
"Teman yang paling baik adalah apabila kamu melihat wajahnya kamu teringat akan Allah, mendengar kata-katanya menambahkan ilmu agama, melihat gerak-geriknya teringat akan kematian."
***
"WAWAAA!"
Spontan Nazwa menutup kedua telinganya ketika mendengar pekikan seorang gadis yang amat ia kenali.
FYI. Wawa adalah panggilan kesayangan yang diberikan Acha pada Nazwa.
Dan benar saja, sesaat kemudian masuklah Acha dengan wajah cemas bercampur khawatir. Gadis itu menghambur ke pelukan Nazwa yang tengah duduk di atas ranjangnya.
Untung tidak terjengkang, ya, 'kan.
"Astaghfirullah ... Acha! Kamu nih masuk kok nggak salam, sih? Malah teriak-teriak lagi! Emang kamu pikir di hutan!" Nazwa mengomel sambil melepas paksa pelukan sahabatnya.
Acha cengengesan. "Aku udah salam di pintu utama tadi, udah ketemu ummi juga."
Nazwa mendengus. "Kamu ke sini sama siapa?"
"Di antar pak Edi. Eh, kamu sakit, ya?" Acha kemudian menempelkan telapak tangan kanannya pada dahi Nazwa.
"Sakit apa? Badannya panas gini, tadi juga nggak sekolah. Udah gitu kok nggak ngabarin aku, sih? Atau jangan-jangan kamu udah nggak nganggap aku sahabat kamu lagi, ya?" Acha terus saja menyerocos.
Nazwa memutar bola matanya ketika Acha semakin memulai aksi lebaynya itu. Tapi, ia juga bersyukur, karena sahabatnya itu selalu peduli padanya, tidak hanya saat senang saja, tapi ketika Nazwa terpuruk pun Acha selalu ada. Seperti saat ini, saat kehidupan Nazwa terasa gelap karena ulah Raka kini muncul Acha sebagai pelangi yang memberi warna di hari-harinya setelah keluarganya.
"Satu-satu dong tanya nya." Nazwa menggerutu.
"Iya, iya, maaf. Kamu sakit apa Nazwakuuu? Tadi kamu nggak sekolah dan sama sekali nggak ada kabar, makanya aku langsung ke sini."
Nazwa kemudian membaringkan tubuhnya yang masih terasa lemah. "Ya maaf. Ponsel aku low deh kayaknya."
Acha berdecak sebal, sahabatnya selalu menyepelekan hal-hal kecil. "Yaudah, terus sakit apa?"
"Cuma demam aja kok."
"Cuma?!"
Nazwa mengangguk santai, membuat gadis dihadapannya tercengang.
"Ya Allah, Nazwa. Kok kamu nggak ngabarin aku, sih?" Acha berujar dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Udah deh jangan lebay! Lagian ini udah agak mendingan kok. Insyaa Allah besok udah bisa sekolah."
"Alhamdulillah. Tapi kalo belum kuat mending kamu istirahat dulu deh di rumah. Nanti biar aku yang izinin," ujar Acha.
Nazwa menaik turunkan alisnya yang semi tebal itu kemudian tersenyum miring. "Nazwa sahabat Acha masa nggak kuat cuma ngelawan demam aja."
Meski ragu, tapi akhirnya Acha ikut terkekeh walau dengan mata yang masih berkaca-kaca. Lalu gadis itu memeluk sahabatnya lagi.
"Maafin aku, ya, Wa. Aku belum bisa jadi sahabat yang baik buat kamu."
"Sssttt! Kamu itu sahabat aku yang paling baik, Cha. Jangan ngomong gitu lagi, ya. Kamu itu bukan lagi sosok sahabat, tapi juga udah seperti keluarga sendiri buat aku. Jangan ngomong gitu lagi! Awas aja."
"Tapi aku belum jadi teman yang baik. Buktinya kamu sakit aja Aku nggak tau. Sahabat macam apa aku, Wa?" Acha mulai terisak.
Nazwa mengelus punggung Acha. "Udah jangan nangis. Aku punya kabar baik yang insyaa Allah akan bikin kamu seneng dan berhenti nangis."
"A-apa?" tanya Acha yang kini masih sesenggukan.
"Aku udah putus sama Raka."
"Hah? Serius??!!" pekik Acha langsung. Matanya yang tadi mendung sekarang berbinar secerah matahari pagi.
Nazwa pun mengangguk mantap. "Iya. Sebenarnya aku demam ini gara-gara kehujanan. Sore itu.."
Nazwa pun menceritakan semua kejadian sore itu, Acha mendengarkan dengan seksama.
