
"Saat pertama kali berjumpa denganmu, aku bagaikan berjumpa dengan Saktah. Hanya bisa terpana, dengan menahan nafas sebentar."
-Muhammad Alif Diafhakri-
***
"SHODAQALLAHULADZIM."
Tokk ... Tokk ... Tokk ...
"Assalamu'alaikum. Dek, Kakak masuk, ya?"
Suara Naufal terdengar di balik pintu kamarnya. Nazwa merapikan peralatan sholat kemudian membuka pintu.
"Suprise!"
Nazwa menganga melihat sebuah benda yang menggantung mengudara di tangan Naufal.
"Nih, buat kamu. Cepet sembuh ya Adeknya Kakak."
Nazwa menerima sebuah novel dengan judul Kekasih Halal dari tangan kakaknya.
"Makasih Kak Upal," katanya lalu menghambur ke pelukan sang kakak.
"Sama-sama adik kecilnya Kakak."
Nazwa lantas melepas pelukannya. "Ish! Aku udah gede tau!"
"Mana ada. Coba liat di kaca, orang badan kamu cebol gitu." Naufal lalu beralih tiduran di ranjang adiknya
"Ummi ...."
"Eh iya, iya. Dasar ngaduan," ketus Naufal lalu duduk bersila masih di atas kasur.
"Bodo!" cetus Nazwa sambil membolak-balikkan novel pemberian kakaknya.
"Jalan-jalan, yuk?" Ajak Naufal yang tak mendapati jawaban dari adiknya.
"Dek?"
"Hm."
"Ayo jalan-jalan."
"Males ah. Paling juga ngibul."
Naufal berdecak. "Yee, nih anak. Demi Allah Kakak nggak bohong. Swear!" Naufal menaikkan jari telunjuk dan tengahnya ke udara.
"Bener?" Nazwa bertanya memastikan.
"Iya."
"Tumben ngajak jalan-jalan?" tanya Nazwa curiga.
Naufal melirik sengit. "Kok tumben? Kakak kan emang jarang di rumah."
Nazwa menepuk jidatnya pelan. "Oh iya, ya."
"Dasar pikun."
"Tuh kan! Um--"
Naufal segera membekap mulut adiknya sebelum ummi Audy datang dan memberikan siraman rohani untuknya.
"Udah cepet ganti baju sana. Lima belas menit nggak turun kakak tinggalin!"
"Siap grak!"
Setelah Naufal keluar, Nazwa segera memilah baju yang ada di lemarinya.
Cuma jalan-jalan biasa kan? Pakai gamis yang santai saja kalo gitu. Pikirnya.
Toh, Nazwa adalah satu dari seratus wanita yang tidak begitu menyukai segala sesuatu yang berlebihan atau terkesan mewah. Baginya, yang sederhana saja malah memberikan kesan tersendiri.
Mungkin bagi orang lain tampil dengan terlihat mewah itu perlu. Tapi bagi Nazwa, yang berlebihan itu tidak baik dan Allah pun tidak menyukai segala sesuatu yang serba berlebihan bukan?
Setelah sekian waktu memilih. Akhirnya keputusannya jatuh pada gamis berwarna pink dusty dan dipadukan dengan khimar yang senada.
Tak lupa ia memakai kaos kaki beserta handsock karena kaki dan tangan juga merupakan aurat.
Begini sudah cukup. -batinnya sambil berdiri di depan cermin.
"Dek! Buruan gih! Kakak tinggal nih!" teriak Naufal dari bawah.
"Iya sabar dikit lagi!"
Segera Nazwa meraih tas slempang berwarna navy yang tergeletak di meja belajarnya.
Kemudian dia memakai flatshoes berwarna senada dengan tasnya yang simpel dengan sebuah pita yang bertengger manis di atasnya.
Sederhana dan elegan.
__ADS_1
Itu adalah gambaran dari seorang Nazwa.
Setelahnya Nazwa segera turun ke bawah. Di mana sang kakak sudah menunggu sembari menggerutu karena merasa adiknya terlalu lama dalam berdandan. Padahal lima belas menit pun belum ada.
"Yuk!" ajak Nazwa.
"Pamit dulu sama abi dan ummi dong."
Nazwa nyengir cengengesan.
Astaghfirullah, hampir lupa. Padahal ridho Allah kan tergantung ridho kedua orang tua.
Setelah pamit, mereka segera berangkat untuk membelah padatnya jalanan kota Yogyakarta dengan menggunakan mobil milik Naufal.
"Kita mau ke mana, Kak?"
"Ke Mal aja, ya? Sekalian Kakak juga ada janji sama temen Kakak."
