Kaukah Gadis Tomboyku?

Kaukah Gadis Tomboyku?
Masih Tentang Dede


__ADS_3

"Assalamualaikum! Bu, Dede pulang."


"Wa'alaikumussalam!" ibu Dede membuka pintu rumahnya.


"Loh, banyak amat barangmu, De. Mau pindah apa..."


"Ibu!!!"


Dede menghambur memeluk ibunya dengan tangis yang tidak mampu ia bendung lagi. Dede pun meraung dipelukan ibunya.


"Ada apa, Nak? Tumben kamu histeris seperti ini." ibu mengusap-usap punggung Dede dengan lembut.


"Dede udah gak sanggup lagi bertahan, Bu. Maaf kalo Dede memilih pisah dengan suami Dede."


Dede mencurahkan semua isi hatinya pada ibunya. Meski begitu, Dede tidak mengungkapkan apa yang sudah dilakukan suaminya terhadapnya. Biarlah rahasia rumah tangganya hanya ia dan suaminya, juga Allah saja yang tau.


"Baiklah, Nak. Semua keputusan ada ditanganmu. Ibu tidak bisa melarangmu." kata ibu, bijak.


"Tapi bapak..."


"Bapak sudah tau semuanya, Nak. Bapak juga pernah memergoki suamimu sedang selingkuh tapi tidak berani memberitahumu. Bapakmu malu dengan pilihannya yang keliru, dan menyesal sudah menjodohkanmu dengan Erza. Maafkan ibu dan bapak ya, Nak?" raut menyesal tampak di wajah tua ibu.


Dede menatap dalam wajah ibunya, lalu kemudian memeluknya erat.


"Dede tidak pernah menyesali pernikahan Dede dengan mas Erza, Bu. Meski mungkin jodoh kami hanya sampai di sini." Dede menenangkan perasaan bersalah ibunya.


"Mudah-mudahan kamu segera bertemu jodohmu yang sebenarnya, Nak. Ibu selalu berdo'a untuk kebahagiaanmu dan juga Bella." ujar ibu, sungguh-sungguh.


Dede tersenyum mendengar ucapan ibunya.


"Baru juga mau mengajukan proses cerai, masak udah ketemu jodoh, Bu. Ada-ada aja ibu ini." ujar Dede, geli.


"Kapan jodoh, rezeki, maut datang kita kan gak tau, Nak. Semua sudah diatur sama Allah." sahut ibu.


Dede mengangguk, setuju.


"Mudah-mudahan aku diberikan jodoh yang lebih baik dari yang sebelumnya. Aamiin!"


Di tempat lain,


"Apa ini kesempatanku untuk memilikimu, De?" Januar menatap foto Dede saat masih berseragam SMA. Foto yang diambilnya secara diam-diam saat mereka masih sekolah dulu.


Sudah sejak pertama melihat Dede rasa suka timbul di hati Januar. Dan rasa itu semakin tumbuh menjadi cinta ketika Januar melihat sikap Dede yang sangat menarik perhatiannya.


Dede yang manis, lincah, dan pintar, meski sedikit ceroboh dan jahil.


Januar yakin benar kalo kejahilan Dede karna tertular dari Jojo, sahabatnya.


flashback on


"De, ke kantin yuk?!"


Niza menarik tangan Dede yang sibuk menjahili Puput yang sedang tidur ngorok di pojok kelas.


"Bentar, Za. Gak cantik Puputnya kalo gak didandanin yang bener."


Lima menit kemudian,


"Selesai. Puput udah cakep sekarang." Dede tersenyum geli melihat hasil karyanya di wajah imut Puput.


Hihihi. Niza cekikikan, menahan tawanya saat melihat wajah imut Puput udah mirip ondel-ondel.


"Yuk Za, kita ke kantin. Gue udah laper." Dede berjalan keluar kelas diikuti Niza yang masih cekikikan geli.


Hoaemm! Puput menguap, bangun dari tidurnya. Selama jam pelajaran tadi ia tertidur tanpa disadari oleh guru yang mengajar.


Uhukk! Uhukk!


Januar yang sedari tadi memperhatikan Dede mendadani Puput, tersedak kaget saat melihat wajah Puput. Januar pun mengulum senyum, menahan tawanya.


Puput memandang Januar, heran. Yang dipandang pura-pura sibuk dengan bacaannya.


Puput lalu mengambil cermin kecil di laci Niza. Dan,


"Dedeee jeleeeeeekkkkk!!!" teriakan stereo Puput pun menggema.


Januar pun ngakak, tak mampu menahan tawanya lagi.


