
"Gimana, kerempeng? Sekarang lu bisa liat kan betapa hebatnya gue?"
Dengan gaya congkak Rosmalia mondar-mandir didepan Jojo yang sedang dipegang tangannya oleh dua anak buahnya.
Jojo menyeringai, sinis.
"Hebat darimana?" tanyanya. "Pengecut, iya!" ejeknya.
Ros melotot marah.
"Lu berani sama gue?!" bentak Ros keras. Suaranya naik dua oktaf.
"Cih! Kalo ama lu bertiga yang bontet gini bagi gue gak ada apa-apanya." cibir Jojo, membuat tiga 'three curut bontet' makin kesal.
"Berani-beraninya lu ngatain kita bontet, dasar triplek!"
Salah satu teman Ros, yang bernama Asha, menarik kuat rambut Jojo hingga gadis itu meringis kesakitan.
Plakk!
Emilia, teman Ros yang satu lagi menampar keras pipi Jojo. Dan,
Dugh!!!
"Aduh!!"
Ros yang hendak memukul Jojo terjerengkang ke belakang ketika Jojo menendang perutnya.
"Auu!!"
"Akhh!!"
Dua abdi sang putri sama-sama menjerit kesakitan karna kaki mereka diinjak kuat-kuat oleh Jojo, hingga pegangan mereka ditangan Jojo pun terlepas.
"Habisi dia! Patahkan tulang kerempengnya!!" perintah Ros pada anak buahnya. Dia sendiri masih terduduk sambil memegang perutnya yang sakit.
Dagh! Dagh!
Dengan gerak cepat Jojo menendang kedua gadis bontet yang hendak menyerangnya, secara bergantian. Keduanya pun tumbang, terduduk sambil memegang perutnya.
"Kuat kan tulang kerempeng gue?" ejek Jojo, sinis menatap trio bontet yang meringis menahan sakit di perut mereka.
Jojo melangkah menghampiri sang putri salju.
"Gue gak tau alasan lu benci ama gue, Ros. Kalo tentang Adit, gue gak ada hubungan apa-apa sama dia. Selama ini gue diam bukan berarti gue takut ama lu. Gue mau lu berkaca dari kesalahan lu. Tapi ternyata lu malah menganggap gue musuh. Jadi, jangan salahkan gue kalo gue kasar ama lu."
Jojo berdiri tegak di depan Ros yang masih terduduk di lantai wc.
(Untung aja lantainya kering, kalo basah...🙄)
"Sialan lu, cung*k triplek! Gue benci ama lu! Lu udah merebut Radit dari gue. Dasar pelakor!!!" jerit Ros, histeris.
Jojo terdiam.
"Merebut? Pelakor?"
Kata-kata itu seakan menari-nari di kepala Jojo.
Seketika amarah Jojo memuncak. Ditariknya kuat baju Ros hingga tubuh bos bontet itu tertarik olehnya.
"Gue bukan pelakor! Lu denger gak?!!" bentak Jojo.
Ros tersenyum sinis.
"Lu pelakor! Radit dan Bian lu rebut dari gue dan pacar Bian. Ngaku lu!"
"Bangs*t!!!" teriak Jojo penuh emosi.
Bogem mentahnya sudah melayang dan hampir menyentuh wajah putri salju ketika sebuah tangan menahan tangannya.
"Istighfar, Yank!"
Bian menarik tangan Jojo, menjauh dari Ros yang kembali jatuh terjerengkang saat Bian melepas paksa tangan Jojo yang menarik bajunya.
Jojo menepis kasar tangan Bian yang menggenggam tangannya.
"Huh! Sok pasang muka polos, padahal iblis pelakor!" cerca Ros, yang belum jera juga.
Plakk!!!
Tamparan keras di pipi Ros membuat seluruh siswa yang melihat perkelahian antara Jojo, Ros dan dua teman Ros terdiam.
Nyeri di pipi Ros tak seberapa dibanding malu yang dirasakannya.
__ADS_1
Raditya, cowok yang selama hampir tiga tahun ini dikejarnya, telah menamparnya di depan Jojo juga seluruh isi sekolah yang ada di situ.
"Dit, kamu tega..."
"Gue gak nyangka lu sepicik ini, Ros. Berapa kali harus gue bilang kalo lu hanya gue anggap teman, gak lebih." Adit menatap Ros, sinis.
"Melihat ulah lu ini, makin bikin gue jijik. Mulai hari ini gue bukan temen lu, dan gue gak mau kenal lu lagi."
Adit melangkah pergi, mengikuti Jojo yang lebih dulu pergi.
"Huuuu!!!"
Teriakan cemoohan membuat Ros tertunduk diam. Ros sangat menyesali perbuatannya.
Ros yang meremehkan Jojo dan berniat mempermalukannya malah dibuat malu oleh ulahnya sendiri.
Bak senjata makan tuan, Ros merasa jatuh di lubang yang dibuatnya sendiri.