Nazwa mengangguk patuh. Kapan lagi bisa jalan-jalan sama Naufal, kan? Secara, kakaknya itu kan orang sibuk. Pulang ke rumah saja bisa dihitung dalam waktu satu tahun.
Setelah dua puluh menit menempuh perjalanan, akhirnya mereka tiba disalah satu pusat perbelanjaan besar atau yang disebut Mal itu.
"Kamu mau beli apa?" tanya Naufal pada adiknya.
Nazwa menyipitkan matanya. "Dari bau-baunya ada yang mau traktir, nih?"
Naufal mengacak gemas puncak kepala adiknya yang tertutup oleh khimar panjang, membuat sang empunya merasa sedikit dongkol.
Tiba-tiba handphone Naufal berdering menandakan ada panggilan masuk.
"Kakak angkat telpon dulu, ya. Kamu pilih-pilih aja dulu yang kamu suka. Tapi ingat, jangan boros-boros."
Belum sempat Nazwa menjawab namun kakaknya itu sudah berlalu.
Akhirnya dia memutuskan untuk mengitari store yang menjual perlengkapan hijab.
Nazwa memang sangat menyukai hijab syar'i. Bukan karena mengikuti tren atau perkembangan zaman, tapi karena dia memang sudah diajarkan untuk menjaga dan menutup auratnya sejak masih kecil.
Seiring berjalannya waktu dan dia semakin mengerti, bahwa selain menutup aurat, hijab juga merupakan perhiasan dan sebuah kewajiban bagi setiap wanita yang mengaku dirinya sebagai muslimah.
Karena sejatinya, setiap perempuan adalah perhiasan dunia yang jika tidak di jaga dengan baik akan rusak dan menjadi fitnah.
Meskipun akhlaknya belum baik, tapi itu tidak mengubah bahwa menggunakan hijab adalah 'wajib' hukumnya bagi setiap muslimah.
Jilbab memang tidak bisa menjadi bahan ukur baik atau buruknya seseorang, sebab keduanya adalah hal yang berbeda.
Jadi, untuk kalian, jika menemukan seseorang yang sudah menutup auratnya dengan baik akan tetapi akhlaknya masih belum baik, jangan menyalahkan pakaian dan hijabnya, ya? Karena setiap orang memang berbeda-beda sifatnya.
Sebenarnya Nazwa adalah gadis penyuka segala sesuatu yang identik dengan warna pink, tapi berhubung koleksi khimar di rumah yang berwarna pink sudah banyak, jadi dia mengambil yang itu saja.
Beli dua nggak bikin kak Upal bangkrut kan? -kekehnya dalam hati.
"Kak Upal lama banget sih," ucapnya pada sendiri.
Saat ini Nazwa mulai berjalan mondar-mandir di depan kasir.
"Mbak, jadi beli tidak?" tanya si petugas kasir.
Nazwa tersenyum tidak enak. "Sebentar, ya, Mbak."
Gadis itu masih menunggu hingga sepuluh menit berlalu.
"Mbak, jadi beli tidak?" tanya petugas kasir itu lagi. Kali ini raut wajahnya sudah tidak bersahabat seperti tadi.
"Sebentar, ya, Mbak. Sebentar lagi," ujar Nazwa. Berharap petugas kasir itu mengerti.
Nazwa membuka tas selempangnya.
"Alhamdulillah. Ternyata aku bawa dompet," gumamnya lega.
Kenapa nggak dari tadi? Pikirnya.
Nazwa segera menyerahkan barang belanjaannya ke petugas kasir tadi. "Ini Mbak, dihitung dulu."
"Semuanya 350 ribu."
Nazwa membuka dompetnya, tapi kok ...
... kosong?
Yaa Allah bagaimana ini?! -batin Nazwa menjerit.
Gadis itu sungguh ingin menangis detik itu juga. Di tempat itu, di depan kasir.
Kak Upal jahat! Hiks ...
"Gimana, Mbak? Jadi beli nggak, sih?" tanya petugas kasir itu mulai kesal.
"Ma-maaf Mbak. Uang saya ketinggalan," cicit Nazwa pelan.
Petugas kasir ber-nametag Metha itu berdecak. "Kalau nggak punya uang jangan belanja dong, Mbak! Buang-buang waktu aja!"
__ADS_1
Air mata Nazwa perlahan membasahi pipinya. Perasaannya bercampur aduk menjadi satu. Antara kesal dengan Naufal dan malu akibat kejadian barusan.
"Pakai ini aja, Mbak."
Tiba-tiba seorang laki-laki tampan dengan jaket berwarna abu-abu menyodorkan sebuah kartu ATM ke petugas kasir itu.
Nazwa mendongak dan menemukan wajah laki-laki yang pernah menolongnya waktu itu ketika dia pingsan di halte tempo hari.
