
Setelah mengantar Mas Gagah pergi ke kantor aku bergegas naik ke kamar karena aku juga akan bersiap-siap untuk pergi ke toko kain dan juga ke apotik untuk membeli tespek. Rupanya aku juga terdoktrin dengan ucapan Mas Guntur jika sepertinya aku ini mungkin saja tengah mengandung.
Sesampainya di kamar terdengar suara ponselku berdering tapi kemudian berhenti. Aku mengambil ponselku, Astagfirullah ternyata sudah ada 10 panggilan tak terjawab dari Kinar dan beberapa chat dari Kinar. Aku tidak membuka chatnya melainkan aku langsung menelfon Kinar.
Terdengar suara di sebrang sana Kinar mengucapkan salam, aku langsung menjawabnya.
"Nay ... nay"
Sepertinya Kinar sedang panik. Aku menyuruh kinar agar minum terlebih dahulu untuk meredakan kepanikannya.
"Nay ... rumahmu"
Ya Allah Kinar ini kenapa sih, masih pagi sudah gugup seperti ini.
"Katakan ada apa? rumahku kenapa Kinar?"
" Semalam Dapurmu terbakar, tapi untung saja petugas ronda semalam melihat jadi tidak sampai membakar seluruh rumahmu"
Astagfirullah, ujian apa ini, kenapa bisa rumahku bisa terbakar padahal tidak ada yang menyalakan kompor atau listrik, aneh.
"Kok bisa Nar?"
"Sepertinya ada yang sengaja membakar, hanya saja aku tidak begitu faham Nay"
"Inalillahi ya Allah"
Mataku mulai berkaca-kaca, itu rumah satu-satunya peninggalan Bapak, tega sekali jika benar ada yang sengaja membakarnya.
Kinar mengatakan jika rumahku memang ada yang sengaja ingin membakarnya karena petugas ronda malam melihat ada bekas jerigen di belakang rumahku.
Tapi untung saja warga sigap dan langsung memadamkan apinya dengan menggunakan air secara gotong royong sehingga rumahku tidak habis dilahap si jago merah. Hanya dapurnya saja yang tampak gosong.
Kinar juga sudah mengirimkan foto dapurku yang sudah tak berbentuk, tembok menghitam dan atapnya pun sudah gosong. Aku meminta tolong Kinar agar Ibuku jangan sampai tahu.
Aku juga meminta tolong Kinar untuk membantuku mencari tukang bangunan, merapikan kembali dapurku agar nanti saat pulang kampung Ibu tidak curiga. Jujur aku tidak mau Ibu banyak fikiran. Rumah di kampung adalah rumah bersejarah bagi Bapak dan Ibu.
Aku akhiri panggilan bersama Kinar karena aku ingin mandi terlebih dahulu. Kinar pun demikian, ia akan mengabariku lagi tentang perkembangan rumah Ibu karena Ayah Kinar melaporkan hal ini pada polisi dan polisi akan berusaha menyelidikinya.
Aku sangat beruntung mempunyai sahabat seperti Kinar. Ayah dan Ibunya juga sangat baik. Mereka adalah keluarga baik yang selalu ada untukku.
Baru saja aku akan melangkah ke kamar mandi, ponselku berdering lagi. Kali ini telfon dari Paman. Aku mengetnyitkan dahiku. Tumben sekali Paman menelfon pagi-pagi begini.
Aku mengangkatnya, terdengar disebrang sana suara Bibi tengah menangis. Ya Allah ada apa lagi ini.
Aku mengucapkan salam, namun Bibi tak kunjung menjawabnya. Bibi hanya menangis sesenggukan. Aku jadi panik, sebenarnya Bibi ada apa ini.
"Mbak Nay, Mbak Nay" Suara Zaskia Anak Paman menyapaku di sebrang sana.
__ADS_1
" Iya Kia, ada apa? kenapa Bibi menangis terus,"Tanyaku penasaran.
"Bapak Mbak, Bapak di keroyok sekumpulan preman, tempat usaha Bapak hampir dibakar Mbak." Suara Zaskia mulai parau, mungkin sedang menahan tangis.
"Lalu Paman bagaimana saat ini?"
" Bapak masih belum sadar Mbak, sekarang sedang di rumah sakit"
Ya Allah, pagi ini ujian datang bertubi-tubi. Rasanya menyesakkan sekali, rumah satu-satunya peninggalan Ayah terbakar, dan adik ayah satu-satunya sedang di terpa mendapatkan musibah.
Aku berusaha menenangkan Zaskia, Aku akan membantu biaya pengobatan Paman sampai sembuh. Sepetinya aku harus menggunakan uang pribadiku yang Mas Gagah berikan yang selalu aku tabung takut terjadi keperluan mendadak seperti ini. Tapi sebelumnya aku tetap harus meminta izin pada Mas Gagah.
Bibi berhenti menangis, Bibi mulai berbicara kepadaku. Bibi bilang jika preman yang menyerang Paman menyebut-nyebut namaku agar aku segera bercerai dengan Mas Gagah, atau akan ada lagi kekejaman berikutnya.
