Kekasih Halal

Kekasih Halal
Part 31


__ADS_3

Sebelum Adzan subuh berkumandang aku bangun terlebih dahulu. Aku tersenyum melihat wajah Mas Gagah terpampang nyata di depanku. Aku teringat semalam kita bergulat sambil belajar😁.


Ya ampun Mas Gagah, sedang tidur saja sangat Gagah. Jemariku mulai nakal, aku menelusuri hidung Mas Gagah dengan jemariku.


"Ini pasti dulu waktu pembagian hidung Mas Gagah datang lebih awal, jadi menang banyak." Tawaku lirih.


Naik ke atas, membelai alisnya yang hitam dan tebal.


" Soal rambut, semuanya lebat😁"Gumamku sambil terkikik lirih.


Aku lalu menelusuri bibirnya. Bibir manis yang telah mengajariku sun sun hot. Bibir yang telah menjadikan ku tahu bahwa ciuman itu rasanya enak. Ah kampungan banget emang aku ini🤭.


Aku membelai pipi Mas Gagah pelan, halus, licin, marmer di rumah para artis saja kalah licinnya.


Aku membangunkan Mas Gagah, " Mas bangun, hampir subuh Mas," Bisikku di telinga Mas Gagah.


"Hemm"


"Mas ayo bangun,"kataku sambil mengelus dada bidangnya. Haduh kok malah jadi pengen lagi. Tahan-tahan Nay.


"Adek sudah bangun?" Mas Gagah mengerjapkan matanya perlahan.


Aku mengangguk lalu tersenyum, senyuman manis untuk mengawali hari yang indah.


Selasai bergulat semalam, Mas Gagah sepakat akan memanggilku dengan sebutan Adek, bukan Nay, Nay lagi.


Adek ketemu gede pastinya😁. Aku tetap memanggilnya dengan panggilan Mas. Umurku dan Mas Gagah memang terpaut 10 tahun. Tapi perbedaan umur yang jauh tak menjadi masalah untuk melangkah ke depannya.


Aku turun dari tempat tidur lalu bergegas mandi. Begitu juga dengan Mas Gagah. Sebelum subuh aku mengerjakan sholat sunah fajar terlebih dahulu.


Pahala sholat sunah fajar itu diberi ganjaran mendapatkan dunia dan seisinya, kebayang kan wah nya. Mendapat jodoh seperti Mas Gagah saja sudah sangat Wah bagiku, apalagi dunia dan seisinya.


Subuh ini Mas Gagah akan sholat ke Masjid. Mas Gagah berikrar akan berusaha melaksanakan sholat di Masjid. Aku sangat senang dengan niat baik Mas Gagah. Aku hanya bisa mendukung dan mendoakan semoga Mas Gagah istiqomah.


Sepulang dari Masjid, Mas Gagah sepertinya masih mengantuk. Mas Gagah mengajakku untuk tidur lagi tapi aku menolaknya. Padahal menurutnya mumpung ini hari Minggu.


"Nanti rejekinya dipatok ayam Mas." Alasan emak-emak zaman baheula kan begitu😁😁.


Mas Gagah terkekeh, "Kirain dipatok Adek"


"Dih, bukannya yang suka matok itu Mas yah"


"Itu mah matok yang lain Dek"


Aku dan Mas Gagah tertawa bersama. Aku mengajak Mas Gagah duduk di balkon, menunggu matahari terbit.


Mas Gagah yang memang masih mengantuk tiduran di pangkuanku. Kepalanya berbantalkan pahaku. Aku membelai rambutnya yang hitam dan sedikit bergelombang.


"Mas, boleh Adek minta sesuatu?"


Mas Gagah masih memejamkan matanya. Mas Gagah menjawab dengan anggukan kepala.


"Mas, Adek minta dibelikan mesin jahit boleh?"


"Untuk?"

__ADS_1


Ya untuk jahit baju lah Mas, masa untuk bajak sawah, kataku dalam hati. Pertanyaan Mas Gagah ini suka lucu.


" Adek kan bisa jahit, Adek mau ngisi waktu luang di rumah dengan menjahit Mas, kalau Mas kerja, Adek jenuh di rumah tidak ada kegiatan, boleh ya Mas?"


Mas Gagah mengangguk. Aku sangat senang permintaanku di acc oleh Mas Gagah.


" Ih, udah ganteng, soleh, baik lagi, suami siapa sih ini,"ucapku gemas sambil mencubit manja pipi Mas Gagah.


Mas Gagah terkekeh, namum matanya masih terpejam, " Suaminya Raisa dong"


Aku menabok dada Mas Gagah, " Enak saja, tapi Mas memang ganteng sih, Raisa juga mau sepertinya kalau Mas lamar dulu"


" Ganteng mana sama Hamis Daud?"tanyanya.


