Jojo, eh malah ikut ketiduran." ucap Bian, penuh sesal.


"Tapi demi Allah, Tante. Aku gak ngapa-ngapain. Demi Allah!"


Bian mengucapkan sumpah disertai acungan dua jari tangannya, telunjuk dan jari tengahnya.


Mama Puput menghela napas panjang, dan menghembuskannya pelan.


"Baiklah. Tante percaya sama kamu. Tapi Tante minta jangan kamu ulangi lagi ya?" mama Puput menunjuk Bian yang tertunduk. Kemudian beliau beralih ke Jojo.


"Juna udah baikan?" tanya mama Puput, lembut.


"Alhamdulillah, Tante. Udah segeran." Jojo mencoba bangun dari tempat tidur.

__ADS_1


Melihat itu Bian berniat membantu Jojo, tapi tangannya malah didorong Jojo dengan kasar.


"Jangan pegang gue!" desis Jojo, ketus.


Bian tersentak, kaget dengan penolakan Jojo.


"Yank, aku..."


Bibir Bian mendadak kelu ketika menyadari Jojo menatapnya tajam.


"Izinkan aku ngomong, Yank..."


Jojo beranjak bangun dari tempat tidur dan berjalan menuju ruang dimana mama Jojo duduk.


Jojo pun pamit ke mama Puput.


"Tante, aku pulang ya. Makasih udah diizinkan tidur di sini." Jojo salim pada mama Puput.


"Iya. Sering-sering ya Juna main ke mari? Ajak juga emak kamu." mama Puput memeluk Jojo.


"Insyaallah, Tante."


Jojo menghampiri Puput. "Put, gue pulang ya!"


"Hati-hati, Jo!"


"Aku juga pulang, Tante."


Bian ikutan pamit pulang, menyalimi punggung tangan mama Puput, dan buru-buru mengejar Jojo yang sudah keluar lebih dulu.


"Tunggu aku, Yank!"


Bian menarik tangan Jojo, mencoba menahan langkah gadis itu.


Jojo menghentikan langkahnya, dan menatap Arbyan, tajam.


"By, mungkin memang kita hanya cocok untuk berteman saja. Maaf kalo gue udah membebani lu dengan sikap kekanak-kanakkan gue."


"Yank..."


Bian meraih tangan Jojo dan menggenggamnya, mencoba melunakkan hati gadis didepannya.


"Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku tidak ada niat sedikitpun untuk mengkhianati kamu. Khilafku kemarin karena bingung aja waktu ngeliat Ria nangis-nangis di depan orang banyak sambil terus memegang tanganku." ungkap Bian sebenar-benarnya.


"Udah, gak perlu minta maaf. Gue udah maafin lu."


"Benarkah, Yank? Berarti kita gak jadi putuskan?" mata elang Bian berbinar, senang.


"Maaf, By. Sebaiknya kita sahabatan saja, kayak dulu."


Jojo melepas genggaman tangan Bian.


"Gak, Yank. Aku gak mau putus sama kamu." Bian menggeleng-gelengkan kepalanya, menolak keputusan Jojo.


"Kalo kita putus, sebaiknya kita gak usah temenan lagi aja." sambungnya dengan nada mengancam.


Jojo mengangkat bahunya.


"Terserah!" sahutnya sambil berlalu pergi.


Bian terkejut melihat reaksi Jojo dan langsung menarik tangan gadis itu lagi.


"Setidaknya izinkan aku antar kamu pulang..."


Bian menatap Jojo dalam.


"Untuk terakhir kalinya." ujarnya lagi.