Pernah juga suatu hari Januar melihat Dede dalam mode serius. Saat itu Dede fokus dengan gambar kartun yang dibuatnya.


"De, gue maunya gambar Sailormoon dan Tuxedo bertopeng ya?" pinta Jojo.


"Ini lagi gue gambar, Jo."


Pensil di jari lentik Dede berulir indah di atas buku gambarnya.


"Yang cakep ya, De?"

__ADS_1


"He-eh."


"Bunga mawarnya jangan lupa!"


"Iya."


"Jarinya yang lentik."


"Hm."


"Idungnya..."


"Mingkem gak lu!" Dede menunjuk bibir Jojo dengan pencilnya.


"Gue colok tuh bibir kalo ngoceh terus ya?" ancam Dede, kesal karna Jojo sengaja terus menjahilinya.


Jojo nyengir.


"Peace, De! Peace!" Jojo mengacungkan dua jarinya pada Dede.


"Pis pis pis..."


Dede mendelik, sewot.


"Nah kan...gue jadi pengen pipis beneran." Dede pun bergegas lari ke toilet.


Hahahahaaaa!


Januar ngakak.


Jojo menyipitkan matanya, melihat cowok manis itu, heran.


"Sori, Jo. Kelepasan." kata Januar saat mendapati tatapan curiga Jojo padanya.


"Apaan?" tanya Jojo bingung.


"Gue gak sengaja kentut tadi." Januar nyengir, malu.


"Sialan lu!"


Jojo melempar dompet tempat pensil milik Dede ke arah Januar yang langsung kabur sambil ngakak.


flashback off


Bagi Januar, dimatanya sosok Dede sangat lucu dan imut. Belum pernah ada gadis yang begitu sangat menarik hatinya. Hanya Dede! Dari dulu, hingga saat ini.


"Dede?"


"Januar!"


Bola mata Januar nyaris keluar dan ia pun hampir kehabisan nafas ketika tiba-tiba Dede menghambur memeluknya erat. Tangisnya pun pecah. Januar jadi salah tingkah.


Siang itu keduanya bertemu di Pengadilan Agama di kota itu.


"Lu napa nangis, De?"


Januar memberanikan diri membalas pelukan Dede. Diusapnya kepala Dede yang tertutup jilbab.


"Gue bahagia, Jan. Akhirnya gue bebas sekarang." Dede jingkrak-jingkrak, masih dengan memeluk Januar.


"Inget umur, De. Udah hampir jadi mbah-mbah masih jingkrakan kayak bocah." goda Januar.


Dede pun melepaskan pelukannya. Senyum cerah terukir di wajah mungilnya.


"Sori kalo gue meluk lu, Jan. Gue bener-bener lagi bahagia sekarang." ujar Dede. Pipinya sedikit merona, malu.


"Gue seneng kalo lu bahagia, De." ucap Januar tulus.


Senyum kikuk pun tampak di wajah tampannya karena sedari awal Dede memeluknya tadi, jantung Januar seakan berdegup sangat kencang.


"Gue juga seneng lu peluk kayak tadi, De. Gak lu lepasin juga gak pa-pa. Hee!" sorak batin Januar, girang.


"Napa muka lu merah padam, Jan? Habis panas-panasan ya?" tegur Dede, membuyarkan lamunan Januar.


"Eh? Ah...eng...enggak kok." Januar salting.


"Lu... napa lu di sini, De? Maksud lu udah bebas tadi apa? Lu ada masalah ya?" Januar memberondong Dede dengan pertanyaan.


Dede tersenyum lagi, membuai lamunan Januar kembali.


"Senyummu De, bikin adem hati babang Jan, tau gak?!" imajinasi Januar berkelana.


"Tadi selesai putusan sidang perceraian gue, Jan. Sekarang gue gak perlu cemas dan takut lagi. Hak asuh anak juga jatuh ke tangan gue." ungkap Dede.


Dan cerita tentang rumah tangga Dede dan Erza yang sudah terjalin hampir empat tahun pun mengalir lancar dari mulut Dede.


Entah kenapa Dede bisa mencurahkan seluruh uneg-uneg yang dipendamnya selama ini seorang diri pada Januar, mantan teman SMA-nya.

__ADS_1


Saat Dede tersadar, ia pun salah tingkah.


"Maaf ya, Jan. Gue jadi curhat ke elu!" wajah Dede tampak menyesal.


"Pasti lu kesel ya? Maaf gue udah ganggu waktu kerja lu!" ucap Dede, merasa bersalah.


"Gak pa-pa, De. Santai saja." senyum Januar menenangkan Dede.


"Makasih ya, Jan. Lu udah mau denger cerita gue yang membosankan ini. Gue seneng ketemu lu." ujar Dede, jujur.


