Kekasih Halal

Kekasih Halal
Part 20


__ADS_3

Mungkin selama ini aku salah dalam merindu. Merindukan dia yang tak tahu hatinya untuk siapa.


Mungkin diriku yang terlalu menggebu, menaruh harapan padamu.


Hingganya Allah timpakan rasa kecewa kepadaku.


***


NAZWA menghentikan langkahnya ketika mendapati suaminya di apartemen. Sejenak ia melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul 11 siang. Dan di waktu seperti sekarang ini seharusnya Alif masih berada di kampus, bukan malah duduk santai di apartemen seperti sekarang.


"Assalamu'alaikum," ucap Nazwa.


"Wa'alaikumussalam." jawab Alif datar.


Tak seperti biasanya. Biasanya laki-laki itu selalu tersenyum hangat saat menatap wajahnya, tapi kali ini senyum itu sama sekali tidak terlihat meski sedikit saja.


Dan, hal itu sedikit mengusik ketenangan hati Nazwa. Entah perasaan apa yang tengah menyelimuti hatinya.


Yang jelas kalau boleh jujur, ia lebih nyaman dengan sikap Alif yang biasanya ketimbang sikap dinginnya yang seperti ini.


Tanpa berpikir panjang, gadis itu berjalan menuju dapur dan melewati Alif begitu saja.


Apa sebegitu tak penting dirinya di mata istrinya sampai-sampai istrinya itu selalu mengacuhkan keberadaannya?


Bahkan setelah kejadian yang ia lihat tadi siang, apakah Nazwa tidak ingin menjelaskan apapun kepada dirinya?


Jadi, apa begini rasanya patah hati padahal ia baru saja mengenal cinta?


Mungkin ini teguran dari Allah karena ia terlalu berharap pada makhluk selain Dia.


Nazwa menghentikan tangannya yang hendak membuka kulkas saat melihat sosok perempuan dengan gamis bunga-bunga serta khimar polos berwarna senada dengan bunga-bunga di bajunya.


Nampak perempuan yang sedang berdiri membelakanginya itu sedang berkutat di dapur apartemen--milik suaminya.


Hatinya terasa memanas tiba-tiba. Apakah ini alasan Alif pulang cepat? Dengan membawa wanita lain ke apartemennya?


Atau ..., apa Alif melakukan ini karena ia lelah menghadapi sikap Nazwa yang selalu cuek dan dingin kepada laki-laki itu?


Dan,


Apakah laki-laki itu akan segera men-talaknya setelah ini?


Tidak, tidak! Nazwa belum siap atau bahkan tidak akan pernah siap jika harus berbagi suami dengan wanita lain.


Meskipun itu termasuk sunnah Baginda Nabi, tapi tetap saja hatinya tidak akan pernah ikhlas.


Ya, meskipun ia tidak mencintai Alif. Atau mungkin belum mencintai Alif.


Entahlah.


Yang jelas sekarang Nazwa hanya ingin memastikan siapa sebenarnya wanita itu.


"Maaf. Anda siapa?"


Perempuan itu menoleh. "Hallo Nazwa!"


Nazwa terperangah kaget. "Maasya Allah ... Mbak Oliv?!"


Kemudian kedua perempuan itu saling berpelukan ala-ala wanita.


"Kamu apa kabar?" tanya Oliv sambil meraba wajah cantik sepupu iparnya.


"Alhamdulillah aku baik, Mbak. Mbak Oliv sendiri gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah. Seperti yang kamu lihat, Mbak baik-baik aja," jawab Oliv dengan bahagianya.

__ADS_1


"Mbak Oliv ke mana aja? Aku nggak lihat Mbak Oliv di pernikahan kami?"


Lidahnya masih kelu untuk menyebut 'pernikahanku dengan Alif'.


"Dan ini? Maasya Allah! Kok perutnya udah buncit aja?" lanjut Nazwa bertanya.


