
"Aku sudah pernah merasakan
semua kepahitan dalam hidup.
Dan yang paling pahit ialah
berharap kepada manusia."
-Ali bin Abi Thalib-
***
"WA, tau nggak?" tanya seorang gadis yang bernama lengkap Natasya Ar-rasyid itu.
"Ya enggak lah, kan kamu belum ngasih tahu. Gimana sih, Cha?!" jawab gadis dihadapannya.
Cha, Acha, adalah panggilan yang di berikan Nazwa Zivara Nafitri kepada Natasya Ar-rasyid.
Nazwa Zivara Nafitri adalah seorang gadis yang berusia 17 tahun. Sekarang ia sudah kelas 12 dan berada di semester akhir, artinya tahap-tahap akan menghadapi UNBK atau Ujian Nasional Berbasis Komputer. Ia adalah anak bungsu dari dua bersaudara, ia memiliki satu kakak laki-laki yang sekarang bekerja sebagai seorang CEO muda disebuah perusahaan properti milik Abinya di Semarang.
Natasya Ar-rasyid adalah seorang gadis yang memiliki akhlak lembut--tapi juga cerewet pada saatnya--yang berbanding balik dengan Nazwa. Gadis ini tidak menyukai istilah hubungan anak zaman sekarang yang dikenal sebagai istilah 'pacaran' itu. Ia memiliki prinsip bahwa, jodoh itu sudah di atur dengan baik oleh Allah. Ia suka mendatangi kajian-kajian dari pada nongkrong tidak jelas. Natasya adalah sahabat baik Nazwa di SMA-IT Tunas Bangsa, Yogyakarta.
"Hehe iya, aku belum bilang, ya? Jadi gini, nanti siang kan ada kajian Ust. Hanan Diafhakri, tuh. Kamu temenin aku, yah?" pinta Acha pada sahabatnya.
Drrtt ... drrtt ...
Ponsel Nazwa bergetar di atas bangku mejanya. Diraihnya benda pipih berwarna gold itu dari saku rok abu-abunya.
"Eh, Cha. Bentar ya," katanya kepada Acha.
Sebuah notif WhatsApp singkat dari kekasihnya yang mampu membuat perutnya bagai digelitik ribuan kupu-kupu.
Rakakuu๐
Nanti pulang sekolah ketemu di Cafe biasanya, bisa?
Dengan cepat Nazwa mengetikkan balasan untuk pacarnya.
Bisa dong, Ka! ๐
Nazwa yang senyum-senyum membuat Acha menggelengkan kepalanya. Ia sudah bisa menebak apa yang sedang terjadi pada sahabatnya itu.
__ADS_1
"Wa, kamu masih pacaran sama kak Raka?"
Nazwa mengangguk semangat. "Masih dong! Tau nggak ini tuh hari jadi kita yang ke-tiga tahun! Tiga tahun, Cha ... bayangin deh," jawab Nazwa dengan wajah yang berbinar.
"Bukannya abi dan kakakmu melarang kamu pacaran, ya? Kenapa sih kamu membangkang banget nggak mau dengerin mereka? Padahal nasehat mereka itu baik, loh. Mereka nggak mau kamu masuk dalam kubangan dosa, dan yang pasti mereka nggak mau kamu--"
"Aduuh! Udah deh, Cha. Please, ya, jangan ceramahin aku dulu. Aku lagi seneng nih." Nazwa menyela.
"Astaghfirullah, Nazwa! Ini tuh udah kewajiban aku sebagai sahabat kamu untuk selalu mengingatkan ketika kamu menyimpang dari jalan Allah. Kamu nggak malu sama hijab kamu? Aku nggak mau kamu--"
Belum saja Acha menyelesaikan ucapannya, lagi-lagi Nazwa sudah memotong. "Iya, iya, aku tau! Udah deh kamu jangan ceramah dulu, okay? Emang nggak capek apa?"
Acha menghembuskan napasnya dalam-dalam. Tak habis pikir jika sahabatnya menjadi sekeras kepala ini.
"Oh iya. Soal kajian ntar siang, kayaknya aku nggak bisa temenin kamu deh," lanjut Nazwa.
"Loh, kenapa? Kajian ini bagus loh, banyak manfaatnya untuk kehidupan kita sehari-hari."
"Eum ... aku udah ada janji ketemu sama Raka sepulang sekolah nanti. Lain kali aja, ya?"
Acha jadi geregetan sendiri sekarang. "Mau sampai kapan sih kalian diem-diem begini? Emang kamu nggak capek backstreet mulu? Gini ya Wa, laki-laki yang beneran sayang itu nggak akan ngajak pacaran, Wa. Kalo dia beneran sayang sama kamu, dia bakal datang ke rumah kamu bersama orang tuanya buat meminta kamu kepada abi secara langsung, bukannya ngajak ketemuan diem-diem gini!"
