
Seperti biasa setiap pagi Mas Gagah berangkat ke kantor dan pagi ini Mas Gagah mengajak Mas Guntur juga ke kantor karena Mas Gagah tidak mau adiknya itu berlama-lama di rumahnya tanpa ada Mas Gagah di dalam rumah.
Aku membantu Ibu membawakan bekas sarapan ke dapur. Aku juga ingin sedikit tahu tentang Mas Gagah dan Mas Guntur seperti apa. Bi Asih mencuci piring, sementara Aku dan Ibu ke taman belakang, Ibu menyiram tanaman dan aku berdiri di samping Ibu. Aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan perihal keluarga Mas Gagah. Aku yakin Ibu pasti tahu karena Ibu sudah bekerja disini cukup lama.
Pertanyaan pertama aku menanyakan hubungan Mas Gagah dan Mas Guntur yang sebenarnya itu seperti apa, apakah selalu bertengkar atau mereka memang seperti itu cara mengungkapkan rasa sayangnya.
Kata Ibu, Mas Gagah dan Mas Guntur ya seperti persaudaraan pada umumnya. Ada saatnya akur ada juga saatnya bertengkar. Ibu menyadari dan memahami hal itu apalagi mereka berdua laki-laki, adu jotos bagi laki-laki adalah hal yang tidak asing.
Mereka yang jelas saling menyayangi.
"Bu, kenapa Mas Guntur di Jepang sementara Mas Gagah menetap di Indonesia?" tanyaku lagi.
" Dulu pacar Mas Gagah tidak mau ditinggal jauh ke Jepang, jadi Mas Gagah memilih menetap disini, tapi sayangnya yang di perjuangkan malah seperti itu"
Ada sedikit rasa perih dihati mendengar Mas Gagah begitu mencintai pacarnya dulu sampai rela menetap di Indonesia.
"Bagaimana dengan sifat Ayah Mas Gagah Bu?"
Ibu menatapku, " Ayah Mas Gagah lebih banyak diam dan lebih banyak bekerja, sejak kematian Ibu Mas Gagah, Ayah Mas Gagah menjadi gila kerja. Tapi setahu Ibu, beliau orang baik Nay, sama seperti Mas Gagah dan Mas Guntur, mereka juga orang baik"
Aku mengangguk pelan, aku berharap apa yang dikatakan Ibu benar. Ayah Mas Gagah semoga perlahan bisa menerimaku.
Ting tong (Suara bel berbunyi)
Aku mengakhiri perbincanganku dengan Ibu. Aku bergegas ke ruang tamu. Siapa ya sepagi ini sudah bertamu. Aku tidak mengintip dulu dari balik jendela, aku langsung membukanya.
__ADS_1
Laki-laki paruh baya, berpakaian rapi dengan stelan jas dan kemeja dengan warna senada, walaupun usianya sudah tak muda lagi, namun wajahnya masih terlihat tampan. Laki-laki itu langsung masuk kedalam rumah. Aku terkejut namun aku langsung menyadari jika wajah laki-laki itu sekilas mirip suamiku.
Laki-laki itu tiba-tiba berbalik melihat kearahku, aku masih diam di tempat sambil menatapnya juga.
"Jadi kamu pembantu yang sudah menggoda anak saya, anak saya memang sangat bodoh, tidak punya selera yang bagus sampai pembantunya dinikahi"
" Oh apa jangan-jangan kamu yang sudah menggoda anakku dengan tubuhmu yang tertutup itu," Sambungnya lagi.
Sakit, sakit sekali, ucapannya sangat menyakiti hatiku. Andai ini bukan orang tua Mas Gagah, Aku ingin sekali melumuri mulutnya dengan tepung gula agar ucapannya sedikit manis. Aku masih terdiam membisu, entahlah aku seperti kaku tidak bisa melawan.
" Kamu harus sadar, Gagah menikahimu bukan atas dasar cinta, dia yang sedang putus cinta saat itu pasti hanya menjadikanmu sebagai pelampiasan saja, kamu harus sadar itu." Jari telunjuknya mengarah ke wajahku.
Aku pun tersentak, apa benar Mas Gagah menikahiku karena menjadikanku sebagai pelampiasan semata. Jujur sampai saat ini memang Mas Gagah belum pernah bilang cinta. Mas Gagah hanya bilang bahwa dia menyukaiku.
Ayah Mas Gagah menghampiriku, kini beliau sudah berada dihadapanku.