"Alhamdulillah ya Allah! Akhirnya Engkau mendengar doa-doa hamba." Sungguh respon yang luar biasa, kali ini Acha langsung sujud syukur.
__ADS_1
Nazwa tersenyum, meskipun hatinya belum bisa selaras dengan garis lurus di bibirnya.
"Makasih ya, Cha. Kamu nggak pernah capek buat nasehatin aku untuk hal-hal baik," ucap Nazwa tulus.
"Sama-sama, Wa. Udah sepantasnya aku selalu ngingetin kamu ketika kamu keliru. Dan jangan lupa, kita harus saling menegur kalau ada yang berbut salah." Acha membalas tak kalah tulus.
Nazwa mengangguk dan langsung menghambur kepelukan sahabatnya. Ia berharap, semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan selalu mengabadikan persahabatan mereka hingga mereka ke syurga nanti.
***
ALIF melangkahkan kakinya menuju pintu masuk perpustakaan kota. Ada beberapa buku yang harus ia tambahkan sebagai daftar pilihan materi untuk skripsinya.
Ia lalu mencari letak jajaran buku-buku tebal yang membuat siapapun akan langung merasa jengah hanya dengan melihatnya saja.
Setelah mengambil beberapa buku yang diperlukan, Alif kembali berjalan-jalan menuju rak buku lainnya.
Kini sampailah Alif di depan rak novel-novel keluaran terbaru. Sambil melihat-lihat semua jenis novel dengan genre yang berbeda-beda dihadapannya, tetapi Alif lebih cenderung menyukai novel dengan genre Spiritual atau beberapa komik.
Terdengar manis memang. Laki-laki yang menyukai novel yang terlalu menye-menye.ย Tapi bukan itu alasan Alif. Ia menyukai novel Spiritual yang mengandung banyak pelajaran agamanya, beberapa penggalan hadits dan ayat-ayat suci Al-Qur'an misalnya.
Matanya terfokus pada satu buku berjudul judul Kekasih Halal, tentunya dengan campuran antara genre romance dan spiritual.
Tangannya hendak meraih, karena novel itu berada di barisan paling atas.
Saat akan menarik, tiba-tiba ada tangan lain yang menariknya terlebih dahulu.
Alif mendongak, supaya bisa melihat lebih jelas siapa pemilik tangan itu. Namun tetap saja pandangannya tertutup jajaran buku-buku yang lain.
"Ambil saja. Kamu yang duluan ngambil," kata laki-laki yang mengambil buku tadi.
"Ah, nggak usah. Ambil kamu saja," balas Alif melalui celah buku.
Laki-laki tadi menghampiri Alif, menepuk pundak Alif.
Alif menolehkan kepalanya, menatap sang empunya tangan. Kemudian naik ke atas, menatap seksama wajah laki-laki yang menepuk pundaknya tadi.
"Alif!"
"Naufal!" Seru mereka bersamaan.
"Maasya Allah. Kita bertemu lagi, Fal!" Alif lalu memeluk laki-laki tadi dengan gaya ala laki-laki.
"Iya, Lif. Gue nggak nyangka, lo beneran Alif, 'kan?" Lelaki itu meneliti Alif dari atas ke bawah.
"Iya lah. Gue Muhammad Alif Diafhakri," balas Alif tersenyum.
Laki-laki bernama Naufal tadi menggelengkan kepalanya kemudian menepuk bahu Alif dengan bersahabat. "Sehh! Tambah gagah aja lo man! Gile!"
Alif terkekeh. "Gimana kabar lo? Dengar-dengar sekarang di Semarang?"
"Ck. Gue di sini sekarang."
Alif memutar bola matanya. "Maksud gue--"
"Eh, iya, iya!" Naufal tertawa. "Yah ... Alhamdulillah. Seperti yang lo lihat, gue sehat. Gue emang di Semarang tempat nenek gue. Alhamdulillah lagi gue dapat amanah dari bokap buat ngelola perusahaan yang di sana."
Alif mengangguk-angguk. "CEO muda dong."
Naufal lantas tertawa. "Lo sendiri gimana? Gue denger cikal bakalnya calon dokter muda, nih?"
"Gue masih harus menyelesaikan skripsi dulu, setelah itu magang. Baru kemudian bisa lo panggil dokter ganteng." Alif tertawa kecil.
Benar memang. Alif memilih untuk menyelesaikan skripsinya lebih dulu, baru setelahnya ia akan fokus untuk magang. Itu merupakan pilihan dari dosen pembimbingnya. Wajar dong. Orang pinter mah bebas!
