Kekasih Halal

Kekasih Halal
Part 16


__ADS_3

"Kelak yang cantik dan tampan dihadapan mata tak lagi sanggup memikat hati, ketika pribadi yang menyenangkan hadir untuk memenangkan hatimu. Bukan sekedar memenangkan matamu."


***


SENJA mulai menggantung dilangit. Menampakkan siluet orange yang indah disela-sela cakrawala.


Saat ini, keluarga besar Ahmad Rasyid sedang bersiap melaksanakan sholat maghrib, kecuali Naufal dan Aina. Mereka sudah kembali ke Semarang karena ada panggilan mendadak dari kantor yang mengharuskan Naufal menghadirinya sesegera mungkin.


"Nazwa, mana Alif?" tanya Ahmad saat baru keluar dari kamarnya.


Nazwa yang sedang menyiapkan makan malam bersama Ummi-nya menoleh. "Masih dikamar, Bi."


"Panggilkan, Nak. Bilang, diajak Abi sholat berjamaah dimasjid gitu," titah abi Ahmad.


"Kenapa nggak dirumah aja, Bi?" Nazwa heran, karena biasanya mereka akan sholat bersama dirumah.


"Laki-laki itu sholat berjamaah, Sayang. Layaknya para prajurit, mereka merapat membentuk barisan, untuk membela agama Allah." Abi Ahmad tersenyum lalu menepuk puncak kepala putri bungsunya. "Dan lagi, sholat berjamaah itu pahalanya jauh lebih besar dari pada sholat sendirian."


"Dan apabila engkau (Muhammad) berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu engkau hendak melaksanakan sholat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (sholat) besertamu dan menyandang senjata mereka, kemudian apabila mereka (yang sholat besertamu) sujud (telah menyempurnakan satu rakaat) maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang lain yang belum sholat, lalu mereka sholat denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata mereka. Orang-orang kafir ingin agar kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu sekaligus. Dan tidak mengapa kamu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat suatu kesusahan karena hujan atau karena kamu sakit, dan bersiap siagalah kamu. Sungguh, Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu."


(QS. An-Nisa' 4: Ayat 102)


"Yaudah kalau gitu Nazwa panggilkan Kak Alif dulu." Kemudian Nazwa berlalu dari hadapan abinya.


Sesampainya di kamar, Nazwa melihat Alif yang baru selesai mandi. Laki-laki itu berdiri didepan lemari mengenakan boxer, mengeringkan rambut basahnya menggunakan handuk, membuatnya terkesan semakin ... tampan.


Nazwa menggeleng keras, sedetik kemudian dia masuk ke dalam kamarnya --yang sekarang sudah berubah menjadi kamar Alif juga tentunya-- dengan langkah sepelan mungkin.


"Kak," cicitnya pelan, kepalanya menunduk tak berani menatap Alif.


Alif terlihat terkejut dengan kedatangan Nazwa yang tiba-tiba, tapi sedetik kemudian dia tersenyum. "Ya?"


"Eum ... Ka-kakak ditunggu abi, beliau mengajak Kakak untuk sholat berjamaah di masjid," kata Nazwa terbata.


Melihat kegugupan Nazwa membuat Alif terkekeh. "Iya. Sebentar ya, saya ganti baju dulu."


Nazwa mengangguk kemudian bermaksud keluar sebelum suara Alif menghentikan langkahnya.


"Nazwa."


Kembali berbalik. "Y-ya?" jawabnya masih menunduk.


"Bisa bantu ambilkan sarung saya di dalam koper?" tanya Alif yang dibalas anggukan oleh sang istri.


Saat koper besar Alif terbuka, aroma parfum khas laki-laki itu langsung menyeruak kedalam indra penciumannya. Bajunya saja wangi, apalagi kalau dipakai oleh Alif?


Nazwa mengetuk kepalanya menggunakan tangan kanannya, mencoba menepis pikirannya yang sudah mulai ngelantur.