"Duh, mata ini...Pengen gue bawa pulang ke rumah deh yang punya mata indah ini!" batin Januar meronta, meminta.


"Gue juga seneng ketemu lu lagi, De. Kapan pun lu mau curhat, gue siap kok dengerin lagi." ujar Januar, kalem.


"Serius, Jan?" mata bening milik Dede berbinar senang.


Januar mengangguk.


"Anytime. I am ready to listen you when ever it is!" sahut Januar, mantap.


Tak sadar, Dede meraih tangan Januar dan menggenggamnya.


"Makasih ya, Jan. Gue kira, setelah berpisah dengan Arby dan Puput gue akan kehilangan sahabat. Makasih udah perhatian sama gue." ujarnya, tulus.


"Sama-sama, De. Gue juga seneng melakukannya." Januar balas menggenggam tangan Dede.


Tiba-tiba,


"Sayang!"


Erza datang dan langsung menarik tangan Dede dari Januar.


"Kita rujuk ya, De? Maukan?" Erza memohon hingga berlutut dihadapan Dede sambil menangis, menghiba.


"Maaf, Mas! Hatiku udah mati buat Mas!" ujar Dede pelan. Ditariknya tangannya dari genggaman Erza.


"Apakah dia sudah mengisi hatimu, De?" Erza menunjuk Januar dan menatap pria tampan itu, tajam.


"Apa kelebihannya dibanding aku, De? Apa dia lebih tampan atau lebih kaya dariku? Apa pekerjaannya sebanding denganku yang seorang PNS?" mata Erza menatap sinis pada Januar.


Dia bermaksud mempermalukan Januar dengan menyebutkan status kepegawaiannya di sebuah instansi pemerintah di kota itu.


Januar tersenyum memandang Erza dengan tangan bersilang di depan dadanya.


Sikapnya sangat santai meski ia tau pria didepannya sudah sangat ingin memberinya bogem mentah.


"Jangan pernah mencoba menghina temanku, Mas. Dia jauh lebih baik darimu. Aku tidak peduli apapun pekerjaannya ataupun seberapa banyak hartanya. Kebaikannya sudah cukup bagiku." sahut Dede.


"Bulshit! Apa kamu rela memberinya makan kalo ternyata dia seorang pengangguran, De? Huh, memalukan sekali kalo seorang pria hanya bisa numpang makan dengan seorang wanita." ejek Erza, menyindir Januar.


Yang disindir hanya nyengir, memamerkan giginya yang putih berderet rapi.


"Setidaknya dia gak pernah menyakiti hati dan juga fisik aku, Mas. Dia juga sangat menghormatiku. Tidak seperti anda, Bapak Erza Atmaja SH yang budiman." gantian Dede yang menyindir Erza, membuat darah pria itu mendidih, geram.


"Dasar kamu wanita tak tau di untung! Seharusnya kamu bersyukur punya suami mapan sepertiku. Jangan pernah menyesal dan minta aku balik lagi sama kamu!" Erza sangat emosi karna Dede menjatuhkan harga dirinya di depan laki-laki yang tidak ada apa-apanya itu.


"Maaf Pak Kapolres, semua sudah siap. Mari kita berangkat."


Seorang polisi berpangkat Bripda, ajudan Januar, datang menghampiri mereka setelah memberi hormat pada Januar.


"Oh ya. Tunggu sebentar."


Januar memberikan ponselnya pada Dede.


"De, tolong masukkan nomor lu. Gue masih pengin ketemu lu lagi." pinta Januar.


Dede pun mengetikkan nomor telponnya di ponsel pintar milik Januar.


"Tuh, nomor gue. Ntar lu misscall gue aja."


"Siip!"


Januar mengacungkan jempolnya.


"Gue duluan ya, De?" pamit Januar.


Dede mengangguk, dan membalas lambaian Januar. Senyumnya merekah, melihat punggung Januar yang mulai menjauh.


"Gue jadi kangen Puput dan Arbyan. Apalagi Jojo. I miss you, guys! Hiks!"


Dede pun melenggang santai meninggalkan gedung pengadilan, tanpa menoleh lagi ke mantan suaminya yang masih terlihat shock saat tau siapa laki-laki yang tadi dihinanya.


Angkuh yang berakhir malu.😂


"Bussett, Kapolres ternyata. Gak ada artinya gue yang hanya remahan peyek!" batin Erza, kecut.


author : Goodluck to you, Januar. Ampe dilalerin tu mulut si Erza gara-gara shock. Makanya Erza, jangan sombong jadi orang. Di atas langit masih ada langit.✌💪

__ADS_1


__ADS_2