Kaukah Gadis Tomboyku?

Kaukah Gadis Tomboyku?
18.


__ADS_3

Sejak malam itu, Jojo dan Adit tidak bersikap canggung lagi bila bertemu di sekolah. Seperti pagi ini, Jojo baru datang ke sekolah dan bertemu Adit dengan teman sebangkunya, yang juga teman kecil Jojo bernama Hendra.


"Pagi, Juna!" sapa Adit.


"Pagi juga, Adit. Hendra."


Adit menoleh.


"Kalian saling kenal ya?" tanya Adit pada Hendra.


Hendra mengangguk.


"Kami dulu satu kampung." jawab Hendra.


"iya. Sama Putra dan Hen black juga Mono." timpal Jojo.


Adit mengangguk mengerti.


Mereka pun berpisah di depan kelas XIA. Jojo berjalan kekelasnya dengan santai. Tiba-tiba,


"Heh! Lu yang namanya Juna Andini alias Jojo, anak tengil kelas XA?!" dengan tampang sengak, si putri salju mencegat Jojo.


"Ada perlu apa lu cari gue?" tanya Jojo, santai.


"Lu jangan belagu jadi anak baru. Lu gak ada cantik-cantiknya dibanding gue. Badan lu aja kerempeng gini, gak ada isinya." ejek Rosmalia Putri alias si putri salju.


"Sialan, Putri salju. Pagi-pagi udah ngajak berantem. Pengen dikempesin kayaknya tuh badan."


"Maksud lu apa ngatain gue kayak gitu? Ngerasa bahenol lu?" sengaja Jojo menyindir body bundar putri salju.


"Setidaknya gue lebih semok dari elu yang kayak emping, tipis. Hahaha." ejek Rosmalia lagi.


Jojo menyeringai sinis.


"Badan kayak motor grader gitu lu bilang semok? Gak punya kaca lu di rumah?" Jojo balas mengejek.


"Heh, triplek! Lu gak ada sopan-sopannya ya sama senior? Gue ini kakak kelas lu, inget itu." bentak Ros sewot karena Jojo terus membalas mengejeknya.


"Jangankan senior, lu jadi nenek-nenek juga gak bakalan gue sopan ama lu. Sape lu?" sahut Jojo dengan nada menantang.


"Lu nantangin gue ya?!"


"Siapa takut?!"


"Bener-bener lu ya?" Ros marah dan hendak menampar Jojo, tapi dengan cepat Jojo menghindar sehingga tubuh gempal Ros nyusruk jatuh dengan suara berdebum cukup keras.


Beberapa siswa yang berada di tempat itu cekikikan menahan tawa.


"Bantuin woy, jangan diketawain. Ntar jatoh pamor putri saljunya." celutuk Jojo membuat tawa pun pecah seketika.


"Sialan lu, triplek! Tunggu pembalasan gue." ancam Ros kesal. Dua orang temannya membantunya berdiri.


"Terbang ah, mumpung badan gue ringan kayak triplek." seloroh Jojo.


Dengan gaya bak seekor kupu-kupu yang terbang bebas, Jojo memasuki kelasnya.


"Benar-benar cewek langka."


Di depan pintu kelas XIA, Adit tersenyum melihat Jojo mengerjai Ros.


Jam pertama kosong karena Pak Anas tidak masuk mengajar di kelas XA. Niza duduk menyempil di bangku Jojo.

__ADS_1


"Jo, temenin gue ketemu Jati, yuk?" ajak Niza.


"Jati?"


Jojo mengernyitkan dahinya. Baru kali ini dia mendengar nama itu.


"Teman sekelas Akhew. Jadi sekalian lu ketemu Akhew." bujuk Niza.


"Ogah!" Jojo menggeleng cepat.


"Ayolah Jo, temenin gue. Ntar gue beli lu silverque*n yang paling gede. Gue janji." ujar Niza.


Mata Jojo pun bersinar. Niza tersenyum. Pancingannya mengena. Jojo memang cepet luluh kalau mendengar kata 'coklat'.


Dan akhirnya sepuluh menit sebelum bel istirahat pertama berbunyi, Niza dan Jojo udah nongol di belakang kelas XIA. Saat itu kelas XIA juga lagi jam kosong.


"Psst. Jati. Mana yang namanya Jati Waluyo?" tanya Jojo pada seorang cowok yang duduk didekat jendela, dimana Niza dan Jojo berdiri.


Cowok itu menoleh.


"Dit, cewek lu nyari'in, nih!" teriak cowok itu.