"Ini." Nazwa mengulurkan sarung berwarna abu-abu dengan corak hitam.


"Terima kasih," ucap Alif dengan senyum lembutnya.


Nazwa segera berlalu sembari memegang dada kirinya saat Alif mengacak ujung khimarnya.


Nazwa tak mungkin jatuh cinta secepat itu.

__ADS_1


***


MAKAN malam sudah selesai dari setengah jam yang lalu. Sekarang adalah waktunya organ tubuh manusia untuk beristirahat dari aktivitasnya.


Setelah kurang lebih 15 menit mondar mandir didepan pintu, akhirnya Nazwa memberanikan diri masuk ke dalam kamar. Dan pemandangan pertama yang ia lihat adalah Alif yang sedang berkutat dengan laptop dipangkuannya.


Dengan langkah hati-hati, Nazwa mengambil setelan baju tidur dengan lengan dan celana panjang dari lemari kemudian menuju walk in closet.


Setelah lima menit, Nazwa keluar. Tapi Alif masih sibuk dengan benda pipih dipangkuannya. Sepertinya, laki-laki itu belum menyadari kehadirannya.


Mata hazel milik Nazwa meneliti setiap sudut ruangannya. Ia baru menyadari bahwa sofa panjang yang ada disebelah jendela balkon kamarnya sudah tidak ada.


Nazwa mendengus keras. Pasti ini rencana ummi-nya. Pasalnya, tadi saat memasak ia sudah beralasan kepada ummi agar ia diperbolehkan tidur dengan ummi.


Tapi ummi menolaknya mentah-mentah. Beliau berkata bahwa Nazwa harus tidur satu kamar dengan Alif, karena sekarang statusnya sudah suami-istri.


Dengan terpaksa dan pelan-pelan dia naik keatas kasur. Jangan salah, ia duduk dengan jarak yang terhitung jauh dari Alif.


Akhirnya, mau tak mau ia harus mau 'kan sekarang?


Dan hal inilah yang sebenarnya Nazwa takutkan, dan sekarang benar-benar terjadi.


Canggung.


Kepalanya memikirkan banyak hal, salah satunya tentang first night seperti yang dikatakan Acha membuat pipinya mendadak merasa panas.


Alif yang merasa kasur yang ia duduki bergerak, kepalanya menoleh untuk memastikan. Ternyata istrinya.


"Nazwa ... maaf, saya nggak sadar kalau kamu sudah disini," ujar Alif sambil memijat pelipisnya. Sepertinya laki-laki itu sedang banyak pikiran.


"Kamu sudah mau tidur?"


"I-iya."


"Ya sudah. Selamat malam, Nazwa," kata Alif tak lupa dengan senyumnya.


Ternyata dugaannya salah besar! Nazwa pikir, Alif akan memintanya untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri dimalam pertama mereka.


Tapi sekarang? See? Bahkan, Alif malah mengucapkan 'selamat malam' untuk penutup harinya yang lelah.


Pemikiran-pemikiran aneh mulai merasuki otaknya. Dia mulai bertanya-tanya, apa Alif laki-laki abnormal?


Ah, sudahlah. Hari ini ia sudah cukup lelah, ia tidak mau memikirkan tentang masalah itu sekarang.


"Nazwa,"


Nazwa kembali membuka matanya sekarang. Apa sekarang Alif akan meminta kewajibannya? Oh, tidak! Nazwa seratus persen belum siap sama sekali.


"Apa kamu nggak merasa panas tidur menggunakan jilbab begitu?"


Hah! Nazwa lupa, ia masih menggunakan khimarnya. Memang biasanya ia akan melepasnya ketika tidur, tapi sekarang kondisinya sudah berbeda. Karena ada Alif mungkin.


"Ng ... nggak kok, Nazwa udah biasa tidur pakai jilbab," jawab Nazwa, ia terpaksa berbohong sekarang.


Astaghfirullahaladzim.

