Kekasih Halal

Kekasih Halal
Part 2


__ADS_3

"Yakin dan bersabarlah dengan segala perintah-Nya. Sungguh, Allah tak ingin melihat hambanya rapuh. Karena kasih suci Allah lebih indah dari segalanya."


***


"WOY, Alif! Gue duluan, ya?"


Yang dipanggil Alif pun menoleh. "Hm."


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Take care, Bob!"


"Yo'i."


Muhammad Alif Diafhakri, seorang mahasiswa kedokteran semester akhir yang sedang disibukkan dengan tahap revisi skripsinya. Ia termasuk mahasiswa yang cerdas. Tak heran jika dalam kurun waktu yang lebih singkat--dibanding mahasiswa lainnya--ia sudah bisa membuat skripsi untuk wisudanya.


Tentu bukan hal mudah, setelah sekian lama ia berikhtiar dan berdoa kepada Allah disetiap malam menuju paginya. Doa yang selalu ia imbangi dengan usaha, dan usaha yang selalu ia imbangi dengan doa pula. Jika hilang salah satunya, maka sia-sialah apa yang ia kerjakan.


Terlebih Alif sadar, tidak ada kesuksesan yang instan dalam kerasnya kehidupan di zaman tua ini. Bahkan untuk membuat mie instan pun kita harus merebus air terlebih dahulu bukan?


Kini Alif bisa merasakan indahnya doa yang selalu ia panjatkan di langit-langit malamnya.


"Berdoalah (mintalah) kepadaku, niscaya aku kabulkan untukmu".


(QS. Al-Mukmin : 60)


Berdoa lah, Allah dapat melakukan segalanya dalam sekejap. Dibanding dengan apa yang dapat kita lakukan sepanjang usia.


Setiap harinya ia disibukkan dengan skripsinya, seperti sekarang. Tak mengenal waktu, tak mengenal apa itu lelah. Baginya, bila menghadirkan Allah dalam setiap urusan akan menyenangkan dalam menjalaninya. Membuat kita percaya pada setiap apapun yang terjadi adalah kehendak terbaik-Nya.


Lelahnya akan menjadi lillah.


Insyaa Allah.


Allahu Akbar ... Allahu Akbar ...


Alif menghentikan aktivitas mengetiknya lalu melirik jam yang melingkar di tangannya. "Alhamdulillah. Udah masuk ashar."


Ia segera mengemasi buku-bukunya, tak lupa ia men-shut down laptopnya kemudian memasukkan semuanya ke dalam tas ranselnya.


Setelah itu Alif melangkahkan kaki menuju mushola yang ada di dekat fakultasnya. Segera ia mengambil wudhu kemudian melaksanakan sholat sunnah rawathib qabliyyah ashar empat rakaat.


Qabliyyah ashar memang tidak begitu dianjurkan, tapi kalau memang mampu, kenapa tidak?


Sesaat kemudian iqamah dikumandangkan, dan Alif mengikuti sholat ashar berjama'ah dengan berusaha menjaga ke khusyukannya.


Terdapat sebuah hadits:


(Siapa yang menjaga sholat, maka ia akan mendapatkan cahaya, petunjuk, keselamatan pada hari kiamat. Siapa yang tidak menjaganya, maka ia tidak akan mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan kelak. Nantinya di hari kiamat, ia akan di kumpulkan bersama Qorun, Fir'aun, Haman, dan Ubay bin Kholaf.)


-H.R. Ahmad 2 : 169-


Seusai sholat berjama'ah, Alif bermaksud untuk kembali ke rumah. Ditatapnya langit-langit sore yang nampak sedikit mendung. Sesegera mungkin Alif memakai sepatu conversenya lalu menuju motornya.


"Subhanal ladzi sakhara lanaa, haadza wa maa kunnaa lahu muqriniin, wa inna ila rabbina lamunqalibuun."


(Maha suci Allah yang telah menjinakkan bagi kami kendaraan ini, padahal sebelumnya kami tak bisa mengendarainya.)


Setelah membaca doa berkendara, Alif kemudian menjalankan motor dengan kecepatan rata-rata. Sembari menikmati perjalanan, Alif melihat seorang wanita paruh baya yang nampak kesusahan saat ingin menyeberang.


Ia menepikan motornya, lalu menghampiri ibu-ibu tadi. "Assalamu'alaikum, Bu. Ibu ingin menyebrang?"