Jojo mengangguk pelan. Dan akhirnya Jojo pun pulang diantar Bian naik motornya, untuk terakhir kalinya.๐Ÿ˜“


๐ŸŽตDinginnya angin malam ini


menyapa tubuhku


namun tidak dapat dinginkan


hatiku yang kau hangatkan


Terasa tercabarnya


kemanisanku ini dengan sikapmu


mana taulah aku ini insan kekurangan


senangnya kau mainkan

__ADS_1


Siapalah aku ini untuk meminta buih


yang memutih menjadi permadani


seperti mana yang tertulis


dalam novel cinta


Juga mustahil bagiku


menggapai bintang di langit


menjadikan hantaran


syarat untuk milikimu


semua itu sungguh aku tiada mampu


Salah aku juga telah jatuh cinta


insan sepertimu seindah pelangi


seharusnya aku mencerminkan diriku


sebelum tirai kamar aku buka


untuk mengintaimu๐Ÿ˜“


๐Ÿ’”๐Ÿ’”๐Ÿ’”


"Inilah yang aku takutkan. Persahabatan kami hancur gara-gara hati yang tak bisa dikondisikan."


Jojo terpaku menatap punggung Bian, mantan sahabatnya dan juga mantan kekasihnya yang baru beberapa jam tadi diputusnya.๐Ÿคฆโ€โ™€๐Ÿ˜“


Sesampai di depan rumah Jojo,


"Arby!"


Pekikan manja memanggil Bian yang baru mematikan mesin motornya.


Jojo yang baru turun dan melihat Ria tersenyum manja pada Bian hanya bisa menarik napas, berat.


"Jojo bilang kamu gak satu kelompok sama Jojo dan Puput, Ar. Kok kamu bisa pulang bareng Jojo?" tanya Ria dengan mengerucutkan bibirnya, manja, menunjukkan bahwa ia tidak suka Bian pulang bareng Jojo.


"Heh! Sape lu berani ngelarang gue pulang sama siapa? Emang lu emak gue?!" bentak Bian yang sudah kesal sejak kemarin dengan gadis manja didepannya.


"Loh...Ia kan pacar Arby..."


"Jangan kira gara-gara kita pergi kemarin lu mikir kita pacaran ya? Sampai kapan pun gue gak suka ama lu!" sahut Bian ketus.


"By!!!"


Bian menatap kesal dua gadis didepannya yang sama-sama keras kepala.


Yang satu muka tembok, yang terus-terusan mengejarnya meskipun sudah ditolaknya mentah-mentah.


Yang satunya lagi malah menolak mendengar penjelasannya tentang kesalahpahaman yang terjadi.


Bian menarik tangan Jojo hingga gadis itu terseret, mendekatinya.


"Aku pulang, Yank!"


Seolah ingin membuat Ria marah dan membencinya, Bian sengaja mencium kening Jojo, lama.


Jojo yang tidak menyangka akan mendapatkan jackpot dari Arbyan hanya terpelongo, beg*.


Sedangkan Ria, gak tau harus ngomong apa untuk mengatakan bagaimana mimik muka gadis itu sekarang. Yang pasti lebih kecut dari rasa mangga muda.๐Ÿ˜ฃ


"Jo, kok Arby manggil kamu 'Yank'. Apa kalian pacaran?" tanya Ria sambil menatap Jojo, kesal.


"Apa kamu mau denger panggilan teman-temanku yang lain padaku, Ia?" Jojo balas menatap Ria, tajam.


"Emang...apa aja panggilan kamu, Jo?" tanya Ria, penasaran.


"Macem-macem. Ada yang manggil sayang, cinta, cantik, buluk, kerempeng, indah, bunga, cepluk, edel..."


"Stop!" Ria memotong omongan Jojo. "Siapa saja yang memanggilmu 'Yank'?"


"Arbyan!"


Ria mendengus kesal. Dengan wajah merengut, Ria pulang kerumahnya tanpa pamit pada Jojo yang melihat tingkahnya dengan wajah datar.


"Cewek aneh! Dia yang ganggu pacar gue, dia yang marah ke gue. Perlu diruqiyah kayaknya tuh anak. Entah Jin apa yang nyasar merasukinya."


Jojo masuk ke dalam rumahnya sambil geleng-geleng kepala.

__ADS_1


__ADS_2