"Nggak usah, Kak." Nazwa menolak dengan cepat dan halus.
"Nggak pa-pa," balas laki-laki itu datar.
"Tolong bungkus rapi, ya, Mbak." Lanjutnya kemudian.
Petugas kasir itu segera membungkus belanjaan milik Nazwa lalu diberikan pada laki-laki yang--Nazwa nggak tahu siapa namanya--dengan senyum manis yang dibuat-buat.
Astaghfirullahaladzim ... Dasar.
Laki-laki itu menyodorkan paper bag pada Nazwa. "Ini."
Nazwa menunduk dalam. "Terima kasih. Saya berhutang dua kali sama kamu. Lain kali pasti saya ganti."
"Nggak perlu. Saya ikhlas."
Loh, kok songong?
Nazwa mendongak dan tidak menemukan siapapun lagi dihadapannya. Laki-laki itu sudah berlalu.
Baik sih. Tapi kok songong? -batin Nazwa sedikit kesal.
***
"LIF, antar Bunda belanja sebentar bisa? Cari bahan untuk sarapan besok."
Alif mendongak dan menemukan wajah cantik milik cinta pertamanya, "Bisa, Bun," jawabnya lalu mematikan laptop.
"Yaudah, Bunda tunggu di depan, ya."
"Iya, Bunda."
Alif naik ke atas untuk mengambil kunci mobil di kamarnya. Ia lantas menyambar jaket bomber miliknya yang menggantung disebelah lemari dan segera turun menghampiri bunda Ranti.
Hanya memerlukan waktu 15 menit lamanya untuk mereka menjangkau pusat perbelanjaan.
Bunda Ranti segera turun dan bergegas mencari apa saja yang dibutuhkan untuk bahan-bahan besok. Sedangkan Alif? Laki-laki itu tidak mengekori bundanya. Ia lebih memilih menunggu di dekat kasir saja.
Alif berjalan menuju kasir, dan melihat sesosok perempuan dengan gamis pink dan jilbab yang senada berdiri sambil menunduk di depan kasir.
Dari yang Alif tangkap, sepertinya ada perdebatan kecil diantara dia dan petugas kasir.
Alif belum berani mendekat, tapi setelah Alif mendengar bahwa petugas kasir itu marah karena perempuan itu tidak mampu membayar katanya. Akhirnya, Alif memutuskan untuk mendekat.
Gadis itu menangis dalam diam. Alif menyimpulkan seperti itu karena terlihat dari bahu gadis itu yang bergetar pelan.
Alif berinisiatif untuk mengeluarkan ATM nya dari dalam dompet, seperti tidak tega melihat gadis itu menangis.
"Pakai ini aja, Mbak," ucapnya lalu menyodorkan kartu ATM tadi.
Gadis di sebelah Alif mendongak dan menatap wajah Alif sekilas sebelum kembali menunduk.
Dia.
Gadis yang Alif tolong tempo hari lalu, gadis yang beberapa malam ini membayang-bayangi dirinya sebelum tidur.
Maasya Allah.
Allah mempertemukan dia kembali dengannya.
"Nggak usah, Kak." Gadis itu bermaksud menolak dengan halus.
Alif berusaha menetralkan raut wajahku kembali, "Nggak papa."
Petugas kasir itu menyodorkan belanjaan kepada Alif, lalu kembali aku menyodorkan ke gadis dihadapannya. "Ini."
Gadis itu menunduk dalam kemudian menerimanya dengan memegang ujung bawah paper bag, sepertinya dia tidak mau bersentuhan dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Alif mengerti. Dalam hati, laki-laki itu tersenyum senang.
"Terima kasih. Saya berhutang dua kali sama kami. Lain kali pasti saya ganti," katanya kepada Alif.
Oh, No. Bahkan Alif tulus menolongnya. Bukan karena siapa dia, tapi karena tolong menolong juga hukumnya wajib bagi sesama muslim.
Sungguh! Gadis ini membuat Alif benar-benar kelimpungan. Ia harus pergi sekarang juga.
"Nggak perlu, saya ikhlas." Alif menjawab singkat kemudian berlalu dari hadapan gadis itu.
Tidak bisa berlama-lama didekatnya. Alif tidak mau menumbuhkan perasaan yang terlalu dalam. Karena dia bukan siapa-siapa Alif. Terlebih Alif takut Allah akan cemburu jika Alif lebih mencintai ciptaan-Nya dari pada Dia.
Tidak hanya itu, pasti bunda Ranti juga sudah mencari-cari dirinya ke mana-mana.
Ya Allah, semoga dia adalah tulang rusuk yang selama ini hamba cari.
Bersambung.
__ADS_1