
"Namamu ku smpan rapi dalam doa. Entah kamu takdirku atau tidak, yang jelas, aku sudah menjaga rasaku, sebaik yang aku bisa."
-Muhammad Alif Diafhakri-
***
NAZWA kembali pada rutinitas seperti biasanya. Hari ini ia sudah kembali berangkat ke sekolah setelah tiga hari absen.
Jika biasanya naik angkutan umum atau diantar oleh abi, maka hari ini Nazwa di antar oleh Naufal. Hitung-hitung sebagai permohonan maaf karena kemarin sudah meninggalkan adiknya seorang diri di Mal.
"Dek? Jangan diam aja dong. Masih marah, ya?"
Nazwa terdiam dengan wajah menghadap ke luar jendela.
"Dek," panggil Naufal lagi. Kali ini sambil menoel pipi kanan milik adiknya yang terlihat chubby itu.
Hal itu membuat Nazwa menggerutu kecil. Naufal terkekeh dibuatnya.
"Galak banget, sih. Lagi pms, ya?" godanya lagi.
Karena geregetan, akhirnya Nazwa mencubit perut Naufal membuat Naufal meringis kesakitan. Menurutnya, Nazwa itu; kecil-kecil cabe gilingan. Pedes pakai banget kalau nyubit.
"Udah, Dek, udah. Kakak minta maaf deh. Lain kali Kakak janji nggak akan ninggalin kamu lagi." Naufal masih berusaha membujuk adiknya.
Tiba-tiba saja Nazwa menangis. Entah apa yang membuatnya menjadi cengeng sekali dia akhir-akhir ini.
Naufal panik melihat adiknya menangis. "Loh, kok malah nangis, sih? Udah dong. Kakak kan udah minta maaf."
"Kakak jahat! Huaaa!!"
Kemudian Naufal menggunakan tangan kirinya yang bebas untuk menarik adiknya ke dalam dekapannya. Dan tangan kanannya ia gunakan untuk menyetir.
"Udah dong .... Maafin Kakak, ya?"
Nazwa masih menangis. Sesekali Naufal mengelus-elus puncak kepala adik kecilnya itu sampai akhirnya tangisannya pun terhenti.
"Kak Upal jahat!" Nazwa meninju asal bagian tubuh kakaknya.
"Ampun, Dek, ampun! Nanti kita kecelakaan gimana?!"
Nazwa langsung berhenti dengan napaa terengah.
"Jadi, malam itu siapa yang bayarin belanjaan kamu?" tanya Naufal kemudian.
Nazwa mengelap ingusnya. "Orang yang waktu itu nolongin Nazwa."
"Nolongin kamu? Maksudnya?"
Nazwa mendengus pelan, tapi kemudian dia menceritakan kronologi kejadian waktu itu. Kejadian yang sama sekali tidak ingin Nazwa ingat lagi sampai kapan pun.
"Kamu kenal siapa orangnya?" Naufal bertanya dengan penasaran.
Nazwa menggeleng. "Nazwa udah dua kali berhutang budi sama dia."
Naufal menghela napas sesaat. "Yaudah nggak pa-pa. Suatu saat nanti kalau kita ketemu orang itu, kita ganti uangnya, ya? Sekaligus Kakak mau ngucapin banyak terima kasih karena dia udah jadi pahlawan buat adik kesayangan Kakak ini."
Nazwa **** senyum geli. "Terserah Kakak. Nazwa masih marah!"
Naufal melotot. "Loh, kok marah lagi?!"
"Nggak peduli."
"Ngagk baik, loh, marah-marahan sama sodara sendiri. Apalagi sampai mendiamkan selama tiga hari lebih."
"Tapi kan Nazwa baru sehari!"
Naufal menghela napas berat. Sangat susah merayu adiknya jika sedang dalam siklus bulanan ini. "Kakak cuma ngasih tau, Sayang .... Yaudah gini aja, deh. Nanti pulang sekolah Kakak jemput, setelah itu kita langsung pergi ke suatu tempat yang pasti bakalan kamu suka. Gimana?"
"Ke mana?"
"Ada deh!"
Nazwa memutar bola matanya. "Oke. Tapi awas, ya, kalo ninggalin Nazwa lagi."
__ADS_1
Naufal mengangguk mantap. "Siap princess!"
Tak lama setelah itu mereka sudah memasuki gerbang SMA-IT tunas Bangsa.
"Udah sana turun," ujar Naufal.
"Kakak ngusir?!"
Naufal menggaruk gemas rambut klimisnya sendiri. "Maa Sya Allah, Dek!"
"Yaudah. Nazwa turun."