"Wa'alaikumussalam. Iya, Nak. Tapi kendaraan yang berlalu lalang begitu ramai sekali. Ibu takut. Jadi nunggu agak sepi deh," jawab ibu-ibu itu.

__ADS_1


Alif tersenyum. "Mari Bu, saya bantu."


"Apa tidak merepotkanmu, Nak?"


"Sama sekali tidak, Bu. Toh, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Akan terlalu lama kalau Ibu menunggu kendaraan agak sepi," ujar Alif.


"Baiklah, Nak. Terima kasih, ya. Kamu anak yang baik." Wanita paruh baya tadi tersenyum pada Alif.


Alif menanggapi dengan senyum manis, membuat siapapun yang melihatnya akan tertegun melihat senyum itu.


Setelah membantu ibu-ibu tadi menyebrang, Alif segera kembali menuju motornya. Kali ini ia menjalankan dengan kecepatan di atas rata-rata, karena nampaknya hujan akan segera turun dan membasahi bumi.


Dan benar saja, hujan sudah turun dengan lebatnya. Alif melihat sebuah halte bus, ia memutuskan untuk berteduh dari pada pulang dengan keadaan basah kuyup. Bisa-bisa Bunda mengkhawatirkan dirinya.


Alif mensyukuri turunnya hujan, karena hujan adalah sebagian rezeki yang di turunkan Allah untuk makhluk di bumi ini.


"Allahummaj-'alhu shoyyiban naafi'an."


(Ya Allah, jadikanlah ia hujan yang bermanfaat bagi kami.)


--Diriwayatkan oleh An-Nasaa'iy no. 1523; shahih.


Alif memakai almamater kedokterannya saat dirasa udara cukup menusuk tulang. Ia duduk sembari mengamati hujan.


Cukup lama Alif berteduh, dan datang seorang gadis berjilbab putih beserta seragam SMA dengan keadaan yang terlihat sangat kacau. Gadis itu berjalan menunduk. Sepertinya pikirannya terlihat kosong. Alif hanya mengamati tak berani bertanya apa-apa.


Tiba-tiba gadis itu terjatuh pingsan. Alif yang melihat keadaan itu begitu bingung sekaligus cemas.


Dengan was-was ia mendekati gadis itu, di tatapnya dengan seksama. Wajah itu nampak begitu pucat namun juga cantik.


Alif menggelengkan kepalanya. "Astagfirullahaladzim."


Ia beristighfar kepada Allah karena sudah lancang mengagumi gadis yang bukan mahramnya.


Karena bingung, akhirnya Alif menelpon seseorang yang ia kira bisa memberikan pertolongan.


"Wa'alaikumussalam warahmatullah. Ada apa, Lif?" balas seseorang dari seberang telpon.


"Mbak Oliv tolong saya Mbak! Saya menemukan seorang gadis yang pingsan di halte. Sebagai calon dokter yang tampan dan baik hati saya sangat ingin membantunya, tapi dia bukan mahram saya, Mbak. Saya takut terjadi fitnah nantinya," kata Alif panik, masih terselip sifatnya yang otoriter itu ditengah keadaan genting seperti ini.


"Ah iya, iya, Mbak paham. Yaudah Mbak kesana sekarang, kamu ada di halte sebelah mana?"


"Masih di dekat kampus, Mbak. Terima kasih Mbak Oliv. Saya tunggu, Assalamu'alaikum."


"Iya, Lif. Wa'alaikumussalam."


Alif melepas almamaternya kemudian memakaikannya bak selimut ke bagian depan badan gadis itu.


Setelah beberapa saat akhirnya Oliv datang. Wanita yang sedang hamil muda itu menghampiri Alif dengan menggunakan payung sesaat keluar dari mobilnya.


"Lif, ini siapa?!" Oliv sedikit teriak karena suaranya teredam suara air hujan.


Alif memijit pelipisnya sendiri. "Saya nggak kenal, Mbak. Tadi saya berteduh di sini. Setelah beberapa saat gadis ini datang dengan wajah pucat pasi, tapi saya nggak berani bertanya. Sampai akhirnya dia jatuh pingsan."


Mendengar penjelasan Alif, Oliv melotot dibuatnya. "Astaghfirullah, Alif. Yaudah, ayo sekarang kita bawa ke rumah Mbak aja."


