Kekasih Halal

Kekasih Halal
Part 13


__ADS_3

"Setelah kau terima cintaku, hatiku rasanya seperti Qalqalah Kubro. Terpantul-pantul dengan keras."


***


"AKU sudah memutuskan untuk menerima lamaran Alif, Bi," kata Nazwa. Semoga ini keputusan yang tepat. Batinnya.


Dia sudah siap dengan segala resiko yang akan ditanggungnya nanti.


Saat ini keluarga besar Ahmad Rasyid itu sedang berkumpul di ruang keluarga.


Mendengar jawaban Nazwa, abinya pun tersenyum. "Kamu sudah mantap dengan keputusanmu?"


Nazwa mengangguk.


"Sebenarnya Abi tidak memaksa dalam hal ini. Abi dan om Hanan hanya menepati nazar kami sewaktu dulu," ungkap Abinya.


Nazwa menggeleng. "Ini murni keputusan Nazwa, Bi. Dan, Nazwa sama sekali nggak terpaksa. Mungkin ... dengan ini Nazwa bisa membuat Abi bahagia dan bisa membalas sedikit jasa-jasa Abi yang tidak terukur dengan apapun." Nazwa tersenyum simpul, "karena Nazwa sadar, Nazwa nggak akan bisa balas semua jasa yang udah Abi curahkan pada Nazwa selama ini."


Senyum bahagia sekaligus bangga terpancar dari wajah kedua orang tua Nazwa. Tidak sia-sia mereka mendidik keras putrinya selama ini. Hasilnya sama sekali tidak mengecewakan.


Ahmad yakin, putri kecilnya itu akan menjadi istri yang penurut nantinya. Menyelesaikan masalah dengan baik, menjadi ibu yang baik. Karena, meskipun usia Nazwa yang masih terbilang cukup muda untuk berumah tangga, tapi kedewasaan yang ada dalam diri Nazwa akan membantu meringankan semuanya.


"Baiklah, kalau gitu Ummi telpon tante Ranti dulu, ya. Pasti mereka sangat bahagia dengar kabar ini," ucap ummi Audy semangat dan berlalu untuk menelpon pihak keluarga Alif.


Di sisi lain, Alif yang sedang berkutat dengan laptopnya itu terhenti ketika mendengar ketukan pintu dari luar kamarnya.


"Bunda masuk ya, Nak?"


"Masuk aja, Bun. Nggak dikunci," balas Alif.


Kemudian masuklah wanita paruh baya tadi yang masih terlihat sangat cantik itu. Tak lupa, disertai dengan senyumnya yang mengembang seperti enggan luntur ibarat cucian.


"Kenapa, Bun?" tanya Alif. Ia mematikan laptopnya, kemudian duduk di sofa yang tersedia di kamarnya itu.


Ranti, bunda Alif ikut duduk di samping putranya. Ukiran senyumnya benar-benar tidak luntur sama sekali. "Tadi Bunda dapat telpon dari keluarga Nazwa. Katanya, Nazwa menerima lamaran kamu."


Deg!


'Nazwa menerima lamaran kamu'


Antara kaget dan senang, Alif tersenyum melipat kedua bibirnya ke dalam menahan senyuman. Ia tidak menyangka kalau secepat ini gadis itu akan menerimanya.


Tapi, ia juga senang. Karena ternyata, Allah mengabulkan segala munajatnya selama ini. Gadis yang namanya kerap ia lantunkan di setiap sujud malamnya kini menerima pinangannya.


"Oh iya," ucap bunda Ranti lagi. "Kata Ayah, nanti malam kita langsung ke sana. Mereka mengundang kita buat makan malam bersama, sambil menentukan tanggal pernikahan kalian. Kamu siap-siap, ya."


"Siap Bunda!"


Sepeninggal Bundanya, ia lantas meloncat ke sana ke mari sambil mengepalkan tinjuan ke udara berkali-kali.


Sangking bahagianya, ia sampai tidak bisa mendeskripsikan betapa bahagia perasaannya saat ini. Bak remaja yang baru merasakan jatuh cinta, padahal usianya sudah berkepala dua bahkan lebih.


Sungguh, berkali-kali pula Alif mengucapkan kata 'Alhamdulillah' di dalam hati kecilnya.


***


SEPERTI pada wacana utama. Malam ini, keluarga besar Diafhakri datang di kediaman keluarga Nazwa.


Alif seperti tidak tahan untuk tidak selalu tersenyum. Namun, ia harus sekuat tenaga menahannya. Bisa-bisa Nazwa mengiranya sebagai lelaki tidak waras karena selalu tersenyum padahal tidak ada hal yang menarik.


Sama seperti Alif, sang bunda-pun tak henti-hentinya menunjukkan ekspresi bahagianya. Kemudian wanita paruh baya itu menekan bel.