"Iya, Wa, Alhamdulillah." Oliv tertawa pelan. "Jadi, waktu itu Mbak lagi di Singapura pas kalian nikah. Suami Mbak ada tugas di sana. Hm, padahal Mbak pengin banget pulang pas Om Hanan kasih kabar tentang pernikahan kalian. Tapi ..., kerjaan Mas Farid nggak bisa di tinggal, Wa. Maaf, ya?" sesal Oliv.


Nazwa tersenyum sendu. "Nazwa sedih, tapi nggak apa, Mbak. Nazwa ngerti kok. Toh, Mbak Oliv lagi hamil tua. Nazwa akan semakin sedih kalo harus maksa Mbak Oliv bolak-balik naik pesawat dengan keadaan mengandung begini."


Oliv tersenyum haru. Alif memang tidak salah pilih. Meskipun ini adalah pengalaman pertama laki-laki itu dalam mengenal perempuan, tapi pilihannya sudah sangat tepat.


Nazwa memang gadis baik. Dan Oliv melihat ketulusan itu lewat pancaran mata gadis itu.


Bagi Oliv, gadis itu memiliki hati lembut dan mulia di balik sikap dingin dan tak acuh yang selalu ia tunjukkan.


"Oh, iya. Mbak ke sini sama siapa?" tanya Nazwa.


"Suami kamu. Tadi Mbak nggak sengaja ketemu dia di minimarket dekat sini," jelasnya.


Nazwa membulatkan bibirnya.


"Kenapa kalian nggak tinggal bareng Om Hanan dan Tante Ranti aja? Dan ..., malah milih tinggal di apartemen?" tanya Oliv hati-hati.


Nazwa tersenyum. Hal ini yang membuatnya langsung suka saat berbicara dengan Oliv. Perempuan itu tidak suka menye-menye dan lebih suka menunjukkan sifat aslinya yang apa-adanya meski terkesan blak-blakkan.


Tapi justru karena hal itulah yang membuat Nazwa langsung nyaman saat bersama Oliv. Ia merasa menemukan dirinya sendiri.


"Ini semua keputusan Mas Alif, Mbak. Aku sebagai istri udah sewajarnya mendukung dan nurut atas apapun yang di katakan Mas Alif," jelas Nazwa tertawa ringan.


"Mas Alif bilang, kalau kita harus belajar hidup mandiri. Dan menurut aku emang ada benarnya, kalau kita satu atap dengan orang tua otomatis kita akan selalu bergantung tentang apapun sama mereka."


Sekali lagi Oliv merasa bangga dengan sosok gadis di sampingnya ini. Alif benar-benar beruntung bisa mendapatkan Nazwa dalam hidupnya.


Sepertinya Alif salah berspekulasi jika Nazwa mengkhianati dirinya. Oliv yakin, gadis selugu Nazwa tidak mungkin melakukan hal tercela seperti itu.


"Kamu benar, Mbak setuju sama pendapat kalian berdua."


"Oh, iya. Mbak Oliv mau minum apa? Astaghfirullah, aku sampai lupa nggak nawarin minum." Gadis itu menepuk jidatnya sendiri lalu kelabakan mencari perkakas yang akan ia kenakan untuk membuat minuman.


Oliv terkekeh pelan. "Nggak usah repot-repot, Wa. Mbak nggak lama-lama kok di sini."


"Loh, kenapa gitu?" tanya Nazwa sedih.


"Takut Mas Farid nyariin," cengirnya.


Nazwa menghembuskan napas pelan. Ia pikir Oliv tidak nyaman berada di apartemen mereka.


"Yaudah deh. Tapi lain kali sering-sering mampir kesini, ya, Mbak? Nazwa selalu nggak ada temen ngobrol," pinta Nazwa.


"Loh, 'kan ada suami kamu," pancing Oliv.


Nazwa menggigit bibir bawahnya lalu tertawa sebisa mungkin. Ia tidak mungkin menceritakan tentang rumah tangganya kepada orang lain.


"Eh, iya. Tapi Mas Alif selalu sibuk sama laptop dan buku tebalnya," alibi Nazwa.


