Kaukah Gadis Tomboyku?

Kaukah Gadis Tomboyku?
Jangan Ngambek, Yank!


__ADS_3

Jojo mengambil Rey yang tengah digandeng Dira.


"Sayang, emak pulang dulu ke rumah emak, ya? Mau beres-beres di sana." Jojo pamit pada Dira yang menatapnya heran.


"Dira ikut ya, Mak?"


"Jangan, Sayang. Kamu di sini aja, kasian papa gak ada temennya."


Jojo pun pergi sambil menggandeng Rey. tanpa membawa apa pun.


"Yank!!!"


Dira menatap papanya, kesal. Dia paham ada sesuatu yang terjadi antara emak dan papanya.


"Papa!" sergah Dira. Matanya melotot tajam ke sang papa.


Akhirnya Bian pun menceritakan masalahnya dengan Jojo kepada putrinya.


"Papa udah bilang yang sebenarnya, Sayang. Tapi emak kamu tetep aja ngambek. Padahal kan dia tau banget kalo papa gak bakalan mungkin pindah ke lain hati!" Bian membela diri.


Dira menghela napas, panjang. Ia kesal campur geli melihat sang papa. Udah tua tapi masih kayak bocah, kekanak-kanakan.


"Papa, emak itu sedang hamil. Emosinya gak stabil. Jadi papa harus pandai-pandai menjaga perasaan emak. Dira takut emak tekanan batin gara-gara gak bisa meluapkan emosinya."


Bian diam, mendengar nasehat putrinya yang sudah dewasa itu.


" Apa yang Dira katakan itu benar! Aku harus menyusul Jojo!"


Bian bergegas pergi menjemput Jojo.


"Papa mau kemana?" tanya Dira.


"Jemput emak kamu! Papa gak mau bobo sendiri malam ini."


Dira tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


"Dasar si papa!" Dira menggumam, geli.


Jojo menghentikan motornya saat seorang polisi menghentikannya, menyuruh minggir.


"Ada apa, Pak?" tanya Jojo, berusaha tenang.


"Selamat siang, ibu! Maaf, saat ini sedang diadakan razia kelengkapan surat-surat bermotor. Mohon ibu perlihatkan STNK dan SIM ibu."


Jojo meneliti Polantas ganteng didepannya, dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Sepertinya ini Polantas baru, karena tidak mengenal Jojo. Yudhistira, tertera di nametagnya.


"SIM ada, Pak. Tapi STNK saya ketinggalan di rumah. Dan saya capek kalo harus balik lagi ke rumah, Pak!" ujar Jojo sambil mengusap perut buncitnya.


Polantas itu mengangguk, mengerti dengan keadaan Jojo yang sedang hamil besar. Sebenarnya ia ingin melepaskan Jojo, hanya saja demi tugasnya ia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Begini saja, ibu. Apa di rumah ibu ada orang yang bisa disuruh mengantar STNK ibu kemari?" tanya sang Polgan, ramah.


"Ada sih, Pak. Hanya saja... dia belum hapal jalan di kota ini." kata Jojo seraya nyengir.


"Mak, om ini temannya papa, kan?" Rey, si bocil, tiba-tiba nyeplos.


Jojo memberi kode pada bocil supaya diam. Rey pun manut.


Polantas ganteng itu memperhatikan mereka.


"Ada apa ini?"


Jojo berdiri tegang, saat mendengar suara yang sangat ia kenal.


"Selamat siang, Pak!" sang Polgan pun langsung bersikap hormat.


Jojo sama sekali tidak menoleh ke sang empu suara tadi. Mulut Rey pun dibekapnya sebelum sempat berteriak.


"Ibu ini tidak membawa STNK, juga gak mungkin balik ke rumah untuk mengambilnya, Pak." lapor Yudhistira.


"Kalo begitu, motornya ditinggal aja."


"Tapi Pak, ibu ini sedang hamil..."