Aku tahan emosiku, aku tahan air mataku agar tidak tumpah di depan Ayah Mas Gagah, aku harus kuat, aku tidak boleh goyah dengan gertakan Ayah Mas Gagah.
Ya Allah itu mulut apa tombak sih, sakit banget kena dihati.
Ayah Mas Gagah lalu mengeluarkan selembar kertas lalu memperlihatkannya padaku. Kertas itu adalah sebuah chek, aku lihat nominalnya 500 juta rupiah.
"Ini akan menjadi milikmu, ini cukup untuk membangun usaha di kampungmu nanti, tapi syaratnya kamu harus meninggalkan Gagah, bagaimana?"
Aku menggeleng pelan, tapi Ayah Mas Gagah langsung bertepuk tangan. Aku bingung, seperti sedang memainkan sebuah perlombaan saja, aku diberikan tepuk tangan.
__ADS_1
Ayah Mas Gagah bertepuk tangan lagi sambil mengitariku. Aku masih diam saja, aku diam karena aku menghormati Ayah Mas Gagah sebagai ayah dari suamiku.
"Kamu ternyata licik juga, kamu tahu kalau kekayaan Gagah lebih dari 500 juta jadi kamu tidak mau chek ini"
Aku mendengus pelan. Ya ampun ini manusia kenapa mulutnya semakin pedas saja. Jujur aku sama sekali tidak tahu sekaya apa Mas Gagah. Aku tidak pernah menanyakan saldo rekening Mas Gagah, nominal aset perusahaan yang Mas Gagah miliki. Aku bahkan sangat jarang menggunakan uang dari Mas Gagah karena memang kebutuhanku tidak banyak.
Ibu tiba-tiba tergopoh-gopoh menghampiriku lalu menyapa ayah Mas Gagah. Ayah Mas Gagah tampak acuh tak acuh.
"Fatimah, kamu bekerja disini sudah puluhan tahun, inikah balasannya, ternyata diam-diam kamu ingin menguasai rumah ini atas nama anakmu." Suara Ayah Mas Gagah begitu menggelegar.
Aku melirik ke arah ibuku yang diam saja. Jika Ayah Mas Gagah menghinaku aku tidak masalah, tapi tidak dengan Ibuku.
"Cukup Pak." Bentakku, ini bukanlah aku yang sesungguhnya. Entahlah rasanya hati ini sudah sangat perih mendengar hinaan dari Ayah Mas Gagah, ditambah lagi hinaan untuk Ibuku yang menambah hati ini semakin perih.
"Bapak boleh menghinaku, tapi tidak dengan Ibuku, Ibuku tidak salah, bahkan saat itu Ibu sedang sakit. Kami memang miskin, tapi kami tidak gila harta, silahkan tanyakan pada Mas Gagah selama ini aku sudah meminta apa, aku tidak pernah meminta apa-apa, jika bapak ingin aku dan Mas Gagah berpisah, silahkan bujuk Mas Gagah untuk menceraikanku, karena Mas Gagah yang lebih berhak memberikan talak."
Entahlah aku mendapat keberanian dari mana berkata-kata seperti itu. Bibirku bergetar, sebenarnya hati kecilku takut tapi membiarkan Ayah Mas Gagah menghina Ibu rasanya aku mulai tidak terima.
Ayah Mas Gagah mengangguk-angguk,"Oke, Gagah pasti mau memenuhi permintaan ayahnya ini untuk menceraikan wanita gila harta dan tidak sopan ini,"ucapnya sambil jarinya menunjuk ke arah wajahku.
Ayah Mas Gagah langsung keluar dari rumah tanpa permisi.
Aku menghembuskan nafas perlahan. Ya Allah yang tidak sopan siapa disini. Untung saja aku masih bisa mengendalikan emosiku. Andai saja syetan mampir sebentar ke rumahku tadi, entahlah mungkin aku sudah kalap seperti aku menghajar Rudi teman sepermainan waktu SMP karena berani mencolek dada Kinan.
Aku tanpa Ayah menjadikanku harus menjadi wanita kuat yang bisa menjaga diri. Walaupun aku dibesarkan di pesantren tapi bukan berarti aku akan menjadi seanggun Bu Nyai.
__ADS_1
Ibu langsung merangkulku lalu menangis dipelukanku. Aku juga sebenarnya ingin menangis, ini pertama kalinya aku dihina dengan fitnahan yang sangat kejam.
Tapi Aku seakan teringat perkataan Mas Gagah bahwa aku harus kuat dan berani menghadapi masalah yang akan terjadi nantinya.