
"Pak Arbyan!"
"Ya!"
"Arby?"
"Iya?"
Kedua mata sama-sama saling menatap, mengernyit seolah mencoba mengingat, dan...
"Lu...Arbyan temen gue SMA, kan?" ekspresi terperangah, takjub, campur terpesona, membuat wanita itu melongo memandang sosok tampan didepannya.
Bian yang saat itu mengenakan seragam polisi lengkap hanya mesem-mesem, geli melihat tingkah mantan teman SMAnya.
"Saras, apa kabar?"
Bian mengulurkan tangannya.
"Baik, Ar. Gue baik!" Saras menyambut salam Bian.
"Lu...gimana kabarnya? Udah merit? Anaknya berapa?"
Bian tersenyum kalem.
"Nanyanya satu-satu, Bu. Bingung gue mau jawab yang mana." ujarnya geli.
Saras nyengir.
"Sori, Ar! Gue gak nyangka ketemu lu disini? Kira'in udah lupa sama temen lama."
"Gak. Masak sama temen lupa."
Saras mengangguk setuju.
"Totalnya tiga juta dua ratus tiga puluh ribu, ya?" Saras menyebutkan nominal pajak mobil yang harus Bian bayar.
Bian pun menyodorkan uang tunai.
"Lu tugas dimana sekarang, Ar?" tanya Saras sambil tetap sibuk menghitung.
"Di sini juga. Baru pindah kemarin dari kota T."
"O."
Bian terdiam. Jawaban Saras mengingatkannya kembali pada seseorang. Jojonya.
"Ras, lu pernah ketemu Jojo, gak? Gimana kabarnya dia? Lu tau dia tinggal dimana sekarang?" tanya Bian borongan.
Saras menghentikan kegiatannya. Menatap Bian sebentar, lalu kembali asik dengan kerjaannya.
"Gue pernah ketemu dia di tempat pemandian di****. Dia bareng keluarga besarnya. Abangnya, Rio juga ada waktu itu. Kata Jojo sih dia tinggal satu kota dengan Rio di...di...kota T."
Bian diam.
"Lu kan tugas di sana, Ar. Masak gak pernah ketemu Jojo dijalan atau dimana, gitu?" tanya Saras, heran.
Bian menggeleng lemah.
"Gak pernah. Kota T luas, Ras. Gue di sana juga jarang keluar sih, paling kalo lagi jaga aja."
"Gak jodoh kali lu sama Jojo, Ar." sahut Saras yang tidak tau betapa Arbyan terpuruk mendengarnya.
Bian meringis, kecut.
"Nih, Ar, tanda bukti lunasnya. Dan ini STNK mobil lu."
"Makasih, Ras."
"Ntar gue tanya sama temen yang lain ya, Ar. Kali aja mereka pernah ketemu Jojo." kata Saras ketika Bian bangun dari duduknya.
Bian mengangguk.
"Salam buat Jojo ya, Ras, kalo lu ketemu sama dia." ucap Bian, penuh harap.
Saras mengangguk seraya mengacungkan jempolnya.
Empat tahun kemudian,
__ADS_1
"Kak, Bang Rio mana?" tanya Jojo ketika melihat kakak iparnya sedang asik makan dengan gaya favoritnya, duduk dengan mengangkat satu kakinya ke atas kursi yang ia duduki sambil memeluk kakinya.
Saat itu Jojo, suami dan ketiga anaknya sedang berada di rumah orang tuanya. Begitu juga dengan abang Jojo, Rio, datang bersama keluarganya. Mereka biasa kumpul bareng kalau saat lebaran seperti sekarang.
"Ke pantai ******. Katanya ada reunian sekolahnya."
Jojo mengangguk, mengerti.
"Eh, Jun."
Lina menghentikan makannya. "Bukannya kamu satu sekolah ya sama abangmu?" tanyanya.
"Kalo SMA, iya. Kenapa emangnya, Kak?"
"Kok kamu gak ikut reunian? Ini kan reunian SMA Bang Rio, berarti SMA kamu juga, Jun."
Jojo diam.
"Mungkin cuma angkatannya abang aja, Kak." sahut Jojo.
Tiba-tiba ia pun teringat teman-reman dan sahabatnya di sekolah dulu.
"Ini reuni akbar. Semua alumni kumpul. Masak sih kamu gak tau? Dion aja tau. Dia emang gak ikut karna dia mudik ke rumah mertuanya."
Dion, adik Jojo yang juga sekolah di SMA yang sama dengan Rio dan Jojo.
Jojo terdiam lagi.
"Kok Bang Rio gak ngasih tau gue ya kalo ada reuni SMA?"
"Aku kan kudet, Kak, gak kayak bojomu yang eksis narsis itu." sindir Jojo.
"Hp aja aku gak punya."
Lina manggut-manggut setuju saat Jojo menyebut suaminya narsis dan selalu aktif disosmednya.
"Awas lu, Bang. Pulang nanti gue asep lu ampe gosong!" ancam Jojo, ganas.
Suara mobil masuk ke halaman rumah orangtua Jojo. Tak lama Rio pulang dengan wajah cerah.
"Enak ya, jalan-jalan gak ngajak aku." sang istri menanti dengan tampang cemberut.
"Tadi aku mau ajak Dedek, tapi gak mau." Rio menunjuk ke arah putri bungsunya.
"Beneran tadi bapakmu ngajak kamu, Dek?" tanya sang ibu pada anaknya.
