Kekasih Halal

Kekasih Halal
Part 11


__ADS_3

"Ada yang datang tanpa mengabarkan, ada yang pergi tanpa pamit, ada yang berjuang tanpa diketahui, ada yang diam-diam Melangitkan doa-doa untukmu, yaitu Aku."


-Muhammad Alif Diafhakri-


***


SEPERTI janjinya kepada abi. Sepulang sekolah Nazwa langsung menuju rumah orang tuanya.


Bertepatan pada pukul 17.15 wib. Dikarenakan sekolah Nazwa sudah menganut sistem full day, jadilah semua siswa pulang sore. Tapi, ketika sabtu mereka diliburkan. Atau kadang diisi dengan beberapa kegiatan ekstra kurikuler.


"Assalamu'alaikum," ucap Nazwa saat memasuki rumah orang tuanya.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."


Nazwa mencium punggung tangan abi. "Tumben Abi udah pulang?"


Abinya terkekeh. "Kerja terus nggak enak sama yang lain."


Terlihat raut bingung di wajah Nazwa.


Abinya pun melanjutkan ucapannya. "Sudah. Cepat mandi sana."


Nazwa mengangguk kemudian melangkahkan kaki menuju kamarnya.


Gadis berusia 17 tahun itu tidak langsung mandi, melainkan malah merebahkan dirinya di atas kasur. Menatap langit-langit kamar yang bernuansa putih bersih.


Biasanya kalau sepulang sekolah seperti ini, Raka selalu menanyakan kabarnya melalui telepon. Apakah dia sudah sampai rumah dengan selamat, apakah dia sudah makan, dan masih banyak lagi hal lain yang laki-laki itu tanyakan.


Jujur saja, Nazwa sedikit merasa kehilangan sesuatu yang sudah menjadi seperti kebiasaannya dengan Raka. Biasanya, kalau malam mereka akan menghabiskan waktu dengan mengobrol melalui telepon. Kadang pula chattingan sampai larut. Dan ... ada saja hal unik yang Raka perbuat untuk membuat Nazwa merasa bahagia.


Namun, untuk saat ini, Nazwa merasa keliru. Kebahagiaan itu adalah sebuah kebahagiaan yang semu. Kebahagiaan yang menipu. Kebahagiaan yang menyesatkan, dan kebahagiaan yang palsu. Pun kebahagiaan yang haram.


Dia menghela napas perlahan, sembari memejamkan matanya. Berharap Allah memberikan kedamaian di dalam hatinya.


Kemudian gadis itu memutuskan untuk membersihkan diri.


Setelah beberapa saat, Nazwa sudah keluar dari kamarnya. Ia melangkah menuju ruang tamu. Tidak biasanya abi dan umminya duduk berdua saja. Biasanya abi akan lebih sibuk dengan laporan atau berkas-berkas pekerjaannya. Namun, kali ini beliau terlihat santai tertawa bersama ummi.


Derap langkah kaki membuat abi dan ummi menoleh, kemudian mereka mendapati wajah cantik dari putri mereka.


"Dek. Sini," panggil umminya. Beliau menepuk sofa di sebelah kirinya, karena di sebelah kanan sudah ada abi.


Nazwa pun duduk di sebelah ummi. "Tumben Abi nggak sibuk sama berkas-berkas lagi?"


Abinya tersenyum manis. "Abi mau belajar, untuk sering-sering quality time sama Ummimu."


Umminya pun terlihat tersipu, ditandai dengan rona merah di kedua pipinya.


Haduh! Ada-ada saja orang tua zaman now ini.


"Nanti malam dandan yang cantik, ya," celetuk umminya tiba-tiba.


"Kenapa Um? Kita mau pergi, ya?" tanya Nazwa.


Ummi Audy menggeleng. "Nanti malam--"


Tiba-tiba saja abi membekap mulut ummi Audy.


Maasya Allah. Ada-ada saja, 'kan?

__ADS_1


Abi seperti mengisyaratkan ummi Audy untuk diam. Dan Nazwa dibuat semakin penasaran oleh keadaan.


"Ada yang ditutupin dari Nazwa?"


Abi menggeleng. "Sudah. Turuti saja kemauan Ummimu itu. Siapa tau kamu dapat doorprize nantinya."


Nazwa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Lelucon Abinya begitu garing. Tak tahukah mereka bahwa sekarang Nazwa tengah dilanda kebingungan alias rasa penasaran yang belum terpecahkan.


Tak lama setelah itu, adzan maghrib berkumandang. Mereka segera bersiap untuk melaksanakan sholat berjamaah.


"Kita nggak nunggu Kak Upal dulu, Bi?"


"Nggak usah. Naufal masih lama," jawab abi Ahmad.


Memangnya kemana perginya Naufal? Batin Nazwa bertanya.


Setelah selesai sholat, Nazwa kembali ke kamar. Ia mengingat pesan ummi untuk berdandan yang cantik. Memangnya, seperti apa sih dandan yang cantik itu? Bukankah semua wanita memang sudah terlahir cantik bukan?


Ia menghela napas kemudian membuka lemari. Memilah beberapa gamis.


Tokk ... Tokk ...


"Assalamu'alaikum. Dek, Ummi masuk, ya?"


"Wa'alaikumussalam. Iya Um, masuk aja nggak di kunci kok."


