Kaukah Gadis Tomboyku?

Kaukah Gadis Tomboyku?
24.


__ADS_3

"Duduk, Jun."


Adit menepuk-nepuk lantai, membersihkan debu yang menempel agar rok sekolah Jojo tidak kotor ketika mendudukinya.


Jojo pun duduk dengan tenang.


Hening sunyi tercipta karna baik Jojo maupun Adit hanya diam.


"Lu tadi mau ngomong apa, Dit?" tanya Jojo setelah cukup lama mereka hanya saling membisu.


Adit nampak gelagapan, gugup.


"Ah, eee...aku..."


Jojo ikutan gugup. Jantungnya seakan berdebar cepat, seperti sedang breakdance, saat bertemu pandang dengan mata Adit.


"Aku mau tanya kamu tadi lagi ngapain sama Arbyan?"


"Hah?!" Jojo melongo.


"Gue...tadi..."


"Kenapa gugup? Kalian lagi pacaran?" tanya Adit. Jojo melongo.


"Aduh, napa nanyanya gitu si Adit. Gue harus jawab apa biar dia mengerti."


Jojo menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Kenapa salting gitu? Jawab yang jujur." tegur Adit. Kata-kata yang diucapkannya penuh penekanan.


Jojo menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan.


Adit terus menatapnya, lekat.


"Gue dan Bian tadi lagi taruhan."


"Taruhan apa?"


"Taruhan siapa yang kalah adu melotot harus mau menuruti perintah yang menang."


"Taruhannya untuk apa?"


"Hah?!" Jojo mendelik, bingung.


"Kenapa harus taruhan?" tanya Adit lagi.


"Habis Bian gak percaya sama omongan gue, padahal gue jujur loh ngomongnya. Bener!" jawab Jojo polos.


"Emang apa yang sedang kalian omongin?"


"Tentang Ria yang pengen ketemu Bian."


"Ria itu siapa?"


"Tetangga gue."


"Apa dia naksir Bian?"


Jojo mengangguk.


"Apa Bian juga menyukai Ria?"


Jojo mengendikkan bahunya tanda tidak tau.


"Kenapa Bian sampai tidak percaya sama omongan kamu?"


"Bian nuduh gue sengaja nyomblangin dia sama Ria."


"Emang kamu gak melakukannya?" Adit terus bertanya.


Jojo menggeleng cepat.


"Gaklah. Ngapain juga gue harus ngelakuin itu. Bian tuh ganteng. Kalo dia mau, dia bisa cari cewek sendiri gak perlu orang lain buat comblangin dia." ujar Jojo apa adanya.


"Terus? Kenapa dia sampai nuduh kamu kayak gitu? Atau...dia sudah punya seseorang yang disukainya?" Adit menatap Jojo, lebih dalam.

__ADS_1


"Mana gue tau? Itu privasi Bian, gue gak berhak ikut campur." jawab Jojo lugas.


"Kalo Bian ternyata marah sama kamu karena tersinggung, bagaimana?"


Jojo menatap Adit dengan pandangan tak mengerti.


"Maksudnya?"


"Bian menyukai kamu, Juna."


"Hah!!!" Jojo terpelongo, kaget. Lalu.


"Jelaslah Bian suka sama aku, kita kan temenan. Aku juga suka sama Bian sebagai sahabat." Jojo memaksakan senyumnya.


"Bukan suka yang seperti itu yang aku maksud, Juna." sergah Adit dengan nada pelan.


"Hadeh ni anak, kapan sih gedenya?"


Adit mengusap wajahnya, lelah melihat ketengilan gadis didepannya.


"Bian menyukai kamu seperti seorang pria yang menyukai seorang wanita, apa kamu sudah mengerti?" pelan-pelan Adit berusaha menjelaskan pada Jojo.


"Gue juga paham maksud lu, Dit. Cuma gue gak berani mikir ke situ. Siapalah gue sampai berani menyukai seorang Arbyan." jerit batin Jojo.


"Gak mungkin kayak gitu, Dit. Gue juga nyadar kali gue ini siapa. Gak mungkin Bian suka sama gue. Kita murni temenan."


Adit menggeleng.


"Jatuh cinta itu buta, Juna. Dia bisa datang kapan saja tanpa di undang. Jatuh cinta datangnya tanpa sadar."


Jojo garuk-garuk kepalanya, bingung.


"Sori Dit, gue gak ngerti. Ilmu gue belum nyampe situ." Jojo nyengir kuda.


Adit menepuk jidatnya, pasrah.


"Ya, baiklah. Kamu memang masih polos, masih belum pantes tau yang 'begituan'."


"Begituan apa maksud lu?" Jojo pura-pura tidak mengerti.


"O."


Jojo manggut-manggut, paham.


Adit tersenyum mendengar jawaban singkat Jojo.


"Aku gak tau kamu beneran polos atau hanya pura-pura tidak mengerti. Tapi aku senang mendengar kamu menyukai dia hanya sebatas seorang sahabat."


****


Jojo menghela napas pelan saat melihat Ria kembali datang kerumahnya.


"Ini lebih parah dari si Niza. Perasaan dulu waktu Niza ngebet ama Waluyo gak gini-gini amat. Lah si Ria sampe rela bolak-balik ke rumahku, orang yang sama sekali tidak pernah akrab dengannya demi rasa sukanya sama Bian?"


"Jojo, hari ini jadi gak Bian ke sini?" tanya Ria to the point.


Jojo garuk-garuk kepalanya seraya nyengir.


"Gak tau, Ia. Bian gak bilang tadi mau ke sini apa gak."