"Iya. Tapi Dedek gak mau. Habis temen-temen bapak cowok semua, udah tua lagi. Dedek ntar berasa jadi bunga diantara madu yang udah bangkotan semua." jawab si Dedek, kalem.
Sang ibu terkekeh geli mendengar ucapan anak bungsunya yang mulai ABG itu.
"Rugi kamu gak ikut bapak, Dek. Temen-temen bapak tadi pada nanyain kamu, mau kasih kamu duit." kata Rio.
Memang Rio sering mengajak putrinya ikut bersamanya bila ia sering kongkow bareng teman-teman lamanya. Makanya teman-teman Rio sebangsa Dwi, Ekky, Fahmi, juga Evan dan Juan, kenal dan akrab dengan Lola, putri Rio.
"Bang, tadi beneran reuniannya seluruh alumni SMA kamu?" tanya Lina pada suaminya.
"Iya. Kenapa emangnya? Kamu gak percaya sama aku?" Rio menatap tajam kearah istrinya.
"Bukan gak percaya, tapi..."
"Laki 'gila' kayak lu emang pantes dicurigai, Bang!"
Jojo keluar dari dalam kamarnya, diikuti tiga prajurit kecilnya dan suaminya.
"Lu kebangetan banget ya, Bang! Reunian gak bilang-bilang...Malu lu ngajak gue?!" Jojo menatap abangnya, marah.
Rio bungkam. Tak berani bicara. Dia tau adiknya yang satu ini mudah tersinggung dan selalu ngamuk kalo lagi marah.
"Padahalkan gue juga pengen ketemu temen-temen SMA gue. Hiks!"
Jojo menunduk sedih.
"Bukannya gak ngajak elu, Jun. Kalo lu ikut, nih prajurit siapa yang jagain. Masak mau ikut semua?"
Rio jadi salah tingkah.
"Gue kan bisa pergi ama laki gue naik motor. Mirza bisa jagain anak gue. Lu gak usah malu! Gue gak bakalan naik mobil bagus lu!" sahut Jojo, ketus.
__ADS_1
Rio diam sambil menghela napas berat. Dia tau adiknya ini sudah tersinggung dengan maksudnya tadi.
"Iya, maaf! Lain kali..."
"Gak usah lain kali! Gue emang gak kaya kayak lu! Gue bisa ketemuan sendiri ama temen-temen gue tanpa ketemu lu di sana, biar lu gak malu!" sentak Jojo.
Kemudian ia berlalu, pergi meninggalkan ruang keluarga tempat mereka biasa kumpul.
"Tuh kan, Bang. Jadi ngambek deh si Juna." Lina mengomeli suaminya.
"Biarinlah, Dek. Ntar juga baikan lagi." sahut Rio, santai. Dia paham sifat Jojo yang tidak pernah mendendam.
"Ya udah. Kalo ntar Juna ngambek beneran, kamu bujuk sendiri aja jangan nyuruh-nyuruh aku." sahut Lina, kesal dengan sikap cuek sang laki.
Mirza hanya diam melihat pertengkaran istrinya dengan sang abang sambil menjaga putrinya yang baru berumur dua tahun lebih. Sedangkan Jojo sudah kabur entah kemana naik motor bersama dua anak bujangnya.
Ditempat reunian siang tadi.
Semua alumni yang datang berkumpul dengan membawa keluarga mereka masing-masing.
Ada yang saling berpelukan hangat, melepas kerinduannya pada sahabatnya. Ada yang bertangis-tangisan. Ada yang tertawa gembira, dan berbagai ekspresi tercurah di sana.
Bian juga hadir bersama putri semata wayangnya. Dia berharap bisa bertemu seseorang yang selama ini sangat dirindukannya.
"Hai, Ar!"
Yayan muncul dengan wajah sumringah, mendekati Bian.
"Sama siapa, lu?" tanyanya.
"Anak gue!" Bian menunjuk putrinya yang berumur tiga belas tahun.
"Salim Om Yayan, sayang!" kata Bian pada putrinya.
Sang putri pun mencium punggung tangan Yayan, dan pria itu mengusap kepala putri Bian sambil tersenyum lembut.
"Bini lu mana?" tanya Yayan saat tidak melihat sosok wanita di samping Bian.
"Udah meninggal!"
"Maaf, Ar!"
Bian tersenyum.
"Gak pa-pa. Udah takdir." ujarnya.
Yayan meringis, tak enak hati.
"Eh, gabung yuk sama yang lain. Tuh, di sana teman-teman angkatan kita."
Yayan menunjuk ke arah segerombolan orang sedang duduk sambil bercengkrama, akrab.
"Apakah kamu ada di sana, Yank?"
Bian mengikuti Yayan sambil menggandeng tangan putrinya.
"Yan!" panggil Bian, pelan.
Yayan pun menoleh.
"Jojo datang gak?" tanyanya.
Yayan mengedarkan pandangannya, mencari sosok Jojo.
"Belum datang kayaknya, Ar. Kalo abangnya, Rio tuh di sana."
Yayan menunjuk ke arah Rio yang asyik berbincang akrab dengan sahabat-sahabatnya.
"Apa Jojo tau tentang reuni ini, Yan?"
"Harusnya sih tau. Rio juga datang, berarti Jojo tau."
Bian mengangguk.
"Lu belum pernah ketemu Jojo sejak kita perpisahan kemarin, Ar?" tanya Yayan, heran melihat Bian yang sepertinya sangat penasaran dengan kehadiran Jojo di acara reuni.
Bian menggeleng.
__ADS_1
Yayan makin mengkerutkan dahinya.
"Ada apa dengan Arbyan?"