__ADS_1


"Kenapa emangnya? Siapa suruh lupa bawa surat-surat motornya? Udah dibilangin ada razia, tetep aja ngeyel. Kebiasaan!" sang atasan ngomel-ngomel kayak mak-mak rebutan beli ember cap lima ribuan. 🤭


Yudhistira melongo.


"Ayo, pulang!"


Bian menarik pelan tangan Jojo setelah menggendong bocil. Jojo diam tak bersuara, tapi ngikut juga.


"Makanya kalo pergi jangan sambil marah-marah. Kualat kan sama suami!" Bian masih saja ngomel sampai sang istri masuk ke dalam mobil.


"Dis, motornya tolong di simpan ditempat teduh, ya? Bentar lagi putriku akan datang mengambilnya." perintah Bian pada Yudhistira.


"Ba... baik, Pak!"


Yudhistira masih melongo sampai mobil Bian menghilang dari penglihatannya.


"Mati gue! Itu bini Pak Arby gue razia. Auto budek nih kuping gue!"


"Kamu jangan pergi ninggalin aku lagi, Yank! Aku gak sanggup hidup tanpa kamu. Aku bener-bener gak bohong soal yang tadi, Yank!" Bian memegang tangan Jojo dengan pandangan fokus menatap jalanan.


"Yank?" panggil Bian karna Jojo masih saja diam.


Bian menoleh ke arah istrinya.


"Astaghfirullah! Pantesan diem dari tadi. Aku kira masih ngambek, gak taunya... Yank! Yank! Bikin takut aja!"


Bian menepuk jidatnya, pelan, geli melihat sang istri ternyata sudah tertidur nyenyak disebelahnya.


Sesampai di rumah, Bian menggendong tubuh mungil Jojo yang kini sudah membulat, efek dari kehamilannya.


"Kamu... mirip banget emak-emak bunting yang aku lihat dulu, Yank! Mungkinkah itu kamu?"


Bian teringat kembali saat pertama tugas di kota ini dan bertemu emak bunting yang 'ajaib'. Bian pun menatap lekat istrinya seolah mengingat-ingat.


Tubuh mungil Jojo yang kini membulat bak tedmon, dengan pipi gembul dan lucu, membuat Bian yakin seratus persen kalau emak-emak bunting waktu itu memang Jojo.


"Beneran itu kamu, Yank. Berarti kita sudah pernah bertemu di hari itu, hanya saja aku terlambat menyadarinya."


Bian mengusap-usap pipi Jojo yang masih tertidur pulas.


Di lokasi razia,


"Dis! Ada cewek cakep, tuh!"


Jerry, menyikut pelan lengan Yudhis yang tengah sibuk memeriksa catatan hasil razia yang tadi ditulisnya.


"Dis!"


"Hm!"


"Cewek itu nyamperin kesini."


"Hah?"


Yudhis pun melihat ke arah yang dimaksud Jerry. Dan ia pun terdiam.


"Maaf! Saya ke sini mau mengambil motor."


Dira berdiri anggun di depan Yudhis dan Jerry.


"Motor yang mana ya, Mbak? Boleh saya lihat STNKnya." pinta Jerry, cepat. Ia tidak ingin melepas kesempatan emas yang ada didepannya.


"Mumpung ada yang bening, gue mau tebar pesona, ah! Siapa tau nyantol!" Jerry berharap dalam hati.


"Dira?"


Dira dan Jerry sama-sama menoleh ke Yudhis. Dira menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat menyadari siapa yang menegurnya. Sedangkan Jerry melongo, beg*.


"Bang Tira?"


Yudhistira tersenyum penuh arti.


"Apa kabar, Ra? Kamu makin cantik aja!" Yudhis mengulurkan tangannya pada Dira yang tersipu mendengar ucapan Yudhis.


"Baik, Bang!" Dira menyambut salam Yudhis.

__ADS_1


"Indah, gimana kabarnya, Bang? Udah lama aku gak ketemu Indah."


"Indah baik, Ra. Sekarang dia ikut suaminya tugas di M."


Dira mengangguk mengerti.