Naufal tertawa lagi. "Jadi, habis dapet gelar mau langsung nikah apa gimana?"
Alif mengedikkan kedua bahunya. "Belum tahu gue. Tapi bokap sama nyokap maksa gue buat cepet nikah."
Lagi-lagi Naufal tertawa. Kali ini lebih pelan karena tidak mau ditegur oleh petugas perpustakaan. "Yaudah, nunggu apalagi coba? Udah dapet restu juga--ah atau jangan-jangan belum ada calonnya?!"
__ADS_1
Mendengar kata 'calon' membuat bibir Alif membentuk garis tipis. "Ada. Tapi gue belum berani mastiin, perasaan yang gue rasain sekarang ini sebuah rasa cinta atau sekedar tertarik karena kagum."
"Eh, by the way. Emang lo sendiri udah nikah apa?" Lanjut Alif bertanya. Ralat, mengalihkan pembicaraan.
Naufal memahami hal itu, ia juga tidak mau terlalu memaksa kalau sahabatnya memang tidak ingin bercerita. "Ya belum lah. Ya kali gue nikah kagak ngundang lo. Rugi satu amplop dong gue."
"Ya seandainya saja mengumpat tuh nggak dosa." Alif bersungut kesal.
Naufal tertawa lagi. Bertahun lamanya tidak berjumpa dengan Alif, nampaknya sahabat karibnya itu masih saja berbicara dengan nada kaku.
"Rencananya, sih, akhir bulan gue mau khitbah seorang gadis. Makanya gue pulang mau minta restu sekaligus mau jenguk adik gue. Dan ini mampir dulu ke sini buat nyari hadiah. Dia suka novel. Siapa tau cepet sembuh setelah gue beliin novel. Eh, tapi nggak tahunya malah ketemu lo di sini."
"Tunggu-tunggu!" Alif memotong. "Lo punya adik? Sejak kapan lo punya adik?"
"Ck. Gimana sih lo! Udah berapa tahun temenan sama gue, woi?!"
"Gue serius."
"Gue juga serius."
"Sejak kapan lo punya adik?" Alif kembali mengulang pertanyaannya.
"Sejak tujuh belas tahun yang lalu!" balas Naufal. "Adik gue cewek. Masih kelas 12."
Alif membulatkan bibirnya membentuk huruf 'o'.
"Awas aja lo gebet!" Naufal mengancam becanda.
Alif berdecak. "Lo kayak nggak kenal gue."
Naufal hanya membalas dengan dengusan.
"Jadi, adik lo sakit?" tanya Alif kemudian.
Naufal mengangguk pelan. "Kemarin ummi nelpon, katanya adik sakit udah tiga hari nggak sembuh-sembuh. Makanya gue pulang. Siapa tau kangen abangnya yang paling ganteng ini."
Alif me-rolling kedua matanya. Naufal masih saja narsis. Sampai dia pun tidak menyadari bahwa dirinya pun demikian. Dasar Alif.
"Sakit apa emang?"
"Demam. Gue juga heran kenapa itu bocah suka betah banget kalo demam."
Alif menepuk pundak sahabatnya itu. "Ingat, Fal. Jangan mencela demam. Wallahua'lam Bishawaf, karena semua sakit itu bisa saja menjadi penggugur dosa-dosa kita. Manusia mah nggak ada yang tahu."
Naufal memandang Alif takjub. "Makin religius lo!"
Alif mendengus pelan. "Lo lupa siapa ayah gue?"
Tawa pelan dari mulut Naufal terdengar. "Ya nggak mungkin lah gue lupa."
Alif menggelengkan kepalanya. "Gue mau pulang. Mampir lah ke rumah. Nyokap pasti seneng liat lo pulang ke Yogya."
"Lain kali deh. Gue masih seminggu lagi di sini. Insyaa Allah lusa atau lain hari gue pasti ke rumah," jawab Naufal.
"Oke. Gue tunggu."
"Atau kalo nggak lo aja yang ke rumah gue? Lo pasti udah lama kan nggak ketemu ummi sama abi? Secara, udah dari SMP kita nggak ketemu. Apalagi sekarang gue pindah rumah."
Alis tebal milik Alif hampir menyatu. "Pindah rumah?"
"Iya, nanti gue share location, deh."
Alif mengangguk lalu menyodorkan sebuah kartu nama beserta kontaknya yang dapat di hubungi. "Oke, gue tunggu."
"Gue duluan." Alif menepuk pundak Naufal. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam. Ati-ati lo!" Naufal berpesan lalu dibalas acungan jempol oleh Alif.
Bersambung.
__ADS_1