Akhirnya Oliv tertawa. "Kamu yang sabar, ya. Ya, gitu tuh kalau punya suami gila kerja. Tapi nggak papa. Toh, dia ngelakuin semua ini untuk masa depan kalian juga, 'kan?"


Pipi Nazwa memanas tanpa ia sadari. Ia hanya mampu tersenyum kikuk.


"Yaudah. Kalau gitu Mbak pamit pulang dulu, ya. Lain kali Mbak mampir kesini lagi. Atau kamu aja yang ke rumah Mbak? Kan seru kalau kita menghabiskan waktu sama-sama lebih lama," ujar Oliv berbinar.


Nazwa mengangguk cepat. "Boleh Mbak?"


"Boleh dong ... boleh banget," balas Oliv.

__ADS_1


"Yaudah nanti aku kabarin lagi, ya, Mbak," kata Nazwa.


Oliv tersenyum dan mengangguk. "Yaudah. Mbak pulang dulu, ya?"


"Ayo Nazwa antar ke depan?" tawar Nazwa dan di angguki oleh Oliv.


Mereka melihat Alif yang sedang sibuk dengan selembar koran yang laki-laki itu pegang.


Padahal, sebenarnya otaknya sama sekali tidak sinkron dengan bacaannya. Yang ia pikirkan hanyalah Nazwa saat ini.


"Lif, Mbak pulang dulu, ya?" pamit Oliv pada sepupunya.


Alif mengangkat kepalanya. "Pulang sekarang? Ayo Alif antar," ujarnya tanpa melihat Nazwa.


Laki-laki itu belum ingin memandang wajah istrinya yang terlewat polos itu.


Oliv menghembuskan napas keras. Ternyata sepupunya itu masih belum bisa mempercayai Nazwa karena kejadian tadi siang yang mereka lihat.


Terlihat jelas masih ada sisa-sisa rasa cemburu di mata laki-laki itu. Namun karena Nazwa adalah tipikal gadis yang polos atau malah cenderung tidak peka? Jadilah gadis itu sama sekali tidak menyadari perubahan sikap suaminya.


"Nazwa, Mbak pulang dulu, ya."


Nazwa mengangguk meski tak rela karena Oliv hanya mampir sebentar. "Hati-hati, ya, Mbak. Lain kali mampir lagi kesini. Nazwa pasti seneng banget."


"Iya, siap!"


Alif sempat tertegun karena kedua wanita di depannya ini sangat-cepat-sekali akrab.


"Ayo, Mbak." Ajak Alif kemudian berjalan meninggalkan kedua wanita itu.


Setelah memastikan Alif tak lagi terlihat, Oliv mendekatkan bibirnya ke telinga Nazwa. "Nanti kalau Alif pulang, kamu jelaskan sesuatu, ya, sama dia. Kamu pasti heran kenapa dia jadi sok cuek gitu, 'kan?"


Nazwa mengangguk.


"Dia begitu karena cemburu, Nazwa."


"Cemburu?"


Oliv menanggapi dengan senyum geli.


"Mbak duluan. Assalamu'alaikum," pamitnya sebelum Nazwa kembali bertanya.


Biarlah pasangan itu memikirkan masalah mereka sendiri. Bukan berarti tidak mau membantu, tapi mungkin ini adalah satu langkah awal untuk mereka lebih dewasa dan memahami arti rumah tangga yang sebenarnya.


Oliv berlalu meninggalkan Nazwa yang masih sibuk dengan pemikirannya.


Alif cemburu?


Tapi, cemburu dengan siapa?


Ia mulai berpikir keras, memikirkan apakah ia membuat kesalahan.


Dan ...


Bersambung.


***


Tentang rasa.


Orang shalih pun akan jatuh dan merasakan cinta. Tapi ikhtiar mereka jauh berbeda namun beradab.


Meminta pada Dia yang menggenggam hati semua makhluk agar di pertemukan dengan hati yang taat.


***

__ADS_1


__ADS_2