"Kamu gak bilang kalo Ia kangen sama Arby, Jo?" tuduh Ria langsung membuat Jojo tersentak kaget.


"Apa-apaan nih bocah? Gak ada akhlaknya bener. Huh, kalo bukan tetangga udah gue kasih yel-yel lu." dengus Jojo kesal, meski hanya membatin.


"Aku udah ngomong ke Bian tentang kamu, Ia. Tapi ya...gitu deh. Bian cuma diem, gak kasih respon. Malahan Puput yang antusias pengen ketemu kamu." ujar Jojo, jujur.


"Kamu gak bohong kan, Jo?" Ria menatap tepat kemanik mata Jojo, mencari kebenaran dari ucapannya.


"Ngapain aku bohong, gak ada untungnya." sahut Jojo cepat.


Jojo berusaha meredam kedongkolannya mendengar tuduhan yang Ria lontarkan padanya.


"Sialan bener si Juminten, fitnes gue seenak jidatnya. Gue soto mendidih lu!" Jojo membatin kesal, umpat dalam hati.


"Kita liat aja apa sore nanti mereka akan ke sini, Puput bilang dia..."

__ADS_1


"Ia gak mau ketemu Puput, Jo. Ia mau ketemu Arby." sentak Ria.


"Astaghfirullahaladziim. Ya Allah, tolong beri hamba kesabaran yang tak terbatas dalam menghadapi si bucin ini." do'a Jojo dalam hati.


"Puput bilang, dia akan membawa Bian ketemu kamu hari ini. Paham?" kata Jojo sedikit keras.


Ria tersenyum girang.


"Beneran, Jo?"


"Yess!!" teriak Ria kegirangan ketika melihat Jojo mengangguk.


Setengah jam kemudian, dua motor memasuki halaman rumah Jojo. Motor Bian dan Buan.


Jojo tertawa geli melihat Puput menempel ketat di belakang Bian sambil memeluknya erat.


"Erat banget meluknya, Put? Takut Bian digondol orang ya?" ledek Jojo geli dengan perlakuan berlebihan Puput pada Bian.


Buan ikutan tertawa geli. Sedangkan Bian? Gak bisa digambarkan gimana kecutnya wajah yang biasanya terlihat sangat tampan itu.


"Habis susah ngajakin dia ke sini. Biasanya kan dia paling demen kemari, bahkan kadang gak ngajak-ngajak gue sama Buan. Ya kan, Wan?"


Buan mengangguk, membenarkan kata-kata Puput.


"Gue ke sini mau ketemu Jojo, bukan ketemu orang lain." dalih Bian.


"Lah, ini memang rumah Jojo, Ar. Lu mau ketemu Jojo kek, mau ketemu Rio kek, atau...mau ketemu emak juga gak masalah, orang ini rumah mereka." timpal Puput, cepat.


"Maksud gue bukan orang luar rumah ini, Put. Gue ogah ketemu orang asing." kata Bian penuh penekanan.


"Arby!"


Suara manja memanggilnya, membuat Abby tertunduk lemas. Suara yang selalu ingin sekali dihindarinya.


"Masuk dulu yuk, Arby!" dengan gaya manja Ria menarik tangan Bian, mengajaknya masuk ke dalam rumah Jojo.


Bian menarik pelan tangannya dari tangan Ria.


"Apa Arby mau ke rumah Ria?" tawar Ria.


Gadis itu berusaha memegang tangan Bian, tapi cowok ganteng itu cepat-cepat turun dari motornya dan berjalan masuk ke dalam rumah sambil menyeret Jojo yang berdiri di dekat pintu.


"Duduk deket gue lu!" perintah Bian, pelan, pada Jojo.


Terpaksa Jojo duduk di sebelah Bian karena cowok itu tidak melepaskan tangannya yang menggenggam erat tangan Jojo.


Pandangan kesal Ria bikin Jojo nyengir kuda. Jojo tau Ria cemburu.


"Lepasin, By. Ria ngambek tuh!" gumam Jojo, setengah berbisik.


"Bodo amat. Emang gue pikirin." Bian balas berbisik. Pandangannya fokus menatap wajah Jojo karena Bian tidak mau bertatap muka dengan Ria.


"Gak enak sama yang lain, By."


"Puput dan Buan pasti ngerti, kok."


Jojo mengangguk pasrah. Dia pun bersandar lemas disandaran sofa. Dengan santai tangan Bian melingkar, memeluk pinggang Jojo. Mata cantik Ria nyaris keluar melihatnya.


"Kok Bian gitu, sih. Dia gak sadar apa kalo aku tuh cemburu?" Ria ngedumel dalam hati.


(Gini nih kalo udah bucin tingkat dewa, urat malunya udah putus saking ngebetnya.😒😒)


Puput terus mengajak Ria ngobrol meskipun gadis itu kadang-kadang tidak meresponnya. Matanya terus menatap lekat ke arah Bian yang asik memainkan jari tangan Jojo yang dipegangnya. Sedangkan Jojo cuek aja karna ia pun asik ngobrol dengan Buan.


"Lihat saja Arbyan. Suatu hari nanti aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. Itu janjiku." tekad Ria dalam hati.


author : 😒😒😒 MESENGE!!!


Mpok Neti : Kok lu yang marah, Thor?


author : Emosi gue. Pengen tak lempis rasanya tuh cewek. Sok kecakepan banget.😡


Mpok Neti : Jangan baper. Itu kan hasil kehaluan lu sendiri.


author : O iya ya. Lupa gue.🤭😂

__ADS_1


Mpok Neti : MESENGE 😤


__ADS_2