"Makanya Ros, kalo mau berbuat sesuatu itu dipikir dulu. Kira-kira lu bisa gak melawan si triplek kucel? Kalo lu belum kenal Jojo, mending lu kenalan dululah."😂
Di dalam kelas XIA,
"Minum dulu, Yank!"
Bian menyodorkan air mineral pada Jojo dan langsung di minum gadis itu.
"Jangan diambil hati ucapan si putri salju, Yank. Ntar kamu makin emosi." kata Bian sambil merapikan anak rambut Jojo yang basah karena keringat.
"Tolong jangan sentuh gue! Gue gak mau disebut pelakor lagi!" desis Jojo, tajam.
Bian menghentikan kegiatannya, mengelap keringat di dahi Jojo.
"Tapi Yank...aku kan emang pacar kamu!" ujarnya, pelan, takut Jojo kalap lagi.
"Lu bukan cowok gue lagi sejak lu pergi dengan cewek lain tanpa seizin gue." sahut Jojo ketus, membuat Bian terdiam, kelu.
🎵Tertutup sudahkah hatimu
untuk menerimaku kembali
sekeras apakah hatimu
tak bisa lentur lagi
bukan niatku
Kalau pun memang aku bersalah
sebesar apa kesalahanku
mengapa susah untuk kau maafkan
hingga ingin kau tinggalkan
bumi yang manakah
yang tak pernah basah
bila hujan mencurah
Tak usah berubah
jangan kau turuti amarahmu
ku yakin hatimu masih sayang kepadaku
wajar saja cinta
yang berhias karna airmata
inilah suatu cobaan
mengapa kau tak bersabar
Coba jernihkan hatimu lagi
kuharapkan kau kembali
pada siapa 'tuk bertanya
bila kita jauh berpisah
kemana mencari indahnya bercinta
__ADS_1
seperti dulu🎶
***Bukan Niatku - Iklim***
"Hatimu memang sekeras batu, Yank!"
Adit masuk ke dalam kelas XIA, menghampiri Jojo yang sedang membaringkan kepalanya di atas meja.
"Juna! Kamu gak pa-pa kan?" tanya Adit, penuh perhatian.
"Heh?"
Jojo mendongak sebentar. Lalu kembali ke posisi awalnya.
"Alhamdulillah, gue masih utuh." sahutnya cuek.
"Kamu jangan terpengaruh dengan omongan Ros ya, Juna? Kita tetap temenan kan?" pinta Adit penuh harap.
"He-eh."
"Beneran, Juna?"
"Iya."
"Yes! Makasih, Juna!"
Adit menggenggam erat tangan Jojo, membuat Bian yang sedari tadi memperhatikan mereka membelalakkan matanya, marah.
"Apakah aku gak punya kesempatan kedua kayak yang kamu kasih ke Adit, Yank?"
#
#
#
Jojo melongo mendengar namanya masuk daftar pengisi acara untuk pengumuman kelulusan siswa kelas XII minggu depan.
Yang bikin Jojo lemas, Arbyan yang akan mengiringinya bernyanyi nanti.
"Cie cie... featuring ayang mbeb, tuh!" goda Dede sambil menyenggol-nyenggol Jojo.
"Berisik!" dengus Jojo, sebal.
"Pura-pura marah, padahal seneng tuh!" Dede yang tidak tau Jojo dan Bian putus, terus menggoda Jojo.
"Serah lu!"
Jojo beranjak pergi meninggalkan Dede yang menatapnya bingung.
"Kok Jojo kabur? Apa dia marah beneran?"
Dede garuk-garuk kepala bingung.
"Lu kenapa garuk-garuk kepala gitu, De? Kayak Ongki belum keramas lu!" ejek Puput yang baru datang dari kantin.
Dede meringis.
"Eh Put, Jojo kok uring-uringan sih? Padahal kan baru minggu kemarin dia PMS, masak minggu ini datang tamu lagi?"
Dede mengernyit bingung.
Puput menepuk jidatnya, gemas melihat sahabat o'onnya ini.
"Kalo bukan sahabat, udah gue telen lu dari kemaren-kemaren, De!" sungut Puput dalam hati.
"Put, jawab dong!" rengek Dede.
"Au ah! Mending gue tidur daripada ngeladenin lu yang o'onnya gak ilang-ilang."
Puput pun merebahkan kepalanya di atas mejanya, tidur.
"Put! Kok gitu sih? Gue tanya soal Jojo loh?" Dede mengguncang-guncang tubuh Puput.
"Dede yang imut, lucu, but o'on. Mending lu tanya Jojo langsung deh. Puyeng gue!" usir Puput.
Dede manyun.
"Nanya aja gak boleh. Pelit lu!" sungut Dede.
Pletakk!!!
"Dede!!! Gue kucek lu ya?!!" teriak Puput kesel.
__ADS_1
Yang disorakin sudah ngacir duluan setelah melayangkan jitakan supernya di kepala cowok ganteng, lucu, nan imut itu sambil ngakak.