"Assalamu'alaikum," ucapnya.


Nazwa keluar membuka pintu utama, karena berkali-kali orang di luar sana menekan tombol bel dan mengucapkan salam.


"Wa'alaikumussalam."


Begitu pintu terbuka, Nazwa dikegetkan dengan pemandangan yang tak biasa.


Alif.


Laki-laki itu begitu tampan dengan kaus putih polos dilapisi jaket hitam dan celana yang warnanya serupa dengan jaket yang laki-laki itu kenakan.


"Nazwa," panggil bunda Ranti.


Gugup. Itulah gambaran perasaan Nazwa saat ini.


"Eh? Iya, Tante. Mau cari Ummi sama Abi, ya? Ayo, silahkan masuk."


Bunda Ranti tersenyum hangat, kemudian ia melangkah masuk bersama Alif dan sang suami.


Nazwa segera ngacir ke kamarnya. Hal itu membuat Alif terkekeh dalam diam.


Lucu. Batinnya.


"Woi! Dek! Buruan turun. Tante Ranti mau ketemu sama kamu tuh!" panggil Naufal dari balik pintu.


Nazwa menarik napas sejenak. Melihat penampilannya di depan cermin, kemudian melangkah turun.


Semua pasang mata tertuju pada satu titik. Yaitu; Nazwa. Hal itu tentu membuatnya semakin gugup.


"Sini, Wa. Duduk di sebelah Tante." Wanita itu menepuk sofa kosong di sebelahnya dan Nazwa membalas dengan senyuman


Pokoknya, ia sangat-sangat bersyukur. Karena setidaknya, ibunda Alif selalu bersikap hangat kepadanya. Dia pikir semua perjodohan akan selalu berjalan dengan buruk. Seperti kisah di novel-novel yang sering ia baca. Tapi nyatanya, rencana Allah lebih indah dari segala ekspektasinya selama ini.


"Sudah kumpul semua, 'kan?" tanya Ahmad--abinya Nazwa. "Kalau begitu kita langsung pada intinya saja. Jadi, kapan pernikahannya akan dilangsungkan?"


Semua terdiam sejenak. Begitupun Nazwa yang kini tengah meremas buku-buku tangannya.


"Seusai Nazwa ujian, bagaimana, Om?" Suara bass laki-laki itu, membuat jantung Nazwa maraton di malam hari ini.


Hah?


'Seusai Nazwa ujian'


Secepat itukah?


Nazwa jadi berpikir bahwa laki-laki itu sudah sangat tidak sabaran. Dibaca: kebelet nikah.

__ADS_1


"Kamu yakin, Lif?" tanya ayah Hanan.


Alif mengangguk dengan sangat mantap.


"Bagaimana Nazwa?" Kali ini ayah Hanan beralih bertanya pada Nazwa.


"I ... iya, Om. Nazwa nggak masalah."


Dengan serempak semua orang yang ada di ruangan itu mengucapkan 'Alhamdulillah'.


Kemudian mereka makan malam dengan tenang. Sesekali ada canda tawa dari kedua belah pihak orang tua. Sedangkan Nazwa? Dia hanya tertunduk diam. Karena sedari tadi, tak sengaja matanya selalu bertemu dengan mata Alif yang melirik kepadanya di sela-sela makan.


Bahkan, beberapa kali mata mereka bertemu dengan sangat. Namun, dengan cepat kilat Alif memutus eye contact itu. Dia tahu, belum saatnya.


***


"GUE nggak nyangka. Ternyata orang yang lo maksud itu adik gue, man?" kata Naufal pada Alif.


Sekarang, kedua laki-laki tampan idaman para wanita itu duduk di balkon kamar Naufal.


"Mana gue tahu, Fal." Alif terkekeh. "Kalau tahu ternyata yang akan dijodohkan sama gue itu Nazwa, gue akan langsung bilang 'iya' waktu itu. Nggak perlu sehari semalam atau semacamnya."


"Lagian, kenapa lo nggak bilang kalau punya adik sesempurna Nazwa?" lanjutnya.


Naufal melongo. Demi apapun. Baru kali ini dia mendengar Alif berbicara panjang disertai ekspresi. Tidak flat seperti biasanya.


"Biasa aja muka lo!" Alif melempar Naufal dengan keripik yang akan dia makan.


"Gue sekarang percaya kalo ternyata cinta emang bisa ngerubah seseorang." Naufal menggeleng takjub.


Alif memutar bola matanya malas. "Apa kabar hati lo yang sudah jadi bucin tahunan."


Jleb.


Kok pedes, ya?


Rasanya, Naufal ingin meremas mulut sahabatnya itu namun sekuat tenaga ia tahan. Alif mengingatkan Naufal pada seseorang itu, lagi.


"Gue bukan bucin, kampret!"