Aku menggigit bibir bawahku, aku tiba-tiba merasa ketakutan. Jangan-jangan rumah itu dibakar juga karena ulah seseorang. Ya Allah siapa, selama ini aku tidak memiliki musuh.
Aku meminta maaf pada Bibi, aku berjanji aku akan menyelidikinya dengan meminta bantuan Suamiku nanti. Jujur aku merasa sangat bersalah pada Paman dan Bibi saat ini walaupun mereka tidak menyalahkanku. Aku kasihan dengan Paman karena harus menjadi sasaran kebencian seseorang padaku. Aku juga berjanji pada Bibi bahwa aku akan menanggung biaya rumah sakit Paman nantinya.
Bibi mengakhiri panggilannya. Aku terdiam memaku, Pagi ini, dua musibah terjadi dalam kehidupanku. Ya Allah sebenarnya ini ada apa, kenapa harus seperti ini. Aku mulai merenungkannya.
***
Jam 10 aku bersiap-siap ke toko kain. Setelahnya dari sana rencanaku ingin mengajak Mas Gagah makan diluar saja.
Saat aku membuka pintu utama, ternyata Ayah mertua juga hendak masuk kedalam. Aku terkejut, tapi aku berusaha bersikap biasa saja.
"Aku bukan Ayahmu, jangan panggil aku Ayah"
Hemm, cukup menusuk, tapi aku harus bersikap sebiasa mungkin, tidak boleh gentar apalagi emosi.
"Hemm, ya sudah, silahkan Pak Adi masuk, bukankah ini rumah Pak Adi, saya mau ke luar sebentar."
" Rupanya masih bisa biasa saja, padahal rumah dan pamanmu sedang tidak baik-baik saja,"ucapnya sambil terkekeh.
Aku yang hendak melangkah keluar, tiba-tiba kaki ku terhenti ketika Ayah mertuaku berceletuk tentang sebuah kebakaran.
Bagaimana Pak Adi bisa tahu, apa jangan-jangan Pak Adi yang melakukannya, tapi bagaimana juga Pak Adi bisa tahu rumah dan pamanku. Ya ampun aku sempat melupakan bahwa Pak Adi adalah pengusaha kaya raya yang bisa melakukan apapun asal ada cuan yang berbicara.
Aku membalikan tubuhku lalu menghampiri Ayah mertuaku, " Apa itu ulah anda?"
Pak Adi dengan entengnya mengangguk dan tersenyum.
Aku mengepalkan tanganku. Ya Allah manusia di depanku ini terbuat dari apa sih, kenapa ssangat jahat sekali. Apa terbuat dari tanah kuburan yang masih berstatus sengketa, kenapa begitu senang bersengketa.
"Apa mau anda Pak?"
"Simpel, tinggalkan Gagah, ceraikan dia"
__ADS_1
Lagi-lagi kata itu yang keluar dari mulutnya, entahlah begitu terobsesi sekali ingin aku dan Mas Gagah berpisah.
"Itu tidak akan aku lakukan kecuali Mas Gagah yang menceraikanku."Aku masih berusaha tenang walaupun sebenarnya aku ingin sekali menangis.
"Gagah sudah kamu pelet menggunakan apa sehingga sampai menolak Novia yang dulu menjadi belahan jiwanya, dan tidak mendengarkan nasehat Ayahnya juga,"
Haduh bapak, kenapa kalimatnya pedas sekali sih, sepertinya bapak tadi habis sarapan ketoprak dengan 100 cabai setan. Perkataanmu seperti SETAN.
Lagi dan lagi difitnah menggunakan pelet. Bapak, asal bapak tahu, tidak hanya Mas Gagah saja yang kepincut denganku. Ustad Hadi dan Ustad yang lain dipesantren juga banyak yang menyukaiku😁
Aku hanya berani mengucapkan itu semua dalam hati. Aku tidak ingin berlama-lama meladeni ucapan-ucapan Pak Adi karena hanya akan membuat hatiku lebih sakit.
Aku akan mengatakan semuanya pada Mas Gagah. Aku tidak akan diam saja seperti tokoh Novel lainnya, ditindas, diintimidasi, disakiti, difitnah tapi diam saja. Aku tidak seperti itu, pokoknya aku mau ngadu🤭🤭.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
(**Maaf ya sayangku, cintaku, readersku, baru bisa up tengah malam karena siangnya super sibuk.
Oh ya akhirnya aku memutuskan untuk mengkontrak novel ini di noveltoon karena q fikir sedang dalam pandemi seperti ini, kasihan kalau mamak2 penasaran nanti jd beli buku deh, mending duitnya buat beli beras aja ya Mak, lagi pandemi, harus hemat, jadi pilihanku tetap akan setia disini, bersama readers2 noveltoon yang cantiknya paripurna😁 disini gak ada readers cwo kayaknya jd🤭 Tenang, kekasih Halal akan sampai tamat disini)
__ADS_1
(Harus komen dan kasih Kiss😘😘😘**)