
"Wahh! Kalo aja aku yang duluan ketemu kamu, pasti aku yang jadi suami kamu sekarang, Jun!"
"Enak aja, lu! Move on, dong. Inget ama bini lu di rumah."
Bian menangkup wajah Adit, yang refleks menepis tangan Bian, cepat.
Adit terkekeh, geli.
"Kalo liat Juna gue gagal move on, Ar!" sahutnya asal.
"Heh?!" Bian melotot.
Adit pun ngakak.
"Selamat ya atas pernikahan kalian. Dan selamat juga atas kehamilanmu, Juna!" Adit menyalami Jojo dan Bian.
"Tapi ingat ya, Jun. Karna kamu udah gak muda lagi, kehamilanmu harus tetap dijaga. Staminanya juga." nasehat Adit.
Jojo mengangguk, mengerti.
"Lu harus perhatikan istri lu, Ar! Jaga emosinya jangan sampai darah tinggi, pola makan dan kesehatannya juga. Kehamilan di usia Juna sangat rawan. Jadi pinter-pinter lu jaga Juna." nasehat Adit ke Bian.
"Pasti, Dit. Menjaga Jojo dan anak kami itu udah tanggung jawab gue."
Adit mengangguk, seraya mengacungkan jempolnya.
Sebulan kemudian,
"Selamat siang, Bu Arbyan!"
"Selamat siang!"
Jojo tersenyum ramah pada semua yang ada di dalam kantor.
"Bapak ada di dalam, Ben?" tanya Jojon pada Beni.
"Aa... a.. da!"
Jojo mengernyitkan dahinya. Dengan tenang dia berjalan menuju ruangan sang suami.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Jojo tersenyum manis. Sedangkan Bian nampak kikuk. Di depannya duduk anggun seorang wanita cantik nan seksi dengan dandanan yang menor.
"Wah... ada tamu ya, Pak Arbyan?" tanya Jojo tenang.
Si wanita cantik tersenyum manis dan mengulurkan tangannya pada Jojo.
"Saya Kristina, Bu. Temannya mas Arby."
Jojo mengangguk ramah dan membalas uluran tangan wanita itu.
"Kalo begitu saya permisi dulu, nona Kristina. Silahkan dilanjutin ngobrolnya."
Kristina mengangguk, tersenyum.
"Yank!" panggil Bian saat Jojo berbalik hendak keluar dari ruangannya.
Bian berjalan menghampiri Jojo, memeluk dan mengecup keningnya, lembut.
"Aku udah laper, nungguin kamu dari tadi. Kok kamu mau langsung pulang?"
"Maunya kamu apa, By?" Jojo memaksakan diri untuk tersenyum.
"Suapin!" rengek Bian manja.
"Ada temanmu loh, By!"
__ADS_1
"Tunggu sebentar, Yank!" Bian membuka pintu ruangannya.
"Andra!" panggil Bian.
"Ada apa, Pak?" Andra berdiri di depan pintu.
"Itu temanmu ajak pulang. Saya mau makan bersama istri saya." Bian menunjuk Kristina tanpa menoleh.
"Bilang sama dia, saya bukan temannya dan tidak kenal dengannya. Jangan pernah lagi perlihatkan wajahnya didepan saya ataupun istri saya!" kata Bian penuh penekanan.
Andra menelan ludahnya, kasar. Lalu ia masuk ke dalam dan menarik tangan Kristina, keluar dari ruangan atasannya.
"Kan udah gue bilang, jangan pernah lu berpikir gila! Lu bikin malu gue, tau gak?!" bentak Andra, garang. Dihempaskannya tangan Kristina, kasar.
"Maaf, Bang! Ku kira Pak Arby akan suka padaku. Ternyata tidak! Dia sama sekali tidak tertarik padaku, bahkan noleh aja gak."
Andra mencibir sinis.
"Kamu kira, kamu akan berhasil mendekati Pak Arby. Sudah banyak wanita yang lebih cantik dan seksi dari kamu yang coba mendekatinya, dan tidak satupun yang berhasil. Jadi, jangan pernah mendekati Pak Arby lagi kalo kamu gak mau lebih malu lagi!"
"Iya, Bang!"
Diruangan Bian,
"Yank, marah ya?" Bian menatap lekat wajah mungil istrinya.
Jojo menyuapi suaminya tanpa banyak bicara.
"Yank! Aku gak ngapa-ngapain ama tuh cewek. Jangankan ngomong, nengok aja aku gak!"
