
Mm... Haaa!
Jojo menguap lebar dan tangannya merentang ke atas saat bangun dari tidurnya.
"Heh! Dedek mana?" Jojo celingak-celinguk mencari si bocil.
"Dek! Kamu dimana?" panggil Jojo.
"Di sini, Mak. Sama Kak Dira."
Jojo keluar dari kamarnya menemui Dira dan Rey.
"Eh, ada Pak Polantas!"
Jojo tersenyum ramah pada Yudhis yang sedang duduk bersama Dira dan bocil.
"Panggil aja, Yudhis, Bu." Yudhis mengulurkan salam.
Jojo mengangguk dan menyambut ramah salam Yudhis.
"Bang Tira ini abangnya sahabat Dira di SMA dulu, Mak. Baru dua hari pindah tugas ke sini." kata Dira.
"Oo. Emak kira tadi mantannya kakak yang mau ngajak balikan!" Jojo nyengir, menggoda Dira.
"Ish, emak! Paling bisa ya?" Dira cemberut, menahan malu.
Jojo terkekeh. Yudhis tersenyum penuh arti.
"Emangnya papa yang ngajak emak balikan ampe jungkir balik!" Dira balik menggoda Jojo.
Jojo cekikikan.
"Pelan-pelan ngomongnya, Kak. Ntar kedengeran papa, malu dia." ujar Jojo, geli.
"Biarin. Biar papa sadar susahnya dulu ngejar-ngejar cinta emak, dan gak ceroboh lagi kayak dulu."
"Bukan emak loh yang ngomong!" Jojo menutup mulutnya saat melihat Bian sudah berdiri tegak di belakang Dira.
Yudhis yang juga melihat Bian langsung menunduk, takut.
"Papa sadar kok, Sayang. Papa kan sudah janji gak akan pernah bikin emak kamu marah lagi. Emang emak kamu aja yang sensi...Heee! Maaf, Yank! Maaf ya? Jangan ngambek lagi ya?" Bian buru-buru meminta maaf ketika melihat sang istri melotot, seram.
"Au' ah! Ayo Dek, kita ke rumah Awo." Jojo mengajak bocil pergi ke rumah Rio.
"Mau ngapain, Yank?" tanya Bian cepat karna Jojo seperti sengaja menghindarinya.
"Numpang makan!"
"Ikut!!!"
Bian berlari mengejar Jojo yang sudah berjalan menuju pintu.
Dira tertawa geli melihat kedua orang yang dicintainya itu sambil geleng-geleng kepala.
"Papa dan emakmu lucu ya, Ra? Ngambek-ngambekan kayak ABG." Yudhis ikut tertawa melihat atasannya yang terlihat dingin ternyata sangat bucin dan hangat bila bersama keluarganya.
"Maklum, Bang! Masih hangat-hangatnya mereka setelah puluhan tahun berpisah."
"Maksudnya?" Yudhis memandang Dira tak mengerti.
Dira pun menceritakan tentang papa dan emaknya. Yudhis diam mendengarnya.
"Jadi, papa dan emak kamu dulu mantan waktu SMA, Ra?"
Dira mengangguk, mengiyakan.
"Banyak cewek-cewek cantik yang ngejar-ngejar papa, tapi papa hanya suka sama emak. Gak ada yang bisa menaklukkan hati papa, kecuali emak. Bahkan mamaku pun gak bisa menghapus bayangan emak dari hati papa. Sampe papa betah menduda sejak meninggalnya mama waktu melahirkanku karna papa hanya ingin bersama cinta pertamanya, yaitu emak."
"Papamu termasuk tipe cowok setia, Ra. Sekian tahun sendiri hanya untuk mencari cinta sejati, salut abang sama papa kamu." ucap Yudhis, takjub.
Dira mengangguk setuju.
__ADS_1
"Tapi apa yang bikin emakmu sangsi sama kesetiaan papamu, Ra?" tanya Yudhis bingung.