"Ganteng Mas lah"


Mas Gagah menyunggingkan senyumnya,


"Coba kalau tidak minta mesin jahit, pasti adek tidak jawab begitu"


Aku mencubit dada Mas Gagah, " Adek cius kok"


Mas Gagah akhirnya bangun dari pangkuanku.


"KDRT, Mas dari tadi dipukuli Adek terus"


Aku nyengir kuda,"Maaf Mas"


Mas Gagah lalu memelukku. Aku dan Mas Gagah menunggu matahari terbit sambil saling bertukar cerita tentang kehidupan masing-masing waktu sebelum menikah agar lebih saling mengenal.


 


 


Jam 10, aku dan Mas Gagah pergi ke salah satu toko yang menjual mesin jahit di Jakarta. Seperti biasa, toko yang ku kunjungi atas rekomendasi dari Mbah Google.


Tokonya sangat besar, berbagai macam model mesin jahit ada disana. Aku jadi semakin bingung memilihnya.


"Adek mau yang mana?"


Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Aku lalu berkeliling sambil mencari harga yang pas. Tidak murah sekali juga tidak mahal banget juga.


Aku akhirnya memutuskan pilihanku pada salah satu mesin jahit yang menurutku sangat cocok dari segi fungsi dan harga juga. Aku dan Mas Gagah segera ke kasir. Mas Gagah memberikan kartu debitnya pada Mbak kasir.


"Adek, Mas ke toilet dulu yah, kebelet"


Aku mengangguk. Mas Gagah lalu pergi ke toilet. Mbak Kasir tersenyum padaku.


Mbak Kasir lalu menyerahkan kartu debitnya padaku setelah selesai melakukan pembayaran.


"Ini Dek"


" Makasih Mbak"


" Ngomong-ngomong kakaknya ganteng juga"

__ADS_1


Mbak-mbak kasir di depanku ada dua orang, mereka saling berbisik lalu tersenyum. Tapi yang berbicara denganku ini sepertinya bukan kasir, mungkin anak pemilik toko ini karena tidak memakai seragam dan berpenampilan modis.


Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Mbak itu langsung berjalan ke arahku.


"Dek..."


" Kenapa ya Mbak?"


"Boleh minta nomer ponsel kakakmu yang tadi?"


Sabar, sabar Nay. Aku tarik nafas, lalu perlahan menghembuskannya. Boleh tidak aku menelfon Bu Susi. Bu Susi tolong tenggelamkan wanita ini. Hahaha bar bar sekali ya aku ini.


"Laki-laki yang tadi suami saya mbak, bukan kakak saya,"kataku sambil menatap Mbak nya.


Jreng...jreng...jreng, seketika mukanya berubah menjadi merah padam, mungkin karena menahan malu.


"Adek"


Mas Gagag memanggilku, Aku langsung menghampiri Mas Gagah lalu bergelayut manja di lengannya.


Aku melawati Mbaknya sambil tersenyum simpul.


Barang yang aku beli akan diantar oleh pihak toko ke rumah Mas Gagah nanti. Aku dan Mas Gagah kembali ke mobil. Aku ingin mencari bahan kain untuk aku jahit.


Mas Gagah fokus menyetir karena jalanan lumayan macet. Kapan Jakarta tidak macet.


"Mas, Adek sebel"


Mas Gagah melirikku, " Kenapa?"


" Masa tadi Mbak yang dikasir itu mau minta nomor ponsel Mas sih, dikiranya Mas itu kakak nya Adek"


Mas Gagah tertawa lalu mengaca pada spion.


" Mas padahal sudah 28 tahun, tapi masih terlihat muda ya Dek"


" Dih, pede banget." Aku menepuk paha Mas Gagah.


"Menurutku ya karena Adek masih imut-imut Mas, jadi dikira Adiknya Mas"


" Dih, kepedean juga itu"


Aku dan Mas Gagah tertawa bersama.


"Mas tadi Mbaknya cantik lhoo, kok aku jadi was-was yah punya suami ganteng"


Mas Gagah membelai kepalaku," Mas itu setia Dek, dari dulu tidak pernah berhianat walaupun banyak godaan, bagi Mas laki-laki sejati itu laki-laki yang bisa mengendalikan naluri kelaki-lakiannya"


"Naluri kelaki-lakian maksudnya?" Aku mengernyitkan dahiku karena masih belum mengerti maksud dari naluri kelaki-lakian karena memang aku bukan laki-laki😁.


"Ya ujian harta, tahta terutama wanita"


Aku mengangguk mengerti.


" Aku juga akan setia Mas"

__ADS_1


Mas Gagah tersenyum manis. Mas Gagah fokus menyetir lagi.


Hari ini aku sangat senang karena Mas Gagah sudah membelikanku mesin jahit, bahan untuk menjahit. Pokoknya paket komplit untuk menjahit.


__ADS_2