Hah! Jojo dan Niza saling pandang. Sedetik kemudian, Niza tergelak. Sedangkan Jojo, wajahnya merah padam ketika menyadari seluruh mata yang ada dikelas itu tengah memandang kearahnya. Termasuk mata sipit Adit.


Jojo pun salah tingkah.


"Sialan, lu. Gue cari Jati Waluyo, dodol!" sungutnya kesal pada cowok yang tadi memanggil Adit.


Cowok itu nyengir kuda.


"Jati, ada yang nyari'in lu." kali ini tuh cowok dalam mode pelinge, alias baik.


"Buseeettt! Ini sih si Buan, jauuuhhh!" celutuk Jojo, tanpa sadar.


Niza menyenggol keras tubuh mungil Jojo.


"Jangan keras-keras ngomongnya. Gak enak kedengeran yang lain." sergah Niza, pelan.


"Dih, bodo amat. Orang gue ngomong bener kok, si Jati emang keren."


"Jujur lu, ya?!" tau-tau Jati sudah berdiri dibelakang Jojo dan Niza.


"Bohong, awas lu!" ancam Jati sambil mengacungkan bogemnya.


"Lah...suka-suka gue dong. Weee!!!" Jojo menjulurkan lidahnya, mengejek Jati membuat cowok tampan itu tertawa geli.


Kalo Niza, jangan ditanya. Sejak Jati datang, cewek cantik itu cuma mesam-mesem, malu campur grogi.


Mereka bertiga lalu ngobrol di kantin karena bel istirahat pun sudah berdering. Bian, Buan dan Puput datang dan ikut bergabung dengan Jojo dkk.


"Kok belum makan, Jo?" tanya Bian ketika meja Jojo, Niza dan Jati masih kosong.


"Belum sempet. Baru datang tadi."


"Gue pesen ya?" tawar Bian.


Jojo mengangguk.


"Nasi goreng apa siomay?"


"Siomay aja."

__ADS_1


"Lu, Za?" tanya Bian ke Niza.


"Biar gue aja yang pesen." kata Jati. "Kamu mau makan apa, Niz?" tanya Jati ke Niza.


"Aku sama'an sama Jojo aja."


"Siomay?"


"He-eh!" Niza mengangguk.


"Tunggu bentar ya?" kata Jati.


Niza mengangguk tersenyum. Jati dan Bian pergi memesan makanan mereka.


Jojo tersenyum senang. Dia ikut senang melihat Niza bahagia.


"Lagi pdkt sama Jati ya, Za?" tanya Buan ingin tau.


Niza diam.


"Lu yang ngenalin ya, Jo? tanya Buan pada Jojo.


"Gak. Gue aja baru kenal Jati tadi." jawab Jojo.


"Adiba kali yang ngenalin ya, Za?" gantian Puput yang nanya.


"Gue yang minta Diba ngenalin gue sama Jati." jawab Niza jujur.


"Lu suka ya sama dia?" tanya Buan dengan mata yang menatap tajam ke arah Niza.


Si cantik mengangguk dan tersipu, malu-malu.


"Tipis dah, harapan gue." batin Buan mendesah galau.


Puput menepuk pelan bahu Buan, seolah tau apa yang ada dipikiran cowok tampan itu.


"Nih, Jo. Siomay lu."


Bian dan Jati kembali dengan membawa makanan yang mereka pesan. Bian duduk di depan Jojo, sedangkan Jati duduk di sebelah Niza.


"Makan dulu, Niz." kata Jati.


Niza mengangguk.


"Tolong ambilin gue sambel, Wan." kata Niza pada Buan.


"Gak usah makan yang pedes, nanti sakit perut." cegah Buan.


"Gak seru kalo gak pedes, Wan!"


"Jojo aja makannya gak pake sambel. Liat tuh, makannya lahap." tunjuk Buan ke arah Jojo yang cuek memakan siomaynya tanpa ditambahi saos atau yang lainnya.


"Jojo emang gak suka pedes, tapi gue sukanya pedes. Gak enak kalo gak pake sambel." Niza mulai merajuk.


"Udah, sambelnya dikit aja gak usah banyak- banyak." Jati mengisi satu sendok sambal ke dalam siomay Niza.


"Makasih ya, Jati. Kamu baik banget." Niza tersenyum manis.


Buan membuang pandangannya ke arah lain. Puput, Bian dan Jojo saling pandang.


"Karma masih berlaku. Dan sekarang karma berlaku pada sang playboy sejati. Robuan."

__ADS_1


__ADS_2