Padahal jelas terlihat betapa besar cinta atasannya itu pada sang istri, tapi istrinya malah meragukan kesetiaannya.
"Emak tau papa sangat mencintainya, Bang. Emak pun sama, sangat mencintai papa. Tapi... kamu tau sendirilah, Bang... para pelakor sekarang gak pernah bisa liat kebahagiaan orang, maunya pengen ambil aja laki orang. Dan papa adalah sasaran empuk para pelakor."
Yudhis tersenyum, membenarkan ucapan Dira. Tadi pagi sebelum ia berangkat tugas di lapangan, ia memang melihat seorang wanita cantik dan seksi memaksa ingin bertemu atasannya itu dan malah mengaku pacar sang atasan.
"Tapi rekan kantor bilang Pak Arby gak pernah menggubris mereka, Ra. Seharusnya emak kamu gak perlu semarah itu kan?"
"Emak kan lagi hamil, Bang. Emosinya lagi gak stabil. Biasanya juga emak cuek aja kalo nemu ada cewek yang coba deketin papa. Malahan tuh cewek dikerjai emak habis-habisan."
"Serius, Ra?"
Dira mengangguk. Yudhis ikutan mengangguk, paham.
>>>>
Tak terasa sembilan bulan sudah Jojo mengandung. Hari ini terakhir Jojo cek kandungan ke rumah sakit.
"Semuanya normal, Jun. Tinggal menunggu hari saja untuk kamu melahirkan. Atau... kamu mau cesar? Ku rasa itu pilihan terbaik karena usiamu gak menjamin kamu bisa melahirkan secara normal."
"Gimana, Yank?"
Bian dan Adit menatap Jojo, lekat, menunggu keputusan wanita itu.
"Aku sih terserah kamu, By." jawab Jojo.
"Kalo gitu kita putuskan untuk cesar, Dit. Aku mau istri dan anakku selamat." putus Bian.
Adit mengangguk, setuju.
"Sekarang lu tandatangani surat pernyataan ini."
Adit memberi Bian selembar surat izin untuk melakukan operasi.
Bian pun langsung menandatanganinya tanpa berpikir lagi. Hari itu Jojo langsung opname di rumah sakit sampai tiga hari kedepan.
"Ada Dira, Yank! Kamu yang tenang, jangan banyak pikiran. Dira bisa mengurus adik-adiknya." Bian menenangkan hati Jojo.
"Kasihan Dira. Selama ini dia anak tunggal dan selalu dimanja semuanya. Tapi sekali punya adik langsung banyak, bikin Dira repot."
Jojo sedih memikirkan Dira yang harus kerepotan mengurus ke empat adiknya sendirian selama Jojo dan Bian di rumah sakit.
"Itu sudah kewajiban seorang kakak, Yank. Dira seneng kok melakukannya. Selama ini dia kesepian gak punya teman di rumah, kecuali oma dan opanya. Dan sekarang ramai, karena adik-adiknya selalu jadi penghiburnya." terang Bian.
"Tapi dedek gak ngerecokin Dira kan, By?"
"Gak! Dedek malah anteng banget dan nurut sama kakaknya."
Jojo tersenyum lega. Jojo bersyukur memiliki Dira dan Bian yang mau menerima dia dan anak-anaknya apa adanya. Bahkan menyayangi mereka sepenuh hati.
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumsalam!"
Dede datang bersama Novi dan beberapa ibu bayangkari lainnya.
"Gimana, Jo? Kapan dimulai operasinya?" tanya Dede.
"Belum tau, De. Tunggu Adit datang."
"Wah, Ar... lu harus ikut masuk ke ruang operasi kalo gitu." usul Dede.
"Kenapa emangnya, De?"
Dede menatap Bian, lekat.
"Lu mau Adit yang ada di samping bini lu saat lahiran nanti?" tanya Dede.
Bian diam, nampak berpikir.
__ADS_1
"Gak bisa! Pokoknya gue harus ikut ke dalem!" jawab Bian, mantap.