"Hm, hati-hati. Sekolah yang bener." Naufal berpesan.
Sedikit lagi hampir menyentuh knop pintu mobil, tapi Nazwa malah membalikkan badan lagi.
"Apa lagi?"
"Nanti beneran, kan?"
"Iya ..., Adeknya Kakak."
"Nggak bohong, kan?"
"Nggak, Dek, Kakak nggak bohong."
"Mau ke mana, sih, emangnya?"
"Astaghfirullahaladzim ...," Naufal menjambak rambutnya sendiri. Gemas.
Nazwa tertawa kemenangan. Akhirnya ia berhasil mengerjai kakaknya yang super menyebalkan itu.
"Yaudah. Nazwa tunggu, ya. Awas kalau telat! Assalamu'alaikum." Nazwa lantas menyambar tangan kanan kakaknya dan mencium punggung tangannya.
Naufal menggelengkan kepalanya. "Wa'alaikumussalam. Siap tuan putri!"
Setelah memastikan adiknya benar-benar masuk ke area sekolah, sedetik kemudian mobil Naufal sudah melaju meninggalkan halaman sekolah SMA-IT Tunas Bangsa.
***
"Silahkan, ambil aja," jawab Alif singkat tanpa menoleh.
Gadis itu terlihat menghela napas. "Kamu kenapa, sih, selalu dingin sama aku?"
Alif menoleh. "Maksudnya?"
"A-aku ... aku suka sama kamu, Lif. Tapi setiap kali aku coba mendekat, kamu selalu bersikap dingin ke aku. Kenapa, Lif?" Gadis itu berkata dengan gamblangnya.
Alif tercengang mendapati pengakuan dari gadis duduk berseberangan dengannya.
"Kamu suka sama saya?" tanya Alif tanpa memandang gadis itu. Ia berusaha menundukkan pandangannya dari lawan jenis yang bukan mahramnya.
Gadis itu mengangguk cepat. "Aku suka kamu udah dari lama asal kamu tau. Semenjak pertama kali aku melihat kamu waktu kita ospek. Selama ini aku selalu berusaha cari perhatian kamu, mulai dari hal-hal kecil sekalipun. Tapi kamu nggak pernah sadar sama keberadaan aku, Lif."
Bibir Alif terkatup rapat. Memang benar banyak gadis yang menyukainya. Dan memang benar pula jika selama ini gadis yang duduk tak jauh darinya itu selalu menunjukkan sikap lebih kepadanya. Tapi, yang namanya Alif memang selalu tidak peduli.
Padahal, selama ini Alif sudah menganggap gadis itu sebagai sahabatnya setelah Bobby dan Akbar di kampusnya. Alif bersikap baik kepada gadis itu selama ini semata karena ia menganggapnya sahabat baik. Ia tidak menyangka jika niat baiknya malah disalah artikan oleh gadis itu.
Dan, ini bukan pertama kali ia menjumpai seorang gadis yang terang-terangan menyatakan perasaannya terhadap dirinya. Tapi, yang membuat Alif kecewa yaitu orang yang menyatakan perasaan itu adalah orang yang sudah ia anggap sahabat.
"Maaf, Ras. Tapi saya sudah mempunyai calon istri," kata Alif akhirnya. Dia harus berbohong agar gadis ini berhenti menyukainya.
Astaghfirullahaladzim.
Gadis yang bernama lengkap Laras Kyle itu memandang tak percaya kepada Alif. Pasalnya, selama ini ia tidak pernah melihat Alif bersama seorang wanita.
"Nggak mungkin! Kamu pasti bohong kan, Lif? Selama ini aku nggak pernah lihat kamu bersama seorang gadis walau hanya sekali!" tukas Laras. Nada berbicarany naik beberapa oktaf.
"Pelankan suaramu, Laras." desis Alif.
"Aku nggak percaya, Lif!" Laras terlihat tidak peduli.
Alif memejamkan matanya, nampaknya gadis itu belum mengerti. "Saya tidak berbohong, Laras. Saya tidak pernah bersama seorang gadis karena saya tidak suka berkhalwat dengan seseorang yang bukan halal bagi saya."
__ADS_1
Gadis berwajah bule itu tetap tidak percaya pada pengakuan Alif. "Aku nggak percaya ini, Lif." katanya lirih.
Alif mengangkat bahu tak acuh. "Saya tidak peduli, kamu percaya atau tidak itu hak kamu. Yang jelas, kenyataannya memang begitu, sebentar lagi saya akan menikah, In Syaa Allah seusai wisuda."