Kali ini, malah Alif yang meremas mulut Naufal. "Jaga mulut lo. Gue nggak mau calon istri gue-lo racunin pake bahasa gila lo itu."


"Heh! Gue tau ya mana yang terbaik buat adik gue!"


"Bullshit."


"Gak percaya lo?"


"Buktinya?"


"Buktinya gue restuin lo nikahin adik gue."


Alif **** senyum geli.


Entahlah. Ternyata hanya dengan mendengar namanya saja sudah membuat jantungnya lompat-lompat tak karuan.


"Berarti, secara nggak langsung lo yakin dong kalau gue yang terbaik untuk adik lo?"


"So? "


"Lif, tapi gue harus bicara serius sama lo."


Alif memandang Naufal dengan horor.


"Kenapa muka lo, hah?!" sewot Naufal. "Gue serius kampret!"


Alif kembali mendatarkan wajahnya. "Ya sudah. Buruan."


Naufal menarik napas sejenak. "Ini nggak seperti yang lo lihat, Lif. Semuanya pasti di luar dugaan otak cerdas lo itu."


"Maksudnya?"


"Ck," decak Naufal. "Nazwa itu nggak sesempurna yang lo kira asal lo tau."


Lalu Naufal mengulur napas. "Bukannya gue mau buka aib adik kesayangan gue, ye. Tapi, karena status lo sekarang sudah merangkap jadi calon suami dia, mau nggak mau, lo harus tahu. Karena gue yakin kalo Nazwa nggak akan menceritakan dengan sendirinya apa lagi lo itu orang baru bagi dia."


Alif masih setia mendengarkan.


"Nazwa pernah pacaran."


Deg.


"Tiga tahun, sob," ucap Naufal lirih. "Gue nggak tahu apa yang terjadi selama tiga tahun belakangan itu. Yang jelas, gue ngerasa benci banget sama diri gue sendiri karena nggak bisa jagain adik gue satu-satunya dari kubangan dosa besar itu."


Alif menoleh ke samping. Menatap Naufal yng terus berbicara.


"Gue ngerasa gagal jadi kakak yang baik buat dia. Tiga tahun gue kecolongan." Naufal menunduk lalu dia tertawa sumbang.


Hingga tepukan pada pundaknya membuatnya mendongak.


"Lo nggak bisa menyalahkan diri lo sendiri, Fal," ucap Alif. "Di dunia ini, ada dua hal yang nggak bisa kita tentukan. Takdir dan cinta. Kita nggak akan tahu apa yang akan terjadi pada diri kita satu detik dari sekarang. Dan, kita juga nggak akan tahu, pada siapa akhirnya kita akan jatuh cinta. Seperti gue." Alif terkekeh di akhir kalimatnya.


"Percaya sama Allah. Kalau semua yang terjadi, entah itu di masa lalu atau yang akan datang sudah dirancang dengan baik oleh Dia." Alif menengadahkan kepalanya ke langit penuh bintang. "Gue tahu, Fal. Lo adalah kakak terbaik yang pernah ada di hidup Nazwa. Dan ... lo juga calon kakak ipar terbaik untuk gue."


Naufal melempar Alif dengan kaleng soda. "Kalo itu jelas! Lah kakaknya Nazwa 'kan cuma gue!"


Alih-alih marah, Alif malah tertawa. Dan, baru kali ini Naufal melihat Alif tertawa tanpa paksaan dan bukan rekayasa.


"Jadi, setelah lo tahu semua ini, apa lo yakin masih mau melanjutkan semuanya?" tanya Naufal serius. Pasalnya dia sangat tahu, Alif tidak pernah menyukai orang yang melanggar perintah Allah. Pacaran misalnya.


Alif mengernyit. "Why not?"


Naufal tersenyum miring.


"Gue suka Nazwa apa adanya, Fal. Gue tahu kalau ini pengalaman pertama gue jatuh cinta. Tapi, gue pernah punya prinsip. Saat gue sudah memutuskan untuk menjatuhkan hati gue pada seseorang, itu berarti gue bukan cuma menerima kelebihannya saja, tapi juga semua yang ada pada orang itu," terang Alif mengukir senyuman.


Naufal benar-benar terkesima. Ia merasa menemukan Alif yang sebenarnya malam ini.


"Dan ... buat gue, Nazwa itu selalu sempurna di mata gue."

__ADS_1


Kalimat penutup itu sudah menjelaskan semua keraguan di benak Naufal. Sekarang, ia yakin jika telah melepaskan Nazwa pada laki-laki yang tepat. Insyaa Allah.


"By the way, lo nggak apa-apakan kalau Nazwa nikah duluan?"


Naufal melotot. "Apa-apaan, Njay! Gue duluan!"


"Fal, please," decak Alif. "Jangan buat gue nunda-nunda semuanya. Gue ingin secepatnya bisa menjaga Nazwa tanpa adanya batasan."