__ADS_1


Lagi, Alif tersenyum. "Lepas saja, Nazwa. Maksud saya, kamu nggak perlu malu, karena sekarang status saya adalah suami kamu. Jadi, halal saja kalau saya melihat rambut kamu."


Nazwa menggigit bibir bawahnya gelisah. Haruskah ia melepasnya? Sungguh, Nazwa merasa sangat gerah memang. Apalagi saat berada dalam satu ruangan dengan Alif seperti ini, seolah AC di kamarnya tidak lagi berfungsi dengan baik.


Nazwa menatap ragu kearah Alif.


"Kalau kamu malu, saya bisa berbalik badan sekarang juga," ujar Alif, ia meletakkan laptop yang dipangkunya dan langsung membalikkan badan.


"Sudah?" tanya Alif setelah beberapa saat. Namun bukan jawaban yang ia dapat, melainkan erangan ragu.


Alif membalikkan badannya. "Kenapa belum dilepas?" dahinya berkerut dan seringainya muncul. "Atau, kamu mau saya bantu lepaskan?"


Sontak Nazwa melotot dan menggeleng dengan cepat. Ucapan Alif sangat ambigu. Dengan ragu, pelan-pelan ia mulai menarik lepas khimarnya.


Diam-diam, Alif kesusahan mengontrol jantungnya saat melihat rambut hitam lebat yang sedikit ikal milik gadisnya. Ya. Gadisnya. Tapi sedetik kemudian, ia tersenyum, lagi.


"Begini lebih baik, 'kan," katanya.


Nazwa mengangguk kikuk.


"Ya sudah, ayo, tidur," ajaknya lalu menarik selimut untuk Nazwa.


"Kakak nggak tidur?"


"Sebentar lagi saya tidur," jawab Alif tak pernah melupakan senyumnya.


Nazwa berusaha memejamkan matanya, namun sulit. Hingga lagi-lagi suara Alif kembali terdengar.


"Eum ... Nazwa?"


Dengan malas Nazwa membalikkan badan menghadap Alif, sedikit kesal banyak dongkolnya. Disaat susah tidur begini malah Alif terus terusan memanggil.


Alif menepuk bagian kasur yang longgar disebelahnya. Nazwa yang tidak mengerti pun menatap dengan dahi berkerut. Atau jangan-jangan ...


"Sini," ujar Alif. "Kamu bisa jatuh kalau tidur dipinggir seperti itu.


Nazwa menghembuskan napas lega, sebelum lagi-lagi jantungnya berdegup kencang.


"Nazwa, saya tahu apa yang sedang mengganggu pikiran kamu," kata Alif santai, tangannya masih menari-nari diatas keyboard.


"A-apa?"


"Kamu tidak perlu khawatir, Nazwa. Perihal kewajiban kamu, maksud saya, soal malam pertama layaknya pengantin baru, kamu tidak usah memikirkan hal itu," kata Alif.


Lelaki itu menghentikan aktivitas mengetiknya, lalu menghadap Nazwa dengan raut serius. "Kemarin saya sudah cukup egois karena menerima perjodohan ini tanpa bertanya lebih dulu sama kamu. Maka dari itu, sekarang, saya tidak akan memaksakan hal itu kalau memang kamu belum siap."


Nazwa diam terpaku. Haruskah ia senang sekarang?


"Terima kasih, Kak," balasnya sambil tersenyum simpul. Hanya itu yang mampu ia ucapkan.


Alif sempat tertegun melihat senyum itu, sebelum ia mengangguk dan tersenyum. Kemudian mengacak pelan rambut Nazwa. "Ya sudah. Kalau gitu sekarang tidur, sudah malam."


Nazwa mengangguk kemudian memejamkan matanya.


Dalam hati, ia bersyukur. Ternyata Alif tak se-mengerikan yang ia bayangkan. Ia pikir Alif adalah laki-laki pada umumnya yang akan mendahulukan ego-nya dari pada perasaan orang lain. Tapi ternyata, selain tampan, Alif juga baik.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2