Alif mengangguk lalu beralih mengambil payung yang dipegang Oliv, kemudian Oliv berusaha memapah tubuh gadis itu dan membawanya ke dalam mobil. Mereka memulai perjalanan dengan Alif yang mengemudi.


Setelah beberapa saat, akhirnya sampailah mereka di kediaman Oliv dan suaminya. Dengan inisiatif Oliv, ia menggantikan baju basah kuyup gadis tadi dengan baju miliknya. Karena memang bentuk tubuh mereka hanya sebelas-dua belas saja.


Lima belas menit berlalu, akhirnya gadis itu membuka matanya.


"Alhamdulillah. Kamu udah sadar?" tanya Oliv.

__ADS_1


"Alhamdulillah. Maaf, saya di mana?" Gadis itu memandang bingung sekitarnya yang nampak asing.


Oliv tersenyum. "Kamu ada di rumah saya. Tadi adik saya menemukan kamu pingsan di halte. Jadilah dia menelpon saya, dan meminta bantuan saya untuk membawa kamu ke sini."


"Oh iya, siapa nama kamu?" tanya Oliv lagi.


"Nama saya Nazwa, Mbak. Terima kasih sudah menolong saya," kata Nazwa dengan senyum tulus.


Oliv terkekeh kecil. "Sama-sama, Nazwa. Sudah sepatutnya sesama muslim kita harus saling membantu."


"Allah selalu membantu seorang hamba, selama hamba itu selalu membantu saudaranya."


-H.R. Muslim-


Bibir pucat Nazwa membentuk garis lurus. Ia tak percaya bahwa putus dari Raka membawa dampak seburuk ini untuk kehidupannya.


Lagi-lagi bayangan Raka terngiang di otaknya. Nazwa benar-benar tidak bisa berpikir jernih saat ini. Namun berkali-kali pula hatinya selalu mengucap istighfar, ia sudah terlalu jauh tersesat di jalan yang salah.


Seandainya saja dia mendengarkan kata-kata abi, nasihat ummi, wanti-wanti dari kakaknya, dan juga teguran dari Acha, mungkin kehidupannya tidak akan se-menyedihkan ini.


"Apabila ada suatu hal yang menimpamu; jangan kamu mengatakan, 'kalau aku tadi seperti ini, tentu tidak terjadi seperti ini'. 'Qadarullah wa maa syaa-a fa'ala' (takdir Allah, apa yang Dia inginkan maka Dia lakukan). Karena kata-kata "Kalau" membuka peluang setan beraksi."


-H.R. Muslim no. 2664-


Yang berlalu biarlah berlalu. Nazwa tidak ingin terus menerus seperti ini.


"Nazwa?"


Panggilan dari Oliv mengejutkan Nazwa. "Maaf, Mbak." Ia tersenyum tak enak kepada Oliv, tapi ia juga bersyukur karena Allah selalu mengirimkan orang-orang baik di hidupnya.


"Makan dulu, yuk."


"Nggak usah Mbak, saya udah terlalu merepotkan Mbak--"


"Oliv. Nama saya Oliv."


Nazwa tersenyum. "Saya udah terlalu banyak merepotkan Mbak Oliv. Terima kasih banyak. Tapi sekarang saya harus pulang. Saya takut ummi akan khawatir."


Oliv tersenyum lagi-lagi. "Maasya Allah, kamu sama sekali nggak merepotkan kok. Tapi yaudah kalau begitu, biar Mbak antar ya pulangnya? Sekali lagi, dan tolong jangan menolak."


Mau tak mau Nazwa pun ikut tersenyum. "Tafadhol, Mbak Oliv."


Oliv tertawa kecil. "Kalo gitu Mbak panggil sepupu Mbak dulu, ya."


"Alif!"


Masuklah seorang laki-laki yang kira-kira umurnya empat tahun lebih tua dari Nazwa.


"Ada apa Mbak?" tanya laki-laki bernama Alif tadi.


"Anterin Mbak, ya? Mbak mau nganterin Nazwa. Mas Farid lagi dinas di luar kota," pinta Oliv.


Maasya Allah, jadi namanya Nazwa. -batin Alif.


Alif tersenyum manis. "Iya Mbak."


Sejenak, Nazwa sempat tertegun sesaat melihat senyum itu.


Subhanallah ... eh, astaghfirullah!


Oliv tersenyum senang. "Yeay! Ayo Nazwa!"


Mereka bertiga menuju rumah Nazwa pada malam itu.

__ADS_1


Bersambung.


***


__ADS_2