Wanita paruh baya yang masih terlihat begitu cantik itu masuk dengan membawa paper bag.


"Pasti lagi milih gamis, ya?" Tebakan umminya selalu tepat sasaran.


"Iya. Nazwa bingung. Ummi bisa bantu Nazwa?"


"Abi?"


Umminya mengangguk, masih dengan senyuman. "Udah, buruan pakai."


Meskipun dengan perasaan bingung, gadis itu tetap menurut.


Seingat Nazwa, abinya adalah tipikal laki-laki yang tidak suka berbelanja. Tiap kali ummi belanja bulanan saja selalu Nazwa yang mengantar. Tapi, kok ini sampai membelikan Nazwa baju.


Gamis berwarna pink muda dipadu dengan jilbab syar'i yang berwarna serupa melekat indah di tubuh mungil Nazwa. Abinya tahu saja kalau Nazwa menyukai warna pink.


"Gimana? Kamu suka?"


Nazwa mengangguk antusias. "Sangat suka. Nazwa harus berterima kasih sama abi."


"Sini duduk. Ummi make up tipis-tipis dulu."


"Make up juga?" tanya Nazwa kaget.


"Iya dong," balas ummi Audy.


Setelah itu ummi segera memoles wajah Nazwa dengan baik. Make up tipis yang elegan. Namun, gadis itu tidak berhenti menggerutu. Katanya; tipis-tipis saja Um, jangan tebal-tebal nanti Nazwa kayak badut, dan masih banyak lagi.


"Selesai!" kata ummi Audy.


"Um. Apa ini nggak ketebalan?" Nazwa mengamati wajahnya di depan cermin. Cantik sih. Tapi apa nggak berlebihan. Batinnya.


"Udah, jangan dihapus. Putri ummi ini sangat cantik sekali," hibur umminya. Tapi beliau tidak bohong bahwa putrinya ini memanglah begitu anggun dan manis.

__ADS_1


"Yuk, turun. Abi sudah menunggu di ruang tamu," ajak ummi Audy.


"Sebentar. Ummi nggak dandan?"


Umminya malah tertawa. "Nggak perlu. Ummi 'kan udah laku."


Nazwa terlihat sedikit kesal. Meskipun begitu kemudian mereka melangkahkan kaki bersama menuju ruang tamu.


Entah mengapa jantung Nazwa berdetak lebih kencang dari biasanya. Seperti akan ada suatu hal yang terjadi. Apa lagi ditambah rasa penasarannya yang belum terpecahkan.


Dengan dituntun oleh umminya, gadis itu berjalan menunduk. Dia malu menampakkan wajahnya yang seperti badut itu kepada abinya.


"Abi ... kok lihatinnya gitu banget. Nazwa jelek, ya?" tanya Nazwa saat tahu bahwa sedang di amati.


"Kamu sangat cantik."


Itu bukan suara abinya!


Nazwa segera mendongak, melihat sang pemilik suara. Matanya menyapu seluruh ruang tamu. Banyak pasang mata yang mengamatinya rupanya.


"Loh? Ummi ...." Gadis itu menoleh pada umminya. Seolah meminta penjelasan.


Umminya pun tersenyum. Tapi tidak mengatakan apapun.


"Ya sudah, Om. Langsung saja saya sampaikan maksud dan tujuan saya kemari beserta Ayah dan Bunda. Saya ... saya ingin melamar putri Om," kata laki-laki yang memuji Nazwa cantik tadi.


Melamar putri Om.


Gadis yang sedari tadi sibuk menundukkan kepalanya kini sedikit mendongak. Meremas ujung gamis yang ia kenakan.


Siapa yang laki-laki itu maksud? Putri abi bukankah hanya dirinya? Nggak mungkinkan kalau dia melamar Naufal.


"Om sudah tau, Lif. Jangan tegang gitu dong," tawa abi Ahmad terdengar disusul dengan yang lainnya.


Alif. Laki-laki itu tersenyum lega. Pria paruh baya dihadapannya ini memang sangat pengertian.


"Iya, Lif. Ini 'kan memang rencana Ayah sama Om Ahmad. Iya 'kan, Mad?" sambung laki-laki paruh baya di sebelah Alif.


"Tentu saja!" Abi Ahmad tertawa lagi. "Jadi gimana Nazwa?"


Gadis yang sedari tadi menunduk dalam itu sedikit mendongak. "Apanya Bi?"


"Kamu menerima lamaran Alif?"


Nazwa bingung bukan main. Benar dugaannya!


"Na-Nazwa ... belum bisa menjawab sekarang. Naz-Nazwa ... butuh waktu," jawab gadis itu dengan suara tersendat karena gugup.


Penonton kecewa. Semua orang nampak menghela napas berat. Termasuk seorang wanita yang duduk di sebelah umminya.


"Yaudah nggak papa. Jangan terburu-buru. Nazwa juga harus fokus dulu sama UNBKnya, ya. Jangan terlalu memikirkan masalah perjodohan ini," kata ayahnya Alif.


"Tapi kalau bisa secepatnya ya, Nak. Rasanya Bunda udah nggak sabar punya menantu cantik seperti kamu." Bundanya Alif menambahkan.


Nazwa mengangguk sambil tersenyum canggung. Sungguh. Ini keputusan yang sulit.


Apakah harus menikah di usia muda?


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2