"Jujur, saya kecewa sama kamu. Saya pikir kamu adalah sosok sahabat yang baik. Selama ini kamu selalu menjadi tempat cerita untuk saya, begitu pula sebaliknya. Tapi, ternyata kamu salah mengartikan kebaikan saya pada kamu." Alif menghirup oksigen beberapa kali. "Sekali lagi saya minta maaf karena nggak bisa balas perasaan kamu."
Kemudian Alif pergi meninggalkan Laras dan segala pemikirannya. Demi menghindari dosa karena harus berbohong mengenai calon istri, padahal Alif belum punya.
Sebenarnya bukan karena itu alasannya. Sudah berkali-kali pula Alif menegaskan, bahwa dia tidak menyukai wanita yang agresif. Namun bukan hanya itu, sih, tapi karena hatinya juga sudah mulai tertulis nama orang lain ... mungkin?
Alif memutuskan untuk sholat dzuhur terlebih dahulu, memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, lalu ia memilih untuk pulang ke rumah, atau kemana saja. Asal tidak melihat Laras hari ini.
Hari ini Alif menggunakan mobil ke kampus, jadi mungkin akan sedikit menghambat di perjalanan.
Sebenarnya Alif lebih suka menggunakan motor besarnya karena bisa lebih leluasa saat macet menghadang. Tapi, karena motornya sedang di servis, jadilah ia membawa mobil.
Alif memutuskan untuk berhenti disebuah kedai es krim. Ia memesan es krim rasa vanila lalu duduk di bangku yang di sediakan oleh pemilik kedai itu.
Tidak hanya wanita saja yang menyukai es krim, Alif juga menyukai es krim dengan rasa vanila. Karena menurutnya, rasa manis yang terkandung di dalam es krim itu mampu mencairkan emosi yang ada dalam dirinya.
Tiba-tiba ia kembali teringat pada gadis yang sudah dua kali ia jumpai. Hanya berbekalkan tahu namanya saja sudah membuat Alif kelimpungan beberapa hari terakhir ini. Sebagian otaknya memproduksi tentang beberapa fakta yang dimiliki gadis itu.
Sepertinya ia mulai menyukai gadis itu dalam diam. Tanpa seseorang pun yang tahu, kecuali Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Setelah menerima satu cup es krim, Alif-pun mulai menikmatinya. Matanya mengamati jalan raya dihadapannya yang nampak tak pernah sepi.
Tak sengaja matanya menangkap sosok yang baru saja ia pikirkan.
Dan, gadis itu ... tidak sendirian. Melainkan bersama ... sahabatnya?
Ya. Nazwa dan Naufal berjalan menuju kedai es krim yang sama dengan Alif.
Yang membuat Alif heran adalah ... tangan mereka saling bertautan.
Bukannya Nazwa tidak mau berpegangan dengan lawan jenisnya, seperti saat bertemu dengannya di Mal waktu itu?
Hatinya sedikit mencolos melihat pemandangan itu.
Tak mau berburuk sangka, Alif tak langsung menghampiri keduanya. Melainkan ia membawa es krim yang dia beli tadi kemudian duduk dengan jarak yang tak jauh dari tempat duduk Nazwa dan Naufal.
Samar-samar ia bisa mendengar Nazwa memanggil Naufal dengan sebutan, 'kak'.
Jadi, apa sebenarnya hubungan antara Naufal dan Nazwa?
Hatinya terus berkecamuk. Berperang dengan segala pemikiran konyol yang mulai merasuki dirinya.
Apakah mungkin Nazwa dan Naufal adalah saudara kandung?
Atau ...
Apakah adik perempuan yang Naufal ceritakan di toko buku waktu itu adalah Nazwa?
Dan, masih banyak lagi kalimat 'apakah-apakah' yang bergentayangan di benak Alif.
"Ish! Kakak usil banget, sih! Nazwa aduin ummi ntar!"
Dan kalimat itu telah menjawab semaunya.
Tepat sasaran!
Dugaannya semakin kuat bahwa memang kedua insan itu adalah saudara kandung.
Alif tersenyum samar, ia hanya mampu berdoa dan meminta kepada Allah. Berharap Allah memberikan yang terbaik untuk dirinya, sembari memperbaiki diri. Karena Alif percaya satu hal; yang baik akan dipertemukan dengan yang berusaha memperbaiki.
Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa mempermudah dia dan dirinya dalam bermuhasabah diri.
Memang benar, Allah tidak berjanji si kopiah bertemu dengan si cadar. Tapi Allah janji, orang baik akan di pertemukan dengan yang baik(pula).
Bukankah begitu?
Bersambung.
__ADS_1