Nazwa mencebikkan bibirnya. "Tuh 'kan ceramah lagi."
"Yee! Emang siapa yang mau putus? Raka bilang dia mau khitbah aku kalo udah lulus nanti."
Acha hanya mengiyakan perkataan sahabatnya. Dalam hati ia selalu berdoa agar Allah memberikan hidayah kepada Nazwa supaya sahabatnya itu kembali ke jalan yang lurus. Jalan yang di ridhoi Allah.
***
"KITA putus!" ujar seorang laki-laki pada gadis dihadapannya.
Gadis itu nampak tertegun mendengar penuturan laki-laki didepannya. "Putus?"
"Ya."
"Ta-tapi kenapa, Ka? Apa salah aku?" Matanya mulai berkaca-kaca, menandakan ada segumpal air mata yang siap jatuh kapan saja.
"Kita udah nggak cocok."
Gadis itu mulai menangis menyedihkan, ditariknya lengan laki-laki dihadapannya. "Nggak bisa, Ka! Aku nggak mau putus sama kamu!"
__ADS_1
Raka, laki-laki itu tersenyum meremehkan. "Kenapa? Lo nggak bisa hidup tanpa gue?"
"Udah, ya, mulai sekarang kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Bye!" Lanjutnya kemudian pergi meninggalkan area Cafe Gardenia itu.
"Raka!" teriaknya berusaha memanggil laki-laki yang beberapa detik lalu duduk di hadapannya. Berharap laki-laki itu akan berbalik dan menarik semua kata-katanya barusan.
Ia tersandung dan terjatuh hingga menyebabkan kedua lututnya memar dan terluka.
Namun, yang harus kalian ketahui; bahwa sakit di lututnya tidak sebanding dengan sakit yang ia rasakan di hatinya.
Ia menangis sembari bersimpuh dengan topangan kedua lutut yang terluka untuk menahan tubuhnya.
Keadaannya benar-benar menyedihkan di mata semua orang yang menyaksikan.
Tangisnya semakin menjadi ketika laki-laki itu benar-benar sudah tidak terlihat lagi oleh pandangannya. Hatinya terasa perih, bagai diiris menjadi ribuan bagian. Tiga tahun menjalin hubungan dengan kekasihnya kini kandas hanya karena alasan sudah tidak cocok. Klasik bukan?
Memangnya laki-laki itu pikir dia apa? Memutuskan hubungan dengan sepihak dengan alasan klise yang sudah sering ia dengar lewat banyak manusia.
Kalau begini ia jadi ingat nasihat umminya;
"Dek, jangan sekali-kali kamu menjalin hubungan dengan laki-laki yang bukan mahrammu. Terkecuali ada mahar dan wali yang menyertai. Kamu tahu 'kan Allah nggak suka sama orang yang mendahului kehendak-Nya? Nah, menurut Ummi, orang yang pacaran itu adalah orang yang tidak percaya kalau jodoh itu sudah di atur baik di tangan Allah. Kamu paham 'kan?"
"Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk." QS. Al-Isra' : 32
Tangisnya semakin pecah tatkala mengingat nasehat ummi yang selama ini tidak pernah ia gugu. Menjalin hubungan dengan laki-laki yang bukan mahramnya selama tiga tahun lamanya, bertemu diam-diam tanpa sepengetahuan keluarganya.
Yaa Allah ... di mana akal dan fikiranku selama ini?
Astaghfirullahaladzim.
Berkali-kali hatinya mengucap istighfar, berharap agar Allah mengampuni segala dosa-dosanya selama ini.
Perempuan itu--Nazwa-- berjalan dengan gontai saat keluar dari area Cafe tersebut. Gemercik gerimis tidak ia pedulikan. Orang-orang yang disekitarnya pun memandang iba ke arah Nazwa. Lama kelamaan hujan semakin deras, namun hal itu tak mengurungkan Nazwa untuk berteduh. Ia terus berjalan menembus ribuan air hujan yang jatuh bersamaan dengan air matanya yang ikut luruh terbawa linangan air hujan.
Nazwa merasa kepalanya berdentum hebat akibat terlalu banyak menangis dan terlalu lama terguyur air hujan. Ia hendak menepi disebuah terminal bus, bermaksud untuk berteduh sembari menunggu giliran bus lewat.
Bersamaan dengan itu ada seorang laki-laki yang juga sedang berteduh karena nampaknya laki-laki itu menggunakan sepeda motor. Terbukti dengan bertenggernya sebuah Ninja Kawasaki berwarna merah dihadapannya.
Saat Nazwa hendak duduk di bangku tunggu penumpang yang berada di ujung--agak jauh dari tempat laki-laki itu duduk, namun tiba-tiba saja pandangannya mengabur menjadi hitam. Nazwa tak sadarkan diri.
Bersambung.
__ADS_1
***