"Gue duluan kampret! Gue nikah minggu depan!" keukeuh Naufal.


"Sama?"


"Kepo lo! Liat aja mingdep." Naufal pun tersenyum miring.


"Yayaya. Terserah."


"Tenang aja. Gue restuin lo sama adik gue. Gue percaya lo bisa jaga Nazwa lebih baik dari gue selama ini." Naufal tersenyum lalu menepuk pundak Alif. "Gue percaya sama lo."


Alif tersenyum lebar. "Thanks."


***


SETELAH keluarga Alif pulang, Nazwa segera naik ke lantai dua menuju kamarnya.


Namun, langkahnya terhenti di depan pintu ketika seseorang keluar dari kamar Naufal, kakaknya.


Orang itu adalah ... Alif.


Apa yang laki-laki itu lakukan di sini? Bukankah semua anggota keluarganya sudah pulang?


Ah, rupanya Alif ketinggalan!


Nazwa mematung di tempat begitu pula dengan Alif yang berdiri kaku saat hendak menutup pintu kamar Naufal.


Jarak mereka hanya terpaut satu meter, maybe. Karena kamar Nazwa dan Naufal memang bersebelahan.


Alif lantas tersenyum manis. Dan dibalas senyum manis pula oleh Nazwa.


Gadis itu lalu cepat-cepat masuk ke kamarnya.


"Selamat malam, Nazwa. Slept tight my sweet," gumam Alif sangat pelan dan mungkin tidak akan didengar seseorang pun meskipun itu nyamuk yang sedang numpang lewat.


Nazwa memegang dadanya yang berdegup tak karuan setelah memastikan pintu kamarnya tertutup aman.


Ada apa dengannya?


Ia benar-benar bingung dengan perasaannya saat ini. Rasanya ... acak-acakan tak karuan. Apa lagi saat melihat Alif seperti tadi.


Anehnya, meski sudah tiga tahun bersama Raka. Jantungnya tidak seriang ini saat mereka berdekatan.


Lantas dering ponsel mengembalikan Nazwa ke dunianya.


Acha is calling..


"Halo, assalamu'alaikum, Cha." kata pertama yang keluar dari mulut Nazwa.


Gadis itu melangkahkan kaki menuju balkon kamarnya.


"Wa'alaikumussalam. Oy, Wa! Gimana, gimana?!"


Suara Acha seperti menjerit. Nazwa sedikit menjauhkan ponsel itu dari telinganya.


"Acha! Jangan teriak-teriak, ih!"


"Hehehe. Abisnya aku udah kepo akut, nih."


"Jadi gimana, Wa? Kapan kamu nikah?"


Mendengar kalimat 'nikah' membuat pipi Nazwa sedikit bersemu meski tiada yang tau. Kecuali dirinya dan Allah.


Nazwa diam-diam tersenyum, meskipun Acha tidak tahu. "Selesai UNBK aku ijab qabul."


"Hah? Apa, Wa?! Aku nggak salah denger? Ih, cepet banget!"


"Dari pada pacaran, 'kan. Deket lama-lama, nikah enggak. Dapet dosa iya."


"Iya juga sih. Tapi gimana sih Wa calon suami kamu? Ganteng nggak?"


"Banget."


"Serius?!"


"Hm."


"Kapan-kapan meet up lah. Hahaha."


Nazwa mendengkus. "Iya nanti kalo waktu acara nikahan kan ketemu."


"Ih, lama, Wa!"


"Udah deh kamu bawel banget, ih. Aku ngantuk nih."


"Huh! Ya udah deh kamu istirahat aja. Tapi besok cerita yang detail ya! Good night Nazwacuuu! Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Tut.


Helaan napas kembali terdengar. Sedetik kemudian Nazwa sudah masuk ke dalam kamarnya.


Gadis itu merebahkan tubuhnya yang sedikit lelah. Pikirannya kembali menerawang pada sosok Alif yang selalu berputar-putar di otaknya. Sungguh. Nazwa tidak menyangka jika ia akan menikah di usianya yang baru akan menginjak 18 tahun.


Nazwa memiringkan badan ke kanan dan kiri. Gelisah. Sekarang itu yang ia rasakan. Satu pertanyaan yang selalu terngiang di otak kecilnya.


Apakah pernikahannya akan selalu berjalan mulus hingga akhir?


"Huh!"


Nazwa menyerah. Ia memejamkan matanya yang sudah terasa berat sekarang.

__ADS_1


Apapun yang terjadi. Entah itu sekarang atau di masa depan, Nazwa yakin, bahwa itu semua adalah qadarullah. Dan ia yakin, semua akan baik-baik saja, karena Allah selalu 'Ada' untuknya.


Bersambung.


__ADS_2