Dede terkekeh geli. Tadi sengaja ia memancing kecemburuan Bian, dan ternyata berhasil. Jojo yang paham maksud Dede hanya menatap malas keduanya.
"Kak Juna, hasil USG kemarin udah tau belum jenis kelamin calon bayi kakak?" tanya Novi, asisten Dede yang juga sepupu Juna.
"Gak, Vi. Si adek gak mau nunjukkin jenis kelaminnya. Dia mau bikin surprise kayaknya."
"Apapun jenis kelamin anak kita, yang penting lahir sehat dan selamat ya, Yank!" kata Bian sambil mengelus pucuk kepala istrinya, mesra.
"Aamiin!" sambut semua yang menjenguk.
Taklama, Adit masuk ke dalam ruangan Jojo bersama seorang perawat.
"Gimana, Jun? Udah siap?" tanya Adit sambil memeriksa Jojo.
"Udah dari kemaren aku siapnya, Dit! Kelamaan tiduran pegel semua badanku!" keluh Jojo.
Adit tersenyum tampan.
"Tapi aku rasa kalo jojo liat kamu senyum, dijamin gak bakalan pegel dia, Dit!" timpal Dede sambil melirik Bian.
Dede pun terkekeh geli melihat Arbyan yang merengut kesal padanya.
Adit tersenyum melihat Dede.
"Kamu di sini juga, De?" tanya Adit setelah mereka bersalaman.
"Iya. Kebetulan suamiku satu kantor sama Arby."
"Kamu ingat Januar, Dit? Teman sekelas kami juga."
"Ooh, yang cuek tapi lucu itu ya?" Adit berusaha mengingat-ingat.
"He-eh. Lucu dan imut, sama imutnya kayak bininya." seloroh Jojo.
"Iya, dong. Soulmate gitu loh!"
"Iya. Soulder mateng, makanya item mutlak!" ceplos Bian sambil tergelak. Semua ikutan tertawa, geli.
"Paling demen lu ya ngatain gue, Ar. Ntar lu, gue bilangin Jan. Awas lu!" ancam Dede, kezel.
"Diih, maen ngancem. Gak takut gue!" tantang Bian.
"Udah, diem lu berdua. Mau lu, gue brojol duluan sebelum operasi?" Jojo menengahi Dede dan Bian dengan nada mengancam.
Dede dan Bian pun spontan diam, membuat yang lain senyam-senyum geli.
"Kalian sepertinya janjian ya, Jun, punya suami anggota Polisi. Kalian memang sahabat sehati." ujar Adit takjub melihat kekompakan Dede dan Jojo yang selalu solid dari masa SMA dulu.
"Niza juga suaminya anggota polisi, Dit. Satu angkatan juga sama suami kita." kata Dede.
"Benarkah?"
Dede, Bian dan Jojo mengangguk, kompak.
"Salut aku ama persahabatan kalian, sampai punya suami pun satu angkatan. Bener-bener kompak!"
"Jodoh itu namanya, Dit. Kalo boleh milih sih, Jojo maunya punya suami dokter kayak kamu." lagi-lagi Dede melirik Bian.
"Mau nelpon siapa, By?" tanya Jojo saat melihat Bian mengeluarkan ponselnya.
"Mau nelpon Januar, suruh bawa pulang bininya. Mancing emosi mulu dari tadi!" Bian menatap Dede, kesal.
"Selow, Ar! Peace, ya? Peace!" Dede mengacungkan dua jarinya, ngajak damai, seraya nyengir.
Bian mendengus, sebal. Adit menutup mulutnya, berusaha menahan tawa. Para ibu yang lain cekikikan geli melihat Dede ngerjain Bian.
"Baiklah. Setengah jam lagi kita masuk ruang operasi. Siap-siap ya, Jun?" Adit menepuk pelan tangan Jojo.
Jojo mengangguk, mantap.
__ADS_1
"Bismillahirrahmanirrohiim!"