
Jojo menatap nanar wajah tampan didepannya yang tersenyum manis menyambut kedatangannya pagi itu.
"Yank, aku kangen banget..."
Brakk!!!
"Astaghfirullah!"
Bian menatap bingung wajah manis yang amat dirindukannya sejak kemarin. Jojo menghempaskan tasnya di atas meja dan membuat Bian terperanjat kaget.
"Yank? Kamu kenapa?" tanya Bian, pelan. Tatapan tajam Jojo membuatnya bergidik ngeri.
"Jangan-jangan..."
"Sejak awal sudah aku bilang kan, jangan pernah bermain dengan perasaan. Dan sekarang kamu melakukannya, By."
"Aku melakukan apa, Yank?"
"Kamu munafik, By. Kamu bilang kamu gak suka dengan Ria, tapi nyatanya...Haishh!"
Mata Jojo memerah, menahan geram dihatinya. Hati yang terasa sakit karna sudah dikhianati.
Bian terdiam.
"Aku gak nyangka hatiku bakal rusak kayak gini. Baru kemarin aku sakit mendengar kabar tentang Buan, dan sekarang kamu malah lebih membuatku sakit hati, By." ucap Jojo lirih.
Jojo menunduk.
"Buan kenapa, Yank?" tanya Bian yang memang belum mengetahui tentang Buan.
"Gak usah sok peduli. Urus saja urusanmu, jangan sampai kami membebanimu."
Jojo membuka tasnya dan mengeluarkan buku pelajarannya karna guru yang akan mengajar sudah masuk ke dalam kelas.
Bian diam menatap Jojo. Dia tau betul apa penyebab Jojo marah padanya, makanya Bian diam tidak berani bertanya tentang Buan.
"Anak-anak, mulai hari ini teman kalian Robuan sudah dikeluarkan dari sekolah. Perbuatannya sudah mencoreng nama baik sekolah. Mudah-mudahan ini yang pertama dan yang terakhir terjadi di sekolah kita."
Semua diam mendengar pengumuman dari wali kelas mereka.
Jojo menunduk sedih, dimejanya. Tangisnya pecah dalam diam. Bian ikut sedih mendengar kabar itu dan semakin sedih saat melihat Jojo yang terisak, pelan. Bian makin merasa bersalah.
"Maafin aku, Yank!" katanya, lirih. Tangannya membelai lembut punggung Jojo.
Namun ditepis kasar oleh gadis itu yang langsung mendongak, menatapnya dengan mata memerah. Membuat Bian terkesiap, ngeri.
"Jangan pernah lu sentuh gue dan jangan pernah ngomong sama gue lagi. Kita putus!" ucapnya pelan, namun menusuk tajam ke jantung Bian.
flashback on
Jojo sedang melamun memikirkan nasib salah satu sahabatnya, Robuan yang kini sedang tertimpa masalah, ketika Ria datang dengan wajah merona bahagia.
"Jojo cantik!"
Jojo mengernyit heran melihat wajah cantik didepannya yang terus-terusan tersenyum.
"Nih cewek musti kudu di cek up ke RSJ deh kayaknya. Senyam senyum sendiri kayak orgil. Dia gak tau apa kalo gue lagi bete. Gak liat sikon kali!" dengus Jojo, kesal dalam hati.
"Jo!"
"Hm!"
"Jojo mau denger curhat Ia gak?"
Jojo menoleh malas gadis yang terus nyengir dari tadi. "Kering kering deh tuh gigi!"🤦♀
"Jo?!" Ria merengek manja.
"Hm."
"Pasti tadi Arby gak masuk sekolah kan, Jo?"
"Hah?" Jojo menatap Ria, lekat. "Kok Ria tau Bian gak masuk tadi?"
__ADS_1
Ria nyengir lagi melihat Jojo kebingungan.
"Arby tadi pagi pergi sama Ia, Jo. Kami bolos berdua." wajah cantik itu merona saat bercerita, menandakan bahwa hatinya tengah berbunga-bunga. Dia tidak sadar bahwa ceritanya telah melukai hati Jojo.
"Oh ya? Kemana?" tanya Jojo, datar.
"Ia diajak ke rumah kakaknya, di D. Kamu tau gak?"
Jojo menggeleng, pelan.
"Kamu tau gak Jo, kakaknya Arby itu cantiiiikkk banget, ramah, baik lagi. Ia suka deh. Kayaknya kakak Arby juga suka sama Ia."
"Hm."
"Di sana Ia diperlakukan sangat baik sama kakak Arby, jadi makin suka Ia sama Arby."
"Kamu tau Jo, kami ke sana naik bis. Ia senang akhirnya Ia bisa memeluk Arby, bersandar di bahu Arby...Yah, meski Ia hanya pura-pura tertidur waktu di bis. Pokoknya Ia seneng banget. Gak nyangka Ia bisa sedekat itu dengan Arby."
Jojo menghela napas berat, dan menghempasnya kasar. Hatinya hancur seketika. Jojo merasa kalah langkah dari Ria dan dikhianati Bian habis-habisan.
"Ia jadi pengen ngerasain lagi memeluk Arby, Jo."
Ria menoleh ke arah Jojo yang masih terus diam.
"Jo, besok temenin Ia ke rumah Arby, ya?"
"Eh?" Jojo mengernyitkan dahinya.
Ria nyengir lagi.
"Ia kangen Arby!" ujarnya malu-malu.