Jojo diam saja. Sesekali ia menegakkan tubuhnya, mengentangkan pinggangnya yang mulai terasa ngilu sejak kehamilannya memasuki usia tujuh bulan.
"Pegel ya, Yank? Aku pijitin, ya?" Bian memijat bahu istrinya. Tapi Jojo menolaknya.
"Yank?" Bian memegang kedua pipi Jojo, memaksanya untuk menatap mata Bian.
"Panggil wanita tadi!" kata Jojo, datar.
Bian diam menatap Jojo.
"Panggil... atau aku yang manggil..."
"Andra! Panggil temanmu tadi. Cepat!!!"
Tanpa ba bi bu, Andra berlari ke gerbang kantor, mengejar Kristina.
Tak lama, Andra kembali bersama Kristina.
Kristina berdiri menunduk, tak berani beradu pandang dengan Arbyan dan Jojo.
"Benar nona temannya suami saya?" tanya Jojo, dingin.
"Eng... enggak, Bu!" jawab Kristina dengan terus menunduk.
"Terus... tadi kamu bilang kamu teman suami saya itu..?"
"Sa... saya... bohong, Bu! Pak Arby gak kenal saya. Saya sendiri yang memaksa datang menemui Pak Arby tanpa diketahui Andra."
Jojo berdiri dihadapan Kristin dengan tangan berlipat di depan dada.
"Saya akan ingat wajah cantik anda. Jangan pernah berpikir untuk mendekati apalagi berniat menggoda suami saya, kalau anda tidak mau menyesal telah mengenal saya!"
Kristin diam menunduk, tak berani menentang mata Jojo yang memerah, tajam, menatapnya seolah ingin memutilasi tubuhnya.
Andra jadi ikut bergidik ngeri.
"Buseett. Ngeri juga istrinya Pak Arby! Perasaan dulu dia selow banget!" gumam Andra dalam hati.
Lain dengan Andra yang ngeri melihat kegarangan istrinya, Bian justru tersenyum senang.
__ADS_1
"Hurai!!! Bini gue cemburu!!! Asek! asek! Bini gue cembokur!!!" hati Bian bersorak girang.
"Ma... af! Maafkan saya! Saya janji tidak akan pernah menemui suami ibu lagi. Sekali lagi maafkan saya."
"Hm. Bagus!" Jojo mengangguk.
"Sekarang kamu boleh pergi, dan jangan pernah kembali ke ruangan ini lagi!"
Masih dengan menunduk, Kristina buru-buru keluar dari ruangan Bian.
"Aduh!"
Jojo hampir tersedak, menahan tawanya, melihat Kristina kejedot pintu.
Bian dan Andra spontan tergelak melihat Kristina yang langsung lari sambil menutup wajahnya, menahan malu.
"Andra!" panggil Jojo.
deg!
Andra berdiri kaku ditempatnya.
"Maaf, Bu!" Andra menunduk, takut.
"Jangan minta maaf! Saya sama sekali gak marah sama kamu." ujar Jojo, kalem.
"Terima kasih, Bu!" senyum Andra tampak sumringah. Bian ikut lega mendengarnya.
"Sekali-sekali, kamu ajak teman-teman cowok kamu yang keren, yang cakep, yang sixpack ke mari. Lumayan, buat nyegerin mata saya."
"Yank?!" sentak Bian.
Bian mengejar Jojo yang melangkah tenang, keluar dari ruangan Bian tanpa menggubris pelototan Bian yang membuat dua bola matanya nyaris keluar.
Andra dan rekan-rekannya melongo melihat drama yang terjadi di depan mereka. (udah kayak drakor aja, ya?😋)
"Yank!"
Bian memegang tangan Jojo, menahan langkahnya agar berhenti. Jojo berdiri membelakangi Bian.
"Aku harus apa biar kamu percaya sama aku, Yank?"
Jojo masih diam membelakangi Arbyan.
"Ayo kita pulang!" Bian menarik pelan tangan Jojo berjalan menuju parkiran.
"Naik!" perintah Bian.
Jojo naik dengan wajah terus menunduk.
Sesampainya di rumah, Jojo turun dan bergegas masuk ke dalam rumah tanpa menunggu Arbyan.
tok tok tok
"Yank!"
Bian memanggil Jojo sambil mengetuk pintu kamar yang di kunci Jojo dari dalam.
"Buka pintunya, Yank! Kalo gak, aku dobrak!"
Kletekk!
"Kita udahan aja ya, By! Aku gak kuat kayak gini. Capek!" keluh Jojo.
"Maksud kamu apa, Yank?"
"Aku balik aja kerumahku."
"Apa?!!"
__ADS_1