Kekasih Halal

Kekasih Halal
Part 41


__ADS_3

Sesampainya di rumah aku langsung naik ke atas, masuk ke dalam kamar lalu berwudlu untuk mengontrol emosi. Dada ku benar-benar naik turun, bayangan Mas Gagah mengusap air mata Novia terus menghantui fikiranku.


Setelah berwudlu aku melaksanakan sholat isya agar lebih tenang. Benar sekali rasanya setelah sholat hatiku terasa adem. Aku berdoa kepada Allah agar suamiku dijauhkan dari bala-bala dasim si pengganggu rumah tangga.


Selesai sholat aku berganti baju tidur, lalu segera naik ke tempat tidur, menarik selimut sampai batas dada. Mataku melihat ke langit-langit kamar, tiba-tiba bayangan Novia yang meminta menjadi maduku terlintas lagi difikiranku. Aku segera beristigfar.


Aku terkejut mendengar ponselku berdering, ponselku yang masih aku letakan di dalam tas kecil segera aku ambil, ternyata telfon dari Mas Gagah. Aku tidak menghiraukannya, Mas Gagah harus dihukum.


Ponselku terus berdering tanpa henti, akhirnya aku nonaktifkan. Aku kembali masuk kedalam selimut berusaha memejamkan mata.


Ah, ternyata sulit sekali memejamkan mata, hatiku semakin gelisah sebelum melihat suamiku pulang dengan selamat, begitu juga dengan hatinya, selamat atau tidak yah, entahlah.


Aku mengingat kembali masa-masa pengantin baru, masa-masa saling mengenal sebagai kekasih halal, selama ini Mas Gagah memperlakukanku dengan baik, tidak pernah neko-neko. Sepertinya apa yang dikatakan Mas Guntur benar, Mas Gagah memang laki-laki baik-baik, tapi tadi di pesta, kenyataan itu menghapus statement bahwa Mas Gagah laki-laki baik.


Aku pun menjadi minder, siapalah aku ini dibanding Novia, dia cantik dan sexy, cerdas berpendidikan tinggi. Mana mungkin Mas Gagah tidak tertarik lagi, apalagi mereka berdua pernah merajut asmara sekian tahun, pasti sulit untuk saling melupakan.


Aku belum tentu ada didalam hatinya Mas Gagah, Mas Gagah hanya menyayangiku, bukan mencintaiku. Ah kenapa harus seperti ini takdir hidupku. Air mataku tiba-tiba mengalir begitu saja. Aku menangis di dalam selimut hingga tak terasa aku terlelap karena kelelahan menangis.


30 menit aku terlelap, aku sedikit mendengar suara pintu dibuka. Aku mendengar suara langkah seseorang mendekati ranjang lalu menyentuh bahuku.


"Adek ... bangun Dek"


Itu suara Mas Gagah, aku meraih selimut, menaikannya hingga menutupi seluruh tubuhku, tapi Mas Gagah langsung menurunkannya kembali. Mas Gagah tiba-tiba naik ke atas kasur.


"Dek, kita perlu bicara,"katanya dengan nada sedikit tinggi karena aku masih memejamkan mataku.


"Dek"


Mas Gagah membalikkan tubuhku agar aku terlentang dan menghadapnya.


"Dek"


"Adek sedang tidak ingin bicara,"jawabku ketus.


"Adek, kita selesaikan malam ini, tidak boleh tidur dalam keadaan emosi apalagi tidak ridho, nanti kalau tengah malam Mas meninggal atau Adek meninggal bagaimana?"


Astagfirullah, manusia ini, kenapa berkata seperti itu sih, kan serem, sedih juga.


"Jangan bicara aneh-aneh deh Mas," ucapku sambil memasang wajah sebal pada Mas Gagah.


"Nay, dengarkan penjelasan Mas?"

__ADS_1


"Penjelasan apa? penjelasan kalau Mas mau menikah lagi dengan wanita yang cantiknya paripurna itu?"


Mas Gagah tersenyum, "Kamu cemburu?" tanyanya.


Sepertinya Mas Gagah sedang meledekku, andai Mas Gagah bukan suamiku, sudah ku tendang ke planet Mars. Bayangkan saja, sepertinya Mas Gagah menganggap enteng masalah si Novia kucrut itu. Hati wanita mana Mas yang tidak cemburu dengan adegan kalian, dengan tatapan kalian.


Aku terdiam tidak menjawab pertanyaan Mas Gagah. Mas Gagah memelukku dengan sedikit memaksa karena aku memang saat itu sedang tidak mau dipeluk.


" Adek, Mas sangat khawatir, adek pulang tanpa pamit?"


"Masa sih, bukannya Mas seneng yah aku pulang, jadi Mas bisa bebas dengan si kutukupret itu"


Ya Allah, aku benar-benar emosi, aku tidak bisa meredam emosiku saat melihat wajah Mas Gagah. Apalah dayaku yang masih 18 tahun ini ya Allah, masih labil dan harus terus belajar meredam emosi.


"Adek, kan mas sudah bilang, jangan terlalu dekat dengan Guntur"ujarnya sambil menyentil dahiku.


Hallo,Holla, kok jadi Mas Gagah yang cemburu, terus apakabar tuh dia yang menghapus air mata Novia dan pegang-pengang tangannya.


"Kalau tidak ada Mas Guntur aku tidak mungkin sampai rumah, pasti aku sudah naik bus ke Semarang,"cerocosku.


Aku mendorong dada Mas Gagah agar berhenti memelukku, tapi Mas Gagah malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Tergantung,"jawabku singkat.


"Tidak ada tergantung-tergantungan, ingat ridho Adek ada pada Mas"


Hadeh, laki-laki mulai menggunakan jurus pamungkasnya, menyebalkan sekali.


"Kenapa sih mesti seperti ini, Adek sabar dimaki-maki Bapak, tapi Adek tidak siap jika Mas Gagah menduakan Adek,"ucapku tiba-tiba terisak.


Mas Gagah melepaskan pelukannya lalu menatapku, memegang bahuku.


"Dengarkan Mas, Mas dan Novia sudah berakhir, dan Adek tahukan kalau Mas hanya akan menikah sekali seumur hidup"katanya begitu serius.


"Aku melihat semuanya, hati aku sakit Mas, sakit sekali 😭😭😭"ucapku sesenggukan.


Mas Gagah meraih kepalaku lalu ditangkupkan didadanya.


"Jangan menangis, Mas mohon jangan menangis, maafkan Mas Dek"


"Adek takut, dalam islam poligami diperbolehkan Mas, Adek takut Mas menerima tawaran Novia." Air mataku semakin membasahi dada Mas Gagah yang bidang dan wangi. Mas Gagah belum sempat mengganti bajunya.

__ADS_1


"Dengarkan Mas, Mas tidak akan berpoligami"


Tangisku semakin pecah, Mas Gagah mengernyitkan dahinya.


"Ja ... di, Mas akan menceraikanku?" tanyaku dengan terbata-bata.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


( Maaf baru up, entahlah dari pagi mood sedang tidak bagus, ide stuk di situ, akhire malam ini keluar rumah, cari udara segar biar mood nya bagus. Oh ya author mau ngasih tau, visual NoVIa dan Mas Guntur ada di episode Visual)

__ADS_1


__ADS_2