Indah adalah sohibnya sewaktu di SMA. Sedangkan Yudhis adalah abang Indah, yang dulu juga ketua OSIS di SMA mereka. Indah menikah dengan seorang polisi juga, temannya Yudhis.


"Kamu udah nikah, Ra? Apa kamu di kota ini ikut suami atau...?"


"Aku belum nikah, Bang. Baru selesai sidang skripsi. Di sini liburan ditempat papa. Kebetulan papa tugas di sini juga."


"O iya, ya. Abang lupa kalo papa kamu juga polisi. Siapa nama papa kamu, Ra? Tugasnya di polres atau polsek?" tanya Yudhis.


"Polres. Papaku namanya Arbyan!"


Uhuk! Uhukk!


Dira menoleh ke arah Jerry yang terbatuk-batuk saat mendengar nama atasannya yang disebut.


"Oo, jadi kamu kesini mau ambil motor?" tanya Yudhis, paham.


Ia sama sekali tak menggubris Jerry yang sedari tadi melongo bak kambing congek, melihatnya dengan Dira.


Dira mengangguk. Yudhistira mengambil motor yang tadi ditinggalkan Jojo.


"Ini Ra, motornya!" Yudhis menyerahkan motor itu pada Dira.


"Nih, Bang!"


Dira mengulurkan STNK ditangannya pada Yudhis.


Yudhis pun memberikan surat tilang pada Dira.


"Abang sih tadinya gak tega mau nilang mama kamu, Ra. Tapi karna tugas ya... mau gimana lagi. Kasihan sih sebenarnya liat mama kamu tadi. Mau suruh pulang ambil STNK, abang gak tega. Lagi hamil gitu, mana bawa anak kecil. Untung aja papa kamu cepat datang, kalo gak..."


"Kalo gak kenapa?"


"Kalo gak... terpaksa abang yang antar mama kamu pulang. Habis gak tega kalo harus melihatnya naik ojol."


Dira tersenyum.


"Emak wanita kuat, Bang. Jangan dikira tubuh mungilnya itu lemah. Justru tadi emak habis ngamuk heboh sama papa." Dira tergelak sendiri.


Yudhis ikut tersenyum melihatnya.


"Berarti mama kamu kecil-kecil cabe rawit ya, Ra?"


Dira mengangguk sambil tertawa.


"Oh ya, kamu pulangnya gimana, Ra? Emang hapal jalan di kota ini?" tanya Yudhis yang ingat dengan ucapan Jojo bahwa putrinya gak tau jalan di kota ini.


Dira nyengir, seraya menggeleng.


"Ya, udah. Biar abang antar." kata Yudhis.


"Emang abang udah selesai kerjanya?"


"Udah dari tadi, sih. Abang emang lagi nungguin orang yang mau ambil motor ini. Eh ternyata kamu orangnya, Ra!"


"Ngerepotin aja, Bang!" Dira jadi tak enak hati.


"Gak pa-pa. Lagi pula udah lama kamu gak bikin abang repot." gurau Yudhis.


Dira nyengir, malu.


Dulu ia emang sering merepotkan Yudhistira. Mulai dari bikin pr, terlambat masuk kelas, berantem, bahkan mau keluar malam selalu Yudhis yang jadi tamengnya didepan guru dan oma opanya.


Dengan kata lain, Yudhistira lah orang yang selalu membantunya di saat Dira sedang dalam masalah.


"Abang senang bisa ketemu kamu lagi, Ra. Sudah empat tahun kamu menghilang tanpa jejak!" Abang kangen Dira yang cantik, lucu dan sering bikin repot."


💃💃💃💃


Kayaknya makin bakal panjang nih cerita! Secara bakalan ada pasangan baru yang juga ternyata sudah lama memendam rasa suka yang tiba saatnya harus tercurah. Akankah kisah cinta itu akan berakhir indah seperti Bian dan Jojo? Pantengin terus ya, guys! Semoga happy selalu!😘

__ADS_1


__ADS_2