"Mending lu ceburin gue ke sungai biar dimakan buaya daripada harus liat lu meluk-meluk Bian, Ia. Biar dicabik-cabik buaya aja gue sekalian!" batin Jojo, kalap.
Jojo mengusap dadanya, pelan-pelan. "Sabar!"
"Jo!"
"Maaf ya, aku ada janji mau ke rumah Puput. Kami mau ngerjain tugas."
Jojo menggeleng.
"Kami gak satu kelompok sama Bian."
Ria mengangguk mengerti.
"Kalo gitu, biar Ia pergi sendiri aja. Mudah-mudahan Arby juga gak lagi kerja kelompok."
Jojo mengangguk.
"Semoga kalian bahagia!"
flashback off
"Aku gak mau putus dari kamu, Yank. Aku masih sayang sama kamu. Aku bisa jelasin semua..."
"Put! Kita pulang ke rumah lu, ya?!" Jojo mengambil tasnya dan mengajak Puput pulang tanpa mempedulikan Bian.
Puput menatap Bian tak mengerti. Dia tidak mengetahui apa yang terjadi antara Bian dan Jojo.
"Jojo kenapa, Ar?" tanya Puput ingin tau. Matanya menatap Jojo yang sudah berjalan menuju pintu.
Bian menunduk, diam, tak menjawab pertanyaan Puput.
"Put!" panggil Jojo dari arah pintu kelas.
"Buruan. Ntar keduluan guru masuk ke kelas."
Puput pun bergegas mengikuti Jojo sambil membawa tas sekolahnya.
Sesampai di rumah Puput, Jojo melempar tasnya begitu saja dilantai kamar Puput. Dan ia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dengan cueknya.
"Lu kenapa, Jo? Galau bener kayaknya?" tanya Puput.
__ADS_1
"Gak pa-pa. Gue cuma lagi pengen tiduran aja." jawab Jojo pelan. Kedua matanya tertutup rapat saat berbicara.
Puput menatap Jojo, dalam. Puput bukan orang bodoh. Dia tau sahabatnya itu sedang menyimpan suatu masalah. Entah itu tentang Buan atau pun Arbyan, Puput masih mereka-reka.
"Loh Bang, udah pulang?" tiba-tiba mama Puput pulang dari pasar. Beliau melongok ke dalam kamar Puput.
"Astaghfirullah! Bang, kamu bawa cewek ke kamar? Kamu..."
Mama Puput kaget melihat seorang gadis tengah berbaring ditempat tidur Puput sambil menutup wajahnya dengan bantal.
"Jo!" panggil Puput. Ia tidak mau mamanya salah paham.
"Bangun, dodol! Ada mak gue!" bisik Puput sambil menarik bantal yang menutupi wajah Jojo.
"Juna?" mama Puput terkejut melihat Jojo yang langsung bangun dari tidurnya.
"Assalamualaikum, Tante. Maaf ya aku numpang tidur di sini." Jojo mencium punggung tangan mama Puput.
"Kamu sakit, Juna? Kening kamu panas." mama Puput memegang dahi Jojo.
"Gak pa-pa, Tante. Istirahat sebentar juga pasti sembuh."
Mama Puput mengangguk.
"Ooh, ya udah. Kamu tiduran aja di kamar Puput. Bang, ambil obat penurun panas di kotak obat juga air minum. Kasih ke Juna suruh dia minum obatnya."
Puput pun pergi ke dapur mengambil apa yang mamanya suruh.
"Juna istirahat ya? Kalo mau makan biar Puput yang ambilkan nanti. Tante mau ke rumah neneknya Puput sebentar."
"Baik, Tante. Terimakasih."
Mama Puput tersenyum sambil membelai lembut rambut Jojo. Sesaat sakit di kepala Jojo terasa lebih ringan.
"Makan dulu, Jo." Puput memberi Jojo sepiring nasi plus lauknya.
"Habis makan, baru lu minum obat." perintah Puput.
Jojo memakan sedikit nasi, lalu meminum obat yang Puput kasih.
"Put, gue tidur dulu ya. Puyeng pala gue!"
"Iya. Lu istirahat aja. Kalo udah baikan baru gue anter lu pulang."
Jojo mengangguk. Dan tanpa menunggu lama ia pun langsung terlelap.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Puput membuka pintu rumahnya. "Ar? Lu nyusul kita?"
Puput menyuruh Arbyan masuk.
"Jojo mana, Put?" tanya Bian sambil melihat-lihat ke dalam rumah Puput yang sepi.
"Apa Puput dan Jojo hanya berdua saja di rumah?"
Bian menatap tajam Puput yang tidak memakai baju.
"Jojo di kamar sedang..."
Puput melongo melihat Bian yang langsung berlari menuju kamarnya. Dia pun makin bingung ketika Bian menarik kasar selimut yang menutupi seluruh tubuh Jojo yang sedang tertidur lelap.
"Alhamdulillah!" ucap Bian penuh syukur. Bian tak sadar tingkahnya sudah membuat dahi Puput mengkerut, akut.
"Lu apa-apaan sih, Ar?! Jojo lagi sakit tau gak?" Puput menutupi lagi tubuh mungil Jojo dengan selimut.
"Jojo sakit, Put?"
"Iya. Tadi badannya panas tapi Jojo merasa menggigil. Dia tertidur habis minum obat penurun panas."
Bian duduk di sebelah Jojo dan meraba kening gadis yang tengah tertidur pulas itu.
__ADS_1
"Maafin aku, Yank. Seharusnya aku ceritakan ini dulu sama kamu sebelum kamu dengar dari orang lain."